Klik Gambar

Jumat, 21 Januari 2011

batik pamekasan Kecamatan Proppo ud mutiara kencana batik

Batik Pamekasan, dari Madura Menembus Dunia
Batik Madura memiliki ciri khas tersendiri. Warnanya mencolok dan motifnya berani.
Senin, 11 Oktober 2010, 22:15 WIB
Umi Kalsum

Batik Pamekasan, Madura (Tudji Martudji/VIVAnews)
BERITA TERKAIT
VIVAnews - Garam kini bukan satu-satunya produk unggulan Pulau Madura. Karapan sapi juga bukan satu-satunya budaya khas pulau ini. Madura kini juga sohor sebagai pusat batik tradisional.

Tepatnya di Kabupaten Pamekasan. Kabupaten ini terdiri atas 13 kecamatan, yang dibagi lagi atas 178 desa dan 11 kelurahan. Sebagian besar warga di wilayah ini adalah perajin batik.

Batik Madura memiliki ciri khas tersendiri. Warnanya mencolok dan motifnya terhitung berani. Membatik sudah dilakoni masyarakat Pamekasan jauh sebelum republik ini berdiri.

Semula membatik hanya dilakukan di sela kesibukan sehari-hari warga sebagai buruh dan petani sehingga tidak ada target. "Kalau ada pesanan dalam jumlah banyak, kita baru mengajak banyak orang. Termasuk mencari pinjaman uang untuk modal," kata Soni (43) salah seorang pembatik asal Desa Larangan, Badung, Pamekasan, saat menceritakan kisah suksesnya.

Namun berbekal niat meneruskan warisan nenek moyang, kini semua itu berubah. Pola pekerjaan sampingan pun beralih menjadi pekerjaan utama yang dipadu dengan keahlian yang dimiliki. Sejumlah perajin mengaku mendapatkan penghasilan lebih tinggi dari produksi batik yang dikerjakannya. Kini batik Pamekasan tak hanya diminati di dalam negeri, wisatawan mancanegara pun mulai mengoleksinya.


Soni mengatakan batik asal daerahnya dikenal orang dari berbagai cara. Di antaranya, turis asing yang berkesempatan datang ke Madura. Atau sejumlah pedagang yang dengan jaringan sesama pedagang yang kemudian mengenalkan produk lokal khas Madura itu ke luar negeri. Selebihnya, keberadaan batik Pamekasan menyebar lewat cerita, dari mulut ke mulut hingga ke manca negara.

Pangsa pasar yang mulai terbuka dimanfaatkan betul oleh Pemerintah Kabupaten Pamekasan. Lewat Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, Pemkab mengucurkan bantuan modal kepada Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Kucuran dana ini diharapkan mengangkat potensi lokal kerajinan batik. Pemkab juga membentuk kelompok-kelompok sentra perajin. "Sehingga Pemkab bisa menyalurkan bantuan lewat kredit lunak," kata Bupati Pamekasan, Kholilurrahman.

***

Kini, sejumlah desa mulai bersolek, mendapat predikat sentra kerajinan batik. Tentu saja tidak hanya nama desanya yang dikenal. Rupiah pun terus mengalir ke desa-desa yang dulu sepi dan termasuk ketegori desa tertinggal di Proinsi Jatim. Bahkan, dari kegiatan membatik yang dilakukan berkesinambungan itu mampu membantu pemerintah menampung tenaga kerja lokal yang dulu tidak terserap pasar kerja.

Saat ini yang tampak, tiada hari tanpa membatik. Sedikitnya, ada enam titik sentra batik di kabupaten tersebut, yakni Kecamatan Pamekasan sebanyak 5 sentra batik tulis, Kecamatan Proppo sebanyak 12 sentra batik, Kecamatan Palengaan terdapat 6 sentra, Kecamatan Waru ada satu sentra, Kecamatan Pegantenan dua sentra dan di Kecamatan Tlanakan sebanyak satu sentra batik. Sentra batik itu kini memasok kebutuhan lokal khususnya, Surabaya dan Jakarta yang mencapai puluhan ribu.

