Klik Gambar

Sabtu, 26 Mei 2012

Sejarah Islam Minoritas Di Thailand

Source: Abdurrahman
                  Universitas Islam Negri Sunan Kali Jaga Yogyakarta
                http://www.scribd.com/doc/74892700/Sejarah-Islam-Minoritas-Di-Thailand-Jadi




BAB I PENDAHULUAN


Islam masuk ke Thailand pada abad ke-10 Masehi melalui para pedagang dari Jazirah Arab. Penduduk setempat dapat menerima ajaran Islam dengan baik tanpa paksaan. Kawasan Thailand yang banyak dihuni umat muslim adalah wilayah bagian selatan yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Kantong-kantong muslim di daerah Thailand Selatan ini diantaranya adalah   propinsi Pattani, Yala, Satun, Narathiwat dan Songkhla. Di propinsi-propinsi tersebut, rata-rata dihuni oleh sekitar 70 80 persen muslim.  Selain itu, umat muslim juga tersebar di beberapa wilayah lain, seperti di propinsi Pattalung, Krabi, dan Nakorn Srithammarat.

Pattani adalah salah satu wilayah Thailand yang pernah mengukir sejarah gemilang kejayaan Islam. Pada abad ke-15, negeri ini menjadi sebuah negara Islam terbesar di Asia Tenggara dengan nama Kerajaan Islam Pattani Darussalam. Orang Arab menyebutnya Al Fathoni. Pattani jatuh ke tangan Thailand pada tahun 1785 setelah kerajaan Thailand mengirimkan intelijen untuk mencari rahasia kelemahan Pattani.  Makar  Thailand  sangat  licik  sehingga  akhirnya  berhasil  meruntuhkan kekuasaan Pattani. Sultan Muhammad, raja Pattani gugur sebagai syahid di medan pertempuran.






BAB II PEMBAHASAN


A.  Latar Belakang Islam Minoritas Di Thiland



Ada beberapa teori tentang masuknya Islam di Thailand. Diantaranya ada yang mengatakan Islam masuk ke Thailand pada abad ke-10 melalui para pedagang dari Arab. Dan ada pula yang mengatakan Islam masuk ke Thailand melalui Kerajaan Samudra Pasai di Aceh.

Dahulu, ketika Kerajaan Samudera Pasai ditaklukkan oleh Thailand, banyak orang-orang Islam yang ditawan, kemudian di bawa ke Thailand. Para tawanan itu akan dibebaskan apabila telah membayar uang tebusan. Kemudian para tawanan yang telah bebas itu ada yang kembali ke Indonesia dan ada pula yang menetap di Thailand dan menyebarkan agama Islam.

Wilayah Thailand yang dihuni oleh orang-orang Islam adalah wilayah bagian selatan yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Muslim di Thailand merupakan golongan minoritas, karena mayoritas penduduknya beragama Budha. Daerah-daerah muslim di Thailand bagian selatan adalah Pattani, Yala, Satun, Narathiwat, dan Songkhla.


Kaum muslimin di Thailand yang terkenal dengan nama Patani memiliki perasaan kuat tentang jati dirinya, karena daerah Patani pada awal abad ke-17 pernah menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di Asia Tenggara.Pemerintah Thailand berusaha memasukkan daerah-daerah paling selatan itu ke negeri Thai. Hal ini dilakukan pada masa Raja Chulalongkom pada tahun 1902. Patani dijuluki tempat kelahiran Islam di Asia Tenggara. Bahkan, seorang Patani, Daud ibn Abdillah ibn Idris al-Fatani diakui sebagai seorang ulama terkemuka mengenai ilmu-ilmu Islam di Asia Tenggara.

Daerah yang sekarang disebut Thailand selatan pada masa dahulu berupa kesultanan-kesultanan yang merdeka dan berdaulat, diantara kesultanan yang terbesar adalah Patani. Pada abad ke empat belas masuklah Islam ke kawasan itu, raja Patani pertama yang memeluk Islam ialah Ismailsyah. Pada 1603 kerajaan Ayuthia di Siam menyerang kerajaan Patani namun serangan itu dapat digagalkan.

