Klik Gambar

Sabtu, 06 Maret 2010

PLTS , PLTG , PLTD


I. Pembangkit listrik

Bendungan Tiga Ngarai, sebuah bendungan PLTA.

Pembangkit listrik adalah bagian dari alat industri yang dipakai untuk memproduksi dan membangkitkan tenaga listrik dari berbagai sumber tenaga, seperti PLTU, PLTN, PLTA, dan lain-lain.

Bagian utama dari pembangkit listrik ini adalah generator, yakni mesin berputar yang mengubah energi mekanis menjadi energi listrik dengan menggunakan prinsip medan magnet dan penghantar listrik. Mesin generator ini diaktifkan dengan menggunakan berbagai sumber energi yang sangat bemanfaat dalam suatu pembangkit listrik.

· Pembangkit listrik tenaga panas

Di dalam pembangkit listrik tenaga panas, daya mekanik dihasilkan oleh mesin panas yang mengubah energi panas, seringkali dari pembakaran bahan bakar, menjadi energi putar. Sebagian besar pembangkit listrik panas menghasilkan uap, dan oleh karenanya ia sering juga disebut pembangkit listrik tenaga uap. Tidak semua energi panas dapat dialihbentukkan menjadi energi listrik, menurut hukum kedua termodinamika. Sehingga, selalu terdapat panas terbuang ke lingkungan. Jika buangan panas ini dimanfaatkan, untuk proses industri atau pemanasan distrik, maka pembangkit listrik biasa disebut sebagai pembangkit listrik kogenerasi atau pembangkit listrik kombinasi. Di negara-negara di mana pemanasan distrik menjadi hal biasa, terdapat pembangkit panas yang disebut pembangkit didih panas saja. Suatu jenis pembangkit listrik yang penting di Timur Tengah menggunakan produk sampingan panas untuk desalinasi air laut menjadi air minum.
.
Pembangkit listrik tenaga panas dikelompokkan menurut jenis bahan bakar dan jenis penggerak primer yang dibangun.

Bahan bakar

Penggerak primer

  • Pembangkit turbin uap menggunakan tekanan dinamis yang dihasilkan oleh desakan uap untuk menggerakkan lengan kipas. Hampir semua pembangkit listrik non-hidro yang besar menggunakan sistem ini. Kira-kira 80% semua energi listrik yang dibuat di dunia menggunakan turbin uap.
  • Pembangkit turbin gas menggunakan tekanan dinamis dari gas yang mengalir (udara dan hasil pembakaran) untuk menggerakkan turbin secara langsung. Pembangkit turbin bakar gas alam (juga minyak bumi) dapat segera memulai gerakan dan biasa digunakan untuk memasok energi "puncak" selama masa padat penggunaan, kendati berbea lebih mahal daripada pembangkit biasa. Biasanya berupa satuan-satuan yang cukup kecil, dan kadang-kadang tak berawak, dioperasikan dari kejauhan. Jenis ini dirintis oleh Britania Raya, Princetown[5].

· Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Reaktor nuklir di kungkung dalam containment building silindris.
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) adalah stasiun pembangkit listrik thermal di mana panas yang dihasilkan diperoleh dari satu atau lebih reaktor nuklir pembangkit listrik.
PLTN termasuk dalam pembangkit daya base load, yang dapat bekerja dengan baik ketika daya keluarannya konstan (meskipun boiling water reactor dapat turun hingga setengah dayanya ketika malam hari). Daya yang dibangkitkan per unit pembangkit berkisar dari 40 MWe hingga 1000 MWe. Unit baru yang sedang dibangun pada tahun 2005 mempunyai daya 600-1200 MWe.
Hingga tahun 2005 terdapat 443 PLTN berlisensi di dunia [1], dengan 441 diantaranya beroperasi di 31 negara yang berbeda [2]. Keseluruhan reaktor tersebut menyuplai 17% daya listrik dunia.
Sejarah
Reaktor nuklir yang pertama kali membangkitkan listrik adalah stasiun pembangkit percobaan EBR-I pada 20 Desember 1951 di dekat Arco, Idaho, Amerika Serikat. Pada 27 Juni 1954, PLTN pertama dunia yang menghasilkan listrik untuk jaringan listrik (power grid) mulai beroperasi di Obninsk, Uni Soviet [3]. PLTN skala komersil pertama adalah Calder Hall di Inggris yang dibuka pada 17 Oktober 1956 [4].
Untuk informasi sejarah lebih lanjut, lihat reaktor nuklir dan daya nuklir.

