Klik Gambar

Sabtu, 26 Mei 2012

Geliat Islam di Thailand


Diposting pada February 23, 2009 | Awan: Adventure | oleh : sunu wibirama. 


Oleh : Sunu Wibirama (Postgraduate student, KMITL)
“Dakwah Islam senantiasa bergema di seluruh penjuru dunia. Islam adalah agama yang tidak mengenal batas dan sekat-sekat nasionalisme. Pun di sebuah negeri yang mayoritas penduduknya bukanlah pemeluk agama Islam, Thailand.” 

Gambar 1. Masjid Indonesia di Bangkok
 
Thailand dikenal sebagai sebuah negara yang pandai menjual potensi pariwisata sekaligus sebagai salah satu negara agraris yang cukup maju di Asia Tenggara.  Mayoritas penduduk Thailand adalah bangsa Siam, Tionghoa dan sebagian kecil bangsa Melayu. Jumlah kaum muslimin di Thailand memang tidak lebih dari 10% dari total 65 juta penduduk, namun Islam menjadi agama mayoritas kedua setelah Buddha. Penduduk muslim Thailand sebagian besar berdomisili di bagian selatan Thailand, seperti di propinsi Pha Nga, Songkhla, Narathiwat dan sekitarnya yang dalam sejarahnya adalah bagian dari Daulah Islamiyyah Pattani. Kultur melayu sangat terasa di daerah selatan Thailand, khususnya daerah teluk Andaman dan beberapa daerah yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Bahkan beberapa nama daerah berasal dari bahasa Melayu, seperti Phuket yang berasal dari kata “bukit” dan Trang yang berasal dari kata “terang”.

Gambar 2. Peta Wilayah Pattani Darussalam
 
Islam masuk ke Thailand sejak pertengahan abad ke-19. Proses masuknya Islam di Thailand dimulai sejak kerajaan Siam mengakuisisi kerajaan Pattani Raya (atau lebih dikenal oleh penduduk muslim Thai sebagai Pattani Darussalam). Pattani berasal dari kata Al Fattani yang berarti kebijaksanaan atau cerdik karena di tempat itulah banyak lahir ulama dan cendekiawan muslim terkenal. Berbagai golongan masyarakat dari tanah Jawa banyak pula yang menjadi pengajar Al Qur’an dan kitab-kitab Islam berbahasa Arab Jawi. Beberapa kitab Arab Jawi sampai saat ini masih diajarkan di beberapa sekolah muslim dan pesantren di Thailand Selatan.

Perkembangan Islam di Thailand semakin pesat saat beberapa pekerja muslim dari Malaysia dan Indonesia masuk ke Thailand pada akhir abad ke-19. Saat itu mereka membantu kerajaan Thailand membangun beberapa kanal dan sistem perairan di Krung Theyp Mahanakhon (sekarang dikenal sebagai Propinsi Bangkok). Beberapa keluarga muslim bahkan mampu menggalang dana dan mendirikan masjid sebagai sarana ibadah. Kami sempat berkunjung ke Masjid Indonesia, sebuah masjid yang didirikan pada tahun 1949 oleh warga Indonesia dan komunitas muslim asli Thailand. Tanah wakaf masjid ini adalah milik Almarhum Haji Saleh, seorang warga Indonesia yang bekerja di Bangkok.

Gambar 3. Masjid Jawa di Bangkok
 
Masjid Jawa adalah masjid lain yang juga didirikan oleh komunitas warga muslim Indonesia di Thailand. Sesuai dengan namanya, pendiri masjid ini adalah warga Indonesia suku Jawa yang bekerja di Thailand. Namun demikian, anak cucu para pendiri masjid ini sudah tak lagi mampu berbahasa Indonesia. Beberapa warga Thai keturunan pendiri masjid ini berbicara dalam bahasa Thai dan Inggris saat menceritakan asal muasal berdirinya Masjid Jawa ini. Masjid Indonesia dan Masjid Jawa hanyalah sebagian dari lima puluh-an masjid lain yang tersebar di seluruh penjuru Bangkok.

