Klik Gambar

Jumat, 21 Januari 2011

SKRIPSI PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA DAN KINERJA KEUANGAN


PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE DAN STRUKTUR
KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA DAN
KINERJA KEUANGAN
SKRIPSI
Oleh :
Nama : Rudi Isnanta
Nomor Mahasiswa : 04 312 069
Program Studi : Akuntansi
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2008
ii
PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE DAN STRUKTUR
KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA DAN
KINERJA KEUANGAN
SKRIPSI
Disusun dan diajukan untuk memenuhi syarat ujian akhir guna memperoleh
gelar Sarjana jenjang Strata 1 jurusan Akuntan si pada Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Indonesia
Oleh :
Nama : Rudi Isnanta
Nomor Mahasiswa : 04 312 069
Program Studi : Akuntansi
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2008
iii
PERNYATAAN BEBAS PLAGIATISME
“ Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan
sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah
ditulis atau diterbitkan oleh ora ng lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam
naskah ini dan disebut referensinya. Dan apabila dikemudian hari terbukti bahwa
pernyataan ini tidak benar maka saya sanggup menerima sanksi/hukuman apapun
sesuai peraturan yang berlaku.”
Yogyakarta,......Maret 2008
Penulis,
(Rudi Isnanta)
iv
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI
Skripsi ini telah disahkan dan disetujui oleh dosen pembimbing skripsi
dengan judul:
PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE DAN STRUKTUR
KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN LABA DAN
KINERJA KEUANGAN
Nama : Rudi Isnanta
Nomor Mahasiswa : 04 312 069
Program Studi : Akuntansi
Yogyakarta, Maret 2008
Telah disetujui dan disahkan oleh
Dosen pembimbing,
(Dr. Kumala Hadi, MS. Ak.)
v
HALAMAN PENGESAHAN UJIAN
Telah dipertahankan / diujikan dan disahkan untuk memenuhi syarat guna
memperoleh gelar Sarjana Strata -1 di Program Studi Akuntansi, Fakultas
Ekonomi, Universitas Islam Indonesia
Nama : Rudi Isnanta
Nomor Mahasiswa : 04.312.069
Program Studi : Akuntansi
Yogyakarta, Mei 2008
disahkan oleh,
Penguji / Pembimbing Skripsi : Dr. Kumala Hadi, MS. Ak.
…………
Penguji : Drs. Kesit Bambang P, M.Si.
…............
Mengetahui,
Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Indonesia
Drs. Asmai Ishak M. Bus. Ph. D
vi
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul “Pengaruh Corporate
Governance Dan Struktur Kepemilikan Terhadap Manajemen
Laba Dan Kinerja Keuangan” yang bertujuan untuk menguji
pengaruh dan dampak dari variabel -variabel di atas.
Penelitian ini menggunakan variabel Corporate Governance
(meliputi kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris,
dan komite audit), Struktur Kepemilikan, Manajemen Laba,
dan Kinerja Keuangan. Sampel yang digunakan adalah
seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI) yang termasuk dalam jenis perusahaan perdagangan,
distribusi dan transportasi dan sesuai dengan kriteria-kriteria
yang telah ditetapkan. Pengujian dilakukan deng an
menggunakan program AMOS versi 6.0.
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa corporate
governance dan struktur kepemilikan tidak terbukti
berpengaruh secara positif terhadap manajemen laba, namun
terbukti berpengaruh secara positif terhadap kinerja
keuangan. Sedangkan manajemen laba juga tidak terbukti
berpengaruh secara positif terhadap kinerja keuangan.
Kata kunci: (Corporate Governance, Struktur Kepemilikan,
Manajemen Laba, dan Kinerja Keuangan).
vii
HALAMAN PERSEMBAHAN
Ayah & Bundaku tercinta Slamet Hadi, S.Pd. & Sri
Ismiyatun, Ama.Pd.
Adik2ku tersayang Puji Handayani & Nur Rahmawati.
All My Spesial Ones.
All My Best Friends.
viii
MOTTO
Bismillahirrohmanirrohim.
“ Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah
dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan .” (Q.S. Al- Hasyr : 18)
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu
kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka
sendiri. Dan apabila Allah menghendaki kehancuran suatu
kaum, maka tidak ada yang sanggup mencegahnya, dan tidak
ada perlindungan mereka selain dari Allah ” .(Q.S. Ar –
Ra’d : 11 )
”Sukses hidup adalah suatu pi lihan, komitmen pribadi dan
bukan karena faktor kebetulan atau nasib”.
”Orang disebut sukses apabila: 1. Orang tersebut
mempunyai cita-cita. 2. Orang tersebut berhasil mencapai
cita-cita tersebut, dan 3. Orang tersebut menikmati
keberhasilan mencapi cita- cita tersebut”.
”Sukses besar adalah akumulasi dari sukses -sukses kecil,
tujuan jangka panjang tercapai melalui tujuan jangka
menengah, dan pendek”.
”S etiap orang yang sukses dan bahagia pasti meraih
tujuannya melalui strategi, perjuangan, pengorbanan, dan
pergumulan yang tidak kenal lelah”.
”Tiga ( 3) bakat yang harus dipenuhi untuk menjadi
entrepreneur: semangat, keinginan yang kuat, dan percaya
diri”.(Mr.Ci)
“Mencoba,mencoba,dan terus mencoba..!
Berusaha,berusaha,dan terus berusaha..!
Lakukan,lakukan, dan terus lakukan..! Berdo’a,berdo’a,dan
terus berdo’a..! Sampai tercapai cita -citamu dan berhasil
meraih kesuksesanmu...!!!
ix
Change your Mindset and Take Aktion Now...!!!
Never Give Up...!!!
Amin..amin..amin...!!!
KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas
limpahan rahmat dan hidayah -Nya, sehingga penulis berhasil menyelesaikan skripsi
ini dengan baik dan lancar. Skripsi ini merupakan salah satu syarat akademik dalam
menyelesaikan program sarjana S -1 di Fakultas Ekonomi Universitas Islam
Indonesia, Yogyakarta.
Keberhasilan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini tidak terlepas dari
bimbingan, pengarahan, dan dukungan dari berbagai pihak yang dengan ketulusan,
kasih sayang, dan pengorbanannya memberikan bantuan kepada penulis. Oleh karena
itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar -
besarnya kepada:
1. Prof. Dr. H. Edy Suandi Hamid, M.Ec, selaku Rektor Universitas Islam
Indonesia yang telah banyak memberi inspirasi penulis.
2. Drs. Asma’i Ishak, M.Bus, Ph.D, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas
Islam Indonesia. Terima kasih Pak.
x
3. Dr. Kumala Hadi, MS.Ak, selaku Dosen pembimbing skripsi yang telah
membimbing penulis sampai dengan terselesaikannya skripsi ini.
4. Dosen, staf pengajar dan karyawan Fakultas Ekonomi Universitas Islam
Indonesia yang telah banyak membantu penulis selama belajar di kampus di
tercinta ini.
5. Ayah Bundaku, adik2ku, nenekku dan seluruh keluargaku tercinta dan
tersayang yang telah mencurahkan banyak hal kepada pe nulis.
6. All My Spesial One in My Heart yang masih menggantung......tunggu aja
sampai saat yang tepat untuk eksekusi.
7. All My Best Friends yang selama ini selalu bersama dalam suka, duka, sedih
dan bahagia.
8. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam proses pengerjaan skripsi
ini sampai selesai.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca akan penulis terima
dengan senang hati. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi i ni dapat bermanfaat
bagi kita semua. Amin.
Yogyakarta, ..... Maret 2008
xi
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul ............................................................................................................ i
Halaman Judul Skripsi .............................................................................................. ii
Halaman Pernyataan Bebas Plagiatisme ................................................................ iii
Halaman Pengesahan Skripsi .................................................................................. iv
Halaman Pengesahan Ujian Skripsi ......................................................................... v
Abstrak....................................................................................................................... vi
Halaman Persembahan ............................................................................................ vii
Motto ........................................................................................................................ viii
Kata Pengantar ......................................................................................................... ix
Daftar Isi .................................................................................................................... xi
Daftar Tabel.............................................................................................................. xv
Daftar Gambar ........................................................................................................ xvi
Daftar Lampiran .................................................................................................... xvii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................. ..1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................... ...5
1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................... .5
xii
1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................ .5
1.5 Sistematika Penulisan .................................................................... 6
BAB II LANDASAN TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
2.1. Teori Keagenan................................................ ...............................8
2.2. Corporate Governance ............................................................... ..10
2.2.1. Pengertian Corporate Governance..... ........................................10
2.2.2. Prinsip Dasar Pengelolaan Perusaha an yang Baik.....................12
2.3. Struktur Kepemilikan .................................................................. .13
2.4. Manajemen Laba ........................................................................ ..15
2.4.1. Definisi Dan Motivasi Manajemen Laba…………… ...………15
2.4.2. Faktor-Faktor Pendorong Manajemen Laba……………...…...17
2.4.3. Teknik Manajemen Laba………………………………… ...…23
2.4.4. Kondisi Untuk Praktik Manajemen Laba……………... ……...24
2.4.5. Pola Manajemen Laba.............................. .................................25
2.5. Kinerja Keuangan...................................................................... ..26
2.6. Perumusan Hipotesis..................................... ...............................27
2.6.1. Corporate Governance Dan Manajemen Laba… …………......27
2.6.2. Corporate Governance Dan Kinerja Keuangan.........................35
2.6.3. Struktur Kepemilikan Dan Manajemen Laba...... ......................38
2.6.4. Struktur Kepemilikan Dan Kinerja Ke uangan...........................39
2.6.5. Manajemen Laba Dan Kinerja Keuangan..................................41
xiii
BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Populasi dan Prosedur Penentuan Sampel .................................. 44
3.2. Jenis dan Sumber Data ................................................................ 44
3.3. Definisi dan Operasional Variabel.................. ..............................44
3.4. Metode Analisis ..................................................................... .....49
3.4.1. Asumsi-Asumsi SEM.......................................................... ..49
3.4.1.1. Ukuran Sample ............................................................... .49
3.4.1.2. Normalitas dan Linearitas .............................................. .49
3.4.1.3. Outliers ........................................................................... .50
3.4.1.4. Multicollinearity dan Singularity........ ..............................50
3.4.2. Uji Kesesuaian dan Uji Statistik............... ...............................50
3.4.2.1. X² - Chi Square Statistic......................... ............................51
3.4.2.2. RMSEA - Root Mean Square Error of Approximation… .51
3.4.2.3. GFI - Goodness of Fit Index……………………….…… .51
3.4.2.4. AGFI - Adjusted Goodness of Fit Index………………....52
3.4.2.5. CMIN/DF……………………………………………... ....52
3.4.2.6. TLI - Tucker Lewis Index……………………………… ..52
3.4.2.7. CFI - Comparative Fit Index………………………… .….52
3.4.3. Model Baseline…………………………………………… ....53
3.4.3.1. Satured Model…………………………………………....53
xiv
3.4.3.2.Independent Model……………………………………… .53
3.5. Pengujian Hipotesis......................................................................54
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Statistik Deskriptif ....................................................................... 55
4.2. Analisis Statistik ......................................................................... 57
4.2.1. Uji Asumsi-Asumsi SEM...................................................... 58
4.2.1.1. Ukuran Sampel ................................................................ 58
4.2.1.2. Uji Normalitas Data ........................................................ 59
4.2.1.3. Uji Multicolinearity dan Singularity ............................... 60
4.2.2. Uji Goodness of Fit ............................................................... 61
4.2.3. Pengujian Hipotesis............................................................... 63
4.2.3.1. Pengujian H1 ................................................................... 64
4.2.3.2. Pengujian H2 ................................................................... 65
4.2.3.3. Pengujian H3 ................................................................... 67
4.2.3.4. Pengujian H4 ................................................................... 67
4.2.3.5. Pengujian H5 ................................................................... 68
4.2.3.6 Pengaruh Langsung dan Pengaruh Tidak Langsung ........ 69
BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan ................................................................................ 71
5.2. Keterbatasan Penelitian ............................................................... 72
5.3 Saran............................................................................................. 72
xv
Daftar Pustaka.......................................................................................................... 74
Lampiran .................................................................................................................. 77
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Operasional Variabel Penelitian .................................................................... 48
Tabel 2 Hasil Perhitungan Mean dan Standar Deviasi ................................................ 56
Tabel 3 Uji Normalitas ................................................................................................ 59
Tabel 4 Measurement Model - Goodness of Fit.......................................................... 61
Tabel 5 Estimasi Hasil Analisis SEM ......................................................................... 64
Tabel 6 Pengaruh Langsung dan Pengaruh Tidak Langsung ...................................... 70
xvi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Model Pengujian ....................................................................................... 43
Gambar 2. Hasil Pengujian Hipotesis ......................................................................... 63
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Data Penelitian......................................................................................... 77
Lampiran 2 Pengukuran Manajemen Laba Dengan Akrual Modal Kerja .................. 81
Lampiran 3 Pengukuran Kinerja Keuangan Dengan CFROA .................................... 85
Lampiran 4 Klasifikasi Desain Riset Manajemen Laba.............................................. 89
Lampiran 5 Analisis Statistik ...................................................................................... 91
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Teori keagenan (agency theory) menjelaskan bahwa hubungan agensi muncul
ketika satu orang atau lebih (principal) mempekerjakan orang lain (agent) untuk
memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan
kepada agent tersebut (Jensen dan Meckling, 1976). Sebagai pengelola perusahaan,
manajer akan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan
dibandingkan pemilik (pemegang saham).
Manajer berkewajiban memberikan sinyal menge nai kondisi perusahaan kepada
pemilik sebagai wujud dari tanggung atas pengelolaan perusahaan . Akan tetapi informasi
yang disampaikan terkadang diterima tidak sesuai dengan kondisi perusahaan
sebenarnya. Dalam kondisi yang demikian ini dikenal sebagai info rmasi yang tidak
simetris atau asimetri informasi (information asymmetric) (Haris, 2004). Adanya asimetri
antara manajemen (agent) dengan pemilik (principal) akan memberi kesempatan kepada
manajer untuk melakukan manajemen laba (earnings management) (Richa rdson, 1998).
Tindakan earnings management telah menimbulkan beberapa kasus skandal
pelaporan akuntansi dalam dunia bisnis, antara lain Enron, Merck, World Com dan
mayoritas perusahaan lain di Amerika Serikat (Cornett, Marcuss, Saunders dan
Tehranian, 2006). Selain itu, di Indonesia juga terjadi hal serupa, seperti PT. Lippo Tbk
dan PT. Kimia Farma Tbk juga melibatkan pelaporan keuangan (financial reporting) yang
berawal dari terdeteksi adanya manipulasi (Gideon, 2005).
2
Dari beberapa contoh kasus tersebut di atas, maka sangat relevan bila ditarik suatu
pertanyaan tentang bagaimana efektivitas penerapan corporate governance. Corporate
governanace merupakan salah satu elemen kunci dalam meningkatkan efesiensi
ekonomis, yang meliputi serangkaian hubungan anta ra manajemen perusahaan, dewan
komisaris, para pemegang saham dan stakeholders lainnya. Corporate governance juga
memberikan suatu struktur yang memfasilitasi penentuan sasaran -sasaran dari suatu
perusahaan, dan sebagai sarana untuk menentukan teknik monit oring kinerja (Deni,
Khomsiyah dan Rika, 2004).
Perilaku manipulasi oleh manajer yang berawal dari konflik kepentingan tersebut
dapat diminimumkan melalui suatu mekanisme monitoring yang bertujuan untuk
menyelaraskan (alignment) berbagai kepenti ngan tersebut. Pertama, dengan memperbesar
kepemilikan saham perusahaan oleh manajemen (managerial ownership) (Jensen dan
Meckling, 1976), sehingga kepentingan pemilik atau pemegang saham akan dapat
disejajarkan dengan kepentingan manajer.
Kedua, kepemilikan saham oleh investor institusional. Moh’d et al. (1998) dalam
Pratana dan Mas’ud (2003) menyatakan bahwa investor institusional merupakan pihak
yang dapat memonitor agen dengan kepemilikannya yang besar, sehingga motivasi
manajer untuk mengatur laba menjadi berku rang. Ketiga, melalui peran monitoring oleh
dewan komisaris (board of directors) serta memaksimalkan fungsi komite audit yang ada
dalam perusahaan. Dechow et al. (1996) dan Beasly (1996) menemukan hubungan yang
signifikan antara peran dewan komisaris denga n pelaporan keuangan. Selain itu juga
ditemukan bahwa ukuran dan independensi dewan komisaris mempengaruhi kemampuan
mereka dalam memonitor proses pelaporan keuangan.
3
Sedangkan hubungannya dengan kinerja, laporan keuangan merupakan dasar
untuk penilaian kinerja perusahaan. Laporan keuangan yang sering digunakan untuk
mengukur keberhasilan operasi perusahaan untuk suatu periode tertentu adalah laporan
laba rugi. Namun, laba yang dihasilkan dalam laporan laba rugi seringkali dipengaruhi
oleh metode akuntansi yang digunakan (Kieso dan Weygandt, 1995), sehingga laba yang
tinggi pun belum tentu mencerminkan kas yang besar. Sedangkan laporan arus kas
mempunyai nilai lebih untuk menjamin kinerja perusahaan di masa mendatang. Arus kas
(Cash Flow) menunjukkan hasil operasi yang dananya telah diterima tunai oleh
perusahaan dan juga beban yang bersifat tunai yang benar -benar sudah dikeluarkan oleh
perusahaan (Pradhono, 2004).
Cash flow return on assets (CFROA) digun akan sebagai salah satu alat untuk
melakukan pengukuran kinerja perusahaan yang menunjukkan kemampuan aktiva
perusahaan untuk menghasilkan laba operasi. Dengan menggun akan CFROA maka akan
dapat lebih memfokuskan pada pengukuran kinerja perusahaan saat ini karena CFROA
tidak terikat dengan harga saham (Cornet t et al., 2006).
Laporan keuangan adalah sebuah produk informasi yang dihasilkan yang sangat
penting yang berkaitan dengan kondisi perusahaan sehingga dalam penyusunannya tidak
bisa terlepas dari proses penyusunannya. Oleh karena itu, setiap kebijakan dan keputusan
yang diambil dalam proses penyusunan laporan keuangan akan sangat mempengaruhi
sekali dalam penilaian kinerja perusahaan.
Penelitian Theresia (2005) menunjukkan bahwa tindakan manajemen laba
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kinerj a perusahaan. Manajemen akan
memilih metode akuntansi tertentu untuk mendapatkan laba yang sesuai denga n
4
motivasinya. Sedangkan Gideon (2005) menyatakan bahwa manajemen laba akan sangat
mempengaruhi tingkat kualitas kinerja yang dilaporkan oleh manajemen (Gideon, 2005).
Penelitian Cornett et al. (2006) dengan objek penelitian pada perusahaan go
public di Indonesia dan menggunakan indikator corporate governance yaitu; kepemilikan
institusional, kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris independen da n ukuran
dewan komisaris. Namun hasil penelitian Warfield, Terry, Wild, dan Wild (1995)
berkontradiksi dengan penelitian Gabrielsen, Gorm, Jeffrey dan Thomas (1997)
sedangkan Chtourou, Jean, dan Lucie (2001) berkontradiksi dengan penelitian Beasley
(1996), Yermarck (1996), dan Jensen (1993).
Warfield et al., (1995) menemukan hubungan negatif antara kepemilikan
manajerial dan discretionary accruals sebagai ukuran manajemen laba dan berhubungan
positif antara kepemilikan manajerial dengan kandungan informasi laba. Sedangkan
Gabrielsen, et al. (1997) menemukan hasil yang positif tidak signifikan antara
kepemilikan manajerial dengan manajemen laba serta menemukan hubungan negatif
antara kepemilikan manajerial dengan kualitas laba.
Chtourou et al. (2001) menemu kan bahwa ukuran dewan komisaris berhubungan
negatif dengan manajemen laba. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Beasley (1996),
Yermarck (1996), dan Jensen (1993) dimana semakin besar ukuran dewan komisaris
maka semakin besar kemungkinan kecurangan dalam pelaporan keuangan. Berdasarkan
latar belakang di atas maka judul penelitian ini adalah ”PENGARUH CORPORATE
GOVERNANCE DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP MANAJEMEN
LABA DAN KINERJA KEUANGAN”.
5
1.2. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Apakah corporate governance,
dalam hal ini kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris indepe nden dan komite
audit berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kinerja keuangan, (2) Apakah
struktur kepemilikan berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kinerja keuangan,
(3) Apakah manajemen laba berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan.
1.3. TUJUAN PENELITIAN
Sesuai dengan perumusan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk
memperoleh bukti empiris mengenai apakah corporate governance dan struktur
kepemilikan berpengaruh positif terhadap manajemen laba dan kinerja keuangan serta
apakah manajemen laba berpengaruh secara positif terhadap kinerja keuangan.
1.4. MANFAAT PENELITIAN
Dengan penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan teori,
terutama akuntansi keuangan mengenai agency theory, corporate governance dan struktur
kepemilikan serta pengaruhnya terhadap kinerja keuangan yang dilaporkan. Selain itu
juga diharapkan bermanfaat bagi para pemakai laporan keuangan dan praktisi
penyelenggara perusahaan dalam memahami corporate governance dan struktur
kepemilikan serta praktik manajemen laba dan kinerja keuangan, sehingga dapat
meningkatkan nilai dan pertumbuhan perusahaan.
6
1.5. SISTEMATIKA PENULISAN
Bab I : Pendahuluan
Bab ini merupakan pendahuluan yang menjelaskan tentang hal-hal pokok yang
berhubungan dengan penulisan skripsi, meliputi: latar belakang masalah, rumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II : Landasan Teori
Bab ini mengenai tinjauan pustaka tentang landasan teori yang menjadi dasar
penulisan skripsi, meliputi: teori keagenan, corporate governance, struktur kepemilikan,
manajemen laba, dan kinerja keuangan serta perumusan hipotesis penelitian.
Bab III : Metode Penelitian
Bab ini menjelaskan metode-metode penelitian yang digunakan dalam penulisan
skripsi, meliputi: populasi dan prosedur penentuan sampel, jenis dan sumber data, definisi
dan operasional variabel, serta metode analisis.
Bab IV : Analisa dan Pembahasan
Bab ini menguraikan tentang analisis data, temuan empiris yang diperoleh dalam
penelitian, hasil pengujian hipotesis dan pembahasan hasil penelitian.
7
Bab V : Penutup
Bab ini menguraikan tentang kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan , dan
keterbatasan penelitian serta saran bagi penelitian selanjutnya .
8
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. TEORI KEAGENAN
Dalam rangka memahami corporate governance maka digunakanlah dasar
perspektif hubungan keagenan. Jensen dan Meckling (1976) meny atakan bahwa
hubungan keagenan adalah sebuah kontrak antara manajer (agent) dengan investor
(principal). Terjadinya konflik kepentingan antara pemilik dan agen karena kemungkinan
agen bertindak tidak sesuai dengan kepentingan principal, sehingga memicu bia ya
keagenan (agency cost).