Jenis-jenis PLTN

PLTN dikelompokkan berdasarkan jenis reaktor yang digunakan. Tetapi ada juga PLTN yang menerapkan unit-unit independen, dan hal ini bisa menggunakan jenis reaktor yang berbeda. Sebagai tambahan, beberapa jenis reaktor berikut ini, di masa depan diharapkan mempunyai sistem keamanan pasif.

Keuntungan dan kekurangan

Keuntungan PLTN dibandingkan dengan pembangkit daya utama lainnya adalah:
  • Tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca (selama operasi normal) - gas rumah kaca hanya dikeluarkan ketika Generator Diesel Darurat dinyalakan dan hanya sedikit menghasilkan gas)
  • Tidak mencemari udara - tidak menghasilkan gas-gas berbahaya sepert karbon monoksida, sulfur dioksida, aerosol, mercury, nitrogen oksida, partikulate atau asap fotokimia
  • Sedikit menghasilkan limbah padat (selama operasi normal)
  • Biaya bahan bakar rendah - hanya sedikit bahan bakar yang diperlukan
  • Ketersedian bahan bakar yang melimpah - sekali lagi, karena sangat sedikit bahan bakar yang diperlukan
  • Baterai nuklir - (lihat SSTAR)
Berikut ini berberapa hal yang menjadi kekurangan PLTN:

Limbah nuklir - limbah radioaktif tingkat tinggi yang dihasilkan dapat bertahan hingga ribuan tahun