Angka ini masuk akal, sebab Soni mengaku tiap bulan memasok 1.500 lembar kain batik. Belum lagi perajin lainnya. Untuk memenuhi banyaknya pesanan, dan agar tepat waktu, tidak jarang ia meminta dicarikan tambahan tenaga. Pekerjaan lembur pun kerap dilakukan bersama istri dan para pekerjanya. Ketekunan dan pola-pola kreatif membuat usahanya terus meroket. Mereka yang datang atau pemesan tidak hanya minta motif lokal, sederet pola hasil kreasi pelanggan juga banyak dipesan.

“Modalnya tekun, serta kreativitas yang tidak boleh berhenti untuk menciptakan motif batik yang berbeda dan diminati," kata Soni. Dengan terus mengembangkan kreativitas model batik yang berbeda, Soni dan sejumlah orang kepercayaannya tidak segan melakukan diskusi sambil mengutak-atik pola batik di sebuah kertas hingga larut malam.

Hasilnya, selain batik lokal yang terus dipertahankan keberadaannya. Sejumlah pola batik beraliran ekspresionis juga banyak dihasilkan. Dia mengatakan, selain batik lokal corak Madura, ia tidak bisa menampik kebutuhan dan minat konsumen yang punya keinginan bervariasi. "Selain pola lokal, kita juga harus bisa memberikan keinginan konsumen lainnya. Misalnya, pola ekspresionis yang mulai banyak disukai,” kata pemilik stan batik di Jalan Pasar, Pamekasan ini.

Selain melayani pesanan partai besar, Soni masih mempertahankan kios miliknya di pasar tradisional. "Itu untuk memenuhi kebutuhan lokal. Mereka yang sempat berbelanja di pasar itu, baik pelancong lokal atau mancanegara," katanya.(ywn)

Laporan: Tudji Martudji|Surabaya
• VIVAnews
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN INDUSTRI BATIK MADURA DI PAMEKASAN (Studi Kasus Pada Industri Batik di Dusun Banyumas, Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan)ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN INDUSTRI
Nunun Tis'aini

Abstrak

ABSTRAK

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN INDUSTRI BATIK MADURA DI PAMEKASAN (Studi Kasus Pada Industri Batik di Dusun Banyumas, Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan)

Industri tekstil merupakan industri yang menyerap tenaga kerja yang cukup besar serta mempunyai kontribusi terhadap perekonomian nasional. Pada 2 Oktober 2009 Batik diakui oleh UNESCO sebagai kekayaan budaya dunia (world cultural heritage) sehingga industri batik di seluruh tanah air mulai dilirik dan mendapat perhatian dari pemerintah. Begitu juga pada industri batik Madura khususnya di Pamekasan. Batik dijadikan sebagai icon Kabupaten Pamekasan sehingga dicanangkan “Pamekasan Kota Batik”. Sebagai langkah selanjutnya untuk mengembangkan industri batik di Pamekasan, Pemerintah Kabupaten Pamekasan bekerjasama dengan pihak-pihak lainnya melakukan pemberdayaan home industri untuk industri batik khususnya batik tulis di Pamekasan yang meliputi aspek permodalan, pemasaran, SDM, dan kewirausahaan.