Penyebab timbulnya manajemen laba akan dapat dijelaskan dengan menggunakan
teori agensi. Sebagai agen, manajer bertanggung jawab secara moral untuk
mengoptimalkan keuntungan para pemilik (principal) dengan memperoleh kompensasi
sesuai dengan kontrak. Dengan demikian terdapat dua kepentingan yang berbeda di
dalam perusahaan dimana masing -masing pihak berusaha untuk mencapai atau
mempertahankan tingkat kemakmuran yang dikehendaki (Ali, 2002).
Eisenhardt (1989) menggunakan tiga asu msi sifat dasar manusia guna
menjelaskan tentang teori agensi yaitu: (1) manusia pada umum nya mementingkan diri
sendiri (self interest), (2) manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa
mendatang (bounded rationality), dan (3) manusia selalu menghindari resiko (risk
averse). Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia tersebut manajer sebagai manusia
kemungkinan besar akan bertindak berdasarkan sifat opportunistic, yaitu mengutamakan
kepentingan pribadinya (Haris, 2004).
9
Sebagai pengelola perusahaan, manajer perusahaan tentu akan lebih banyak
mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang
dibandingkan pemilik (pemegang saham). Oleh karena itu manajer sudah seharusnya
selalu memberikan sinyal mengenai kondisi perusaha an kepada pemilik. Sinyal yang
dapat diberikan oleh manajer yakni melalui pengungkapan informasi akuntansi seperti
laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan hal yang sangat penting bagi para
pengguna eksternal terutama sekali karena kelompok ini berada dalam kondisi yang
paling besar ketidakpastiannya (Ali, 2002).
Adanya ketidakseimbangan penguasaan informasi ini akan memicu munculnya
kondisi yang disebut sebagai asimetri informasi (information asymmetry). Dengan
adanya asimetri informasi antara manajem en (agent) dengan pemilik (principal) akan
memberi kesempatan kepada manajer untuk melakukan manajemen laba (earnings
management) sehingga akan menyesatkan pemilik (pemegang saham) mengenai kinerja
ekonomi perusahaan. Penelitian Richardson (1998) menunjukk an adanya hubungan
positif antara asimetri informasi dengan manajemen laba.
Corporate governance yang merupakan konsep yang didasarkan pada teori
keagenan, diharapkan bisa berfungsi sebagai alat untuk memberikan keyakinan kepada
para investor bahwa mereka akan menerima return atas dana yang telah mereka
investasikan. Corporate governance sangat berkaitan dengan bagaimana membuat para
investor yakin bahwa manajer akan memberikan keuntungan bagi mereka, yakin bahwa
manajer tidak akan mencuri/menggelapkan ata u menginvestasikan ke dalam proyek -
proyek yang tidak menguntungkan berkaitan dengan dana/kapital yang telah ditanamkan
oleh investor.
10
Selain itu Corporate Governance juga berkaitan dengan bagaimana para investor
mengontrol para manajer (Shleifer dan Vishny , 1997). Dengan kata lain yakni corporate
governance diharapkan akan dapat berfungsi untuk menekan atau menurunkan biaya
keagenan (agency cost).
2.2. CORPORATE GOVERNANCE
2.2.1. Pengertian Corporate Governance
Corporate governance muncul karena terjadi pemisahan antara kepemilikan
dengan pengendalian perusahaan, atau seringkali dikenal dengan istilah masalah
keagenan. Permasalahan keagenan dalam hubungannya antara pemilik modal dengan
manajer adalah bagaimana sulitnya pemilik dalam memastikan bahwa dana yang
ditanamkan tidak diambil alih atau diinvestasikan pada proyek yang tidak
menguntungkan sehingga tidak mendatangkan return. Corporate governance diperlukan
untuk mengurangi permasalahan keagenan antara pemilik dan manajer.
Beberapa konsep tentang corporate governance antara lain yang dikemukakan
oleh Shleifer and Vishny (1997) yang menyatakan corporate governance berkaitan
dengan cara atau mekanisme untuk meyakinkan para pemilik modal dalam memperoleh
return yang sesuai dengan investasi yang telah ditanam. Is kandar dkk (1999) menyatakan
bahwa corporate governance merujuk pada kerangka aturan dan peraturan yang
memungkinkan stakeholders untuk membuat perusahaan memaksimalkan nilai dan untuk
memperoleh return. Selain itu corporate governance merupakan alat untuk menjamin
direksi dan manajer (atau insider) agar bertindak yang terbaik bagi kepentingan investor
(kreditur atau shareholder) (Prowson, 1998).
11
Adanya pemisahan kepemilikan oleh principal dengan pengendalian oleh agen
dalam sebuah organisasi cenderung men imbulkan konflik keagenan diantara principal
dengan agen. Jansen dan Meckling (1976), Watts dan Zimmerman (1986) menyatakan
bahwa laporan keuangan yang dibuat dengan angka -angka akuntansi diharapkan dapat
meminimalkan konflik diantara pihak -pihak yang berkepentingan. Laporan keuangan
yang dilaporkan oleh agen sebagai pertanggungjawaban kinerjanya, dengan itu principal
dapat menilai, mengukur, dan mengawasi sampai sejauh mana agen tersebut bekerja
untuk meningkatkan kesejahteraannya, serta memberikan kompens asi kepada agen.
Laporan keuangan digunakan principal untuk memberikan kompensasi kepada
agen dengan harapan dapat mengurangi konflik keagenan dapat dimanfaatkan oleh agen
untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Akuntansi akrual yang dicatat dengan
basis akrual (accrual basis) merupakan subjek managerial discretion, karena fleksibilitas
yang diberikan oleh GAAP memberikan dorongan kepada manajer untuk memodifikasi
laporan keuangan agar dapat menghasilkan laporan laba seperti yang diinginkan,
meskipun menciptakan distorsi dalam pelaporan laba (Watts dan Zimmer man, 1986).
Salah satu cara yang diharapkan dapat digunakan untuk mengontrol biaya keagenan yaitu
dengan menerapkan tata kolola perusahaan yang baik (good corporate governance).
Kaen (2003) menyatakan corporate governance pada dasarnya menyangkut
masalah siapa (who) yang seharusnya mengendalikan jalannya kegiatan korporasi dan
mengapa (why) harus dilakukan pengendalian terhadap jalannya kegiatan korporasi. Yang
dimaksud dengan siapa adalah para pe megang saham, sedangkan “mengapa” adalah
karena adanya hubungan antara pemegang saham dengan berbagai pihak yang
berkepentingan terhadap perusahaan.
12
Penelitian yang pernah dilakukan Jansen dan Meckling (1976) menunjukkan
bahwa untuk meminimalkan konflik k eagenan adalah dengan meningkatkan kepemilikan
manajerial di dalam perusahaan. Ross et al (1999) menyatakan bahwa semakin besar
kepemilikan manjemen dalam perusahaan maka manajemen akan cenderung untuk
berusaha untuk meningkatkan kinerjanya untuk kepenting an pemegang saham dan untuk
kepentingannya sendiri.
Vafeas (2000) mengatakan bahwa selain kepemilikan manajerial, peranan dewan
komisaris juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas laba dengan membatasi tingkat
manajemen laba melalui fungsi monitoring at as pelaporan keuangan. Komite audit yang
dibentuk dalam perusahaan sebagai sebuah komite khusus diharapkan dapat
mengoptimalkan fungsi pengawasan yang sebelumnya dilakukan oleh dewan komisaris.
Komite audit melakukan fungsinya dalam hal pengawasan terhadap laporan keuangan,
mengawasi audit eksternal, dan mengamati sistem pengendalian internal.
2.2.2. Prinsip Dasar Pengelolaan Perusahaan yang Baik
Menurut Linan (2000) terdapat empat prinsip dasar pengelolaan perusahaan yang
baik. Keempat prinsip tersebut a dalah :
1. Keadilan (fairness) yang meliputi :
(a) Perlindungan bagi seluruh hak pemegang saham.
(b) Perlakuan yang sama bagi para pemegang saham.
2. Transparansi (transparancy) yang meliputi:
(a) Pengungkapan informasi yang bersifat penting.
(b) Informasi harus disiapkan, diaudit, diungkapkan dengan pembukuan berkualitas.
13
(c) Penyebaran informasi harus bersifat adil, tepat waktu dan efisien.
3. Dapat dipertanggungjawabkan (accountability) yang meliputi meliputi:
(a) Dewan direksi bertindak mewakili kepentingan perusahaan dan pemegang saham.
(b) Penilaian yang bersifat independen terlepas dari manajemen.
(c) Akses terhadap informasi secara akurat, relevan dan tepat waktu.
4. Pertanggungjawaban (responsibility) meliputi:
(a) Menjamin dihormatinya segala hak pihak-pihak yang berkepentingan.
(b) Para pihak yang berkepentingan harus mempunyai kesempatan untuk
mendapatkan ganti rugi yang efektif atas pelanggaran hak-hak mereka.
(c) Dibukanya mekanisme pengembangan prestasi bagi pihak yang berkepentingan.
(d) Jika diperlukan, para pihak yang berkepentingan harus mempunyai akses terhadap
informasi yang relevan.
2.3. STRUKTUR KEPEMILIKAN
Masalah corporate governance merupakan masalah yang timbul sebagai akibat
pihak-pihak yang terlibat dalam perusahaan mempunyai kepentingan yang berbeda-beda.
Perbedaan tersebut antara lain karena karakteristik kepemilikan dalam perusahaan, seperti
(1).Kepemilikan menyebar (dispersed ownership). Ditemukan bahwa perusahaan yang
kepemilikannya lebih menyebar memberikan imbalan yang lebih besar kepada pihak
manajemen daripada perusahaan yang kepemilikannya lebih terkonsentrasi (Gilberg dan
Idson, 1995) (2) Kepemilikan terkonsentrasi (closely held). Dalam tipe kepemilikan
seperti ini timbul dua kelompok pemegang saham, yaitu controlling interest dan minority
interest (shareholders).
14
Adanya agency problem dapat dipengaruhi oleh struktur kepemilikan
(kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional). Struktur kepemilikan oleh
beberapa peneliti dipercaya mampu mempengaruhi jalannya perusahaan yang pada
akhirnya berpengaruh pada kinerja perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan yaitu
maksimalisasi nilai perusahaan. Hal ini disebabkan oleh karena adanya kontrol yang
mereka miliki.
Beberapa penelitian mengenai struktur kep emilikan dilakukan oleh Crutchley
(1999) dengan membangun sebuah model yang menunjukkan empat keputusan yang
saling terkait menyangkut leverage, dividend, insider ownership, dan institutional
ownership ditentukan secara simultan dalam kerangka agency cost. Penelitian Crutchley
(1999), memberikan bukti bahwa ada keterkaitan antara keputusan leverage, dividend
payout ratio, insider ownership, dan institutional ownership yang ditentukan secara
simultan meskipun tidak menyeluruh. Pada penelitiannya Crutchley (1999) juga
membuktikan bahwa kepemilikan institusional merupakan subtitusi kepemilikan
manajerial. Chen (2000) menemukan hubungan negatif antara analyst coverage dan
kepemilikan manajerial, hal ini mendukung hasil penelitian Crutchley (1999.) .
Kemungkinan suatu perusahaan berada pad a posisi tekanan keuangan juga banyak
dipengaruhi oleh struktur kepemilikan perusahaan tersebut. Struktur kepemilikan tersebut
menjelaskan komitmen dari pemiliknya untuk menyelamatkan perusahaan. Penelitian
yang dilakukan oleh Classens et al. (1996) mengen ai struktur kepemilikan di Republik
Ceko menyatakan bahwa nilai suatu perusahaan akan lebih tinggi apabila perusahaan
tersebut dimiliki oleh lembaga keuangan yang disponsori oleh bank.
15
Hal ini menjelaskan bahwa bank, sebagai pemilik perusahaan, akan menja lankan
fungsi monitoringnya dengan lebih baik dan investor percaya bahwa bank tidak akan
melakukan ekspropriasi atas aset perusahaan. Selain itu, apabila perusahaan tersebut
dimiliki oleh perbankan maka apabila perusahaan tersebut menghadapi masala h
keuangan maka perusahaan lebih mudah mendapatkan suntikan dana dari bank tersebut.
Classens et al. (1999) menyatakan bahwa kepemilikan oleh bank akan
menurunkan kemungkinan perusahaan mengalami kebangrutan. Namun, apabila struktur
kepemilikan perusahaan dimilik i oleh dewan direksi atau dewan komisarisnya maka
dewan tersebut justru akan cenderung melakukan tindakan -tindakan ekspropriasi yang
menguntungkannya secara pribadi
Oleh karena itu dengan kepemilikan perusahaaan dimiliki oleh direksi semakin
meningkat maka keputusan yang diambil oleh direksi akan lebih cenderung untuk
menguntungkan dirinya dan secara keseluruhan akan merugikan perusahaan sehingga
kemungkinan nilai perusahaan akan cenderung mengalami penurunan.
2.4. MANAJEMEN LABA
2.3.1. Definisi Dan Motivasi Ma najemen Laba
Scott (2000) membagi cara pemahaman atas manajemen laba menjadi dua.
Pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunistik manajer untuk memaksimumkan
utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi, kontrak utang dan political costs
(oportunistic Earnings Management). Kedua, dengan memandang manajemen laba dari
perspektif efficient contracting (Efficient Earnings Management) , dimana manajemen
laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi diri mereka dan perusahaan
16
dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan pihak -pihak
yang terlibat dalam kontrak. Dengan demikian, manajer dapat mempengaruhi nilai pasar
saham perusahaannya melalui manajemen laba, misalnya dengan membuat perataan laba
(income smoothing) dan pertumbuhan laba sepanjang waktu.
Definisi manajemen laba yang hampir sama juga diungkapkan oleh Schipper
(1989) dalam Sutrisno (2002) yang menyatakan bahwa manajemen laba merupakan suatu
intervensi dengan tujuan tertentu dalam proses pelaporan keuangan ek sternal, untuk
memperoleh beberapa keuntungan privat (sebagai lawan untuk memudahkan operasi
yang netral dari proses tersebut).
Menurut Assih dan Gudono (2000) mengartikan manajemen laba sebagai suatu
proses yang dilakukan dengan sengaja dalam batasan General Accepted Accounting
Principles (GAAP) untuk mengarah pada tingkatan laba yang dilaporkan. Manajemen
laba adalah campur tangan dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan
untuk menguntungkan diri sendiri. Manajemen laba merupakan salah satu faktor yang
dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan, dan menambah bias dalam laporan
keuangan serta mengganggu pemakai laporan keuangan yang mempercayai angka laba
hasil rekayasa tersebut sebagai angka laba tanpa rekayasa (Setiawati dan Na’im, 2000 ).
Manajemen laba merupakan area yang kontroversial dan penting dalam akuntansi
keuangan. Beberapa pihak yang berpendapat bahwa manajemen laba merupakan perilaku
yang tidak dapat diterima, mempunyai alasan bahwa manajemen laba berarti suatu
pengurangan dalam keandalan informasi laporan keuangan. Investor mungkin tdak
menerima informasi yang cukup akurat mengenai laba untuk mengevaluasi return dan
risiko portofolionya (Ashari dkk, 1994) dalam Assih (2004).
17
2.3.2. Faktor-Faktor Pendorong Manajemen Laba
Dalam positif accounting theory terdapat tiga hipotesis yang melatarbelakangi
terjadinya manajemen laba (Watt dan Zimmerman, 1986), yaitu:
1. Bonus Plan Hypothesis
Manajemen akan memilih metode akuntansi yang memaksimalkan utilitasnya
yaitu bonus yang tinggi. Manajer perusahaan yang memberikan bonus besar berdasarkan
earnings lebih banyak menggunakan metode akuntansi yang meningkatkan laba yang
dilaporkan. Dalam suatu perusahaan yang memiliki rencana pemberian bonus, maka
seorang manajer perusahaan akan mela kukan penaikan laba saat ini yakni dengan
memilih metode akuntansi yang mampu menggeser laba dari masa depan ke masa kini.
Tindakan ini dilakukan dikarenakan manajer termotivasi untuk mendapatkan upah yang
lebih tinggi untuk masa kini.
Dalam kontrak bonus dikenal dua istilah yaitu bogey (tingkat laba terendah untuk
mendapatkan bonus) dan cap (tingkat laba tertinggi). Jika laba berada di bawah bogey,
maka tidak akan ada bonus yang diperoleh manajer sedangkan jika laba berada di atas
cap, maka manajer juga tidak akan mendapat bonus tambahan. Jika laba bersih berada di
bawah bogey, manajer cenderung memperkecil laba dengan harapan memperoleh bonus
lebih besar pada periode berikutnya, begitu pula sebaliknya. Jadi manajer hanya akan
menaikkan laba bersih perusah aan hanya jika laba bersih berada di antara bogey dan cap.
2. Debt Covenant Hypothesis
Manajer perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian kredit cenderung
memilih metode akuntansi yang memiliki dampak meningkatkan laba (Sweeney, 1994).
Hal ini untuk menjaga reputasi mereka dalam pandangan pihak eksternal.
18
Dalam suatu perusahaan yang mempunyai rasio debt to equity cukup tinggi, maka
akan mendorong manajer perusahaan untuk cenderung menggunakan metode akuntansi
yang dapat meningkatkan pendapatan atau laba. Perusahaan dengan rasio debt to equity
yang tinggi akan berakibat menimbulkan kesulitan dalam memperoleh dana tambahan
dari pihak kreditor dan bahkan perusahaan dapat terancam melanggar perjanjian utang.
3. Political Cost Hypothesis
Dalam suatu perusahaan besar yang memiliki biaya politik tinggi, akan
mendorong manajer untuk memilih metode akuntansi yang menangguhkan laba yang
dilaporkan dari periode sekarang ke periode masa mendatang sehingga dapat
memperkecil laba yang dilaporkan. Adanya biaya politik dikarenakan profitabilitas
perusahaan yang tinggi dapat menarik perhatian media dan konsumen. Agency theory
terdapat asumsi bahwa setiap individu semata mata termotivasi oleh kepentingan diri
sendiri sehingga akan dapat menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan
agent. Sedangkan pemegang saham sebagai pihak principal tentu akan mengadakan
kontrak dengan tujuan untuk memaksimumkan kesejahteraan dirinya sendiri yakni
supaya profitabilitas yang selalu meningkat.
Seorang manajer dalam perusahaan berindak sebagai agent dan cenderung akan
termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya
sendiri yang antara lain seperti dalam hal memperoleh investasi, pinjaman, maupun
kontrak kompensasi. Munculnya masalah keagenan ini sebenarnya lebih dikarenakan
adanya perilaku oportunistik dari agent, yaitu perilaku manajemen untuk
memaksimumkan kesejahteraannya sendiri yang tentu sangat berlawanan sekali dengan
kepentingan principal. Sebagai pengelola perusahaan, manajer memiliki dorongan dan
19
mempunyai kemampuan untuk memilih dan menerapkan metode akuntansi yang dinilai
dapat memperlihatkan kinerjanya yang baik sehingga tujuannya untuk mendapatkan
bonus dari principal akan terpenuhi.
Sedangkan menurut Copeland (1968:10) manajemen laba didefinisikan sebagai,
“some ability to increase or decrease reported net income at will”. Dari pernyataan
Copeland berarti bahwa manajemen laba mencakup usaha manajemen untuk
memaksimumkan, atau meminimumkan laba, termasuk perataan laba sesuai dengan
keinginan manajemen.
Penelitian Nelson et al. (2000) meengenai praktik manajemen laba yang
dilakukan oleh manajemen di Amerika Serikat dan mengidentifikasi penyebab auditor
membiarkan manajemen laba tanpa dikoreksi. Dari data 526 kasus manajemen laba yang
diperoleh dengan cara survey pada kantor akuntan publik yang tergolong the big five
Nelson menyimpulkan bahwa: (1) 60% dari sampel melakukan usaha manajemen laba
yang berdampak meningkatnya laba tahun berjalan , sisanya 40% berdampak pada
penurunan laba, (2) manajemen laba yang paling banyak dilakukan adalah yang berkaitan
dengan cadangan (reserve), kemudian berdasarkan urutan frekuensi kejadian adalah:
pengakuan pendapatan, penggabungan badan usaha (business combination), aktiva tidak
berwujud, aktiva tetap, investasi, sewa guna usaha.
Dalam rangka untuk mendeteksi ada tidaknya manajamen laba, maka perlu
melakukan pengukuran atas akrual sehingga hal yang sangat penting untuk diperhatikan.
Total akrual merupakan selisih antara laba dan arus kas yang berasal dari akt ivitas
operasi. Total akrual dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu: (1) bagian akrual yang
memang sewajarnya ada dalam proses penyusunan laporan keuangan, disebut normal
20
accruals atau non discretionary accruals, dan (2) bagian akrual yang merupakan
manipulasi data akuntansi disebut dengan abnormal accruals atau discretionary accruals.
Studi komparatif yang pernah terjadi yakni dalakukan oleh Thomas dan Zhang
(2000:347) tentang berbagai metode estimasi akrual, dengan tujuan u ntuk mengetahui
model mana yang mempunyai akurasi yang paling tinggi. Beberapa model yang dijadikan
dasar komparasi, yaitu model DeAngelo (1986), model Jones (1991), model Dechow and
Sloan (1991), model Dechow (1995) serta model Kang dan Sivaramakhrisnan (1995).
Thomas dan Zhang (2000) juga menguji dengan data yang digunakan adalah pool data
ternyata dengan memakai data pool untuk setiap jenis industri diperoleh akurasi model
prediksi yang lebih baik.
Masih menurut McNichols (2000), menurutnya ada tiga pendekatan yang dapat
digunakan untuk proksi manajemen laba: (1) pendekatan yang mendasarkan pada model
agregat akrual, misal Healy (1985), model Jones dan modified Jones, (2) pendekatan
yang mendasarkan pada model spesifik akrual, misal Beneish (1997) serta Beaver dan
McNichols (1998), dan (3) pendekatan berdasarkan distribusi frekuensi, fokusnya adalah
perilaku laba yang dikaitkan dengan spesifik benchmark dimana praktik manajemen laba
dapat dilihat dari banyaknya frekuensi perusahan yang melaporkan laba di atas atau di
bawah benchmark, misal Burgstahler dan Dichev (1997) serta Myers dan Skinner (1999).
Hasil kajian McNichols (2000) juga menyarankan bahwa agar riset mengenai manajemen
laba untuk menggunakan model spesifik akrual dan distribusi frekuensi.
Bukti empirik yang ada saat ini diungkapkan oleh Sloan (1996) dan Xie (2001)
yakni bahwa pasar tidak mengantisipasi dengan baik informasi yang terkait dengan
akrual (mispricing akrual), menurut Dechow dan Skinner (2000) hal ini disebabkan oleh
21
adanya perbedaan sudut pandang antara akademi si dan para praktisi (partisipan pasar
modal). Riset mengenai manajemen laba oleh para akademisi adalah berdasarkan pada
perilaku manajemen untuk memenuhi tujuan tertentu sebagaimana dijelaskan dalam teori
akuntansi positip, sedangkan para praktisi lebih m elihat manajemen laba dalam prespektif
insentif pasar modal (capital market incentives).