· Pembangkit Listrik Tenaga Air

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) adalah pembangkit listrik yang mengandalkan energi potensial dan kinetik dari air untuk menghasilkan energi listrik. Energi listrik yang dibangkitkan dari ini biasa disebut sebagai hidroelektrik.
Bentuk utama dari pembangkit listrik jenis ini adalah motor yang dihubungkan ke turbin yang digerakkan oleh tenaga kinetik dari air. Namun, secara luas, pembangkit listrik tenaga air tidak hanya terbatas pada air dari sebuah waduk atau air terjun, melainkan juga meliputi pembangkit listrik yang menggunakan tenaga air dalam bentuk lain seperti tenaga ombak.
· Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)
Sebagian besar kebutuhan listrik di catu melalui jaringan distribusi listrik (PLN). Konsumen yang membutuhkan harus berada di dekat jaringan listrik atau jika tidak, maka perlu dibuatkan sambungan tersendiri.
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di peruntukkan bagi keperluan di bawah ini:
1. Mencatu Listrik Rumah Tangga bagi konsumen yang tinggal di wilayah dimana jaringan listrik tidak tersedia: Pedesaan (terpencil), daerah terisolasi, pulau-pulau terpencil dll.
2. Mencatu Listrik untuk peralatan yang ditempatkan di tempat-tempat terpencil yang dapat bekerja secara otomatis tanpa operator: TV Repeater, Relay Station dll.
3. Mencatu peralatan (baik di kota maupun di tempat terpencil) yang memerlukan kualitas dan keandalan supply listrik yang tinggi, baik berfungsi sebagai back up maupun sebagai tandem dari listrik jaringan.
PLTS merubah energi surya menjadi listrik, oleh karena itu PLTS tidak memerlukan supply bahan bakar dan dapat bekerja secara otomatis tanpa memerlukan operator. Sejak tahun 1990an, Teknologi PLTS telah banyak dimanfaatkan di Indonesia. Teknologi PLTS terbukti secara teknis dapat diandalkan (technically reliable), layak secara ekonomis(Economically feasible), dan dapat diterima oleh masyarakat pemakai ( socially acceptable).
Dengan semakin tingginya harga BBM dan tarif listrik, konsumen di perkotaanpun mulai banyak memanfaatkan PLTS, baik sebagai back up maupun sebagai tandem dengan listrik jaringan.
Di bawah ini adalah aplikasi PLTS yang banyak dimanfaatkan di Indonesia:
1. PLTS untuk infrastruktur pedesaan: SHS (Listrik Pedesaan), TV Umum, Lampu Jalan,
Lampu Penerangan dan Sound System Rumah Ibadah dll.
2. Alat Kesehatan: Vaccine Refrigerator, Lampu Bidan dan Penerangan Puskesmas
3. Alat Komunikasi: Telepon Satelit untuk Pedesaan, Navigational Aids (Alat Bantu Navigasi) di Anjungan Minyak Lepas Pantai, BTS, Wireless Microwave LAN dll.
4. Pompa Air: Surface pump, submersible pump.
5. Solar Dryer: Pengering tenaga surya untuk produk pertanian/perkebunan, perikanan dan hasil laut, dan hasil industri kecil.
Komponen dan Prinsip Kerja PLTS
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah peralatan pembangkit listrik yang merubah cahayamatahari menjadi listrik. PLTS sering juga disebut Solar Cell, atau Solar Photovoltaic, atau SolarEnergy. Orang awam seringkali keliru menganggap Solar Water Heater (Pemanas Air Tenaga Surya) sebagai PLTS. Solar water heater memanfaatkan thermal dari solar energy dan menghasilkan air panas, prinsip yang sama juga diterapkan untuk solar dryer (pengering tenagasurya),
sedangkan PLTS memanfaatkan cahaya matahari untuk menghasilkan listrik. DC (direct
current), yang dapat diubah menjadi listrik AC (alternating current) apabila diperlukan. Oleh karena itu meskipun cuaca mendung, selama masih terdapat cahaya, maka PLTS tetap dapat
menghasilkan listrik. PLTS pada dasarnya adalah pencatu daya (alat yang menyediakan daya), dan dapat dirancang untuk mencatu kebutuhan listrik yang kecil sampai dengan besar, baik secara mandiri, maupun dengan Hybrid (dikombinasikan dengan sumber energy lain, seperti PLTS-genset, PLTS microhydro, PLTS-Angin), baik dengan metoda Desetralisasi (satu rumah satu pembangkit) maupun dengan metoda Sentralisasi (listrik didistribusikan dengan jaringan
kabel).
Komponen PLTS
PLTS terdiri dari tiga komponen utama:
Modul Surya; berfungsi merubah cahaya matahari menjadi listrik arus searah (DC), inverter
dapat dengan mudah merubahnya menjadi listrik arus bolak balik (AC) apabila diperlukan.
Bentuk moduler dari modul surya memberikan kemudahan pemenuhan kebutuhan listrik untuk
berbagai skala kebutuhan. Kebutuhan kecil dapat dicukupi dengan satu modul atau dua modul,
dan kebutuhan besar dapat dicatu oleh bahkan ribuan modul surya yang dirangkai menjadi
satu. Satu buah modul surya umumnya terdiri dari 36 buah solar cell.
Alat Pengatur; berfungsi mengatur lalu lintas listrik dari modul surya ke battery dan beban.
Alat elektronik ini juga memiliki banyak fungsi yang pada dasarnya ditujukan untuk melindungi
battery.
Baterai / Accu; berfungsi menyimpan arus litrik yang dihasilkan oleh modul surya sebelum
dimanfaatkan untuk menggerakkan beban. Beban dapat berupa lampu penerangan atau
peralatan elektronik dan peralatan lainnya yang membutuhkan listrik.
Prinsip Kerja PLTS
Pada siang hari modul surya menerima cahaya matahari yang kemudian diubah menjadi listrik melalui proses fotovoltaik. Listrik yang dihasilkan oleh modul dapat langsung disalurkan ke beban ataupun disimpan dalam baterai sebelum digunakan ke beban: lampu, radio, dll. Pada malam hari, dimana modul surya tidak menghasilkan listrik, beban sepenuhnya dicatu oleh battery. Demikian pula apabila hari mendung, dimana modul surya menghasilkan listrik lebih rendah dibandingkan pada saat matahari benderang. Modul surya dengan kapasitas tertentu dapat menghasilkan jumlah listrik yang berbeda-beda apabila ditempatkan pada daerah yang berlainan.
Keunggulan PLTS
Keunggulan-keunggulan PLTS dibandingkan sistem pembangkit listrik lainnya:
Tidak memerlukan bahan bakar, karena menggunakan sumber energi matahari yang dapat
diperoleh dimana saja secara cuma-cuma sepanjang tahun, sehingga hampir tidak
memerlukan biaya operasi.
Tidak memerlukan konstruksi yang berat dan menetap, sehingga dapat dipasang dimana saja
dan dapat dipindahkan bilamana dibutuhkan.
Dapat diterapkan secara sentralisasi (PLTS ditempatkan di suatu area dan listrik yang
dihasilkan disalurkan melalui jaringan distribusi ke tempat-tempat yang membutuhkan)
maupun desentralisasi (sistem PLTS dipasang pada setiap rumah, dengan demikian tidak
diperlukan jaringan distribusi. Sistem ini sangat cocok diterapkan pada wilayah pedesaan
dengan pola pemukiman yang menyebar).
Pada pola desentralisasi, gangguan pada satu sistem tidak akan mempengaruhi sistem yang
lain dan tidak banyak energi yang terbuang pada jaringan distribusi.
Bersifat moduler; kapasitas listrik yang dihasilkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan
dengan cara merangkai modul secara seri dan paralel.
Dapat dioperasikan secara otomatis (unattendable) maupun menggunakan operator
(attendable).
Ramah lingkungan. Tidak menimbulkan polusi suara maupun polusi asap.
Tidak ada bagian yang bergerak, sehingga hampir tidak memerlukan biaya pemeliharaan.
Yang diperlukan hanya membersihkan modul apabila kotor dan menambah air accu
(aquades).
Umur pakai (life time) le bih dari 25 tahun
PLTS
Dibawah ini adalah beragam paket aplikasi PLTS yang dirancang untuk memenuhi beragam
kebutuhan PLTS:
Solar Home System untuk Penerangan Rumah
Dirancang untuk memenuhi kebutuhan listrik minimum untuk rumah tangga pedesaan meliputi
penerangan, catu daya untuk TV dan radio.
TVRO untuk TV Umum
Aplikasi ini digunakan untuk daerah-daerah yang tidak dapat menangkap siaran televisi
dengan baik (daerah “blank spot”). Dilengkapi dengan parabola TVRO dapat digunakan
sebagai TV Umum yang dapat membantu penyebaran informasi & pengetahuan dan
memberikan hiburan hingga ke daerah terpencil sekalipun.
Lampu Bagang
Lampu Bagang dirancang untuk memecahkan masalah yang dihadapi para nelayan untuk
meningkatkan produktifitas. Lampu dapat dinyalakan kapan saja sesuai dengan pola kerja
nelayan.
Telpon Satelit Pedesaan/Wartel Pedesaan/Base Camp Terpencil
Dirancang dengan menggunakan telepon satelit Pasti yang mudah digunakan oleh
masyarakat pedesaan/daerah terpencil dimana saja
PLTS untuk Puskesmas Pedesaan ( Vaccine Refrigerator, Lampu Bidan dan
Penerangan)
Digunakan untuk mengoperasikan Vaccine storage (alat penyimpan vaksin), Lampu
Penerangan untuk Bidan Desa , Puskesmas dan Rumah Dokter
Sound System untuk Rumah Ibadah
Pengembangan dari SHS ini disamping memberikan penerangan juga dilengkapi dengan
fasilitas sound system yang sangat bermanfaat untuk rumah ibadah. Sehingga aktifitas
keagamaan tidak hanya dapat berlangsung siang hari namun juga hingga malam hari.
Lampu Jalan/Lampu Lingkungan Pedesaan
Dirancang untuk menerangi fasilitas umum, jalan lingkungan di pedesaan, penerangan di
lingkungan wisata alam, penerangan di pelabuhan nelayan tradisional dll.
INFORMASI UMUM PLTS – PT AZET SURYA LESTARI 11
Pompa Air Bersih / Irigasi
Tersedia juga beragam jenis pompa air tenaga surya yang efisien dan tahan lama, merk
MONO dari Australia. Mengingat banyaknya ragam pompa air tenaga surya, apabila
berminat silahkan menghubungi kami, tersedia beragam informasi tentang solar water
pumping sesuai kebutuhan anda.
Produk pompa tenaga surya dapat juga dikombinasikan dengan teknologi irigasi terkini,
seperti irigasi splinker dan Irigasi tetes (Drip Irrigation). Tersedia juga pompa AC yang
digerakkan dengan listrik PLN atau di couple langsung dengan mesin diesel/bensin.
Informasi umum tentang Pompa Air Tenaga Surya (PATS) di sajikan pada paket informasi
tersendiri, silahkan menghubungi kami apabila memerlukan informasi tersebut.
PLTS Rancangan Khusus
Untuk segala macam kebutuhan khusus anda yang belum terangkum dalam paket-paket
aplikasi tersebut di atas, silahkan menghubungi kami. Kami akan membantu anda untuk
merancang PLTS yang dapat memenuhi kebutuhan spesifik anda.
  • Pusat listrik tenaga gas