Gambar 4. Kegiatan di Islamic Center Ramkamhaeng
 
Pusat dakwah Islam terbesar di Bangkok terletak di Islamic Center Ramkamhaeng. Hampir semua aktivitas keislaman, mulai dari pengajian, layanan pernikahan, sampai dengan pasar makanan halal bisa ditemukan di sini. Islamic Center Ramkamhaeng berjarak sekitar 2 KM dari kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di jalan Petchburi. Bahkan beberapa buku dan VCD Islami berbahasa Indonesia dijual di sini. Kami bisa dengan mudah menjumpai buku pelajaran Iqro’ dan beberapa CD film-film Islam produksi Indonesia di sini. Setiap hari Jum’at, pasar makanan halal dan barang-barang Islami digelar mulai jam 10 pagi sampai menjelang sholat asar. Selain itu beberapa kajian Islam, baik yang diadakan oleh warga muslim Thailand maupun warga Indonesia diadakan setiap hari Sabtu dan Ahad di tempat ini.

Gambar 5. Pesantren Tarbiyah Islamiyah di Pha Nga
 
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pemerintah kerajaan Thailand memberi kebebasan yang sebesar-besarnya bagi kaum muslim Thai untuk melaksanakan ibadah dan berdakwah. Dukungan dari pemerintah kerajaan terhadap pembangunan pondok-pondok pesantren dan sekolah muslim pun melengkapi jaminan kebebasan beribadah kaum muslim di Thailand. Namun demikian, tidak semua lokasi di Thailand menjadi tempat yang aman untuk kaum muslimin. Daerah Thailand selatan sampai saat ini masih menjadi daerah yang mencekam karena hampir setiap hari operasi militer digelar di kampung-kampung penduduk dengan alasan mencari dalang peledakan bom di wilayah selatan. Propinsi Yala, Songkhla dan Narathiwat adalah tiga wilayah di Thailand selatan yang akrab dengan bahasa kekerasan tentara pemerintah. Kecurigaan yang berlebihan terhadap penduduk muslim seringkali membuat para tentara mudah melepaskan peluru dari senapan-senapan mereka. Walhasil, kasus salah tembak menjadi salah satu kasus yang cukup populer di wilayah ini. Meskipun senantiasa diliputi rasa khawatir terhadap keamanan mereka, kaum muslimin di Thailand selatan tetap istiqomah mendidik generasi muda Islam. Kami sempat berkunjung ke pesantren Tarbiyah Islamiyyah di propinsi Pha Nga milik Ustadz Abdul Aziz. Pesantren ini terletak kurang lebih 100 KM di sebelah utara bandara internasional Phuket. Ustadz Abdul Aziz adalah warga Thailand selatan lulusan Universitas Al Azhar, Kairo. Beberapa staf pengajar di pesantren ini pernah menempuh pendidikan agama di Indonesia, antara lain di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA), Jakarta.  Sekitar 300 santriwan dan santriwati menuntut ilmu agama dan kontemporer di pesantren ini. Sistem pengajaran yang mereka terapkan pun mengadopsi sistem yang digunakan oleh pesantren-pesantren yang ada di Indonesia.

Gambar 6. Kegiatan Pengajian Warga Indonesia
 
Semarak dakwah Islam juga dirasakan oleh masyarakat dan pelajar muslim Indonesia. Kajian bapak-bapak, ibu-ibu, TPA/TKA dan kajian mingguan mahasiswa adalah beberapa kegiatan rutin yang diadakan mingguan. Masyarakat dan Pelajar Muslim Indonesia juga mengadakan silaturrahim bulanan dalam forum pengajian Ngajikhun.  Acara ini dilaksanakan di berbagai wilayah di seantero Thailand. Tak jarang, rekan-rekan di Bangkok harus menempuh perjalanan sehari penuh untuk bersilaturrahim dengan pelajar muslim di Chiang Rai, Thailand utara. Hal serupa pernah dilakukan saat beberapa mahasiswa dari daerah Hat Yai, Thailand selatan berkunjung ke Bangkok. Mereka menempuh perjalanan selama 2 jam dengan menggunakan jalur udara atau kurang lebih sehari penuh dengan jalur darat.
Gambar 7. Kios Makanan Halal di Chiang Mai
 