Selama ini para akademisi menggunakan model statistik yang rumit untuk
mengidentifikasi praktik manajemen laba, sedangkan model tersebut kadang bahkan
justru sulit untuk difahami. Adanya keterbatasan kemampuan para praktisi juga
diungkapkan oleh Dechow dan Skinner (2000:242) yang menyatakan “SEC cannot
ignore the possibility that certain investors rely completely on earnings numbers reported
on the face of the income st atement because their abality to process more sophisticated
information is limited”.
Berdasarkan pada kajian McNichols (2000) serta Dechow dan Skinner (2000)
maka proksi manajemen laba yang digunakan penul is adalah model spesifik akrual yaitu
akrual modal kerja. Penggunaan akrual modal kerja lebih tepat sebagaimana yang telah
dikaji oleh Peasnell et al. (2000). Penggunaan akrual diskresioner tidak diestimasi
berdasarkan kesalahan residual karena teknik tersebut dianggap relatif rumit, oleh karena
itu digunakan proksi rasio akrual modal kerja dengan penjualan.
Digunakannya penjualan sebagai deflator akrual modal kerja adalah karena
manajemen laba banyak terjadi pada akun penjualan sebagaimana yang diungkapkan oleh
Nelson et al. (2000). Penggunaan penjualan s ebagai deflator dalam penelitian ini juga
dilakukan oleh Friedlan (1994) yang memodifikasi model DeAngelo (1986) menjadi
rasio antara perubahan total akrual dengan penjualan.
22
Semakin besar perusahaan, semakin besar pula kemungkinan perusahaan tersebut
memilih metode akuntansi yang menurunkan laba. Hal tersebut dikarenakan dengan laba
yang tinggi pemerintah akan segera mengambil tindakan, misalnya : mengenakan
peraturan antitrust, menaikkan pajak pendapatan perusahaan, dan lain -lain.
Scott (2000: 302) mengemukakan adanya beberapa motivasi yang menyebabkan
terjadinya manajemen laba :
a. Bonus Purposes
Manajer yang memiliki informasi atas laba bersih perusahaan akan bertindak
secara oportunistic untuk melakukan manajemen laba dengan memaksimalkan laba saat
ini (Healy, 1985).
b. Political Motivations
Manajemen laba digunakan untuk mengurangi laba yang dilaporkan pada
perusahaan publik. Perusahaan cenderung mengurangi laba yang dilaporkan karena
adanya tekanan publik yang mengakibatkan pemerintah menetapkan peraturan-peraturan
yang lebih ketat.
c. Taxation Motivations
Motivasi penghematan pajak menjadi motivasi manajemen laba yang paling
nyata. Berbagai metode akuntansi digunakan dengan tujuan penghematan pajak
pendapatan.
d. Pergantian CEO
CEO yang mendekati masa pensiun akan cenderung menaikkan pendapatan untuk
meningkatkan bonus mereka. Dan jika kinerja perusahaan buruk, mereka akan
memaksimalkan pendapatan agar tidak diberhentikan.
23
e. Initital Public Offering (IPO)
Perusahaan yang akan go public belum memiliki nilai pasar, dan menyebabkan
manajer perusahaan yang akan go public melakukan manajemen laba dalam prospectus
mereka dengan harapan dapat menaikkan harga saham perusahaan.
f. Pentingnya Memberi Informasi Kepada Investor
Informasi mengenai kinerja perusahaan harus disampaikan kepada investor
sehingga pelaporan laba perlu disajikan agar investor tetap menilai bahwa perusahaan
tersebut dalam kinerja yang baik.
2.3.3. Teknik Manajemen Laba
Teknik dan pola manajemen laba menurut Setiawati dan Na’i m (2000) dapat
dilakukan dengan tiga teknik yaitu:
(1) Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi
Cara manajemen mempengaruhi laba melalui judgment (perkiraan) terhadap
estimasi akuntansi antara lain estimasi tingkat piutang tak tertagih, esti masi kurun waktu
depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud, estimasi biaya garansi, dan
lain-lain.
(2) Mengubah metode akuntansi
Perubahan metode akunatansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi,
contoh : merubah metode depresia si aktiva tetap, dari metode depresiasi angka tahun ke
metode depresiasi garis lurus.
24
(3) Menggeser periode biaya atau pendapatan.
Contoh rekayasa periode biaya atau pendapatan antara lain :
mempercepat/menunda pengeluaran untuk penelitian dan pengemba ngan sampai pada
periode akuntansi berikutnya, mempercepat/menunda pengeluaran promosi sampai
periode berikutnya, mempercepat/menunda pengiriman produk ke pelanggan, mengatur
saat penjualan aktiva tetap yang sudah tak dipakai.
2.3.4. Kondisi untuk Praktik Manajemen Laba
Trueman dan Titman (1988) berpendapat bahwa hanya manajer yang dapat
mengobservasi laba ekonomi perusahaan untuk setiap perioda. Sebaliknya, pihak lain
mungkin dapat menarik kesimpulan sesuatu mengenai laba ekonomi dari laba yang
dilaporkan oleh perusahaan, sebagaimana yang diungkapkan oleh manajer. Dalam
menyiapkan laporan mungkin manajer dapat memindah, antarperioda, pada saat sebagian
laba ekonomi diketahui sebagai laba akuntansi dalam laporan keuangan. Perpindahan
tersebut dapat dicapai, sebagai contoh, melalui pengakuan biaya pensiun, penyesuaian
penaksiran umur ekonomis perusahaan, dan penyesuaian penghapusan piutang.
Jika manajer tidak dapat memindah laba antarperioda maka laba yang dilaporkan
oleh perusahaan akan sama dengan laba e konomi pada setiap perioda. Fleksibilitas untuk
menunda laba antarperioda hanya tersedia bagi beberapa perusahaan, dan hanya manajer
yang mengetahui apakah mereka mempunyai fleksibilitas tersebut atau tidak.
Richardson (1998) menunjukkan bukti hubungan ant ara ketidakseimbangan
informasi dengan manajemen laba. Hipotesis yang diajukan adalah bahwa tingkat
ketidakseimbangan informasi akan mempengaruhi tingkat manajemen laba yang
25
dilakukan oleh manajer perusahaan. Hasil penelitian Richardson menunjukkan adanya
hubungan yang positif signifikan antara ukuran ketidakseimbangan informasi ( bid-ask
spreads dan analyst’ forecast dispersion ) dan manajemen laba setelah mengendalikan
faktor lain yang dapat mempengaruhi manajemen laba, seperti variabilitas aliran kas,
ukuran, risiko, dan pengungkapan keuangan perusahaan.
2.3.5. Pola Manajemen Laba
Pola manajemen laba menurut Scott (2000) dapat dilakukan dengan cara:
a. Taking a Bath
Pola ini terjadi pada saat reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru dengan
melaporkan kerugian dalam jumlah besar. Tindakan ini diharapkan dapat meningkatkan
laba di masa datang.
b. Income Minimization
Dilakukan pada saat perusahaan mengalami tingkat profitabilitas yang tinggi
sehingga jika laba pada periode mendatang diperkirakan turun drastis dapat diatasi
dengan mengambil laba periode sebelumnya.
c. Income Maximization
Dilakukan pada saat laba menurun. Tindakan atas income maximization bertujuan
untuk melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang lebih besar. Pola ini
dilakukan oleh perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian hutang.
d. Income Smoothing
Dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan sehingga
dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar karena pada umumnya investor lebih
menyukai laba yang relatif stabil.
26
2.4. KINERJA KEUANGAN
Penelitian ini membahas bagaimana mekanisme corporate governance dan
struktur kepemilikan mempengaruhi kinerja keuangan sehingga akhirnya dapat
meningkatkan nilai perusahaan. Pelaksanaan corporat governance y ang baik dan sesuai
dengan peraturan yang berlaku akan membuat investor memberikan respon positif
terhadap kinerja perusahaan dan nilai pasar perusahaan.
Melalui peningkatan kinerja perusahaan akan menurunkan biaya modal,
sementara itu investasi terhadap perusahaan akan meningkat dan harga saham akan
meningkat pula. Kinerja perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain
terkonsentrasi atau tidak terkonsentrasinya kepemilikan, manipulasi laba, serta
pengungkapan laporan keuangan. Kepemilikan yang banyak terkonsentrasi oleh institusi
akan memudahkan pengendalian sehingga akan meningkatkan kinerja perusahaan.
Pengungkapan aporan keuangan akan memberkan informasi yang berguna bagi pemakai
laporan keuangan dan sebagai salah satu aspek GCG dapat digunak an untuk melihat baik
tidaknya kinerja perusahaan.
Dukungan empiris perihal faktor -faktor yang mempengaruhi kinerja antara lain
Penelitian yang dilakukan oleh Husnan (2000), menemukan bahwa perusahaan yang
kepemilikannya lebih menyebar memberikan imbalan yang lebih besar kepada
manajemen dibanding dengan perusahaan yang kepemilikannya lebih terkonsentrasi. Xu
and Wang (1999) menemukan bahwa kepemilikan saham perusahaan oleh legal person
shareholder dapat memonitor manajemen secara lebih efektif melalui pen gendalian oleh
board of directors , pemilihan karyawan perusahaan dan pemberian kompensasi terhadap
chief corporate officer.
27
Penelitian yang pernah dilakukan oleh Demzetz dan Lehn (1985) yang dikutif
oleh Xu dan Wang (1999) menemukan bahwa tidak ada hubun gan yang signifikan antara
konsentrasi kepemilikan dan tingkat laba akuntansi untuk 511 perusahaan terbesar di US.
Holderness dan Sheehan (1988) menemukan bahwa Qtobin lebih tinggi jika perusahaan
dimiliki oleh pemegang saham mayoritas, Qtobin lebih rendah secara signifikan untuk
perusahaan dengan kepemilikan saham mayoritas individual. Mc Connel dan Servaes
(1990) menemukan bahwa Qtobin berhubungan positif dengan proksi kepemilikan saham
oleh investor institusional.
2.5. PERUMUSAN HIPOTESIS
2.5.1. Corporate Governance dan Manajemen Laba
Sesuai dengan kajian dalam teori keagenan (agency theory), hubungan agensi
muncul ketika satu orang atau lebih ( principal) mempekerjakan orang lain (agent) untuk
memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan
kepada agent tersebut (Jensen dan Meckling, 1976). Sebagai pengelola perusahaan,
manajer lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa
yang akan datang dibandingkan pemilik (pemegang saham). Untuk itu, manajer harus
berkewajiban memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik. Akan
tetapi informasi yang disampaikan terkadang tidak sesuai dengan kondisi per usahaan
sebenarnya dan dikenal sebagai asimetri informasi (information asymmetric) (Haris,
2004). Asimetri antara manajemen (agent) dan pemilik (principal) akan memberi
kesempatan manajer untuk melakukan manajemen laba ( earnings management)
(Richardson, 1998).
28
Corporate governance terdiri dari kepemilikan manajerial, proporsi dewan
komisaris independent dan komite audit. Shleifer dan Vishny (1986) menyatakan bahwa
kepemilikan saham yang besar dari segi nilai ekonomisnya memiliki insentif untuk
memonitor. Secara teoritis ketika kepemilikan manajemen rendah, maka insentif terhadap
kemungkinan terjadinya peril aku oportunistik manajer akan meningkat. Kepemilikan
manajemen terhadap saham perusahaan dipandang dapat menyelaraskan potensi
perbedaan kepentingan antara pemegang saham luar dengan manajemen (Jansen dan
Meckling, 1976). Sehingga permasalahan keagenen dia sumsikan akan hilang apabila
seorang manajer adalah juga sekaligus sebagai seorang pemilik.
Penelitian Warfield et al (1995) yang menguji hubungan kepemilikan manajerial
dengan discretionary accrual dan kandungan informasi laba menemukan bukti bahwa
kepemilikan manajerial berhubungan secara negatif dengan discretionary accrual. Hasil
penelitian tersebut juga menyatakan bahwa kualitas laba meningkat ketika kepemilikan
manajerial tinggi.
Gabrielsen et al (2002) menguji hubungan antara kepemilikan manajerial dan
kandungan informasi laba serta discretionary accrual. Dengan menggunakan data pasar
modal Denmark ditemukan adanya hubungan yang positif tetapi tidak signifikan antara
kepemilikan manajerial dan discretionary accrual dan hubungan negatif antara
kepemilikan manajerial dan kandungan informasi laba. Smith (1976) menemukan bahwa
income smoothing secara signifikan lebih sering dilakukan oleh perusahaan -perusahaan
yang dikendalikan oleh manajer dibandingkan dengan perusahaan -perusahaan yang
dikendalikan oleh pemiliknya.
29
Dewan komisaris ditugaskan dan diberi tanggung jawab atas pengawasan kualitas
informasi yang terkandung dalam laporan keuangan. Hal ini penting mengingat adanya
kepentingan dari manajemen untuk melakukan manajemen laba y ang berdampak pada
kepercayaan investor. Untuk mengatasinya dewan komisaris diperbolehkan untuk
memiliki akses pada informasi perusahaan.
Dewan komisaris tidak memiliki otoritas dalam perusahaan, maka dewan direksi
bertanggung jawab untuk menyampaikan informasi terkait dengan perusahaan kepada
dewan komisaris (NCCG, 2001). Selain mensupervisi dan memberi nasihat pada dewan
direksi sesuai dengan UU No. 1 tahun 1995, fungsi dewan komisaris yang lain sesuai
dengan yang dinyatakan dalam National Code for Good Corporate Governance 2001
adalah memastikan bahwa perusahaan telah melakukan tanggung jawab sosial dan
mempertimbangkan kepentingan berbagai stakeholder perusahaan sebaik memonitor
efektifitas pelaksanaan good corporate governance.
Penelitian mengenai keberadaan dewan komisar is telah dilakukan diantaranya
Peasnell, Pope, dan Young (1998) meneliti efektifitas dewan komisaris dan komisaris
independen terhadap manajemen laba yang terjadi di Inggris. Dengan menggunakan
sampel penelitian yang terdiri dari 1178 perusahaan tahun sela ma periode 1993-1996,
hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan komisaris independen membatasi
pihak manajemen untuk melakukan manajemen laba.
Xie, Davidson, dan Dadalt (2003) meneliti peran dewan komisaris dengan latar
belakang bidang keuangan da lam mencegah manajemen laba. Dari penelitian ini
diketahui makin sering dewan komisaris bertemu maka akrual kelolaan perusahaan makin
kecil. Hal ini ditunjukkan dengan koefisien negatif yang signifikan. Penelitian ini juga
30
menunjukkan bahwa persentase dewa n komisaris dari luar perusahaan yang independen
berpengaruh negatif secara signifikan terhadap akrual kelolaan.
Beasley (1996) menyarankan bahwa masuknya dewan komisaris yang berasal dari
luar perusahaan meningkatkan efektivitas dewan tersebut dalam meng awasi manajemen
untuk mencegah kecurangan laporan keuangan. Hasil penelitiannya juga melaporkan
bahwa komposisi dewan komisaris lebih penting untuk mengurangi terjadinya
kecurangan pelaporan keuangan, daripada kehadiran komite audit. Analisis lain dalam
penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik komisaris yang berasal dari luar
perusahaan (outsider director) juga berpengaruh terhadap kecenderungan terjadinya
kecurangan pelaporan keuangan.
Penelitian terkait dengan keberadaan dewan komisaris di Indonesi a juga banyak
dilakukan. Veronica dan Utama (2005) meneliti pengaruh praktik corporate governance
terhadap manajemen laba. Praktik corporate governance yang diteliti yaitu proporsi
dewan komisaris independen. Hasil dari penelitian ini adalah kesimpulan bah wa proporsi
dewan komisaris independen tidak terbukti berpengaruh terhadap manajemen laba yang
dilakukan oleh perusahaan. Boediono (2005) meneliti apakah komposisi dewan komisaris
berpengaruh terhadap manajemen laba. Hasil dari penelitian ini diketahui bah wa secara
parsial pengaruh corporate governance dalam hal ini komposisi dewan komisaris tidak
berpengaruh terhadap manajemen laba.
Veronica dan Bachtiar (2004) menemukan bahwa variabel persentase dewan
komisaris independen tidak berkorelasi secara signifi kan terhadap akrual kelolaan, walau
begitu interaksi antar variabel akrual kelolaan dan dewan komisaris independen
menunjukkan koefisien positif yang signifikan terhadap return perusahaan. Hal tersebut
31
dapat dijelaskan dengan makin tingginya persentase dew an komisaris independen maka
akrual kelolaan makin berpengaruh terhadap return.
Komite audit sesuai dengan Kep. 29/PM/2004 adalah komite yang dibentuk oleh
dewan komisaris untuk melakukan tugas pengawasan pengelolaan perusahaan.
Keberadaan komite audit sangat penting bagi pengelolaan perusahaan. Komite audit
merupakan komponen baru dalam sistem pengendalian perusahaan. Selain itu komite
audit dianggap sebagai penghubung antara pemegang saham dan dewan komisaris
dengan pihak manajemen dalam menangani masala h pengendalian. Berdasarkan Surat
Edaran BEJ, SE-008/BEJ/12-2001, keanggotaan komite audit terdiri dari sekurang -
kurangnya tiga orang termasuk ketua komite audit. Anggota komite ini yang berasal dari
komisaris hanya sebanyak satu orang, anggota komite yang berasal dari komisaris
tersebut merupakan komisaris independen perusahaan t ercatat sekaligus menjadi ketua
komite audit. Anggota lain yang bukan merupakan komisaris independen harus berasal
dari pihak eksternal yang independen.
Seperti diatur dalam Kep-29/PM/2004 yang merupakan peraturan yang
mewajibkan perusahaan membentuk komite audit, tugas komite audit antara lain:
1. Melakukan penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan perusahaan,
seperti laporan keuangan, proyeksi dan informasi keuang an lainnya,
2. Melakukan penelaahan atas ketaatan perusahaan terhadap peraturan perundang -
undangan di bidang pasar modal dan peraturan perundangan lainnya yang
berhubungan dengan kegiatan perusahaan,
3. Melakukan penelaahan atas pelaksanaan pemeriksaan o leh auditor internal,
32
4. Melaporkan kepada komisaris berbagai risiko yang dihadapi perusahaan dan
pelaksanaan manajemen risiko oleh direksi,
5. Melakukan penelaahan dan melaporkan kepada dewan komisaris atas pengaduan
yang berkaitan dengan emiten,
6. Menjaga kerahasiaan dokumen, data, dan rahasia perusahaan.
Penelitian mengenai komite audit diantaranya penelitian oleh Davidson, Xie, dan
Xu (2004) yang menganalisis reaksi pasar terhadap pengumuman penunjukkan anggota
komite audit secara sukarela. Hasil y ang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan pasar
bereaksi positif terhadap pengumuman penunjukan anggota komite audit terutama yang
ahli di bidang keuangan.
Xie, Davidson, dan Dadalt (2003) menguji efektifitas komite audit dalam
mengurangi manajemen laba yang dilakukan oleh pihak manajemen. Hasil yang
diperoleh dari penelitian ini berupa kesimpulan bahwa komite audit yang berasal dari luar
mampu melindungi kepentingan pemegang saham dari tindakan manajemen laba yang
dilakukan oleh pihak manajemen. Penga ruh terhadap akrual kelolaan ditunjukkan oleh
makin seringnya komite audit bertemu dan pengaruh tersebut ditunjukkan dengan
koefisien negatif yang signifikan. Carcello et al. (2006) menyelidiki hubungan antara
keahlian komite audit di bidang keuangan dan m anajemen laba. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa keahlian komite audit independen di bidang keuangan terbukti
mengurangi manajemen laba.
Suaryana (2005) meneliti hubungan antara keberadaan komite audit yang
memenuhi syarat dan pengaruhnya terhadap ear nings response coefficient. Temuan yang
didapat dari penelitian ini adalah earnings reponse coefficient perusahaan yang telah
33
memiliki komite audit yang memenuhi syarat lebih tinggi bila dibandingkan dengan
perusahaan yang tidak memiliki komite audit yang memenuhi syarat. Ini berarti
keberadaan komite audit yang memenuhi syarat dalam perusahaan direspon lebih baik
oleh pasar.
Utama dan Leonardo (2006) memberikan bukti empiris tentang dampak
komposisi komite audit dan kendali dari pengelola perusahaan pada efektivitas komite
audit berdasarkan survey atas komite audit perusahaan yang listing di BEJ. Mereka
menemukan bukti bahwa komposisi komite audit memiliki dampak positif yang
signifikan dalam efektivitas komite audit. Selain itu penelitian ini juga menunju kkan
beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas komite audit secara signifikan selain
komposisinya, diantaranya kekuatan mengendalikan perusahaan oleh pemegang saham,
makin banyaknya perwakilan komisaris independen dalam dewan komisaris,
pengendalian oleh dewan komisaris, dan lamanya komite audit menjabat.
Penelitian Veronica dan Utama (2005) menguji pengaruh keberadaan komite
audit dalam perusahaan terhadap manajemen laba. Penelitian tersebut melaporkan bahwa
variabel keberadaan komite audit tidak berp engaruh terhadap manajemen laba
perusahaan. Artinya keberadaan komite audit tidak mampu mengurangi manajemen laba
yang terjadi di perusahaan. Penelitian oleh Veronica dan Bachtiar (2004) menemukan
bahwa komite audit memiliki hubungan yang signifikan dengan akrual kelolaan
perusahaan manufaktur di Indonesia khususnya untuk periode 2001 - 2002, artinya
kehadiran komite audit secara efektif menghalangi peningkatan manajemen laba di
perusahaan tersebut.
34
Veronica dan Bachtiar (2004) juga meneliti pengaruh intera ksi dari persentase
komite audit dengan akrual diskresioner, dan hasil dari penelitian tersebut menunjukkan
adanya koefisien positif yang signifikan dalam hubungan antara reaksi pasar dan interaksi
antara komite audit dan akrual diskresioner. Hal ini membu ktikan bahwa pasar menilai
positif akrual kelolaan perusahaan yang memiliki komite audit yang diindikasikan dengan
tingginya return perusahaan.
Wedari (2004) menguji pengaruh interaksi antara dewan komisaris dan komite
audit terhadap praktik manajemen lab a. Dengan menggunakan sampel perusahaan non
finansial yang listing di BEJ untuk tahun 1994 hingga 2002, Wedari (2004) menunjukkan
interaksi dewan komisaris dengan komite audit justru berpengaruh positif terhadap
manajemen laba. Hasil tersebut bertolak bela kang dengan hasil penelitian lain yang
serupa, artinya dengan adanya dewan komisaris dan komite audit belum berhasil
mengurangi manajemen laba karena keberadaan mereka manajer dapat melakukan
manajemen laba dengan lebih leluasa. Setiawan (2006) menunjukkan bahwa komite audit
berpengaruh signifikan secara positif terhadap kualitas laba (earnings response
coefficient), artinya dengan adanya komite audit maka perusahaan dapat meningkatkan
kualitas laba yang dilaporkan.