Pada 1783 Siam pada masa raja Rama I Phra Culalok menyerang Patani dibantu oleh oknum-oknum orang Patani sendiri, sultan Mahmud pun gugurlah, meriam Sri Patani dan harta kerajaan dirampas Siam dan dibawa ke Bangkok.

Maka Tengku Lamidin diangkat sebagai wakil raja atas perintah Siam tetapi kemudian ia pun berontak lalu dibunuh dan digantikan Dato Bangkalan tetapi ia pun memberotak pula. Pada masa raja Phra Chulalongkorn tahun 1878.M Siam mulai mensiamisasi Patani sehingga Tengku Din berontak dan kerajaan Patani pun dipecahlah dan unit kerajaan itu disebut Bariwen. Sebelum peristiwa itu terjadi sesungguhnya pada 1873 M Tengku Abdulqadir Qamaruzzaman telah menolak akan penghapusan kerajaan Patani itu. Kerajaan Patani dipecah dalam daerah-daerah kecil Patani, Marathiwat, Saiburi, Setul dan Jala.

Jika kita melihat peta Thailand, kita akan mendapatkan daerah-daerah yang berpenduduk muslim berada persis di sebelah Negara-negara melayu, khususnya Malaysia. Hal ini sangat berkaitan erat dengan sejarah masuknya Islam di Thailand, “jika dikatakan masuk”. Karena kenyataanya dalam sejarah, Islam bukan masuk Thailand, tapi lebih dulu ada sebelum Kerajaan Thailand Thai Kingdom berdiri pada abad ke-9.

Menurut pemakalah, Islam berada di daerah yang sekarang menjadi bagian Thailand Selatan sejak awal mula penyebaran Islam dari jazirah Arab. Hal ini bisa kita lihat dari fakta sejarah, seperti lukisan kuno yang menggambarkan bangsa Arab di Ayuthaya, sebuah daerah di Thailand. Dan juga keberhasilan bangsa Arab dalam mendirikan Daulah Islamiyah Pattani menjadi bukti bahwa Islam sudah ada lebih dulu sebelum Kerajaan Thai.


Dan lebih dari itu, penyebaran Islam di kawasan Asia Tenggara merupakan suatu kesatuan dakwah Islam dari Arab, masa khilafah Umar Bin Khatab” (teori arab). Entah daerah mana yang lebih dahulu didatangi oleh utusan dakwah dari Arab. Akan tetapi secara historis, Islam sudah menyebar di beberapa kawasan Asia Tenggara sejak lama,  di  Malakka,  Aceh  (Nusantara),  serta  Malayan  Peninsula  termasuk  daerah melayu yang berada di daerah Siam (Thailand).

Muslim di Thailand sekitar 15 persen, dibandingkan penganut Budha, sekitar

80 persen. Mayoritas Muslim tinggal di Selatan Thailand, sekitar 1,5 juta jiwa, atau

80 persen dari total penduduk, khususnya di Patani, Yala dan Narathiwat, tiga provinsi yang sangat mewarnai dinamika di Thailand Selatan. Tradisi Muslim di wilayah ini mengakar 100 Minoritas Muslim , Konflik Dan Rekonsiliasi Di Thailand Selatan sejak kerajaan Sri Vijaya yang menguasai wilayah Asia Tenggara, termasuk Thailand Selatan.

Thailand Selatan terdiri dari lima provinsi: Pattani, Yala, Narathiwat, Satun dan Songkhla, dengan total penduduk 6.326.732 (Kantor Statistik Nasional, Thailand,
2002). Mayoritas penduduk Muslim terdapat di empat provinsi: Pattani, Yala, Narathiwat dan Satun, yaitu sekitar 71% diperkotaan, dan 86 % di pedesaan (YCCI,
2006: 34), sedangkan di Songkhla, Muslim sekitar 19 %, minoritas, dan 76.6 % Buddha.

Sementara mayoritas penduduk yang berbahasa Melayu, ratarata 70 persen berada di tiga provinsi: Pattani, Yala dan Narathiwat, sementara penduduk berbahasa China, ada di tiga provinsi: Narathiwat, 0.3 %, Pattani, 1.0 %, dan Yala, 3.0 % (Sensus Penduduk, Thailand, 2000).



