Klik Gambar

Jumat, 08 Juni 2012

Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Motivasi terhadap Kepuasan Kerja Karyawan Pada PT. Luxindo Raya Bengkulu





19NOV
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
Dalam suatu organisasi, sumber daya manusia memegang peranan yang sangat penting untuk mencapai keberhasilan dan tujuan dari suatu organisasi, sumber daya manusia ini menunjang organisasi dengan karya, bakat, dan dorongan yang dimilikinya.
Kepemimpinan dapat juga diartikan sebagai kemampuan untuk mengarahkan pengikut-pengikutnya untuk bekerja sama dengan kepercayaan serta tekun mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh pimpinan mereka. Seorang pimpinan selalu mempunyai wewenang untuk memerintah bawahan dengan gaya kepemimpinannya masing-masing. Dan bawahan akan menerima perintah tersebut dengan pandangan yang berbeda-beda, hal ini disebabkan karena faktor perbedaan latar belakang pendidikan, pengalaman dan lingkungan masyarakat. Seorang pimpinan harus mampu menyikapi permasalahan yang timbul dalam perusahaan atau organisasi yang dipimpinnya. Dengan demikian, seorang pimpinan harus mampu mengatasi berbagai macam masalah baik yang menyangkut perusahaan maupun yang menyangkut karyawannya agar terbina semangat kerja yang tinggi, dengan semangat tersebut, maka output yang dihasilkan dapat memberikan kontribusi yang besar baik bagi karyawan maupun perusahaan itu sendiri. Pemimpin mengalihkan rencana-rencana menjadi kegiatan dan membuat rencana-rencana tersebut menjadi kenyataan. Pemimpin mengadakan komunikasi dengan rekan-rekan dan bawahannya untuk menyampaikan rencana tersebut, menjelaskan tujuannya, memberitahukan tugas masing-masing dan berusaha membangkitkan semangat kerja.
Ada tiga gaya kepemimpinan dalam suatu perusahaan atau organisasi pada umumnya, yang mana ketiga gaya kepemimpinan tersebut memiliki ciri-ciri dan karakteristik yang khas, yaitu gaya kepemimpinan otoriter, demokratis dan laissez faire.
Gaya kepemimpinan yang ada pada seorang pemimpin dalam suatu perusahaan atau organisasi mempunyai perbedaan dalam penerapan gaya kepemimpinannya masing-masing, yang mana penerapan gaya kepemimpinan tersebut dapat memberikan pengaruh kepada bawahannya terutama terhadap kepuasan kerja karyawan.
Pada dasarnya kepuasan kerja merupakan sesuatu yang bersifat relatif dan individual, artinya dengan perbedaan yang ada tersebut, maka tingkat kepuasan kerja individu akan berbeda sesuai dengan system dan nilai yang berlaku pada masing-masing individu, rasa puas bukanlah merupakan sesuatu yang tetap, karena dapat dipengaruhi oleh kekuatan dari dalam maupun dari luar lingkungan kerja. Seorang pemimpin harus mampu memotivasi bawahannya dengan efektif dan efisien. Motivasi itu sendiri adalah keinginan yang timbul dari dalam diri pribadi maupun dari pihak luar dalam upaya untuk mencapai tujuan hidupnya. Motivasi yang ada pada seseorang akan mewujudkan suatu perilaku yang diarahkan pada suatu tujuan dalam rangka pencapaian kepuasan.
Kepuasan kerja itu sendiri akan dapat tercipta salah satunya dengan adanya hubungan timbal balik yang positif antara pimpinan dan bawahan, sehingga bawahan akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian yang terpenting dari organisasi kerja. Salah satu ciri yang membedakan antara organisasi atau perusahaan yang berhasil dengan organisasi yang tidak berhasil adalah kepemimpinan yang efektif.
PT. Luxindo Raya Bengkulu adalah sebuah perusahaan yang bergerak dibidang pemasaran dan distributor. Di dalam pemasarannya, PT. Luxindo Raya Bengkulu dituntut untuk memiliki sumber daya manusia yang terampil dan mampu berkomunikasi dengan baik terhadap konsumen-konsumennya. Untuk mengelola dan mengarahkan sumber daya manusia yang tersedia kearah tujuan yang diinginkan oleh organisasi, dibutuhkan seorang pemimpin.