Isu-isu seputar makanan halal sering menjadi bahan diskusi yang menarik di kalangan masyarakat dan pelajar muslim Indonesia di Thailand. Meskipun majelis ulama Thailand sudah memiliki badan khusus yang memverifikasi kehalalan produk dalam negeri Thailand, jumlah makanan halal di Thailand masih sangat sedikit. Biasanya, masyarakat dan pelajar muslim Indonesia mengenali warung muslim dan makanan halal dengan tiga macam label, yakni label resmi “Halal”, stiker bertuliskan “Allah” dan “Muhammad”, serta stiker bertuliskan bacaan basmalah. Tak jarang para pemilik warung muslim menambahkan tanda bulan dan bintang untuk mempertegas informasi kehalalan makanan tersebut. Informasi tentang makanan halal dan istilahnya dalam bahasa Thai biasanya menjadi kebutuhan pertama saat datang ke negeri gajah putih ini. Selain berbekal informasi lokasi warung halal di daerah Bangkok dan sekitarnya, saya juga menghafal beberapa kata dalam bahasa Thai untuk menghindari babi, seperti “Phom mai ouw muu” yang berarti “Saya tidak mau babi” atau “Phom mai kin muu” yang berarti “Saya tidak makan babi” apabila saya kesulitan menemukan warung halal di lokasi terdekat.

Selain masalah makanan, lokasi tempat ibadah di pusat-pusat perbelanjaan pun agak sulit ditemukan. Beberapa lokasi perbelanjaan umum, seperti Siam Paragon, Pratunam Center dan Central World menyediakan mushola untuk umat Islam. Selebihnya, jangan harap bisa menemui mushola di tempat umum. Bagi saya dan rekan-rekan pelajar muslim Indonesia, membawa kompas penunjuk arah dan sajadah saat bepergian adalah kebutuhan. Dua hal ini sangat penting apabila bepergian di daerah-daerah minim mushola dan masjid. Hidup di tengah-tengah umat non-muslim memberi pelajaran berharga tentang tepat waktu dan displin menegakkan ibadah wajib meskipun tidak ada adzan yang berkumandang. Pun pelajaran lainnya, keimaman kita benar-benar akan diuji di sini. Kita bisa dengan mudah menemui berbagai tempat penjualan makanan yang mengandung babi atau darah, hiburan malam, penjualan minuman beralkohol, maupun wisata seks di Thailand. Masyarakat Buddha Thailand pada umumnya menganggap tabu masalah prostitusi, namun pelanggaran yang ada di depan mata tak bisa dicegah karena mereka tak mengenal sistem syari’at, iqob (hukuman), dan amar ma’ruf nahi munkar sebagaimana dalam Islam. Oleh karena itulah, penjualan minuman keras dan prostitusi sangat marak di negeri ini. Bahkan dua hal tersebut menjadi salah satu daya tarik wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Thailand.

Di tengah-tengah gemerlap dan hingar-bingar kehidupan masyarakat Thailand, saya semakin merasa yakin bahwa dakwah Islam tidak mengenal batas-batas geografis dan sekat-sekat nasionalisme yang banyak didengungkan oleh para pemimpin di akhir zaman ini.  Dakwah Islam tak mengenal istilah lokal dan transnasional, atau konvensional dan modern. Sesungguhnya, Islam adalah agama yang peka jaman dan selalu rasional, dimana pun dan kapan pun masanya.
Wallahu a’lam.

0 komentar:

Mohon Klik Gambar Di bawah ini

Ringga Arie Suryadi. Diberdayakan oleh Blogger.