B.  Agama-Agama di Thailand



Seperti yang kita ketahui, Budha adalah agama terbesar di Thailand, karena resmi menjadi agama kerajaan. Kehidupan Bhuda telah mewarnai hampir seluruh sisi kehidupan di Thailand, dalam pemerintahan (kerajaan), sistem dan kurikulum pendidikan, hukum, dan lain sebagainya. Namun, Selain agama Bhuda, di Thailand juga terdapat agama-agama lain. Di antaranya yang pemakalah ketahui adalah Islam, Kristen, Confucius, Hindu, dan Sikh.


1. Islam,

sedikitnya sudah dibahas di atas. Tapi akan pemakalah tambahkan mengenai sikap masyarakat non-muslim (pemerintah) terhadap agama Islam. Dalam sebuah website Thailand untuk promosi wisata, keberagaman agama diangkat menjadi komoditi untuk “dijual kepada masyarakat dunia.[7] Nampaknya isu pluralisme juga berkembang di Thailand. Hal ini bisa kita lihat dari cara pandang beberapa kalangan tentang keberagaman agama di Thailand.

Pemerintah, dalam hal ini kerajaan, memberi kesempatan bagi warga muslim untuk beribadah dan menganut kepercayaan masing-masing. Bahkan, Raja Thailand juga menghadiri perayaan acara dan hari-hari penting dalam Islam. Kabar baiknya, pemerintah membantu penerjemahan Al Quran ke dalam bahasa Thai, juga membolehkan warga muslim mendirikan masjid dan sekolah muslim. Kurang lebih tercataterdapat  2000  masjid  (100  masjid  berada  di  Bangkok)  dan  200  sekolah muslim di Thailand. Umat islam di Thailand bebas mengadakan pendidikan dan acara-acara keagamaan.

2. Kristen,

agama ini dikenalkan pertama kali ke Thailand oleh misionaris dari Eropa pada abad ke-16 dan ke-17. Kristen Katolik pertama datang ke Thailand disusul oleh Kristen Protestan, bahkan beberapa sekte juga berkembang di sana, seperti Advent. Umat Kristen Thailand pada umumnya adalah imigran dari Cina. Sedangkan warga pribumi siam hanya sedikit yang berpindah agama dari Budha ke Kristen. Justru yang  terjadi  adalah  seorang  siam  beragama Kristen  tapi  tetap  menyembah Sang Budha.

3. Kongfusius,

Agak sama dengan Kristen. Agama ini dianut oleh imigran dari Cina. Karena agama  ini  bersifat  ajaran-ajaran  filsafat  hidup   dan  etika  Cina  kuno.   Maka, pemeluknya pun kadang beragama Kristen, berajaran kongfusius, dan yang keturunan pribumi tetap menyembah Sang Budha.

4.  Hindu,

Hampir 20.000 orang India menetap di Thailand. Jumlah mereka terbagi menjadi dua, Hindu dan Sikh. Umat Hindu berpusat di Bangkok. Mereka beribadah di pure-pure.   Mereka   juga   menjalankan   pendidikan   sendiri akan   tetap sistem pendidikannya didasarkan pada sistem pendidikan nasional Thailand.

5.  Sikh,

Agama Sikh juga berpusat di Bangkok. Terbagi menjadi dua kelompok dan beribadah di pure yang berbeda juga. Secara bersama, mereka mendirikan sekolah- sekolah gratis untuk anak-anak miskin.

Secara garis besar, Kerajaan menjamin sepenuhnya keberagaman agama di Negri Gajah Putih ini. Dengan catatan dalam satu kesatuan nasionalisme “Siam”. Jadi, yang keluar dari nasionalisme atau dianggap keluar maka akan berurusan dengan kerajaan. Seperti yang terjadi pada warga muslim, ada yang diserang militer, bahkan dibunuh.



C.  Hubungan Islam dengan Pemerintah



Dalam majalah Hidayatullah edisi Juli 2009, terdapat sebuah laporan yang bertajuk Thailand Rayu Warga Muslim Agar Tidak Pisahkan Diri”. Laporan itu menyebutkan bahwa Thailand berencana akan menambah hak otonomi dan mempertimbangkan untuk memperluas penerapan hukum syariah di propinsi-propinsi Muslim yang berbatasan dengan Malaysia, demikian dikatakan oleh Abhisit.