PLTG adalah Pusat listrik tenaga gas, yang prinsip kerjanya pengkompresian udara dan pemanasan udara tersebut dengan penambahan bahan bakar , gas panas tersebut digunakan untuk memutar turbin , sebagai pengerak mula pemutar generator pembangkit. Gas panas yang dihasilkan dalam ruang bakar dapat meningkatkan temperatur hingga 1100 derajat celcius, berkenaan dengan temperatur yang sedemikian tinggi tersebut perlu dilakukan pemilihan matrial hot gas patch , sehingga material tersebut dapat dipergunakan pada kondisi tersebut secara aman dan andal. Kondisi temperature kerja yang sedemikian tinggi ini akan berdampak terhadap umur dari material hot gas patch gas turbin tersebut, untuk itu sangat perlu sekali penentuan jam operasi pembangkit sebagai acuan penentuan pelaksanaan pemeliharaan periodic unit pembangkit. Faktor utama penentuan pelaksanaan Pemeliharan periodic gas turbin adalah jam operasi pembangkit . Adapun jenis pemeliharaan gas turbin adalah Combustion inspection/ minor inspection , hot gas patch inspection dan over haul. Combustion inspection/minor inspection dilaksanakan setiap 4000-8000 jam, hotgaspatch inspection dilaksanakan setiap 33000 jam operasi dan major over haul dilaksanakan setiap 66000 jam operasi. Penentuan jam operasi PLTG tidak hanya ditentukan oleh lama pembangkit tersebut beroperasi, tetapi juga harus ditambahkan dengan suatu faktor operasi sehingga dapat mencerminkan umur operasi pembangkit tersebut secara tepat. Faktor koreksi tersebut merupakan fungsi dari fluktuasi temperature yang telah terjadi pada unit operasi yang diakibatkan oleh tripnya unit pembangkit atau disebabkan oleh fluktuasi beban yang sedemikian tinggi serta fluktuasi temperature yang disebabkan oleh start up PLTG, kualitas bahan baker yang dipergunakan. Jam operasi pembangkit yang merupakan gabuangan dari lama pembangkit beroperasi dan factor factor koreksi disebut jam equivalent operasi pembangkit (Equivalent operating hours, EOH), Ketepatan penentuan jam opersi pembangkit akan sangat menentukan sekali besar efisiensi operasi pembangkit , keandalan operasi pembangkit serta besar biaya yang dikeluarkan dalam pengoperasian unit pembangkit tersebut sebagai dampak dari kemunduran jadwal pemeliharaan periodic pembangkit . Untuk itu penentuan jam opersi pembangkit merupakan dasar dari pengelolaan power plant guna mencapai tingkat efisiensi yang diharapkan, keandalan operasi yang dipersyaratkan serta dengan biaya pengoperasian pembangkit yang semurah mungkin.
PLTG adalah Pusat listrik tenaga gas, yang prinsip kerjanya pengkompresian udara dan pemanasan udara tersebut dengan penambahan bahan bakar , gas panas tersebut digunakan untuk memutar turbin , sebagai pengerak mula pemutar generator pembangkit. Dalam operasinya unit pembangkit jenis ini dapat memakai bahan bakar gas , minyak (HSD) ataupun kedua duanya (mixed operation). PLTG merupakan jenis pembangkit listrik yang dapat dibangun dengan waktu yang relative cepat, walaupun secara efisiensi teramat rendah namun jenis pembangkit ini sangat disukai oleh system ketenagalistrikan karena kemampuan operasinya yang teramat cepat, sehingga sangat cocok dipergunakan sebagai unit pemikul beban puncak ( peak load ), disamping itu gas turbin dapat dijadikan sebagai unit recovery pada saat system ketenagalistrikan collapse. Untuk mempertahankan level performance yang diinginkan gas turbin selalu dilakukan perawatan/ pemeliharaan pada waktu-waktu tertentu. Sehubungan blade turbin menerima paparan langsung gas panas yang temperaturenya hingga 1100 C, maka gas turbin perlu dilakukan pengelolaan khusus dibanding unit pembangkit lainnya. Gas turbin dalam pengelolaan selalu mengacu pada Time Base Maintenace, yaitu suatu model pemeliharaan yang dilakukan terhadap unit pembangkit berdasarkan waktu/ jam operasinya disamping pemeliharaan routinnya.