Wilopo (2004) menganalis hubungan dewan komisaris independen, komite audit,
kinerja perusahaan dan akrual diskresioner. Dari penelitian tersebut dilaporkan bahwa
kehadiran komite audit dan dewan komisaris independen mampu mempengaruhi secara
negatif praktik manajemen laba di perusahaan. Hal ini menandakan bahwa mekanisme
corporate governance diatas penting untuk menjamin terlaksananya praktik perusahaan
yang adil (fair) dan transparan.
35
Corporate governance yang merupakan konsep yang didasarkan pada teori
keagenan, diharapkan bisa berfungsi sebag ai alat untuk memberikan keyakinan kepada
para investor bahwa mereka akan menerima return atas dana yang telah mereka
investasikan. Corporate governance berkaitan dengan bagaimana para investor yakin
bahwa manajer akan memberikan keuntungan bagi mereka, ya kin bahwa manajer tidak
akan mencuri/menggelapkan atau menginvestasikan ke dalam proyek -proyek yang tidak
menguntungkan berkaitan dengan dana/kapital yang telah ditanamkan oleh investor, dan
bagaimana para investor mengontrol para manajer (Shleifer dan Vis hny, 1997).
H1: Corporate governance berpengaruh positif terhadap manjemen laba.
2.5.2. Corporate Governance dan Kinerja Keuangan
Dalam perspektif agency theory, weak governance merupakan bagian dari agency
costs yang terjadi dan mencerminkan adanya divergence of interest antara principal
(pemilik) dan agen (manajemen) (Riyanto, 2005). Agen yang risk averse dan cenderung
mementingkan dirinya sendiri ( self-serving behavior) akan mengalokasikan resources
(berinvestasi) yang tidak meningkatkan nilai perusahaan. Di samping itu, agen juga
melakukan shirking dengan cara menyalahgunakan ( abuse) resources dalam bentuk
pecuniary dan non-pecuniary benefits.
Tindakan yang ‘merugikan’ perusahaan ini bisa terjadi karena adanya information
asymmetry antara principal dan agen menyangkut masalah yang berhubungan dengan
organisasi. Akibat adanya information asymmetry tersebut, pemilik kesulitan untuk
mengetahui (observe) apakah agen sudah bertindak sebagaimana mestinya (Eisenhardt,
1985). Adanya inherent agency problems dalam pengelolaan organisasi modern ini
36
mengindikasikan bahwa nilai perusahaan akan naik jika pemilik bisa mengendalikan
perilaku manajemen agar tidak menghamburkan resources perusahaan, baik dalam
bentuk investasi yang tidak layak, ataupun dalam bentuk shirking.
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengungkap pengaruh corporate
governance terhadap kinerja dan nilai perusahaan. Namun, pada umumnya penelitian
yang dilakukan hanya menekankan pada salah satu aspek dari agency costs, yaitu
monitoring costs. Menurut Watts dan Zimmerman (1986) agency costs terdiri dari dua,
yaitu monitoring costs dan bonding costs. Corporate governance dikatakan dapat
menurunkan monitoring costs akibat adanya peningkatan pengawasan dan transparansi
(atau penurunan information asymmetry). Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa
adanya pengaruh komposisi kepemilikan dan kompisisi dewan komisaris ( board of
directors) terhadap kinerja.
Penelitian yang dapat menunjukkan adanya manfaat corporate governance
elemen kedua dari agency costs, yaitu bonding cost, belum banyak dilakukan. Bonding
costs merupakan agency costs yang ditanggung oleh agen, yang mencerminkan upaya
manajemen dalam menunjukkan kepada principal bahwa mereka tidak akan
menyalahgunakan kewenangan yang diberikan kepadanya (m anajer akan berbuat demi
kebaikan perusahaan). Agen sadar bahwa principal ‘curiga’ kepada mereka, dan oleh
karena itu akan cenderung menyalahkan mereka jika ada sesuatu yang salah. Kesadaran
akan hal ini memunculkan upaya ( efforts) dari manajemen agar mereka dipercaya oleh
principal. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menunjukkan itikad baik dan
memberikan laporan yang komprehensif kepada principal.
37
Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Booz -Allen & Hamilton (1998) dan
McKinsey & Company (2001) menunjukkan seberapa buruknya penilaian pasar terhadap
implementasi corporate governance di Indonesia. Hasil penelitian tersebut diharapkan
dapat mendorong manajemen untuk meningkatkan kualitas pengelolaan perusahaan dan
memperbaiki citra governance mereka. Manajemen dapat meningkatkan citra mereka
dengan menunjukkan compliance atas good corporate governance codes sebagaimana
disarankan oleh lembaga yang dipercaya, yaitu Komite Nasional Kebijakan atas
Corporate Governance (KNKCG) dan mengungkapkan kepa tuhan tersebut dalam laporan
tahunan. Sejauh mana kepatuhan ini membawa dampak positif bagi perusahaan, masih
merupakan pertanyaan empiris yang perlu dijawab. Penelitian ini melihat pengaruh
kembali atas corporate governance terhadap kinerja.
Dengan melihat beberapa contoh kasus tindakan kecurangan yang dilakukan oleh
manajemen perusahaan, maka akan dipertanyakan akan bagaimana efektivitas penerapan
corporate governance yang juga akan berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Corporate
governanace merupakan salah satu elemen kunci dalam meningkatkan efesiensi
ekonomis, yang meliputi serangkaian hubungan antara manajemen perusahaan, dewan
komisaris, para pemegang saham dan stakeholders lainnya. C orporate governance juga
memberikan suatu struktur yang memfasilita si penentuan sasaran-sasaran dari suatu
perusahaan, dan sebagai sarana untuk menentukan teknik monitoring kinerja (Deni,
Khomsiyah dan Rika, 2004).
H2: Corporate governance berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan.
38
2.5.3. Struktur Kepemilikan dan Manajemen Laba
Struktur kepemilikan yang menyebar luas umumnya hanya terdapat di Amerika
Serikat dan Inggris. Di negara -negara maju lainnya dan negara -negara sedang
berkembang, umumnya perusahaan masih dikendalikan oleh keluarga. La Porta dkk
(1999), dalam Arifin (2003), melaporkan bahwa 85% dari perusahaan Spanyol
mempunyai pemegang saham kendali, dibandingkan Inggris yang hanya 10% dan
Amerika Serikat 20%. Begitu pula hasil penelitian Crijns & De Clerck (1997), dalam Van
den Berghe & Carchon (2001), di Belgia; S hahira (2003) di Mesir; Wiwattanakantung
(2000) di Thailand; Sarac (2002) di Turki; dan Arifin (2003) di Indonesia.
Anderson dkk (2002) mengatakan bahwa perusahaan yang dikendalikan oleh
keluarga mempunyai struktur yang menyebabkan berkurangnya konflik ag ensi antara
pemegang saham dan kreditur, dimana kreditur menganggap kepemilikan keluarga lebih
melindungi kepentingan kreditur. Anderson & Reeb (2002) menunjukkan bahwa
pemegang saham minoritas justru diuntungkan dari ad anya kepemilikan keluarga. Arifin
(2003) menunjukkan bahwa perusahaan publik di Indonesia yang dikendalikan keluarga
atau negara atau institusi keuangan masalah agensinya lebih baik jika dibandingkan
perusahaan yang dikontrol oleh publik atau tanpa pengendali utama. Menurutnya, dalam
perusahaan yang dikendalikan keluarga, masalah agensinya lebih kecil karena
berkurangnya konflik antara principal dan agent.
Jika kepemilikan keluarga lebih efisien, maka pada perusahaan dengan
kepemilikan keluarga yang tinggi pengelolaan laba yang oportunis dapa t dibatasi. Tetapi
pengendalian yang lebih efisien dalam kepemilikan keluarga tersebut besar kemungkinan
tidak berlaku di perusahaan konglomerasi – seperti yang banyak terdapat di Indonesia.
39
Untuk perusahaan konglomerasi, biasanya sebagian besar kekayaan pemilik tidak
berada di satu perusahaan, tetapi tersebar di berbagai perusahaan. Jika hanya sedikit
kekayaan pemilik yang berada di perusahaan yang go public, maka walaupun perusahaan
go public tersebut dikendalikan keluarga, tetapi pengelolaan laba yang o portunistik
mungkin justru tinggi. Kemungkinannya karena perusahaan yang go public tersebut
hanya dijadikan sebagai sarana untuk mengumpulkan dana dari masyarakat untuk
digunakan oleh kelompok perusahaannya. Hal ini terbukti dari hasil penelitian Kim & Yi
(2005) yang menemukan bahwa besaran pengelolaan laba lebih tinggi untuk perusahaan
yang mempunyai kelompok afiliasi dibanding yang tidak mempunyai kelompok afiliasi.
Berarti perusahaan dengan kelompok usaha afiliasi memberikan pemegang saham
pengendali lebih banyak insentif dan kesempatan untuk melakukan pengelolaan laba.
Berdasarkan hasil penelitian -penelitian tersebut, penulis menduga bahwa pada
perusahaan yang dikendalikan oleh keluarga da n bukan perusahaan konglomerasi akan
membatasi pengelolaan laba ya ng oportunis, tetapi akan mendorong pengelolaan laba
yang bersifat efisien (berhubungan positif).
H3 : Struktur kepemilikan berpengaruh positif terhadap manajemen laba.
2.5.4. Struktur Kepemilikan dan Kinerja Keuangan
Struktur kepemilikan dalam suatu perusahaan dapat dikelompokkan dalam
beberapa kategori. Struktur kepemilikan dapat dikelompokkan dalam kepemilikikan
terkonsentrasi dan menyebar. Selain itu juga dapat dikelompokkan secara lebih spesifik
lagi dalam kategori struktur kepemilikan yang meliputi kepemilikan oleh institusi
domestik, institusi asing, pemerintah, karyawan, dan individual domest ik (Xu, 1997). Xu
40
dan Wang (1999) membuktikan bahwa struktur kepemilikan (mix dan konsentrasi)
berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja perusahaan.
Fuerst dan Kang (2000) menemukan hubungan yang positif antara insider
ownership dengan nilai pasar setelah mengendalikan kinerja perusahaan. Nilai
perusahaan dapat meningkat jika institusi mampu menjadi alat monitoring yang efektif
(Slovin dan Sushka, 1993). Hubungan antara analysts coverage yang merupakan external
monitoring function dan Tobins’Q sebagai proksi nilai perusahaan adalah positif dan
signifikan (Chen dan Steiner, 2000).
Nilai perusahaan yang dibentuk melalui indikator nilai pasar saham, sangat
dipengaruhi oleh peluang-peluang investasi. Pengeluaran investasi memberikan sinyal
positif tentang pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang, sehingga
meningkatkan harga saham sebagai indikator nilai perusahaan ( signaling theory).
Peningkatan hutang diartikan oleh pihak luar tentang kemampuan perusahaan untuk
membayar kewajiban di masa yang akan datang atau adanya risiko bisnis yang rendah,
hal tersebut akan direspon secara positif oleh pasar (Brigham, 1999).
Peningkatan dividen dilakukan untuk memperkuat pos isi perusahaaan dalam
mencari tambahan dana dari pasar modal dan perbankan. Dividen mengandung informasi
atau sebagai isyarat (signal) akan prospek perusahaan (Roseff, 1982). Pendapat Roseff
didukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Asquith dan Mullins (1983), bahwa
pengumuman meningkatnya dividen telah meningkatkan return saham, dan dapat
digunakan untuk menangkal isu -isu yang tidak diharapkan perusahaan di masa
mendatang. Masulis (1980) melakukan penelitian dalam kaitannya dengan relevansi
keputusan pendanaan, menemukan bahwa sehari sebelum dan sesudah pengumuman
41
peningkatan proporsi hutang terdapat kenaikan abnormal return, sebaliknya pada saat
perusahaan mengumumkan penurunan proporsi hutang berpengaruh kepada penurunan
abnormal return.
Pengaruh dari struktur kepemilikan perusahaan secara l ebih lanjut dapat
dijelaskan dari hasil penelitian berikut ini: (1) Terdapat hubungan yang positif dan
signifikan antara kepemilikan terkonsentrasi dan produktifitas sebagai salah satu proksi
dari kinerja perusahaan.(2) Pengaruh kepemilikan terkonsentrasi lebih kuat untuk
perusahaan yang didominasi oleh legal person shareholders daripada perusahaan yang
didominasi oleh perusahaan. (3) Profotabilitas perusahaan berhubungan positif dengan
proksi pemilikan saham oleh legal person tetapi berhubungan negatif dengan proksi
pemilikan saham oleh perusahaan (4) Produktifitas tenaga kerja cenderung menurun saat
proporsi kepemilikan saham oleh perusahaan meningkat. Kepemilikan saham oleh legal
person shareholders dapat memonitor manjemen secara efektif melalui pengendalian
oleh board of directors, pemilihan karyawan perusahaan dan pemberian k ompensasi
terhadap chief corporate officer. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis penelitian ini
adalah:
H4 : Struktur kepemilikan berp engaruh positif terhadap kinerja keuangan.
2.5.5. Manajemen Laba dan Kinerja Keuangan
Selama ini dikenal adanya manipulasi kinerja oleh manajemen perusahaan yang
merupakan upaya manajemen untuk mengubah laporan keuangan untuk menyesatkan
pemegang saham yang ingin mengetahui kinerja perusahaan atau untuk mempengaruhi
hasil kontraktual dengan mengandalkan angka-angka akuntansi yang dilaporkannya
42
(Healey dan Wahlen, 1998; Du Charme et al, 2000). Sikap seperti sering disebut dengan
sikap oportunistik dimana hal ini dinilai sebagai sikap curang (fraud) manajemen yang
diimplikasikan dalam laporan keuangannya pada saat menghadapi intertemporal choice
(Beneish, 2001).
Manipulasi kinerja sampai saat ini sering dikenal dengan istilah earnings
management (manajemen laba) ini dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain
dengan melakukan penurunan laba (income decreasing), perataan laba (income
smoothing) dan penaikan laba (income increasing). Manajemen laba yang pertama yakni
degan menggeser pendapatan masa depan (future earnings) menjadi pendapatan sekarang
(current earnings) atau sebaliknya. Selanjuntnya, menggeser biaya sekarang (current
cost) menjadi biaya masa depan (future cost) atau sebaliknya sehingga mengakibatkan
laba pada periode bersangkutan dapat dilaporkan dengan lebih tinggi atau lebih rendah
(Espenlaub, 1999).
Manajemen laba dilakukan oleh manajer pada faktor -faktor fundamental
perusahaan, yaitu dengan intervensi pada penyusunan laporan keuangan berdasarkan
akuntansi akrual. Padahal kinerja fundamental per usahaan tersebut digunakan oleh
pemodal untuk menilai prospek perusahaan, yang tercermin pada kinerja saham.
Manajemen laba yang dilakukan manajer pada laporan keuangan tersebut akan
mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan, yang selanjutnya akan mempengar uhi
kinerja saham (Haris, 2004).
Bryshaw dan Eldin (1989) menemukan bukti bahwa alasan manajemen
melakukan manajemen laba adalah: (1) skema kompensasi manajemen yang
dihubungkan dengan kinerja perusahaan yang disajikan dalam laba akuntansi yang
43
dilaporkan; serta (2) fluktuasi dalam kinerja manajemen dapat mengakibatkan intervensi
pemilik untuk mengganti manajemen dengan pengambilalihan secara langsung.
Cornett et al., (2006) menemukan adanya pengaruh mekanisme corporate
governance terhadap penurunan discr etionary accruals sebagai ukuran dari manajemen
laba dan berhubungan positif dengan CFROA. Hasil ini diinterpretasikan sebagai indikasi
bahwa CFROA merupakan fungsi positif dari indikator mekanisme corporate
governance. Mekanisme corporate governance dapat mengurangi dorongan manajer
melakukan earnings management, sehingga CFROA yang dilaporkan merefleksikan
keadaan yang sebenarnya. Berdasarkan uraian tersebut diatas diajukan hipotesis dengan
rumusan sebagai berikut:
H5 : Manajemen laba berdampak positif t erhadap kinerja keuangan.
Gambar 1. Model Pengujian
GCG
MO
e1
1
1
BC
e2
1
AC
e3
1
EM FP e4
1
e5
1
KEPEM
44
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Populasi dan Prosedur Penentuan Sampel
Populasi penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan di bidang perdagangan,
distribusi dan transportasi yang terdaftar di Bur sa Efek Indonesia (BEI). Periode
pengamatan penelitian dilakukan dari tahun 2003 -2006. Perusahaan yang menjadi sampel
dalam penelitian ini dipilih berdasarkan kiteria -kriteria tertentu (purposive sampling),
yaitu: (1) Perusahaan yang telah terdaftar di Bur sa Efek Indonesia sebelum tahun 2002
sehingga tersedia data yang lengkap, (2) Perusahaan yang memiliki data kepemilikan
manajerial, dewan komisaris, dan komite audit, (2) Perusahaan yang menerbitkan laporan
keuangan untuk periode yang berakhir 31 Desember selama periode 2003-2006.
3.2. Jenis dan Sumber Data
Data-data yang akan digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder
yang diambil dari laporan keuangan tahunan perusahaan berupa nilai rata -rata dari tahun
2003-2006. Data sekunder diperoleh dari Pojok BEJ Fakultas Ekonomi Universitas Islam
Indonesia, Indonesian Capital Market Directory (ICMD), dan situs Bursa Efek Indonesia.
3.3. Definisi dan Operasional Variabel
Penelitian ini akan menguji variabel dependen/endogen (manajemen laba dan
kinerja keuangan), dan variabel independen /eksogen (corporate governance dan struktur
kepemilikan).
45
a. Corporate Governance
Corporate governance dalam hal ini dapat dijelaskan melalui kepemilikan
manajerial, proporsi dewan komisaris, dan komite audit. Kepemilikan manajerial adalah
jumlah kepemilikan saham oleh pihak manajemen dari seluruh modal saham perusahaan
yang dikelola (Gideon, 2005). Indikator yang digunakan untuk mengukur kepemilikan
manajerial adalah persentase jumlah saham yang dimiliki pihak manajemen da ri seluruh
modal saham perusahaan yang beredar.
Komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak terafiliasi
dengan manajemen, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang saham pengendali,
serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainn ya yang dapat mempengaruhi
kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak semata -mata demi
kepentingan perusahaan (Komite Nasional Kebijakan Governance, 2004). Proporsi
dewan komisaris independen diukur dengan menggunakan indikator persentase anggo ta
dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan dari seluruh ukuran anggota dewan
komisaris perusahaan.
Dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan perusahaan yang baik ( good
corporate governance), BEJ mewajibkan perusahaaan tercatat wajib memiliki komis aris
independen dan komite audit. Keanggotaan komite audit sekurang -kurangnya 3 anggota,
seorang diantaranya komisaris independen perusahaan tercatat sekaligus menjadi ketua
komite, sedangkan pihak lain adalah pihak ekstern yang independen dan minimal salah
seorang memiliki kemampuan di bidang akuntansi dan keuangan. Proporsi komite audit
46
diukur diukur dengan menggunakan indikator presentase anggota komite audit yang
berasal dari luar komite audit terhadap seluruh anggota komite audit.
b. Struktur Kepemilikan
Struktur kepemilikan terbagi dalam beberapa kategori. Struktur kepemilikan
terkonsentrasi dan menyebar. Secara spesifik kategori struktur kepemilikan meliputi
kepemilikan oleh institusi domestik, institusi asing, pemerintah, karyawan, dan individual
domestik (Xu, 1997). Struktur kepemilikan yang dibahas dalam penelitian ini adalah
struktur kepemilikan perusahaan yang menyebar dan terkonsentrasi. Proporsi
kepemilikan diwakili oleh variabel dummy, dimana nilai 1 untuk kepemilikan
terkonsentrasi ( mayoritas) dan 0 untuk kepemilikan menyebar.
c. Manajemen Laba
Manajemen laba merupakan suatu intervensi dengan maksud tertentu terhadap
proses pelaporan keuangan eksternal dengan sengaja untuk memperoleh beberapa
keuntungan pribadi (Schipper, 1989). Manajemen laba dalam penelitian ini dijelaskan
menggunakan dasar rasio akrual modal kerja dengan penjualan sebagai berikut.
Akrual Modal Kerja (t)
Manajemen Laba (EM) =
Pendapatan(Penjualan Periode) (t)
Akrual modal kerja = ðDð AL - ðD ð HL - ðDð Kas
47
Keterangan: ðDð AL = Perubahan aktiva lancar pada periode t
ðDð HL = Perubahan hutang lancar pada periode t
ðDð Kas = Perubahan kas dan ekuivalen kas pada periode t
Data akrual modal kerja dapat diperoleh langsung dari laporan arus kas aktivitas
operasi, sehingga investor dapat langsung memperoleh data tersebut tanpa melakukan
perhitungan yang rumit.
d. Kinerja Keuangan
Kinerja keuangan merefleksikan kinerja fundamental perusahaan. Variabel kinerja
keuangan diukur dengan data fundamental perusaha an, yaitu data yang berasal dari
laporan keuangan. Kinerja keuangan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan
cash flow return on asset (CFROA). CFROA dihitung dari laba sebelum bunga dan pajak
ditambah depresiasi dibagi dengan total aktiva.
EBIT + Dep
CFROA =
Assets
Keterangan : CFROA = Cash flow return on assets
EBIT = Laba sebelum bunga dan pajak
Dep = Depresiasi
Assets = Total aktiva
48
Tabel.1.
Operasional Variabel Penelitian
VARIABEL KONSEP VARIABEL INDIKATOR SKALA
Eksogen:
A. Corporate
Governance
ðü Kepemilikan
Manajerial
ðü Proporsi Dewan
Komisaris
ðü Komite Audit
B. Struktur
Kepemilikan
ð§ Kepemilikan
Tersebar
ð§ Kepemilikan
Terkonsentrasi
Endogen:
C.Manajemen Laba
D. Kinerja Keuangan
Sistem yg mengendalikan
dan mengarahkan
operasional perusahaan.
ðü Jumlah kepemilikan saham
oleh pihak manajemen
terhadap total saham
beredar.
ðü Jumlah anggota dari luar
perusahaan terhadap jumlah
seluruh anggota dewan
komisaris.
ðü Jumlah anggota dari luar
perusahaan terhadap jumlah
seluruh anggota komite
audit.
Bentuk komposisi
kepemilikan dalam
perusahaan.
ð§ Tidak ada pemegang saham
pengendalai/utama(atau
hanya punya < 50% dari
total saham).
ð§ Adanya pemegang saham
pengendali/utama(atau
punya saham >50% dari
total saham).
oAkrualisasi laba berdasar
kebijakan manajemen.
oRefleksi kinerja
fundamental perusahaan
yaitu cash flow return on
asset yang tercermin dalam
laporan keuangan .
ðü Presentase jumlah saham
yang dimiliki manajemen
dari total saham beredar.
ðü Presentase jumlah anggota
outsite director dari seluruh
anggota dewan.
ðü Presentase jumlah anggota
luar komite audit terhadap
seluruh anggota.