Dari pernyataan Abishit, kita bisa memahami bahwa Pemerintah sedang berusaha merangkul warga muslim yang berada di beberapa propinsi agar tidak bercerai dengan kerajaan Thailand. Hal ini dikuatkan dengan pernyataan Abishit terhadap masyarakat muslim Thailand. Dia menyatakan bahwa pemerintahnya “membuktikan” kepada rakyat di wilayah itu bahwa tidak akan ada lagi ketidakadilan”. Lanjutnya, Kita harus melakukan pendekatan ini dan harus bersabar. Kita tidak dapat mengubah persepsi yang sudah terbentuk atau kepercayaan yang hilang di masa tujuh atau delapan tahun ini hanya dalam waktu beberapa bulan saja.



Ternyata Pemerintah memahami betul bahwa upaya pemerintah untuk menciptakan perdamaian dengan kekuatan militer tidak terlalu membuahkan hasil. Bahkan memperparah keadaan dan melahirkan gerakan perlawanan yang lainnya. Maka,  untuk  menciptakan  perdamaian  di  Thailand  selatan,  pemerintah  membuat terobosan baru, yakni dengan jalur pendidikan.

Dalam majalah Gatra bertanggal 2 September 2007, terdapat sebuah laporan yang menyebutkan upaya pemerintah dalam mendamaikan konfilk yang terjadi di Thailand Selatan. Dalam laporan disebutkan bahwa Perdana Menteri Surayud Chulanont, mengumumkan bahwa pemerintahnya akan memasukan pelajaran Agama Islam dalam sistem pendidikan di negara yang berpenduduk mayoritas Budha itu. “Saya telah menugaskan Departemen Luar Negeri untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Malaysia serta mempelajari jenis silabus pendidikan apa yang perlu diperbaiki untuk pendidikan dasar di negara kita,” kata Chulanont, dalam pernyataan, seperti dikutip kantor berita Thailand.

Chulanont mengatakan pelajaran Agama Islam boleh diajarkan di sekolah- sekolah mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi di provinsi-provinsi di bagian selatan untuk jangka panjang.   Ia mengatakan, pemerintahnya sedang mempertimbangkan untuk memperkerjakan para sarjana untuk mengajar Agama Islam di sekolah-sekolah negeri. Kurangnya mata pelajaran Agama Islam di sekolah-sekolah negeri di Thailand Selatan telah mendorong warga muslim mendaftarkan anak-anak mereka pada sekolah-sekolah Islam swasta.

Chulanont kembali mengulangi himbauannya untuk menciptakan perdamaian di provinsi-provinsi bergejolak itu. Perdana menteri yang mendapat dukungan militer itu mengatakan pemerintahnya akan berusaha sebaik mungkin untuk menciptakan pengertian yang lebih baik antara warga muslim dan Budha untuk membantu mengurangi apa yang ia sebut sebagai perpecahan.

Junta militer pimpinan kepala staf angkatan darat Sonthi Boonyaratglin yang beragama  Islam  telah  membawa  harapan  perdamaian  bagi  penduduk  di  wilayah selatan yang telah lama mengeluhkan kebijakan kaku perdana menteri terguling Thaksin Shinawatra. Chulanont telah mengambil sejumlah tindakan untuk mendapatkan kepercayaan dari warga muslim Thailand, mulai dari ucapan permintaan maaf atas penyalahgunaan kekusaan dan ketidakpedulian selama bertahun-tahun.



D. Perkembangan Pendidikan Islam Di Thailand



Setelah mengalamai konflik yang berkepanjangan, akhirnya Islam di Thailand menemui titik kemajuan. Pastinya hal ini atas perjuangan panjang masyarakat muslim Thailand. Yang akhirnya pemerintah memperbolehkan warga muslim Thailand untuk menyelenggarakan pendidikan Islam. Kesempatan ini tidak dilewatkan oleh umat Islam untuk mengembangkan pendidikan Islam. Tercatat 200 lembaga pendidikan Islam dan 2000 masjid berdiri di Thailand. Bahkan beberapa dari 200 lembaga pendidikan itu menggunakan sistem pesantren yang sama persis di Indonesia. Itu artinya sistem pendidikan yang dipakai sama seperti di negri berpenduduk  Islam lainya, seperti Indonesia dan Malaysia.