i. Tujuan utama pemeliharaan gas turbin (PLTG) adalah :
a. mengantisipasi tingkat keausan peralatan yang berkelanjutan, sehingga life time dan keandalan operasi mesin pembangkit akan senantiasa terjaga. b. Mengembalikan performance mesin pembangkit sesuai dengan karakteristiknya
c. Mengantisipasi kerusakan yang fatal mesin pembangkit sebagai dampak dari keausan yang berkelanjutan, sehingga biaya operasi dan pemeliharaan tetap terjaga ke-ekonomisannya.
d. Merekondisi dan Mengganti peralatan yang tingkat keausannya tidak bisa dipertahankan .
ii. Pemeliharaan periodik gas turbin dilaksanakan sesuai dengan jumlah jam operasi equivalen ( EOH ).
iii. Formulasi penghitungan jam operasi ekuivalent ( Equivalent Operating hours, EOH ) pada gas turbine Type V94.2 KWU sangat tergantung pada:
a. Jumlah start Unit
b. Jumlah pembebanan fast gradient
c. Jumlah perubahan temperatur yang capat dan relatif tinggi
d. Besar perubahan temperatur yang cepat, karena fluktuasi load yang besar, unit trip serta load rejection
e. Lama waktu operasi pada kondisi base load
f. Lama waktu operasi pada kondisi peak load
g.Jenis dan Kualitas bahan bakar yang dipergunakan
h.Flow water atau steam yang diinjeksikan ke ruang bakar