ð§ Prosentase jumlah saham
yang dimiliki pemegang
saham non-pengendali dari
total saham beredar.
ð§ Prosentase jumlah saham
yang dimiliki pemegang
saham pengendali dari total
saham beredar.
oKoefisien regresi antara
akrual working capital
(selisih perubahan aktiva
lancar, hutang lancar dan
kas/stara kas) terhadap
penjualan satu periode.
oKoefisien regresi antara laba
sebelum bunga dan pajak
ditambah depresiasi terhadap
total aktiva.
Rasio
Rasio
Rasio
Rasio
Rasio
Rasio
Rasio
49
3.4. Metode Analisis
Dalam penelitian ini akan dianalisis dengan menggunakan model Structural
Equation Model (SEM). Sedangkan teknik analisis yang digunakan da lam penelitian ini
meliputi statistik deskriptif dan analisis statistik. Analisis statistik merupakan analisis
yang mengacu pada perhitungan data penelitian yang berupa angka -angka yang dianalisis
dengan bantuan komputer melalui program SPSS. Sedangkan sta tistik deskriptif
merupakan analisis yang menjelaskan gejala -gejala yang terjadi pada seluruh variabel
penelitian untuk mendukung hasil analisis statistik.
3.4.1. Asumsi – Asumsi SEM
Dengan menggunakan model SEM maka asumsi-asumsi yang harus dipenuhi
terlebih dahulu dalam proses pengumpulan dan pengolahan da ta yang akan dianalisis
adalah sebagai berikut:
3.4.1.1.Ukuran Sample
Ukuran sample yang harus dipenuhi dalam pemodelan ini adalah minimum
berjumlah 100 dan selanjutnya menggunakan perbandingan 5 observasi un tuk setiap
estimated parameter. Oleh karena itu, bila kita mengembangkan model dengan 20
parameter, maka minimum sample yang digunakan adalah sebanyak 100 sample.
3.4.1.2. Normalitas dan Linearitas
Sebaran data harus dianalisis untuk melihat apakah asumsi normalitas dipenuhi
sehingga data dapat diolah lebih lanjut untuk pemodelan SEM ini. Normalitas dapat diuji
dengan melihat gambar histogram data atau dapat diuji dengan metode -metode statistik.
Uji normalitas ini perlu dilakukan baik untuk normalitas terh adap data tunggal maupun
normalitas multivariate dimana beberapa variabel digunakan sekaligus dalam analisis
50
akhir. Uji linearitas dapat dilakukan dengan mengamati scatterplots dari data yaitu
dengan memilih pasangan data dan dilihat pola penyebarannya unt uk menduga ada
tidaknya linearitas.
3.4.1.3. Outliers
Outlier adalah observasi yang muncul dengan nilai -nilai ekstrim baik secara
unvariat maupun multivariate yaitu yang muncul ka rena kombinasi kharakteristik unik
yang dimilikinya dan terlihat sangat jau h berbeda dari observasi-observasi lainnya. Dapat
diadakan treatment khusus pada outliers jika diketahui bagaimana munculnya outliers itu.
3.4.1.4. Multicollinearity dan Singularity
Multikolinearitas dapat dideteksi dari determinan matriks kovarians. Nila i
determinan matriks kovarians yang sangat kecil (extremely small) memberi indikasi
adanya problem multikolinearitas atau singularitas. Pada umumnya program -program
komputer SEM telah menyediakan fasilitas “warning”, setiap kali terdapat indikasi
multikolinearitas atau singularitas. Perlakuan data yang dapat dilakukan jika terjadi
singularitas maka dapat dikeluarkan variabel tersebut. Bila singularitas dan
multikolinearitas ditemukan dalam data yang dikeluarkan maka perlakuan yang diambil
adalah dengan menciptakan “composite variables”, lalu gunakan composite variabel
tersebut dalam analisis selanjutnya.
3.4.2. Uji Kesesuaian dan Uji Statistik
Setelah mempertimbangkan asumsi -asumsi di atas maka selanjutnya dilakukan uji
kesesuaian dan uji statistic karena dalam analisis SEM tidak ada alat uji statistic tunggal
untuk mengukur atau menguji hipotesis model (Hair et al., 1995; joreskog & Sorbom,
1989; Long, 1983; Tabachnick & Fidell, 1996). Penelitian diharapkan untuk melakukan
51
pengujian dengan menggunakan beb erapa fit indeks untuk mengukur ‘kebenaran’ model
yang diajukannya antara lain sebagai berikut:
3.4.2.1. X² - Chi Square Statistic
Alat uji paling fundamental untuk mengukur overall fit adalah likelihood ratio
Chi square statistic. Chi square ini bersifat sensi tive tyerhadap sample yang digunakan.
Karena itu bila sample yang digunakan lebih dari 200 sample, maka statistik chi square
ini harus didampingi oleh alat uji lainnya. Model yang diuji akan dipandang baik atau
memuaskan bila nilai chi squarenya rendah. Se makin kecil nilainya maka semakin baik
model tersebut (karena dalam uji beda chi square, X²=0 berarti benar -benar tidak ada
perbedaan, Ho diterima) dan diterima berdasarkan probabilitas dengan cut off value
sebesar p>0.05 atau p>0.10 (Hulland et al, 1996).
3.4.2.2.RMSEA – The Root Mean Square Error of Approximation
RMSEA adalah sebuah indeks yang dapat digunakan untuk mengkompensasi chi
square statistic dalam sample yang besar. Nilai RSMEA menunjukkan goodness of fit
yang dapat diharapkan bila model diestimasi dala m populasi (Hair et al. 1995). Nilai
RSMEA yang lebih kecil atau sama dengan 0.08 merupakan indeks untuk dapat
diterimanya model yang menunjukkan sebuah close fit dari model itu berdasarkan
degrees of freedom (Browne & Cudeck, 1993).
3.4.2.3.GFI – Goodness of Fit Index
Indeks kesesuaian (fit indeks) ini akan menghitung proporsi tertimbang dari
varians dalam matriks kovarians sample yang dijelaskan oleh matriks kovarians populasi
yang terestimasikan (Bentler, 1983; Tanaka & Huba, 1989). GFI adalah sebuah ukuran
52
non statistikal yang mempunyai rentang nilai antara 0 (poor fit) sampai dengan 1.0
(perfect fit). Nilai yang tinggi dalam indeks ini menunjukkan sebuah ‘better fit’.
3.4.2.4. AGFI – Adjusted Goodness of Fit Index
Tanaka & Hub (1989) menyatakan bahwa GFI adal ah analog dari R² dalam
regresi berganda. Fit Index ini dapat diadjust terhadap d egrees of freedom yang tersedia
untuk menguji diterima tidaknya model (Arbuckle, 1999). Tingkat penerimaan yang
direkomendasikan adalah bila AGFI mempunyai nilai sama dengan a tau lebih dari 0.09
(Hair et al., 1995; Hulland et al., 1996).
3.4.2.5. CMIN/DF
Indeks CMIN/DF ini diperoleh dengan membagi “The minimum sample
discrepancy function dengan degree of freedomnya, yang umumnya dilaporkan oleh para
peneliti sebagai salah satu indikator untuk mengukur tingkat fitnya sebuah model. Dalam
hal ini CMIN/DF tidak lain adalah statistik chi square, X² dibagi DFnya sehingga disebut
X² -relatif. X² - relatif kurang dari 2.0 atau kadang kurang dari 3.0 adalah indikasi dari
acceptable fit antara model dan data (Arbuckle, 1997).
3.4.2.6.TLI – Tucker Lewis Index
TLI adalah sebuah alternatif incremental fit index yang membandingkan sebuah
model yang diuji terhadap baseline model (Baumgartner & Homberg, 1996). Nilai yang
direkomendasikan untuk acuan diterimanya sebuah adalah penerimaan ≥0.95 (Hair dkk,
1995), dan mendekati 1 menunjukkan a very good fit (Arbuckle, 1997).
3.4.2.7. CFI – Comparative Fit Index
Besaran indeks ini adalah pada rentang nilai sebesar 0 – 1, dimana semakin
mendekati 1 mengindikasikan tingkat fit y ang paling tinggi- a very good fit (Arbuckle,
53
1997). Nilai yang direkomendasikan adalah CFI ≥ 0.95. Keunggulan dari indeks ini
adalah bahwa indeks ini besarnya tidak dipengaruhi oleh ukuran sample karena itu sangat
baik untuk mengukur tingkat penerimaan se buah model (Hulland et al., 1996; Tanaka,
1993). Indeks CFI adalah identik dengan Relative Noncentraly Index (RNI) dari
MCDonald dan Mars (1990). Dalam penilaian model, TLI dan CFI sangat dianjurkan
digunakan karena indeks ini relatif tidak sensitif terha dap besarnya sample dan kurang
dipengaruhi pula oleh kerumitan model (Hulland et al., 1996).
3.4.3. Baseline Model
Setelah menggunakan beberapa model fit index di atas selanjutnya juga terdapat
beberapa indeks yang merupakan pembandingan terhadap sebuah m odel yang lain, yang
disebut baseline model. Dalam output AMOS terdapat dua model baseline yang
tersajikan dengan model yang dianalisis, disebut default model yaitu :
3.4.3.1. Satured Model
Model ini deprogram dengan jumlah parameter yang diestimasi sama dengan
jumlah “distinct sample moments”, sehingga diperoleh degress of freedom sebesar nol.
Karena itu, satured model akan menghasilkan chi -square= 0.00 dan df= 0. Itulah
sebabnya satured model disebut juga full atau perfect model. Dalam satured model tidak
ada constraints yang ditempatkan dalam moments populasi. Dengan chi -square sebesar
0.00, berarti satured model akan menghasilkan sebuah “perfect fit” terhadap set
datamanapun yang dugunakan.
3.4.3.2. Independen Model
Model ini diprogram sebagai sebuah model dimana semua variabelnya dibuat
tidak berkorelasi (uncorrelated). Dalam model ini jumlah parameter sama dengan jumlah
54
variabel yang diobservasi. Sebagai kebalikan dari satured model, dalam independence
model, semua variabel yang diobservasi diasumsikan tidak berkorela si satu sama lain.
Karena itu dapat dibayangkan bahwa hasil dari model independens ini adalah “poor fit”
terhadap satu data yang digunakan. Dengan kata lain, chi square yang dihasilkan akan
sangat besar. Indeks-indeks yang termasuk dan digunakan untuk meng ukur kesesuaian
model yang dianalisis dibandingkan dengan sebuah baseline model adalah TLI (Tucker
Lewis Index) dan CFI (Comparative Fit Index).
3.5. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat dari koefisien
jalur yang ada. Dan berdasarkan dari penelitian-penelitian sebelumnya, serta mengacu
pada hipotesis teori, maka dalam penelitian ini peneliti merumuskan Hipotesis Nol (H0)
dan Hipotesis Alternatif (Ha) yang kemudian akan dilakukan pengujian atas Hipotesis
Nol (H0) tersebut untuk membuktikan apakah Hipotesis Nol (H0) tersebut ditolak atau
gagal ditolak. Hipotesis tersebut dapat dinotasikan sebagai berikut :
H o1 : ðb 1 ≤ 0; Corporate governance tidak berpengaruh positif terhadap manjemen laba.
H a1: ðb 1 > 0; Corporate governance berpengaruh positif terhadap manjemen laba.
H o2 : ðb 2 ≤ 0; Corporate governance tidak berpengaruh positif terhadap kinerja
keuangan.
H a2: ðb 2 > 0; Corporate governance berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan.
H o3 : ðb 3 ≤ 0; Struktur kepemilikan tidak berpengaruh positif terhadap manajemen laba.
H a3: ðb 3 > 0; Struktur kepemilikan berpengaruh positif terhadap manajemen laba.
H o4 : ðb 4 ≤ 0; Struktur kepemilikan tidak berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan.
55
H a4 : ðb 4 > 0; Struktur kepemilikan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan.
H o5 : ðb 5 ≤ 0; Manajemen laba tidak berdampak positif terhadap kinerja keuangan.
H a5 : ðb 5 > 0; Manajemen laba berdampak positif terhadap kinerja keuangan.
Setelah perumusan hipotesis, selanjutnya dirumuskan mengenai tingkat
signifikansi ”Level Of Significant” dimana ditetapkan sebesar 5%. Dan untuk membuat
kesimpulan dari hipotesis ditetapkan kriteria -kriteria pengujian hipotesis sebagai berikut :
Jika P < 0.05 maka Ha diterima dan H o ditolak.
Jika P > 0.05 maka Ha ditolak dan H o diterima.
56
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini penulis akan menganalisis data yang telah terkumpul. Data yang
telah dikumpulkan tersebut berupa laporan keuangan dari perusahaan go public di Bursa
Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2003 sampai dengan tahun 2006. Hasil pengolahan
data berupa informasi untuk mengetahui apakah Corporate Governance dan struktur
kepemilikan berpengaruh terhadap manajemen laba dan kinerja keuangan serta
mengetahui pengaruh manajemen laba terhadap kinerja keuangan perusahaan (CFROA).
Sesuai dengan permasalahan dan perumusan model yang telah dikemukakan, serta
untuk kepentingan pengujian hipotesis, maka teknik analisis yang digunakan dalam
penelitian ini meliputi statistik deskriptif dan analisis statistik. Analisis statistik
merupakan analisis yang mengacu pada perhitungan data penelitian yang berupa angka -
angka yang dianalisis dengan bantuan komputer melalui program SPSS. Sedangkan
statistik deskriptif merupakan analisis yang menjelaskan gejala -gejala yang terjadi pada
seluruh variabel penelitian untuk mendukung hasil analisis statistik.
4.1. Statistik Deskriptif
Berikut ini akan dijelaskan statistik deskriptif yaitu menjelaskan deskripsi data
dari seluruh variabel yang akan dimasukkan dalam model penelitian. Variabel yang
digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel dependent yaitu kinerja perusahaan,
variabel eksogen yaitu Corporate Governance, dan struktur kepemilikan serta variabel
endogen yaitu manajemen laba dan kinerja keuangan (CFROA). Deskriptif data
57
penelitian ini merupakan deskriptif dari seluruh observasi penelitian yang telah dilakukan
pemotongan data ekstrim melalui metode Cook’s, dan diperoleh data observasi sebanyak
99. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2 ini:
Tabel 2.
Hasil perhitungan Mean dan Standar Deviasi
dari variabel-variabel penelitian
Descriptive Statistics
99 .359 .135
99 .003 .011
99 .496 .291
99 .596 .493
99 -.022 .499
99 .306 .208
99
MO
BC
AC
STRUK_KEP
EM
FP
Valid N (listwise)
N Mean Std. Deviation
Sumber : Hasil olah data SPSS, 2008.
Deskriptif terhadap Corporate Governance yang diukur dengan 3 variabel yaitu
kepemilikan manajerial (BC) dengan rata -rata sebesar 0,003 yang berarti rata -rata saham
yang dimiliki manajerial cukup kecil yaitu hanya sebesar 0,3% dari seluruh saham yang
beredar.
Pengukur Corporate Governance kedua adalah proporsi dewan komisaris dengan
rata-rata sebesar 0,359 atau artinya jumlah komisaris independent yang berada pada
dewan komisaris rata-rata sebesar 35,9% dan hasil ini telah sesuai dengan peraturan
dalam surat direksi nomor kep-305/BEJ/07/2004 yang menyatakan bahwa komisaris
independen yang jumlahnya secara proporsional sebanding dengan jumlah saham yang
dimiliki oleh bukan pemegang saham p engendali dengan ketentuan jumlah komisaris
independen sekurang-kurangnya 30% dari jumlah seluruh anggota komisaris.
58
Hasil deskriptif variabel komite audit (AC) menunjukkan rata -rata sebesar 0,496
yang berarti jumlah anggota komite audit yang merangkap menjadi komisaris
independent (anggota dari luar perusahaan) cukup besar (sebesar 49,6%) dari total
seluruh anggota komite audit. Dengan masuknya sebagian anggota komite audit dalam
dewan komisaris independent, akan membantu dalam mengontrol manajemen untuk
melakukan tindakan manipulasi, sehingga akhirnya akan meningkatkan kinerja
perusahaan.
Hasil deskriptif variabel struktur kepemilikan memiliki rata -rata sebesar 0,596
yang berarti data kepemilikan cukup terkonsentrasi pada satu atau beberepa pemilik
saham saja. Sedangkan untuk variabel manajemen laba menunjukkan nilai rata -rata
sebesar -0,022 yang berarti rata-rata perusahaan memiliki akrual modal kerja sebesar -
0,022 kali dari total penjualan yang dihasilkan. Rata -rata manajemen laba (akrual)
negatif, menunjukkan bahwa rata -rata perusahaan tidak melakukan menejemen laba,
hanya sebagian kecil saja yang melakukan manajemen laba.
Hasil deskriptif terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan Cash Flow
Return on Assets diperoleh rata-rata sebesar 0,306 yang berarti bahwa rata -rata
perusahaan sampel mampu menghasilkan laba bersih sebelum pajak dan depresiasi
sebesar 30,6% dari seluruh nilai total aktiva. Hasil ini menunjukkan kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba sebelum pajak cukup efektif.
4.2.Analisis Statistik
Analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis jalur ata u
Path Analisys dan uji asumsi SEM (Structural Equation Model). Model analisis jalur ini
digunakan analisis SEM yaitu sekumpulan teknik -teknik statistikal yang memungkinkan
59
pengujian sebuah rangkaian hubungan yang relatif rumit secara simultan. Analisis i ni
dipilih untuk mengetahui pengaruh Corporate Governance dan struktur kepemilikan
terhadap manajemen laba dan kinerja keuangan serta mengetahui dampak manajemen
laba terhadap kinerja keuangan pada perusahaan di bidang perdagangan, distribusi dan
transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2003 sampai 2006.
Sebelum dilakukan analisis data terlebih dahulu akan dilakukan uji asumsi SEM.
4.2.1. Uji Asumsi-Asumsi SEM
Asumsi-asumsi yang harus dipenuhi dalam prosedur pengumpulan dan
pengolahan data yang dianalisis dengan permodelan SEM adalah sebagai berikut :
4.2.1.1. Ukuran Sampel
Ukuran sampel yang harus dipenuhi dalam permodel ini adalah minumun
berjumlah 100 sampel dan selanjutnya menggunakan perbandingan 5 observasi untuk
setiap estimated parameter. Karena itu dalam penelitian ini menggunakan 12 variabel
yang terbagi dalam 6 variabel terobservasi, 6 variabel tidak terobservasi, atau terbagi
dalam 7 variabel eksogen dan 5 variabel endogen, maka minimum sampel yang harus
digunakan adalah sebanyak 5 x 12 = 60 observasi. Dengan menggunakan sampel
sebanyak 99 maka jumlah sampel ini telah memenuhi kriteria ukuran sampel minimum,
sehingga data penelitian ini telah memiliki kecukupan data.
60
4.2.1.2. Uji Normalitas Data
Untuk menguji normalitas distribusi data yan g digunakan dalam analisis, peneliti
menggunakan uji statistik yang telah disediakan dalam program AMOS 6 yaitu dengan
uji skweness value. Asumsi normalitas terpenuhi jika nilai critical value (cr) lebih kecil
dari nilai ±2,58 (Arbucle, 1997). Uji normalit as dilakukan dengan memberikan perintah
test for normality and outlier dan hasil output dengan program AMOS 6 dapat
ditunjukkan seperti pada tabel berikut:
Tabel 3.
Uji Normalitas
Variable min max skew c.r. kurtosis c.r.
KEPEM .000 1.000 -.391 -1.589 -1.847 -3.751
EM -6.139 3.560 -2.991 -12.149 20.364 41.359
FP .068 4.409 1.028 4.175 .383 .778
AC .000 2.580 -1.117 -4.537 -.727 -1.476
BC .000 6.851 4.748 19.287 23.777 48.292
MO .000 .750 .013 .055 1.443 2.930
Multivariate 39.403 20.007
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar angka nilai pada
colom cr. lebih besar dari ±2,58, oleh karena itu dapat dikatakan terdapat bukti bahwa
distribusi data ini tidak normal. Baris terakhir uji normalitas di atas yang diberi lavel
“multivariat” adalah koefisien Kurtosis Multivariate Mardia (Arbucle, 1997) diketahui
sebesar 20,007 yang nilainya diatas 2,58.
Dengan demikian dalam pengujian data untuk pemodelan SEM terlihat dalam
tabel 4.2 bahwa baik melalui pengujian univariat maupun penguji an multivariat, ada
bukti bahwa data yang digunakan berdistribusi tidak normal, oleh karena itu asumsi
normalitas tidak terpenuhi.
61
Hal ini kemungkinan disebabkan karena nilai variabel antara emiten satu dengan
emiten yang lain di Bursa Efek Indonesia cukup berbeda dengan perbedaan yang sangat
jauh, dimana perusahaan besar akan cenderung memiliki nilai variabel yang besar
dibandingkan dengan perusahaan kecil. Selain itu penggunaan skewness sangat sensitif
terhadap sampel besar (N=99), sehingga cenderung memi liki nilai yang signifikan.
Meskipun nilai kritis > 2,58 (tidak normal), namun analisis dapat tetap dilanjutkan karena
sesuai dengan asumsi central limit theorem distribusi penyampelan mean diperkirakan
normal apabila observasi lebih dari 30 (Tarjo dalam J ogiyanto, 2003).
4.2.1.3. Uji Multicolinearity dan Singularity
Untuk melihat apakah terdapat multicolinierity atau singularity dalam sebuah
kombinasi variabel, peneliti perlu mengamati determinan matrik kovarians. Determinan
yang benar-benar kecil mengindikasikan adanya multikolinieritas atau singularity
(Tabachnick & Fidel, 1998), sehingga data tidak dapat digunakan untuk analisis yang
sedang dilakukan. Dalam program AMOS, program SEM ini dapat ditampilkan output
Determinan of Sample Covariance Matrik sebagai ber ikut:
Determinant of sample covariance matrix = 0.002.
Angka ini cenderung mendekati angka nol (sangat kecil) dan karena itu dapat
disimpulkan bahwa tidak ada multikolinieritas atau singularitas dalam data ini, sehingga
asumsi multikolinieritas terpenuhi.
62
4.2.2. Uji Goodness of Fit (Uji Ketepatan Model)
Berdasarkan hasil pengujian tersebut, indikator -indikator goodness of fit secara
umum menunjukkan bahwa model pengukuran yang digunakan dapat diterima. Berikut
masing-masing pengujian goodness of fit pada model penelitian.
Tabel 4
Measurement Model – Goodness of fit
Goodness of fit Cut – off Value Hasil Model Keterangan
X 2 – Chi Square Diharapkan nilainya
kecil Dengan DF=6
nilai tabelnya =
12,592
4,010 Baik
Probability > 0,05 0,675 Baik
GFI > 0,90 0,987 Baik
AGFI > 0,90 0,955 Baik
TLI >0,90 1,104 Baik
CFI > 0,95 1,000 Baik
Cmin/DF < 2 0,668 Baik
RMSEA < 0,08 0,000 Baik
Nilai X 2 – Chi Square dengan tingkat signifikansi sebesar 0,675. Hal ini
menunjukkan bahwa Ho yang menyatakan tidak terdapat perbeda an antara matrik
kovarians sampel dengan matrik kovarians populasi yang diestimasi dapat diterima .