Sistem pendidikan Islam di Thailand ternyata tidak dilakukan di sekolah- sekolah dan pesantren saja. Proses pendidikan Islam di Thailand sudah mengalami perkembangan dan kemajuan. Hal itu bisa kita lihat dari kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh beberapa lembaga Islam. Seperti pengajian bapak-bapak dan ibi-ibu, TPA/TKA dan kajian mingguan mahasiswa adalah beberapa kegiatan rutin yang diadakan mingguan. Masyarakat dan Pelajar Muslim Indonesia juga mengadakan silaturrahim bulanan dalam forum pengajian Ngajikhun. Acara ini dilaksanakan di berbagai wilayah di Thailand.
Tidak hanya itu saja. Program pengembangan pendidikan Islam di Thailand sudah mencapai level yang lebih dari sekedar nasional dan regional. Umat muslim Thailand bekerjasama dengan beberapa lembaga pendidikan Negara lain, baik yang nasional maupun internasional untuk mengadakan seminar internasional pendidikan Islam. Mereka mengirimkan kader-kadernya ke berbagai universitas dunia, seperti Al Azhar Mesir, Madinah. Dan juga beberapa universitas tanah air, seperti UII, UIN, dan lainnya. Termasuk juga mengirimkan putra-putra Thailand ke berbagai pesantren di Indonesia, termasuk Gontor.










Kesimpulan


BAB III PENUTUP





Perjalanan masyarakat muslim Thailand dalam berdakwah boleh kita acungi jempol. Hidup dalam Negara yang mayoritas non-muslim sejatinya bukan hal yang mudah,  penuh  dengan  cobaan,  dicurigai,  diintimidasi,  diserang,  bahkan  dibunuh. Perjuangan yang mereka lakukan di bumi Thailand merupakan satu dari rentetan sejarah penyebaran Islam, dari zaman Rosulullah sampai akhir zaman nanti.

Setelah perjuangan bertahun-tahun, akhirnya muslim Thailand menemui momentum yang menggembirakan, mencapai titik kemajuan dalam berdakwah, meskipun baru bisa kita bilang berhasil bertahan, mempertahankan agama Islam.

Namun, kemajuan yang didapat juga sangat luar biasa, yakni mendapat kepercayaan dari kerajaan yang notabene adalah umat Bhuda, untuk menyelenggarakan pendidikan Islam, bahkan belakangan kurikulum pendidikan Islam akan dimasukkan di sekolah-sekolah negri (mungkin sekarang sudah). Kemajuan ini tentunya bukan hal sepele dan mudah, tentunya bisa kita bayangkan perjuangan umat Islam di sana, dalam menghadapai masyarakat Bhuda dan Pemerintahnya. Jika kita bandingkan dengan Negri kita Indonesia yang mayoritas muslim. Pendidikan Islam di lembaga pendidikan non-muslim masih diperdebatkan, padahal ada siswa-siswi muslim di lembaga pendidikan non-muslim, dan mereka mengikuti materi pendidikan agama yang tidak mereka anut.

Kemajuan dakwah Islam di Thailand lewat jalur pendidikan pastinya masih panjang, dan ini baru permulaan. Mereka pun tahu akan hal ini, maka mereka mengembangkannya, mengawalnya, dan menjaga perkembangan tersebut dari hal-hal yang bisa menghancurkan, dari dalam maupun luar, dari isu-isu pluralisme, terorisme, radikalisme, dan lain sebagainya yang selalu memojokkan Islam.

Usaha-usaha dalam mengembangkannya antara lain meningkatkan kualitas pendidikan Islam  di  Thailand  dengan  mengirim  kader-kader ke  berbagai  Negara Islam, mengadakan seminar-seminar pendidikan Islam, mengadakan kerjasama dalam bidang pendidikan Islam, dan lain sebagainya, Serta yang paling penting tetap membina hubungan yang baik dengan Kerajaan.

0 komentar:

Mohon Klik Gambar Di bawah ini

Ringga Arie Suryadi. Diberdayakan oleh Blogger.