· Pusat Listrik Tenaga Diesel

Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) adalah pusat listrik yang menggunakan tenaga diesel sebagai penggerak generator. PLTD terdiri dari beberapa Satuan Pembangkit Diesel (SPD). Pada umumya PLTD menyuplai listrik dalam 24 jam dan sesuai kapasitas dan mutu (tegangan dan frekwensi) yang diinginkan pelanggan. Oleh sebab persyaratan tersebut diatas maka keandalan dan effisiensi (performance) menjadi syarat mutlak dalam pengoperasian PLTD. Effisiensi PLTD sangat dipengaruhi oleh pemakaian bahan bakar, hal ini disebabkan biaya yang terbesar dalam pengoperasian PLTD adalah biaya bahan bakar (±70% dari keseluruhan biaya operasional).
Performance PLTD.
Performance Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dipengaruhi faktor pengoperasian Satuan Pembangkit Diesel (SPD). Untuk dapat mempertahankan/meningkatkan performance PLTD metode yang paling tepat adalah menerapkan Sistem Informasi Operasional PLTD yang mempergunakan sub sistem feedback yaitu Pola Operasi PLTD. Pola Operasi PLTD merupakan susunan Satuan Pembangkit Diesel (SPD) untuk memikul beban dasar (base load) dan beban puncak (peak load) berdasarkan tingkat keandalan dan effisiensi SPD. Dalam penyusunan Pola Operasi PLTD diperlukan analisa data-data, informasi dan pengetahuan baik interen maupun eksteren serta manajemen pengetahuan untuk memprediksi pencapaian kinerja/performance PLTD. Jadi Pola Operasi PLTD merupakan alat controlling untuk mempertahankan/memperbaiki output yaitu performance/kinerja PLTD. __ Permasalahan Pengoperasian PLTD__.
Permasalahan yang terjadi dalam pengoperasian PLTD adalah :
1. Pasokan lisrik dalam 24 jam (tanpa henti).
2. Permintaan (demand) energi listrik cendrung meningkat.
3. SPD cendrung mengalami penurunan kemampuan (daerating).
4. SPD beroperasi tidak pada beban yang optimal (SPD tidak beroperasi pada SFC terbaik).
5. Proses penyampaian dan penerimaan data, informasi dan pengetahuan sangat lambat.
6. Pelaksanaan pemeliharaan (overhaul) tidak tepat waktu.
7. Frekwensi start-stop SPD yang cukup tinggi merupakan kerugian bahan bakar
Tujuan Penerapan Pola Operasi.
Untuk dapat mengatasi permasalahan pengoperasihan PLTD diatas maka diterapkan pola operasi. Tujuan penerapan Pola Operasi PLTD adalah :
1. Performance/kinerja PLTD dapat dipertahankan/ditingkatkan.
2. Pemeliharaan perediktif SPD dapat dilaksanakan lebih optimal.
3. Jam operasi SPD dapat direncankan, sehingga pemeliharaan periodic dapat dilaksanakan tepat waktu.
Manfaat Penerapan Pola Operasi.
1. Pengoperasian SPD lebih terkoordinasi.
2. Order bahan bakar, minyak pelumas dan spare part lebih akurat dan tepat waktu.
· Pembangkit Listrik tenaga Uap