Masalah dalam penelitian ini adalah (1) Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi perkembangan industri batik Madura di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan ? (2) Bagaimana usaha pemerintah dalam mengembangkan industri batik di wilayah Pamekasan? Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan industri batik Madura di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, (2) untuk mengetahui peran serta pemerintah dalam mengembangkan industri batik di wilayah Pamekasan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk lebih dalam menjelaskan perkembangan industri batik Madura di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan melalui analisis keempat faktor utama yaitu modal, pemasaran, SDM, dan kewirausahaan dan serta kebijakan pemerintah di dalam perkembangan industri batik di Pamekasan. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, dokumentasi, dan observasi, data dengan jalan mencatat, merekam, mengumpulkan, wawancara yang telah diperoleh dan informasi-informasi yang telah dipublikasikan oleh instansi-instansi terkait. Sedangkan analisis data menggunakan analisis triangulasi sumber untuk menguji kebenaran dan keabsahan data yang diperoleh untuk kemudian dianalisis dan ditarik kesimpulannya. Penelitian ini menggunakan data dari hasil wawancara dengan pengrajin batik di Desa Klampar dan pihak pemerintah yakni dengan aparatur pemerintah Kabupaten Pamekasan (Bappeda dan Disperindag) sebagai data primer, dan dokumen serta artikel dari media massa sebagai data sekunder.
Berdasarkan analisis triangulasi yang digunakan, maka peneliti telah memperoleh hasil bahwa secara umum pemerintah telah membantu tumbuhnya industri batik Madura yang terdapat di Pamekasan hanya saja masih memiliki keterbatasan khususnya dalam segi anggaran. Dalam aspek permodalan pemerintah telah memberikan bantuan berupa pinjaman dengan bunga yang rendah bagi pengrajin (tetapi tidak semua pengrajin yang mendapatkan), dalam aspek pemasaran pemerintah membantu dengan penyediaan Pasar Batik, pembangunan Pasar 17 Agustus dan promosi batik melalui pameran kebudayaan dan pameran industri, kebijakan pemakaian batik, serta penghiasan jalan dan bangunan pemerintahan dengan ornament batik, dalam aspek SDM pemerintah telah memberikan pelatihan untuk pengrajin dalam meningkatkan skill para pengrajin, dalam aspek kewirausahaan pemerintah juga telah memberikan pelatihan khususnya mengenai pengelolaan usaha kepada para pengrajin yang terpilih.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa secara umum perkembangan industri batik di Pamekasan ini dipengaruhi oleh pengrajin batik yaitu kreatifitas pengrajin batik, produk batik Madura yang mempertahankan kualitas yang baik, dan kepedulian pengrajin untuk melestarikan batik. Selain itu, dukungan pemerintah dalam mengembangkan industri batik yang ada di Pamekasan, dalam aspek permodalan, pemasaran. SDM, dan kewirausahaan. Selain faktor yang berasal dari pelaku industri batik, terdapat faktor yang bersifat operasional yakni dalam pemasaran batik Madura telah menggunakan fasilitas internet dan pemerintah juga aktif dalam mempromosikan batik Pamekasan sehingga batik Pamekasan dikenal baik oleh masyarakat khususnya di luar Madura, untuk produksi tersedianya bahan baku membatik yang mudah diperoleh juga mendukung perkembangan industri batik di Pamekasan serta ketersediaan tenaga kerja pembatik yang banyak di Pamekasan menjadikan permintaan akan batik Pamekasan terpenuhi, dan budaya di dalam kehidupan keluarga pengrajin batik yang akan menurunkan ketrampilan dan keahlian membatiknya kepada generasi berikutnya, serta perhatian pemerintah dan budayawan dalam melestarikan dan mengembangkan kesenian batik ikut mendorong perkembangan industri batik di Pamekasan.

Sedangkan saran yang dapat diberikan untuk perkembangan industri batik Madura yang terdapat di Pamekasan adalah; para pengrajin hendaknya dapat secara aktif dapat bekerjasama dengan pemerintah dan BUMN agar mendapat tambahan modal yang diperlukan untuk usahanya, para pengrajin yang telah mendapatkan kemajuan setidaknya dapat membagi pengalamannya kepada para pengrajin yang ingin mengembangkan usahanya yang masih kecil, ABBP (Asosiasi Batik dan Bordir Pamekasan) diharapkan tidak hanya mewadahi para pengrajin yang menjadi anggotanya akan tetapi juga dapat menampung aspirasi para pengrajin seluruh daerah yang terdapat di Pamekasan, pihak pemerintah hendaknya mengusahakan penetapan suatu kebijakan pemerintah atau strategi-strategi yang mempengaruhi perkembangan industri batik untuk menumbuhkembangkan perekonomian daerah, seperti misalnya menyederhanakan prosedur administrasi (birokrasi) khususnya terkait dengan pengurusan ijin usaha yang terlalu panjang, dan pemerintah juga diharapkan dapat menciptakan pasar yang menyediakan bahan baku yang dibutuhkan oleh industri batik di Pamekasan.

0 komentar:

Mohon Klik Gambar Di bawah ini

Ringga Arie Suryadi. Diberdayakan oleh Blogger.