Artinya matrik kovarians sampel dengan matriks kovarians populasi yang diestimasi
adalah sama.
Berdasarkan analisis terhadap goodnes of fit – GFI mencerminkan tingkat
kesesuian model secara keseluruhan. Tingkat penerimaan yang direkomendasikan GFI >
63
0,90. Hasil ini menunjukkan bahwa nilai GFI sebesar 0,987 >0,9, sehingga model
memiliki fit yang baik.
Adjusted Goodness of Fit Index – AGFI sebagai pengembangan indeks GFI,
merupakan indeks yang telah disesuaikan dengan rasio degree of freedom model yang
diusulkan dengan dengan degree of fredom dari null model. Hasil penelitian
menunjukkan nilai AGFI sebesar 0,955 yang nilainya lebih besar dari nilai AGFI yang
direkomendasikan > 0,9, sehingga menunjukkan bahwa model ini memiliki fit yang baik.
Tucker Lewis Index – TLI merupakan alternatif incremental fit index yang
membandingkan model yang diuji dengan baseline. Nilai yang direkomendasikan sebagai
tingkat kesesuaian yang baik adalah > 0,90. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai
TLI sebesar 1,104 sehingga dapat dinyatakan bahwa tingkat kesesuaian berada pada
kriteria yang baik.
Comparative Fit Index – CFI , merupakan indeks kesesuaian incremental yang
membandingkan model yang diuji dengan model null. Nilai yang direkomendasikan CFI
> 0,95. Sementara hasil pengujian sebesar 1,000 menunjukkan bahwa model adalah baik
The minimum Sampel Discrepancy Funcion – CMIN/DF merupakan indeks
kesesuaian parsimonious yang men gukur hubungan goodnes of fit model dan jumlah
koefisien-koefisien yang diestimasi yang diharapkan untuk mencapai tingkat kesesuaian.
Hasil CMIN/DF sebesar 0,668 yang nilainya lebih kecil dari nilai yang direkomendasikan
CMIN/DF < 2,0 menunjukkan model fit yang baik.
The Root Mean Square Error of Approximation – RMSEA, indeks yang
digunakan untuk mengkompensasi Chi Square Statistik dalam sampel yang besar. Nilai
RMSEA menunjukkan goodnes of fit yang dapat diharapkan bila model diestimasi dalam
64
populasi. Nilai penerimaan yang direkomendasikan < 0,08 sementara hasil pengujian
sebesar 0,000, menunjukkan bahwa model adalah baik.
4.2.3. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dengan Structural Equation Model (SEM) diperoleh hasil
jalur seperti dalam gambar 2 berikut ini:
Gambar 2.
Hasil Pengujian Hipotes.
GCG
.21
MO
e1
.46
.30
BC
e2
-.55
.62
AC
e3
.79
.01
EM
.26
FP
-.09
.09 e4
e5
KEPEM
.02
.20
.45
.10
Sumber : Hasil Analisis SEM.
65
Berdasarkan gambar diatas maka dapat dijelaskan hasil pengujian hipotesis
pertama hingga hipotesis ketiga. Sedangkan estimasi hasil analisis SEM dapat
ditunjukkan pada tabel 5 berikut ini:
Tabel 5.
Estimasi Hasil Analisis SEM
Unstandarized
Estimate
Standarized
Estimated.
S.E. C.R. P Label
EM <--- GCG -1.419 -.088 1.985 -.715 .475 par_3
EM <--- KEPEM .045 .022 .206 .221 .825 par_5
MO <--- GCG 1.000 .459
BC <--- GCG -8.844 -.547 2.709 -3.264 .001 par_1
AC <--- GCG 12.748 .789 3.915 3.257 .001 par_2
FP <--- EM .091 .091 .092 .982 .326 par_4
FP <--- KEPEM .405 .200 .188 2.156 .031 par_6
FP <--- GCG 7.283 .451 2.448 2.975 .003 par_7
Berdasarkan tabel 5. maka dapat ditulis persamaan jalur yaitu :
EM = -0,088 GCG + 0,022 KEPEM + e1
FP = 0,451 GCG + 0,091 EM + 0,200 KEPEM e2
4.2.3.1.Pengujian Hipotesis Alternatif Pertama
Pada bab sebelumnya telah dikemukakan hipotesis alternatif pertama bahwa
Corporate Governance berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Untuk
menganalisis, dilakukan analisis SEM. Hasil analisis SEM menunjukkan nilai bobot
regresi (regression weighs) seperti pada tabel 5.
Hasil bobot koefisien regresi diatas dapat diinterpretasikan bahwa koefisien jalur
sebesar -0,088 dan p=0,475>0,05, menunjukkan bahwa GCG tidak berpengaruh secara
66
signifikan positif terhadap manajemen laba. Dengan demikian hipotesis pertama dalam
penelitian ini tidak didukung.
Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Gabrielsen et
al (2002) menguji hubungan antara kepemilikan manajerial dan kandungan informasi
laba serta discretionary accrual. Dengan menggunakan data pasar modal Denmark
ditemukan adanya hubungan yang positif tetapi tidak signifikan antara kepemilikan
manajerial dan discretionary accrual. Hal ini disebabkan karena penerapan Corporate
Governance merupakan hal yang baru di Indonesia, sehingga penerapannya belum dapat
dilaksanakan secara optimal oleh masing -masing perusahaan.
Bahkan hasil penelitian ini menunju kkan arah jalur yang negatif, yang berarti
corporate governance yang terdapat didalam perusahaan diyakini akan membatasi
pengelolaan laba yang oportunis. Karena itu diduga dengan semakin tingginya kualitas
audit, semakin tingginya proporsi dewan komisaris indepeden, dan adanya komite audit
maka semakin kecil pengelolaan laba yang oportunis (berhubungan negatif).
Tidak signifikannya variabel Corporate Governance kemungkinan disebabkan
karena penerapan Corporate Governance baru dirasakan dampaknya dalam waktu yang
panjang, setelah semua aturan dilaksanakan sesuai mekanisme yang ada. Dalam
penyesuaian ini membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga belum terbukti
berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba.
4.2.3.2.Pengujian Hipotesis Alternatif Kedua
Pada bab sebelumnya telah dikemukakan hipotesis alternatif kedua bahwa
Corporate Governance berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan. Hasil bobot
67
koefisien jalur seperti pada tabe l 5 diatas dapat diinterpretasikan bahwa koefisien jalur
sebesar 0,451 dengan probabilitas sebesar 0,003< 0,05. Dengan demikian hipotesis kedua
dalam penelitian ini dapat didukung.
Hasil ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Dey Report (1994)
yang mengemukakan bahwa Corporate Governance yang efektif dalam jangka panjang
dapat meningkatkan kinerja perusahaan dan menguntungkan para pemegang saham. Hal
ini disebabkan karena Corporate governance merupakan upaya yang dilakukan oleh
semua pihak yang berkepentingan dengan perusahaan untuk menjalankan usahanya
secara baik, untuk meningkatkan nilai perusahaan sesuai dengan hak dan kewajiban
masing-masing. Corporate Governance adalah prinsip korporasi yang sehat yang
diperlukan dalam pengelolaan perusahaan serta dilaksanakan semata -mata demi menjaga
kepentingan perusahaan dan mencapa i maksud dan tujuan perusahaan.
Dengan adanya menerapkan Corporate Governance¸ maka perusahaan akan
memperoleh beberapa manfaat salah satunya adalah peningkatan dalam produktivitas dan
efisiensi serta kemudahan dalam memperoleh modal. Hal ini tentunya aka n dengan
mudah perusahaan tersebut dalam meningkatkan kinerja operasinal perusahaan. Dengan
kemudahan memperoleh modal maka perusahaan dalam meningkatkan tingkat efektifitas
perusahaan dalam menghasilkan keuntungan sehingga secara tidak langsung dapat
mempengaruhi kinerja perusahaan.
68
4.2.3.3.Pengujian Hipotesis Ketiga
Hipotesis ketiga dalam penelitian ini menyatakan bahwa bahwa Struktur
kepemilikan berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Hasil bobot koefisien jalur
sebesar 0,022 dan p=0,825>0,05, menunjukka n bahwa struktur kepemilikan tidak
berpengaruh secara signifikan positif terhadap manajemen laba. Dengan demikian
hipotesis ketiga dalam penelitian ini tidak didukung.
Hal ini disebabkan karena terkonsentrasinya struktur kepemilikan belum mampu
memberikan kontrol yang baik terhadap tindakan manajemen atas sikap opportunitiesnya
dalam melakukan manajemen laba. Jika kepemilikan saham terkonsentrasi ke publik,
maka kepemilikannya dapat berpindah tangan secara tidak terbatas, sehingga
terkonsentrasinya kepemilikan publik ini tidak mampu mengontrol kinerja perusahaan.
Begitu juga jika kepemilikan terkonsentrasi pada kepemilikan manajerial saja,
maka semakin besar pula usaha manajer untuk melakukan kebijakan -kebijakan dalam
perusahaan, agar keuntungan yang dipero leh perusahaan juga semakin besar, mengingat
kepentingan manajer terhadap keuntungan atas saham yang ditanamkan juga semakin
besar, sehingga akan menghindari manipulasi laba. Dan jika kepemilikan ini
terkonsentrasi pada kepemilikan institusional saja, maka kehadiran kepemilikan
institusional yang tinggi membatasi manajer untuk melakukan pengelolaan laba
(Machfoed, 2005).
4.2.3.4.Pengujian Hipotesis Keempat
Hipotesis keempat dalam penelitian ini menyatakan bahwa bahwa Struktur
kepemilikan berpengaruh positif terhad ap kinerja keuangan. Hasil bobot koefisien jalur
69
sebesar 0,200 dan p=0,031<0,05, menunjukkan bahwa struktur kepemilikan berpengaruh
secara signifikan positif terhadap kinerja keuangan. Dengan demikian hipotesis keempat
dalam penelitian ini didukung.
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Xu dan
Wang (1999) yang menemukan bahwa struktur kepemilikan berpengaruh secara
signifikan terhadap kinerja perusahaan. Hal ini disebabkan karena kepemilikan saham
yang terkonsentrasi dapat memonitor manajemen secara efektif melalui pengendalian
oleh Board of director, pemilihan karyawan perusahaan dan pemberian kompensasi.
Selain itu kepemilikan saham yang terkonsentrasi menunjukkan rendahnya biaya
keagenen, karena konflik yang terjadi antar pemilik menjadi semakin kecil, sehingga
dapat meningkatkan produktivitas dan kinerja keuangannya.
4.2.3.5.Pengujian Hipotesis Kelima
Hipotesis kelima dalam penelitian ini menyatakan bahwa bahwa Manajemen laba
berdampak positif terhadap kinerja keuangan. Hasil bo bot koefisien jalur sebesar 0,091
dan p=0,326>0,05, menunjukkan bahwa manajemen laba tidak berpengaruh secara
signifikan positif terhadap kinerja keuangan. Dengan demikian hipotesis kelima dalam
penelitian ini didukung sesuai dengan hasil di atas.
Hal ini disebabkan karena sifat manajemen laba dapat berdampak positif maupun
negatif terhadap kinerja keuangan. Hal ini tergantung dari efektif tidaknya tindakan
manajemen laba yang dilakukan oleh para manajer. Jika manajemen laba cukup efektif,
maka informasi yang terkandung dalam laporan keuangan akan dinilai pemodal akan
prospek yang bagus bagi perusahaan sehingga akan meningkatkan kinerja perusahaan.
70
Sebaliknya jika manajemen laba tidak efektif, maka justru sebaliknya, pihak
pemakai informasi laporan keuangan seperti investor, kreditur, regulator, publik dan
lainnya akan menganggap bahwa manajemen telah bersikap opportunity, atau tindakan
manipulasi laba, dan hal ini akan menurunkan nilai perusahaan. Dengan demikian
pengaruh manajemen laba ini belum konsisten dalam meningkatkan kinerja keuangan
perusahaan, dan terbukti tidak signifikan.
4.2.3.6. Pengaruh Langsung dan Pengaruh Tidak Langsung
Berdasarkan hasil analisis secara keseluruh an menunjukkan bahwa Corporate
Governance tidak terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba,
namun berpengaruh secara langsung terhadap kinerja keuangan perusahaan. Begitu juga
dengan variabel manajemen laba tidak terukti berpengaruh secara langsung terhadap
kinerja keuangan. Dengan demikian manajemen laba bukan sebagai variabel mediasi
hubungan antara Corporate Governance dengan kinerja keuangan.
Hasil yang sama juga terjadi pada pengaruh struktur kepemilikan terhadap kinerja
keuangan adalah signifikan, sedangkan pengaruh struktur kepemilikan terhadap
manajemen laba tidak signifikan. Dengan demikian manajemen laba bukan sebagai
variabel mediasi hubungan antara struktur kepemilikan dengan kinerja keuangan. Hasil
pengaruh langsung dan tidak langsung seperti pada tabel 6 berikut:
71
Tabel 6.
Pengaruh Langsung dan Pengaruh Tidak Langsung.
Standardized Direct Effects (Group number 1 - Default model)
KEPEM GCG EM
EM .022 -.088 .000
FP .200 .451 .091
AC .000 .789 .000
BC .000 -.547 .000
MO .000 .459 .000
Indirect Effects (Group number 1 - Default model)
KEPEM GCG EM
EM .000 .000 .000
FP .004 -.129 .000
AC .000 .000 .000
BC .000 .000 .000
MO .000 .000 .000
Berdasarkan tabel 6 dapat diketahui bahwa pengaruh langsung Corporate
Governance terhadap kinerja keuangan sebesar 0,451 dan pengaruh tidak langsungny a
sebesar -0,129. Begitu juga dengan pengaruh langsung struktur kepemilikan terhadap
kinerja keuangan sebesar 0,200 dan pengaruh tidak langsungnya sebesar 0,004.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manajemen laba tidak mampu
memediasi hubungan antara Corporate Governance dan struktur kepemilikan dengan
kinerja keuangan.
72
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis di atas, maka penelitian ini berhasil menemukan
bahwa :
1. Variabel Corporate Governance, tidak terbukti berpengaruh secara signifikan positif
terhadap terhadap manajemen laba. Hal ini ditunjukkan dengan koefisien jalur
sebesar -0,088 dan p=0,475>0,05.
2. Variabel Corporate Governance, terbukti berpengaruh secara signifikan positif
terhadap terhadap kinerja keuangan. Hal ini di tunjukkan dengan koefisien jalur
sebesar 0,451 dengan probabilitas sebesar 0,003< 0,05.
3. Variabel struktur kepemilikan , tidak terbukti berpengaruh secara signifikan positif
terhadap terhadap manajemen laba. Hal ini ditunjukkan dengan koefisien jalur
sebesar 0,022 dan p=0,825>0,05.
4. Variabel struktur kepemilikan, terbukti berpengaruh secara signifikan positif terhadap
terhadap kinerja keuangan. Hal ini ditunjukkan dengan koefisien jalur sebesar 0,200
dan p=0,031<0,05.
5. Variabel manajemen laba, tidak terbukti berpengaruh secara signifikan positif
terhadap terhadap kinerja keuangan. Hal ini ditunjukkan dengan koefisien jalur
sebesar 0,091 dan p=0,326>0,05.
73
5.2. Keterbatasan Penelitian
Dalam pengukuran Corporate Governance hanya diproxikan dengan kepemilikan
manajerial, dewan komisaris dan komite audit, bukan diukur dengan Indeks Corporate
Governance yang pengukurannya melibatkan aspek yang lebih banyak, sehingga hasil
kesimpulan ini belum mampu membuktikan pengaruhnya terhadap manajemen laba.
Perhitungan manajemen laba hanya diukur dengan nilai akrual modal kerja,
bukan diukur dengan discretionary accruals Model Jones dan modifikasi model Jones
yang lebih lazim dilakukan oleh peneliti -peneliti sebelumnya
Ditemukannnya data tidak normal dalam penelitian ini, mungkin disebabkan
karena sampel yang digunakan kurang homogen, sehingga sebaiknya peneliti selanjutnya
menggunakan sampel yang memiliki ukuran atau industri yang sama.
5.3. Saran
1. Penelitian ini diharapkan mempunyai kontribusi bagi pihak regulator dalam hal
gambaran tentang implementasi good corporate governance dalam pengaruhnya
terhadap manajemen laba yang sering dilakukan perusahaan. Hasil penelitian ini
diharapkan juga bisa menjadi masukan bagi pihak regulator untuk meregulasi
implementasi good corporate governance pada perusahaan-perusahaan di Indonesia,
terutama perusahaan lembaga keuangan yang dalam penelitian ini ditemukan adanya
pengaruh yang signifikan corporate governance terhadap kinerja keuangan.
2. Bagi investor hendaknya memilih perusahaan yang memil iki kepemilikan saham
yang terkonsentrasi dan telah menerapka n Corporate Governance dengan baik,
dengan melihat jumlah komite audit, komisaris independen, dan kepemilikan
74
manajerial, karena terbukti mampu meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Hal
ini agar dalam melakukan peramalan lebih tepat untuk keuntungan di masa yang akan
datang.
3. Bagi peneliti yang akan datang sebaiknya melakukan penelitian yang sama dengan
metode pengukuran yang lain misa lnya untuk Corporate Governance diukur dengan
Indeks Corporate Governance. Begitu juga dengan manajemen laba hendaknya
diukur dengan discretionary accruals dengan model Jones.
75
Daftar Pustaka
Ali Irfan (2002). Pelaporan Keuangan dan Asimetri Informasi dalam Hubungan Agensi.
Lintasan Ekonomi Vol. XIX. No.2. Juli 2002.
Beasley, Mark S. (1996). An Empirical Analysis of the Relation Between the Board of
Director Composition and Financial Statement Fraud. The Accounting Review,
Vol.17. No.4, Oktober, hal.443 -465.
Beiner. S., W. Drobetz, F. Schm id dan H. Zimmermann (2003). Is Board zise An
Independent Corporate Governance Mechanism ?.
http://www.wwz.unibaz.ch/cofi/publications/papers/2003/06.03.pdf .
Bryshaw, R. E dan Ahmed Eldin.(1989). The Smoothing Hipothesisand The Role of
Exchange Differences. Journal of Business, Finance and Accounting , hal. 621-633.
Chtourou, SM., Jean Bedard. dan Lucie Courteau. (2001). Corporate Governance and
Earnings Management. Working Paper. Universite Laval, Quebec City, Canada.
April.
Cornett M. M, J. Marcuss, Saunders dan Tehranian H. (2006). Earnings Management,
Corporate Governance, and True Financial Performance. http://papers.ssrn.com/
Deni Darmawati, Khomsiyah dan Rika Gelar Rahayu. (2004). Hubungan Corporate
Governance dan Kinerja Perusahaan. Simposium Nasional Akuntansi VII , IAI, 2004.
Dechow, Patricia M., R.G. Sloan and A.P. Sweeney, (1995), Detecting earnings
management, The Accounting Review 70, 193-225.
Dechow, Patricia M., R.G. Sloan hal A.P. Sweeney. (1996). Causes And Consequences
Of Earnings Manipulaton: An Analysis Of Firms Subject To Enforcement Actions
By The SEC. Contemporary Accounting Research 13, 1-36
Dhaliwal, D. S., Salomon G. L., dan Smith, E. D. (198 2). The Effect of Owner Versus
Management Control on the Choice of Accounting Methods. Journal of Accounting
and Economics, Vol.4. hal.41-53.
Eisenhardt, Kathleem. M. (1989). Agency Theory: An Assesment and Review. Academy
of management Review, 14, hal 5 7-74
Fama. E.F. dan M.C. Jensen. (1983). Separation of Ownership and Control. Journal Of
Law and Economics, Vol.26. hal.301 -325.
Gabrielsen, Gorm., Jeffrey D. Gramlich dan Thomas Plenborg. (1997). Managerial
Ownership, Information Content of Earnings, and Discretionary Accruals in a Non -
76
US Setting. Journal of Business Finance and Accounting, Vol.29. No.7 & 8.
September/ Oktober, hal. 967-988.
Gideon SB Boediono. (2005). Kualitas Laba: Studi Pengaruh Mekanisme Corporate
Governace dan Dampak Manajemen L aba dengan Menggunakan Analisis Jalur.
Simposium Nasional Akuntansi VIII, IAI, 2005.
Haris Wibisono. (2004). Pengaruh Earnings Management Terhadap Kinerja Di Seputar
SEO. Tesis S2. Magister Sains Akuntansi UNDIP. Tidak dipublikasikan
Imam Ghozali. (2005). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Badan
Penerbit UNDIP.
Jennings, M. M. 2004a. "Privilege, Financial Fraud, and Noisy Lawyers." Corporate
Finance Review, 8:4 (Januari/Februari, hal.43 -47.
Jennings, M. M. 2004b. "Parmalat: Ethical Collapse Goes Global." Corporate Finance
Review, 8:5 (Maret/April), hal.43 -46.
Jennings, M. M. 2005a. "The Ethical Lessons of Marsh and McLennan." Corporate
Finance Review, 9:4 (Januari/Februari), hal.43 -48.
Jennings, M. M. 2005b. "Conspicuous Governan ce Failures: Why Sarbanes-Oxley Is not
an Ethics Warranty." Corporate Finance Review, 9:5 (Maret/April), hal.41-47.
Jensen, M.C. (1993). The Modern Industrial revolution, Exit, and the Failure of Internal
Control System. Journal of Finance, Vol. 48. July , hal.831-880.
Jensen, Michael C. dan W.H. Meckling. (1976). Theory of The Firm: Managerial
Behavior, Agency Cost and Ownership Structure. Journal of Financial Economics
3. hal. 305-360.
Jiambalvo, J. (1996). “Discussion of Causes and Consequences of E arnings
Manipulation.” Contemporary Accounting Research. Vol. 13. Spring, p.37 -47.
Kieso E. Donald, dan Weygandt J Jerry (1995). Akuntansi Intermediate. Jilid Satu, Edisi
Ketujuh, Binarupa Aksara.
Klein, April. (2002). Audit Committee, Board Of Directo r Characteristics and Earnings
Management. Journal of Accounting and Economics, Vol.33. No.3. August,
hal.375-400.
Komite Nasional Kebijakan Governance, (2004). Pedoman Tentang Komisaris
Independen. http://www.governance-indonesia.or.id/main.htm.
77
Morck, R., A. Shleifer dan R.W. Vishny. (1988). Management Ownership and Market
Valuation: An Empirical Analysis. Journal of Financial Economics, Vol.20.
January/ March, hal.293-315.
Peasnell, K.V, P.F. Pope. dan S.Young. (2001). Board Monitoring and Earnings
Management: Do Outside Directors Influence Abnormal Accruals. Accounting and
Business Research, Vol. 30. hal.41 -63.
Pradhono dan Yulius Jogi Cristiawan. (2004). Pengaruh Economic Value Added ,
Residual Income, Earnings dan Arus Kas Operasi terhadap Return yang diterima
oleh Pemegang Saham (Studi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa
Efek Jakarta). Jurnal Akuntansi dan Keuangan Vol. 6, No. 2, Nopember. hal 140-
166.