PLTU adalah pembangkit yang paling banyak dibangun dan dioperasikan di Indonesia ,dimana saat ini ada lebih dari 15000 MW yang sudah beroperasi sejak tahun 80 an dan jumlah ini akan bertambah menjadi lebih dari dua kali lipatnya pada perkiraan 5 tahun yang akan datang sesuai dengan perkembangan kebutuihan daya dan program akselerasi dari pemerintah RI.
Hal ini sangat masuk akal karena Indonesia kaya dengan cadangan Batu bara yang menjamin keandalan pasokan bahan bakarnya dalam jangka panjang. Namun efisiensi PLTU rendah dikarenakan masih banyak kalor yang terbuang ke lingkungan selama proses konversi energi termasuk kalor yang dibuang oleh kondenser, dimana kalor ini merupakan energi yang berpotensi untuk dimanfaatkan lagi menjadi tenaga atau listrik. Untuk meng konversinya menjadi tenaga listrik diadakan kajian dengan penambahan siklus biner pada siklus bawahnya atau bottoming binary cycle. Tujuan riset ini adalah untuk mengkaji peningkatan daya dan unjuk kerja PLTU setelah pemasangan siklus biner – Binary Cycle Plant – (BCP), dan mengkaji kelayakan siklus ini dari segi techno-economic maupun lingkungan. Agar kajian ini lebih realistis digunakan acuan data dari PLTU yang sudah ada yakni PLTU Gresik, Jawa-Timur, Indonesia. Pada riset sebelumnya pemasangan siklus biner single pressure (SPBC) telah dianalisis dan menunjukkan bahwa siklus ini dapat meningkatkan daya sekitar 7 %, effisiensi termalnya naik 4%, Kualitas lingkungan lebih baik dan layak secara komersial, walaupun demikian pada siklus SPBC ternyata masih terdapat panas terbuang kelingkungan yang masih besar yang masih berpotensi untuk dikonversi menjadi tenaga atau listrik dan dapat meningkatkan daya dan unjuk kerjanya lebih lanjut dengan pemasangan Dual Pressure Bottoming Binary Cycle (DPBC). Kajian ini menganalisis peningkatan daya dan unjuk kerja PLTU dengan pemasangan siklus DPBC dan mengkaji kelayakan siklus ini secara tekno-ekonomis. Dalam pengkajian siklus biner ini diadakan analisis energi dan exergi, dibuat perhitungan dan simulasi alternatip konfigurasi siklus dengan menggunakan software Tempo Cycle – TU Delft. and software Gate cycle. Hasil sementara menunjukkan kinerja PLTU meningkatkan power 13% sedang efisiensi termal naik 10%.-

0 komentar:

Mohon Klik Gambar Di bawah ini

Ringga Arie Suryadi. Diberdayakan oleh Blogger.