Pratana Puspa Midiastuty dan Mas’ud Mahfoedz. (2003). Analisis Hubungan Mekanisme
Corporate Governance dan Indikasi Manajemen Laba. Simposium Nasional
Akuntansi VI. IAI, 2003.
Richardson, Vernon J. (1998). Information Asymmetry an Earnings Management: Some
Evidence. Working Paper, 30 Maret
Schipper, Katherine. (1989). Comentary Katherine on Earnings Management. Accounting
Horizon.
Shleifer, A. dan R.W. Vishny. (1997). A Survey of Corporate Governance. Journal of
Finance, Vol.52. No.2. Juni, hal.737 -783.
Sylvia Veronica N.P. Siregar dan Siddharta Utama, Pengaruh Struktur Kepemilikan,
Ukuran Perusahaan, dan Praktek Corporate Governance Terhadap Pengelolaan
Laba (Earnings Management) Simposium Nasional Akuntansi VIII, IAI, 2005
Theresia Dwi Hastuti. (2005). Hubungan antara Good Corporate Governance dan
Struktur Kepemilikan Dengan Kinerja Keuangan (Studi Kasus pada Perusahaan
yang listing di Bursa Efek Jakarta) Simposium Nasional Akuntansi VIII, IAI, 2005.
Warfield, Terry D., J.J. Wild, dan K.L. Wild. (1995). Manager ial Ownership, Accounting
Choices, and Informativeness of Earnings. Journal of Accounting and Economics
20, hal. 61-91.
Xie, Biao., Wallace N. Davidson and Peter J. Dadalt.(2003). Earning Management and
Corporate Governance: The Roles Of The Board and Th e Audit Committee. Journal
of Corporate Finance, Vol.9. hal.295 -316.
Yermack, D., 1996. Higher Market Valuation of Companies With A Small Board of
Directors. Journal of Financial Economics 40, 185 -211.
78
Lampiran 1:
Data Penelitian.
DATA PENELITIAN
CORPORATE GOVERNANCE STRUKTUR KEPEMILIKAN MANAJEMEN LABA KINERJA KEUANGAN
TAHUN NAMA PERUSAHAAN MO BC AC DO CH EM FP
2003 PT.AKR CORPORINDO, TBK. 0.3333 0.0013 0.6667 0.0000 1.0000 -0.008737361 0.419642067
2003 PT.ALFA RETAILINDO, TBK 0.1667 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 0.02781013 0.281187297
2003 PT.PACIFIC UTAMA, TBK. 0.3333 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 0.251744729 0.227540881
2003 PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. 0.4000 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 -0.021921273 0.251770017
2003 PT.METRO SUPERMARKET REALTY ,TBK. 0.2000 0.0000 0.0000 1.0000 0.0000 0.249330194 0.192362046
2003 PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. 0.3333 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 -0.326988345 0.210255461
2003 PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. 0.2500 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 0.048654659 0.268611411
2003 PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. 0.3333 0.0223 0.0000 0.0000 1.0000 -0.043446231 0.01411345
2003 PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. 0.3333 0.0000 0.5000 1.0000 0.0000 0.038846765 0.221615489
2003 PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. 0.3333 0.0016 0.0000 0.0000 1.0000 0.125663769 0.120980758
2003 PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. 0.3333 0.0523 0.0000 0.0000 1.0000 0.00600158 0.070928224
2003 PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. 0.2500 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 0.010361367 0.198035789
2003 PT.LAUTAN LUAS, TBK. 0.3333 0.0016 0.6667 0.0000 1.0000 0.130186233 133.6096113
2003 PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. 0.5000 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 -0.01429626 0.08443958
2003 PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK 0.3333 0.0000 0.0000 1.0000 0.0000 0.025981274 0.567556737
2003 PT.TIRA AUSTENITE, TBK. 0.0000 0.0002 0.0000 1.0000 0.0000 0.013108978 0.329856957
2003 PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. 0.3333 0.0000 0.0000 1.0000 0.0000 0.029122201 0.153877763
2003 PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. 0.3333 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 -0.004929004 0.064982797
2003 PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. 0.3333 0.0006 0.0000 1.0000 0.0000 -0.233696461 0.33913223
2003 PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. 0.2500 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 -0.010811251 0.683295493
2003 PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. 0.5000 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 0.019159014 0.717066784
2003 PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. 0.3333 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 0.281304062 0.441410719
2003 PT.STEADY SAFE, TBK. 0.5000 0.0006 0.6667 0.0000 1.0000 0.501885009 0.387819333
2003 PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. 0.3333 0.0012 0.6667 0.0000 1.0000 -0.020866073 0.279884375
2003 PT.TUNAS RIDEAN, TBK. 0.4000 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 90.63091354 0.023463684
2003 PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. 0.2500 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 -0.101150377 0.670937768
2004 PT.AKR CORPORINDO, TBK. 0.3300 0.0013 0.6667 0.0000 1.0000 -0.02387574 0.490992659
2004 PT.ALFA RETAILINDO, TBK 0.1667 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 -0.010000463 0.306332795
2004 PT.PACIFIC UTAMA, TBK. 0.3333 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 1.463496429 0.504117017
2004 PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. 0.5714 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 -0.003963891 0.259827539
2004 PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. 0.5000 0.0000 0.0000 1.0000 0.0000 0.430815109 0.217404252
2004 PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. 0.3333 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 -0.069649309 0.261173442
2004 PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. 0.3333 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 0.045638019 0.265301712
2004 PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. 0.3333 0.0223 0.0000 0.0000 1.0000 0.011261496 0.136984483
2004 PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. 0.3333 0.0000 0.5000 0.0000 1.0000 -0.000569193 0.211957513
2004 PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. 0.3333 0.0016 0.0000 0.0000 1.0000 0.096294707 0.143510273
2004 PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. 0.3333 0.0523 0.0000 0.0000 1.0000 0.015029435 0.095243322
2004 PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. 0.2500 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 0.078815267 0.196883744
2004 PT.LAUTAN LUAS, TBK. 0.3333 0.0016 0.6667 0.0000 1.0000 -0.113062021 0.196966539
2004 PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. 0.3333 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 0.043064585 0.116472273
2004 PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK 0.2500 0.0000 0.0000 1.0000 0.0000 0.002966795 0.565334741
2004 PT.TIRA AUSTENITE, TBK. 0.3333 0.0002 0.0000 1.0000 0.0000 0.201048163 0.15093639
2004 PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. 0.3333 0.0000 0.0000 1.0000 0.0000 0.062090481 0.231905573
79
2004 PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. 0.3333 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 -0.004894873 0.104339291
2004 PT.BERLIAN LAJU TANKER, T BK. 0.3333 0.0006 0.6667 1.0000 0.0000 -0.333154518 0.298372592
2004 PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. 0.2500 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 0.028201214 0.862999085
2004 PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. 0.5000 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 -0.02778619 0.698599496
2004 PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. 0.2500 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 -0.108083588 0.463738801
2004 PT.STEADY SAFE, TBK. 0.7500 0.0006 0.6667 0.0000 1.0000 0.023666834 0.439256757
2004 PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. 0.3333 0.0012 0.6667 0.0000 1.0000 0.067964435 0.315338909
2004 PT.TUNAS RIDEAN, TBK. 0.4000 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 -0.07788557 0.097820243
2004 PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. 0.2000 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 0.403613527 0.547734017
2005 PT.AKR CORPORINDO, TBK. 0.3300 0.0013 0.6667 0.0000 1.0000 62.19982304 0.476887167
2005 PT.ALFA RETAILINDO, TBK 0.3300 0.0000 0.0000 0.0000 1.0000 0.000665911 0.374237516
2005 PT.PACIFIC UTAMA, TBK. 0.3300 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 -2.442728789 0.118680477
2005 PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. 0.5714 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 0.041508074 0.255348302
2005 PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. 0.5000 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 0.102939414 3.728781535
2005 PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. 0.5000 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 -0.093207792 0.322635547
2005 PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. 0.5000 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 -0.072631868 0.324126755
2005 PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. 0.3333 0.0223 0.0000 0.0000 1.0000 0.030463613 0.494502843
2005 PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. 0.4000 0.0000 0.7500 0.0000 1.0000 0.013685986 0.203132689
2005 PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. 0.5000 0.0016 0.0000 0.0000 1.0000 0.005925922 0.145230766
2005 PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. 0.0000 0.0078 0.0000 1.0000 0.0000 0.019651666 0.070937034
2005 PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. 0.3333 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 0.052477984 0.207731236
2005 PT.LAUTAN LUAS, TBK. 0.3333 0.0016 0.6667 0.0000 1.0000 -0.031946968 0.218223892
2005 PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. 0.5000 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 -0.055306805 0.262286998
2005 PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK 0.3333 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 -0.000207789 0.209041454
2005 PT.TIRA AUSTENITE, TBK. 0.3333 0.0002 0.6667 1.0000 0.0000 0.087738926 0.221624181
2005 PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. 0.3333 0.0000 0.0000 1.0000 0.0000 -0.071288869 0.565606395
2005 PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. 0.3333 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 0.01757094 0.060770776
2005 PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. 0.3333 0.0006 0.6667 1.0000 0.0000 0.022814802 0.291006515
2005 PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. 0.2000 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 -0.04955533 0.821992594
2005 PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. 0.5000 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 -0.040307281 0.811144035
2005 PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. 0.3333 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 0.163167954 0.459093959
2005 PT.STEADY SAFE, TBK. 0.7500 0.0006 0.6667 0.0000 1.0000 -0.000561713 0.538147634
2005 PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. 0.3333 0.0012 0.6667 0.0000 1.0000 -0.027174741 0.268139121
2005 PT.TUNAS RIDEAN, TBK. 0.4000 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 -0.007692697 0.069919521
2005 PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. 0.2500 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 0.064494793 0.637420667
2006 PT.AKR CORPORINDO, TBK. 0.3300 0.0013 0.6667 0.0000 1.0000 -36.49047622 0.44549431
2006 PT.ALFA RETAILINDO, TBK 0.3333 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 0.010212176 0.416186294
2006 PT.PACIFIC UTAMA, TBK. 0.6667 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 1.775204313 0.14943017
2006 PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. 0.5714 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 0.031259163 0.060722457
2006 PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. 0.5000 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 0.256742047 0.333334746
2006 PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. 0.5000 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 -0.346399502 0.291676992
2006 PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. 0.5000 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 0.038564318 0.351182503
2006 PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. 0.0000 0.0223 0.0000 0.0000 1.0000 0.304972581 0.107731586
2006 PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. 0.5000 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 0.019923125 0.21236905
2006 PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. 0.5000 0.0029 0.0000 0.0000 1.0000 0.061874489 0.161467102
2006 PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. 0.0000 0.0780 0.0000 1.0000 0.0000 0.032728794 0.05781906
2006 PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. 0.4000 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 -0.044307725 0.220364679
2006 PT.LAUTAN LUAS, TBK. 0.3333 0.0016 0.6667 0.0000 1.0000 -0.018919644 0.184143706
2006 PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. 0.5000 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 -0.080896527 0.095966082
2006 PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK 0.3333 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 0.009970331 0.189833024
80
2006 PT.TIRA AUSTENITE, TBK. 0.3333 0.0001 0.6667 1.0000 0.0000 -0.267627683 0.188919699
2006 PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. 0.3333 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 0.044796203 0.254290973
2006 PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. 0.3333 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 -0.008039586 0.064578583
2006 PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. 0.5000 0.0060 0.6667 1.0000 0.0000 0.067204251 0.317121919
2006 PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. 0.2000 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 -0.002845049 0.538156681
2006 PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. 0.5000 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 -0.065587017 0.916347806
2006 PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. 0.2500 0.0000 0.6667 0.0000 1.0000 -0.05100362 0.313904558
2006 PT.STEADY SAFE, TBK. 0.5000 0.0006 0.6667 1.0000 0.0000 -1.514743095 0.668238707
2006 PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. 0.4000 0.0013 0.6667 0.0000 1.0000 -3.06E-05 0.136240863
2006 PT.TUNAS RIDEAN, TBK. 0.3333 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 -0.024714461 0.036974688
2006 PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. 0.5000 0.0000 0.6667 1.0000 0.0000 -0.049200988 0.728780787
Lampiran 2:
Pengukuran Manajemen Laba Dengan Akrual Modal Kerja.
PENGUKURAN MANAJEMEN LABA
TAHUN NAMA PERUSAHAAN AKRUAL MODAL KERJA
PENJUALAN
PERIODE
MANAJEMEN
LABA
Perubahan
Aktiva
Lancar
Perubahan
Hutang
Lancar
Perubahan
Kas/Setara
Kas Akrual Modal Kerja
2003 PT.AKR CORPORINDO, TBK. 57723959 68407816 5433943 -16117800 1844698937 -0.008737361
2003 PT.ALFA RETAILINDO, TBK 16199268 -92762713 8432516 100529465 3614850631 0.02781013
2003 PT.PACIFIC UTAMA, TBK. -710229 -10858144 4862945 5284970 20993369 0.251744729
2003 PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. -172215000 113382000 -174567000 -111030000 5064943000 -0.021921273
2003 PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. -996537 -11490467 -448319 10942249 43886578 0.249330194
2003 PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. 39093363 109960029 42028586 -112895252 345257725 -0.326988345
2003 PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. 251898000 79408000 -401753 172891753 3553447000 0.048654659
2003 PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. -9991438 1292075 -2091061 -9192452 211582267 -0.043446231
2003 PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. 11677412 5593687 -5656690 11740415 302223748 0.038846765
81
2003 PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. 32865932 18700727 -1548213 15713418 125043345 0.125663769
2003 PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. 817000 783000 -325870 359870 59962544 0.00600158
2003 PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. 174290073 94028919 40710131 39551023 3817162515 0.010361367
2003 PT.LAUTAN LUAS, TBK. 221258458 38392920 19033584 163831954 1258443000 0.130186233
2003 PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. 6661641 5248879 2371025 -958263 67028927 -0.01429626
2003 PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK 60350000 18096000 23703000 18551000 714014249 0.025981274
2003 PT.TIRA AUSTENITE, TBK. -2734809 -4302527 -1378098 2945816 224717435 0.013108978
2003 PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. -71479178 -103825947 -7208693 39555462 1358257981 0.029122201
2003 PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. 31748292 18099254 18913794 -5264756 1068117599 -0.004929004
2003 PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. 124287808 356203557 -5261598 -226654151 969865568 -0.233696461
2003 PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. 195378 2468950 -1422962 -850610 78678223 -0.010811251
2003 PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. -60424451 4640177 -77905491 12840863 670225670 0.019159014
2003 PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. -39119841 -7129048 -79156274 47165481 167667259 0.281304062
2003 PT.STEADY SAFE, TBK. 724905 -17602116 25475 18301546 36465616 0.501885009
2003 PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK . -89282826 25771759 -55859158 -59195427 2836922204 -0.020866073
2003 PT.TUNAS RIDEAN, TBK. 146579000 -125299000 27141000 244737000 2700370 90.63091354
2003 PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. 68723 5147997 -805856 -4273418 42248167 -0.101150377
2004 PT.AKR CORPORINDO, TBK. 40181780 86110445 6299354 -52228019 2187493186 -0.02387574
2004 PT.ALFA RETAILINDO, TBK 28012350 71440721 -10772462 -32655909 3265439583 -0.010000463
2004 PT.PACIFIC UTAMA, TBK. -3287966 -55153686 -898428 52764148 36053486 1.463496429
2004 PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. 530083000 70876000 481483000 -22276000 5619731000 -0.003963891
2004 PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. -2210792 -19250987 -1008480 18048675 41894248 0.430815109
2004 PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. -70651611 85365811 -126534922 -29482500 423299249 -0.069649309
2004 PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. 28466000 -79150000 -65804000 173420000 3799902000 0.045638019
2004 PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. -13378677 -9125162 -6548553 2295038 203795130 0.011261496
2004 PT.MILLENNIUM PHARMACON INT ERNATIONAL, TBK. 23031543 19263913 4013110 -245480 431276996 -0.000569193
2004 PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. 14073226 68984 -35821 14040063 145803061 0.096294707
2004 PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. 7465455 7483093 -1416866 1399228 93099173 0.015029435
2004 PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. 295707670 -42450106 -16239737 354397513 4496559166 0.078815267
2004 PT.LAUTAN LUAS, TBK. 125146000 317811000 172000 -192837000 1705586000 -0.113062021
2004 PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. 937150 -890553 -711183 2538886 58955311 0.043064585
2004 PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK -3655588 -5095303 -1160428 2600143 876414907 0.002966795
2004 PT.TIRA AUSTENITE, TBK. 10767177 -7732161 -5338354 23837692 118567072 0.201048163
2004 PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. -51215403 -108484635 -10095858 67365090 1084950359 0.062090481
2004 PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. 9242403 6995448 8215422 -5968467 1219330396 -0.004894873
2004 PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. 547773194 544083441 453925784 -450236031 1351433062 -0.333154518
2004 PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. 2085485 -1136308 1032007 2189786 77648644 0.028201214
2004 PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. 44746698 101754939 -37225596 -19782645 711959615 -0.02778619
2004 PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. -1821246 421875 250127 -2493248 23067776 -0.108083588
2004 PT.STEADY SAFE, TBK. 1303955 -88509183 254088 89559050 3784158425 0.023666834
2004 PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. 576982272 73142219 262869626 240970427 3545537105 0.067964435
2004 PT.TUNAS RIDEAN, TBK. 360142000 635238000 -13579000 -261517000 3357708000 -0.07788557
2004 PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. 8845649 -14115302 -195735 23156686 57373414 0.403613527
2005 PT.AKR CORPORINDO, TBK. 203452136 147398063 -119835955 175890028 2827822 62.19982304
2005 PT.ALFA RETAILINDO, TBK -28782000 -30270000 -752044 2240044 3363876691 0.000665911
2005 PT.PACIFIC UTAMA, TBK. -4710010 25592704 -4644794 -25657920 10503794 -2.442728789
2005 PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. -308798000 -38885000 -556985000 287072000 6916052000 0.041508074
2005 PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. -1550392 -5626824 436417 3640015 35360751 0.102939414
2005 PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. -103182204 23718712 -80704316 -46196600 495630236 -0.093207792
2005 PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. -267711000 -265145000 309775000 -312341000 4300330000 -0.072631868
82
2005 PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. 4135025 -528977 -2182810 6846812 224753774 0.030463613
2005 PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. 27602875 17315408 3690738 6596729 482006104 0.013685986
2005 PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. 21304730 20199829 137043 967858 163326148 0.005925922
2005 PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. 25447997 24785526 -2019075 2681546 136453876 0.019651666
2005 PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. 170477985 -39508371 -69406094 279392450 5323993555 0.052477984
2005 PT.LAUTAN LUAS, TBK. 115178000 169183000 15209000 -69214000 2166528000 -0.031946968
2005 PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. -10583842 -7880578 -337637 -2365627 42772802 -0.055306805
2005 PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK 122473000 109930000 13065711 -522711 2515588963 -0.000207789
2005 PT.TIRA AUSTENITE, TBK. 3156362 -13650184 1625837 15180709 173021368 0.087738926
2005 PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. -38296401 25644313 -9246239 -54694475 767223207 -0.071288869
2005 PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. 14397242 6855099 -17296276 24838419 1413607895 0.01757094
2005 PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. 874008416 501490661 312807029 59710726 2617192430 0.022814802
2005 PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. 3993199 10268894 -2657224 -3618471 73018806 -0.04955533
2005 PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. -18342746 -41953743 56515651 -32904654 816345162 -0.040307281
2005 PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. 5810855 -94363 1656347 4248871 26039862 0.163167954
2005 PT.STEADY SAFE, TBK. 1083250 2390399 224244 -1531393 2726292047 -0.000561713
2005 PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. 490574150 138820885 474692156 -122938891 4524013327 -0.027174741
2005 PT.TUNAS RIDEAN, TBK. 540071000 441835000 134378000 -36142000 4698222000 -0.007692697
2005 PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. 7244119 3254185 162319 3827615 59347659 0.064494793
2006 PT.AKR CORPORINDO, TBK. 105487196 205554561 44811612 -144878977 3970323 -36.49047622
2006 PT.ALFA RETAILINDO, TBK 65970330 -21940190 50892154 37018366 3624924292 0.010212176
2006 PT.PACIFIC UTAMA, TBK. 3626785 -17026848 205951 20447682 11518495 1.775204313
2006 PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. -425231000 -47889000 -623180000 245838000 7864510000 0.031259163
2006 PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. 1631565 -7828826 179261 9281130 36149630 0.256742047
2006 PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. 6787210 191396878 -11027308 -173582360 501104531 -0.346399502
2006 PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. 192588000 20005000 -116614 172699614 4478223000 0.038564318
2006 PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. 47446119 -8102719 -5215897 60764735 199246551 0.304972581
2006 PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. 14930793 5203081 -2442696 12170408 610868424 0.019923125
2006 PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. 19396925 8640780 331908 10424237 168473909 0.061874489
2006 PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. 13562357 8332989 -472860 5702228 174226645 0.032728794
2006 PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. -129119138 1875318 113685609 -244680065 5522289093 -0.044307725
2006 PT.LAUTAN LUAS, TBK. 110220000 179690000 -23812000 -45658000 2413259000 -0.018919644
2006 PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. -1055384 402068 1544616 -3002068 37109974 -0.080896527
2006 PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK 275321830 238691976 7994885 28634969 2872017978 0.009970331
2006 PT.TIRA AUSTENITE, TBK. 28136912 72702275 9424604 -53989967 201735360 -0.267627683
2006 PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. -51599809 -76581773 -1293117 26275081 586547056 0.044796203
2006 PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. 27984262 21210122 19191323 -12417183 1544505342 -0.008039586
2006 PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. -36362721 -88989096 -153945218 206571593 3073787610 0.067204251
2006 PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. 4076044 11387912 2787523 -10099391 3549812420 -0.002845049
2006 PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. -93023065 4886475 -42374062 -55535478 846744990 -0.065587017
2006 PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. -14755387 8570082 -21600126 -1725343 33827854 -0.05100362
2006 PT.STEADY SAFE, TBK. -2315835 21502758 -368481 -23450112 15481247 -1.514743095
2006 PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. -406528 -30328 -243555 -132645 4332624660 -3.06154E-05
2006 PT.TUNAS RIDEAN, TBK. -207607000 -111743000 -110441 -95753559 3874394000 -0.024714461
2006 PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. 2887087 5161298 -339798 -1934413 39316548 -0.049200988
83
Lampiran 3:
Pengukuran Kinerja Keuangan Dengan CFROA.
KINERJA KEUANGAN
TAHUN NAMA PERUSAHAAN EBIT DEPRECIATION ASSETS EBIT+DEPRECIATION CFROA
2003 PT.AKR CORPORINDO, TBK. 88217812 566367984 1559866961 654585796 0.419642067
2003 PT.ALFA RETAILINDO, TBK 2429240 184569907 665034122 186999147 0.281187297
2003 PT.PACIFIC UTAMA, TBK. 14963056 1667608 73088686 16630664 0.227540881
2003 PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. 150856000 710559000 3421436000 861415000 0.251770017
2003 PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. 233957 22519874 118286489 22753831 0.192362046
2003 PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. 144667418 283789437 2037791800 428456855 0.210255461
2003 PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. 360411000 314415000 2512276000 674826000 0.268611411
2003 PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. -22354371 24698331 166079872 2343960 0.01411345
2003 PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. 9635593 16160654 116400921 25796247 0.221615489
2003 PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. 10502849 7160197 145998804 17663046 0.120980758
2003 PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. 1170706 782800 27542012 1953506 0.070928224
2003 PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. 198805192 62892937 1321468862 261698129 0.198035789
2003 PT.LAUTAN LUAS, TBK. 55604000 108564000 1228714 164168000 133.6096113
2003 PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. 2521704 2968957 65024731 5490661 0.08443958
2003 PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK 10228696 38862418 86495518 49091114 0.567556737
2003 PT.TIRA AUSTENITE, TBK. 20039058 73831300 284578985 93870358 0.329856957
2003 PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. -45760207 155094059 710524053 109333852 0.153877763
2003 PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. -3558168 16733445 202750229 13175277 0.064982797
2003 PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. 203121580 817807992 3010417416 1020929572 0.33913223
2003 PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. 13442683 125912856 203946229 139355539 0.683295493
2003 PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. 265261251 1179409132 2014694328 1444670383 0.717066784
2003 PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. 4150545 23241948 62056701 27392493 0.441410719
2003 PT.STEADY SAFE, TBK. 1437549 101754496 266082777 103192045 0.387819333
2003 PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. 97726805 477559981 2055444455 575286786 0.279884375
2003 PT.TUNAS RIDEAN, TBK. 115767 34729000 1485051000 34844767 0.023463684
2003 PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. 3048192 64643444 100891080 67691636 0.670937768
2004 PT.AKR CORPORINDO, TBK. 175969560 653931375 1690251209 829900935 0.490992659
2004 PT.ALFA RETAILINDO, TBK 1691859 225756114 742486527 227447973 0.306332795
2004 PT.PACIFIC UTAMA, TBK. 31413591 1565101 65418724 32978692 0.504117017
2004 PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. 222720000 838940000 4086018000 1061660000 0.259827539
84
2004 PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. 660745 23634445 111751218 24295190 0.217404252
2004 PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. 193383781 337700591 2033454733 531084372 0.261173442
2004 PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. 323851000 354968000 2558668000 678819000 0.265301712
2004 PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. -17228644 35961878 136754423 18733234 0.136984483
2004 PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. 11172876 17820763 136789862 28993639 0.211957513
2004 PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. 13394950 9430993 159054418 22825943 0.143510273
2004 PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. 2297722 1091356 35583366 3389078 0.095243322
2004 PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. 244542403 81094682 1653956182 325637085 0.196883744
2004 PT.LAUTAN LUAS, TBK. 131732000 148940000 1424973000 280672000 0.196966539
2004 PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. 3622859 3980188 65277742 7603047 0.116472273
2004 PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK 1652036 43523377 79909140 45175413 0.565334741
2004 PT.TIRA AUSTENITE, TBK. 1754428 25072816 177738742 26827244 0.15093639
2004 PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. -50760244 168125993 506092836 117365749 0.231905573
2004 PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. 2828960 19918905 218018205 22747865 0.104339291
2004 PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. 305432263 996023301 4361846891 1301455564 0.298372592
2004 PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. 8254194 146688244 179539516 154942438 0.862999085
2004 PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. 260080626 1402785868 2380285847 1662866494 0.698599496
2004 PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. 6271014 24094752 65480322 30365766 0.463738801
2004 PT.STEADY SAFE, TBK. 1003806 99065072 227814089 100068878 0.439256757
2004 PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. 351139759 462345220 2579716477 813484979 0.315338909
2004 PT.TUNAS RIDEAN, TBK. 173641000 39429000 2178179000 213070000 0.097820243
2004 PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. 7639811 66483237 135326720 74123048 0.547734017
2005 PT.AKR CORPORINDO, TBK. 192111587 752011911 1979762854 944123498 0.476887167
2005 PT.ALFA RETAILINDO, TBK 2674397 266713117 719830328 269387514 0.374237516
2005 PT.PACIFIC UTAMA, TBK. 5365392 1548958 58260214 6914350 0.118680477
2005 PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. 354784000 967433000 5178092000 1322217000 0.255348302
2005 PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. 2397487 24899327 101783856 27296814 3.728781535
2005 PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. 236210902 405959945 1990390870 642170847 0.322635547
2005 PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. 319944000 437912000 2338147000 757856000 0.324126755
2005 PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. 4186954 57786151 125324062 61973105 0.494502843
2005 PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. 13743826 19046900 161425156 32790726 0.203132689
2005 PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. 14395758 11804482 180404199 26200240 0.145230766
2005 PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. 2900425 1451396 61347659 4351821 0.070937034
2005 PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. 283985513 102131687 1858734427 386117200 0.207731236
2005 PT.LAUTAN LUAS, TBK. 151194000 199899000 1608866000 351093000 0.218223892
2005 PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. 8664643 4378614 49728950 13043257 0.262286998
2005 PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK 25184771 142576532 802526484 167761303 0.209041454
2005 PT.TIRA AUSTENITE, TBK. 14880904 25072818 180276908 39953722 0.221624181
2005 PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. 77887925 159140412 419069408 237028337 0.565606395
2005 PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. 4595544 9673824 234806414 14269368 0.060770776
2005 PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. 945821606 1355628704 7908586893 2301450310 0.291006515
2005 PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. 1054729 176980430 216589736 178035159 0.821992594
2005 PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TB K. 266958324 1614275298 2319234982 1881233622 0.811144035
2005 PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. 5349049 25928466 68128788 31277515 0.459093959
2005 PT.STEADY SAFE, TBK. -8724418 111417544 190827051 102693126 0.538147634
2005 PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. 541606998 325727413 3234643296 867334411 0.268139121
2005 PT.TUNAS RIDEAN, TBK. 168326000 42243000 3011591000 210569000 0.069919521
2005 PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. 11116985 75341526 135638073 86458511 0.637420667
2006 PT.AKR CORPORINDO, TBK. 201408507 857683002 2377340147 1059091509 0.44549431
2006 PT.ALFA RETAILINDO, TBK 15885076 294142830 744925795 310027906 0.416186294
85
2006 PT.PACIFIC UTAMA, TBK. 6029233 1653874 51416036 7683107 0.14943017
2006 PT.MATAHARI PRIMA PUTRA,TBK. 423578000 116589000 8895671000 540167000 0.060722457
2006 PT.METRO SUPERMARKET REALTY,TBK. 6012528 26307417 96959424 32319945 0.333334746
2006 PT.PLAZA INDONESIA REALTY,TBK. 215839214 437111356 2238608419 652950570 0.291676992
2006 PT.RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK. 357140000 530629000 2527942000 887769000 0.351182503
2006 PT.RIMO CATUR LESTARI,TBK. -50978170 58145877 66533013 7167707 0.107731586
2006 PT.MILLENNIUM PHARMACON INTERNATIONAL, TBK. 17864054 19410016 175515547 37274070 0.21236905
2006 PT.WAHANA PHONIX MANDIRI, TBK. 16612468 13846272 188637435 30458740 0.161467102
2006 PT.AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, TBK. 2719028 1252902 68695859 3971930 0.05781906
2006 PT.ENSEVAL PUTERA MEGATRADING, TBK. 271599381 128317082 1814793848 399916463 0.220364679
2006 PT.LAUTAN LUAS, TBK. 88018000 249060000 1830516000 337078000 0.184143706
2006 PT.SUGI SAMAPERSADA,TBK. 344239 4786585 53464973 5130824 0.095966082
2006 PT.TIGARAKSA SATRIA, TBK 44656948 157917447 1067118832 202574395 0.189833024
2006 PT.TIRA AUSTENITE, TBK. 12243465 34034014 244958463 46277479 0.188919699
2006 PT.WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL, TBK. 9527379 61453290 279131690 70980669 0.254290973
2006 PT.ANTA EXPRESS TOUR & TRAVEL SERVICE, TBK. 6285167 10806778 264668938 17091945 0.064578583
2006 PT.BERLIAN LAJU TANKER, TBK. 964391795 1637896701 8205955951 2602288496 0.317121919
2006 PT.CENTRIS MULTIPERSADA PRATAMA, TBK. 1209726 180768370 338150770 181978096 0.538156681
2006 PT.HUMPUSS INTERMODA TRANSPORTASI, TBK. 224271338 1621955087 2014766024 1846226425 0.916347806
2006 PT.RIG TENDERS INDONESIA, TBK. 2176361 30698551 104729005 32874912 0.313904558
2006 PT.STEADY SAFE, TBK. -17133092 122915018 158299609 105781926 0.668238707
2006 PT.SAMUDRA INDONESIA, TBK. 194554700 279894405 3482428789 474449105 0.136240863
2006 PT.TUNAS RIDEAN, TBK. 54073000 51595000 2857847000 105668000 0.036974688
2006 PT.ZEBRA NUSANTARA,TBK. -6164431 93244903 119487881 87080472 0.728780787
86
87
88
89
90
Lampiran 4:
Klasifikasi Desain Riset Manajemen Laba.
1. Model akrual agregat
Peneliti
Healy (1985)
DeAngelo (1986)
Dechow et al. (1995)
Kang dan
Sivaramakrishnan (1995)
Proksi akrual diskresioner
Total akrual
Perubahan total akrual
Kesalahan residual dari regresi total akrual
dengan perubahan penjualan, perubahan
piutang dan aktiva tetap (disebut
modifikasi Jones)
Kesalahan residual dari regresi total akrual
dengan selisih antara aktiva lancar non kas
dan hutang lancar yang disesua ikan dengan
kenaikan pendapatan, beban dan aktiva
tetap.
2. Model akrual spesifik
Peneliti
McNichols dan
Wilson (1988)
Petroni (1992)
Beneish (1997)
Beavers dan
McNichols (1998)
Proksi akrual diskresioner
Kesalahan residual dari regresi saldo
penyisihan piutang ragu-ragu awal dengan
penghapusan piutang pada periode berjalan
serta periode yang akan datang.
Kesalahan estimasi atas penyisihan klaim
kerugian yang diukur berdasarkan
perkembangan penyisihan kerugian
property pada perusahaan penjamin
asuransi kerugian
Indeks perputaran piutang, indeks laba
kotor, indeks kualitas aset, indeks
depresiasi, indeks beban penjualan dan
administrasi, total akrual terhadap indeks
total aset.
Korelasi serial dari cadangan kerugian pada
perusahaan penjamin asuransi kerugian .
91
3. Distribusi frekuensi
Peneliti
Burgtahler dan
Dichev (1997).
Degeorge et al. (1999).
Myers dan Skinner (1999).
Test untuk manajemen laba
Test apakah frekuensi realisasi laba
tahunan berada
dalam daerah di atas (di bawah) laba nol
dan laba tahun lalu lebih besar (lebih kecil)
dari laba ekspektasi.
Test apakah frekuensi realisasi laba
kuartalan berada dalam daerah di atas (di
bawah) laba nol, laba kuartal terakhir dan
ramalan analis lebih besar (lebih kecil) dari
ekspektasi.
Test apakah banyaknya laba yang berturut -
turut naik
lebih besar dari ekspektasi tidak adanya
manajemen laba
Sumber: McNicols (2000: 317).
92
Lampiran 4:
Analisis Statistik.
Analysis Summary
Date and Time
Date: Friday, March 21, 2008
Time: 9:27:51 AM
Title
hipotesis: Friday, March 21, 2008 09:27 AM
Notes for Group (Group number 1)
The model is recursive.
Sample size = 99
Variable Summary (Group number 1)
Your model contains the following variables (Group number 1)
Observed, endogenous variables
MO
BC
AC
EM
FP
Observed, exogenous variables
KEPEM
Unobserved, exogenous variables
GCG
e1
e2
e3
e4
e5
Variable counts (Group number 1)
Number of variables in your model: 12
Number of observed variables: 6
Number of unobserved variables: 6
Number of exogenous variables: 7
Number of endogenous variables: 5
93
Parameter summary (Group number 1)
Weights Covariances Variances Means Intercepts Total
Fixed 6 0 0 0 0 6
Labeled 0 0 0 0 0 0
Unlabeled 7 1 7 0 0 15
Total 13 1 7 0 0 21
Assessment of normality (Group number 1)
Variable min max skew c.r. kurtosis c.r.
KEPEM .000 1.000 -.391 -1.589 -1.847 -3.751
EM -6.139 3.560 -2.991 -12.149 20.364 41.359
FP .068 4.409 1.028 4.175 .383 .778
AC .000 2.580 -1.117 -4.537 -.727 -1.476
BC .000 6.851 4.748 19.287 23.777 48.292
MO .000 .750 .013 .055 1.443 2.930
Multivariate 39.403 20.007
Observations farthest from the centroid (Mahalanobi s distance) (Group number 1)
Observation number Mahalanobis d-squared p1 p2
10 49.693 .000 .000
46 39.094 .000 .000
41 25.755 .000 .000
5 21.373 .002 .000
74 20.257 .002 .000
93 20.182 .003 .000
30 14.568 .024 .010
37 11.443 .076 .476
47 10.965 .089 .531
56 10.847 .093 .444
95 10.315 .112 .558
3 9.614 .142 .763
1 9.556 .145 .689
2 9.377 .153 .672
97 9.066 .170 .726
29 8.870 .181 .731
31 8.735 .189 .709
19 8.512 .203 .737
33 7.773 .255 .944
94
Observation number Mahalanobis d-squared p1 p2
4 7.640 .266 .943
38 7.438 .282 .955
67 7.328 .292 .951
18 7.299 .294 .931
51 7.103 .311 .947
36 6.692 .350 .986
7 6.686 .351 .976
92 6.611 .358 .972
24 6.546 .365 .966
32 6.112 .411 .994
44 5.955 .428 .996
64 5.750 .452 .998
12 5.427 .490 1.000
70 5.422 .491 .999
57 5.413 .492 .999
11 5.413 .492 .998
6 5.386 .495 .997
34 5.301 .506 .997
35 5.263 .511 .996
8 5.220 .516 .994
82 5.204 .518 .991
49 5.110 .530 .992
26 4.856 .562 .998
21 4.615 .594 1.000
48 4.480 .612 1.000
23 4.447 .616 1.000
25 4.299 .636 1.000
13 3.972 .680 1.000
61 3.943 .684 1.000
15 3.682 .720 1.000
9 3.654 .723 1.000
16 3.597 .731 1.000
17 3.594 .731 1.000
14 3.590 .732 1.000
66 3.557 .736 1.000
65 3.548 .738 1.000
53 3.517 .742 1.000
69 3.457 .750 1.000
20 3.205 .783 1.000
58 3.204 .783 1.000
22 3.115 .794 1.000
95
Observation number Mahalanobis d-squared p1 p2
89 2.893 .822 1.000
98 2.744 .840 1.000
91 2.744 .840 1.000
54 2.711 .844 1.000
55 2.606 .856 1.000
99 2.589 .858 1.000
60 2.574 .860 1.000
39 2.484 .870 1.000
28 2.483 .870 1.000
27 2.466 .872 1.000
80 2.444 .875 1.000
40 2.398 .880 1.000
78 2.366 .883 1.000
68 2.360 .884 1.000
50 2.324 .888 1.000
42 2.285 .892 1.000
43 2.259 .894 1.000
72 2.242 .896 1.000
71 2.192 .901 .999
73 2.117 .909 .999
75 2.108 .909 .999
62 2.085 .912 .998
52 2.079 .912 .995
79 1.994 .920 .995
84 1.809 .936 .999
76 1.777 .939 .997
88 1.753 .941 .994
86 1.728 .943 .989
94 1.676 .947 .984
63 1.619 .951 .977
87 1.605 .952 .952
59 1.595 .953 .905
77 1.593 .953 .816
45 1.559 .955 .720
81 1.541 .957 .572
90 1.534 .957 .384
96 1.428 .964 .306
85 1.307 .971 .219
83 1.281 .973 .064
96
Notes for Model (Default model)
Computation of degrees of freedom (Default model)
Number of distinct sample moments: 21
Number of distinct parameters to be estimated: 15
Degrees of freedom (21 - 15): 6
Result (Default model)
Minimum was achieved
Chi-square = 4.010
Degrees of freedom = 6
Probability level = .675
Estimates (Group number 1 - Default model)
Scalar Estimates (Group number 1 - Default model)
Maximum Likelihood Estimates
Regression Weights: (Group number 1 - Default model)
Estimate S.E. C.R. P Label
EM <--- GCG -1.419 1.985 -.715 .475 par_3
EM <--- KEPEM .045 .206 .221 .825 par_5
MO <--- GCG 1.000
BC <--- GCG -8.844 2.709 -3.264 .001 par_1
AC <--- GCG 12.748 3.915 3.257 .001 par_2
FP <--- EM .091 .092 .982 .326 par_4
FP <--- KEPEM .405 .188 2.156 .031 par_6
FP <--- GCG 7.283 2.448 2.975 .003 par_7
Standardized Regression Weights: (Group number 1 - Default model)
Estimate
EM <--- GCG -.088
EM <--- KEPEM .022
MO <--- GCG .459
BC <--- GCG -.547
AC <--- GCG .789
FP <--- EM .091
FP <--- KEPEM .200
FP <--- GCG .451
97
Covariances: (Group number 1 - Default model)
Estimate S.E. C.R. P Label
GCG <--> KEPEM .003 .004 .825 .409 par_8
Correlations: (Group number 1 - Default model)
Estimate
GCG <--> KEPEM .102
Variances: (Group number 1 - Default model)
Estimate S.E. C.R. P Label
GCG .004 .002 1.977 .048 par_9
KEPEM .241 .034 7.000 *** par_10
e4 .982 .141 6.977 *** par_11
e1 .014 .002 6.173 *** par_12
e2 .693 .125 5.539 *** par_13
e3 .374 .157 2.380 .017 par_14
e5 .729 .119 6.130 *** par_15
Squared Multiple Correlations: (Group number 1 - Default model)
Estimate
EM .008
FP .263
AC .622
BC .300
MO .210
Matrices (Group number 1 - Default model)
Implied Covariances (Group number 1 - Default model)
KEPEM EM FP AC BC MO
KEPEM .241
EM .007 .990
FP .121 .054 .990
AC .039 -.067 .362 .990
BC -.027 .046 -.251 -.427 .990
MO .003 -.005 .028 .048 -.034 .018
98
Implied Correlations (Group number 1 - Default model)
KEPEM EM FP AC BC MO
KEPEM 1.000
EM .013 1.000
FP .247 .055 1.000
AC .081 -.067 .366 1.000
BC -.056 .047 -.254 -.432 1.000
MO .047 -.039 .213 .362 -.251 1.000
Residual Covariances (Group number 1 - Default model)
KEPEM EM FP AC BC MO
KEPEM .000
EM .000 .000
FP .000 .000 .000
AC .007 -.024 .004 .000
BC .054 -.023 .012 .003 .000
MO .007 .007 .000 -.001 -.003 .000
Standardized Residual Covariances (Group number 1 - Default model)
KEPEM EM FP AC BC MO
KEPEM .000
EM .000 .000
FP .000 .000 .000
AC .140 -.237 .035 .000
BC 1.101 -.229 .115 .026 .000
MO .978 .547 .025 -.053 -.245 .000
Factor Score Weights (Group number 1 - Default model)
KEPEM EM FP AC BC MO
GCG -.001 -.002 .010 .036 -.013 .073
Total Effects (Group number 1 - Default model)
KEPEM GCG EM
EM .045 -1.419 .000
FP .409 7.154 .091
AC .000 12.748 .000
BC .000 -8.844 .000
MO .000 1.000 .000
99
Standardized Total Effects (Group number 1 - Default model)
KEPEM GCG EM
EM .022 -.088 .000
FP .202 .443 .091
AC .000 .789 .000
BC .000 -.547 .000
MO .000 .459 .000
Direct Effects (Group number 1 - Default model)
KEPEM GCG EM
EM .045 -1.419 .000
FP .405 7.283 .091
AC .000 12.748 .000
BC .000 -8.844 .000
MO .000 1.000 .000
Standardized Direct Effects (Group number 1 - Default model)
KEPEM GCG EM
EM .022 -.088 .000
FP .200 .451 .091
AC .000 .789 .000
BC .000 -.547 .000
MO .000 .459 .000
Indirect Effects (Group number 1 - Default model)
KEPEM GCG EM
EM .000 .000 .000
FP .004 -.129 .000
AC .000 .000 .000
BC .000 .000 .000
MO .000 .000 .000
100
Standardized Indirect Effects (Group number 1 - Default model)
KEPEM GCG EM
EM .000 .000 .000
FP .002 -.008 .000
AC .000 .000 .000
BC .000 .000 .000
MO .000 .000 .000
Model Fit Summary
CMIN
Model NPAR CMIN DF P CMIN/DF
Default model 15 4.010 6 .675 .668
Saturated model 21 .000 0
Independence model 6 62.700 15 .000 4.180
RMR, GFI
Model RMR GFI AGFI PGFI
Default model .014 .987 .955 .282
Saturated model .000 1.000
Independence model .139 .803 .724 .574
Baseline Comparisons
Model
NFI
Delta1
RFI
rho1
IFI
Delta2
TLI
rho2
CFI
Default model .936 .840 1.035 1.104 1.000
Saturated model 1.000 1.000 1.000
Independence model .000 .000 .000 .000 .000
Parsimony-Adjusted Measures
Model PRATIO PNFI PCFI
Default model .400 .374 .400
Saturated model .000 .000 .000
Independence model 1.000 .000 .000
101
NCP
Model NCP LO 90 HI 90
Default model .000 .000 6.256
Saturated model .000 .000 .000
Independence model 47.700 26.933 76.021
FMIN
Model FMIN F0 LO 90 HI 90
Default model .041 .000 .000 .064
Saturated model .000 .000 .000 .000
Independence model .640 .487 .275 .776
RMSEA
Model RMSEA LO 90 HI 90 PCLOSE
Default model .000 .000 .103 .786
Independence model .180 .135 .227 .000
AIC
Model AIC BCC BIC CAIC
Default model 34.010 36.318 72.937 87.937
Saturated model 42.000 45.231 96.498 117.498
Independence model 74.700 75.623 90.271 96.271
ECVI
Model ECVI LO 90 HI 90 MECVI
Default model .347 .367 .431 .371
Saturated model .429 .429 .429 .462
Independence model .762 .550 1.051 .772
HOELTER
Model
HOELTER
.05
HOELTER
.01
Default model 308 411
Independence model 40 48

1 komentar:

Unknown mengatakan...

KAK ADA LAPORANG KEUANGAN PT RIMO CATUR LESTARI TAHUN 2005 engga?

Mohon Klik Gambar Di bawah ini

Ringga Arie Suryadi. Diberdayakan oleh Blogger.