Keberhasilan dari pencapaian tujuan yang diinginkan tidak hanya ditentukan oleh kepribadian, kecakapan, serta kemampuan seorang pemimpin saja, tapi ada satu hal yang sangat berpengaruh yaitu penerapan suatu model atau gaya kepemimpinan sebagai simbol dari seorang pemimpin untuk melaksanakan fungsi dan perannya yang secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi lingkungan internal organisasinya terutama bagi para karyawannya.
Gaya kepemimpinan yang ada pada seorang pemimpin sangat berpengaruh dan berperan aktif dalam penciptaan iklim kerja. Para karyawan akan melaksanakan fungsi dan tugasnya dengan baik apabila tercermin pada proses penerimaan terhadap model atau gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh pemimpin mereka. Secara tidak langsung suatu model atau gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh seorang pemimpin sangat berpengaruh dominan karena hal tersebut dapat memberikan motivasi terhadap kepuasan kerja karyawan.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul “Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Motivasi terhadap Kepuasan Kerja Karyawan Pada PT. Luxindo Raya Bengkulu.”
1.2.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan diteliti adalah: Apakah Gaya Kepemimpinan dan Motivasi  mempunyai pengaruh terhadap Kepuasan Kerja Karyawan pada PT. Luxindo Raya Bengkulu?
1.3.  Tujuan Penelitian
1.3.1.      Tujuan Umum
Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan dan motivasi terhadap kepuasan kerja karyawan pada PT. Luxindo Raya Bengkulu.
1.3.2.      Tujuan Khusus
  1. Untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan
  2. Untuk mengetahui pengaruh motivasi
  3. Untuk mengetahui pengaruh kepuasan kerja
  4. Untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kepuasan kerja karyawan pada PT. Luxindo Raya Bengkulu.
  5. Untuk mengetahui pengaruh motivasi terhadap kepuasan kerja karyawan pada PT. Luxindo Raya Bengkulu.
1.4.      Manfaat Penelitian
Manfaat diadakannya penelitian ini adalah :
  1. Bagi penulis, penelitian ini dapat memberikan pengetahuan mengenai berbagai macam bentuk gaya kepemimpinan yang ada beserta penerapannya.
  2. Bagi Fakultas Ekonomi UMB, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi atau referensi bagi pihak yang akan mengadakan penelitian lanjutan dan sebagai referensi bagi pihak yang berminat pada materi penelitian ini.
  3. Bagi PT. Luxindo Raya Bengkulu, penelitian ini dapat memberikan informasi dan masukan yang berguna mengenai penerapan gaya kepemimpinan yang ideal sehingga bermanfaat nantinya.
BAB II
STUDI PUSTAKA
2.1. Pengertian Kepemimpinan
Inti dari manajemen adalah menggerakkan dan inti dari pergerakan adalah memimpin. Siapa yang dapat menggerakkan orang-orang yang di bawah kekuasaannya, berarti ia dapat menjalankan manajemen. Siapa yang dapat memimpin orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya berarti ia dapat menggerakkan orang-orang itu.
Orang yang mempunyai tugas menggerakkan orang atau orang-orang bawahannya sebaiknya memiliki sifat-sifat kepemimpinan yakni seni untuk menggerakkan orang lain. Menurut konsep dasarnya kepemimpinan merupakan suatu seni, sikap mempengaruhi orang-orang dalam suatu kelompok agar bisa bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi sebelumnya. Banyak ahli mengemukakan definisi tentang kepemimpinan diantaranya Sunindhia dan Widiyanti (1993:4), mengemukakan :” Kepemimpinan adalah suatu kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang-orang agar bekerja sama menuju suatu tujuan tertentu yang mereka inginkan bersama.”
Dengan perkataan lain kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi perilaku manusia  dan mengendalikan orang-orang dalam organisasi, supaya perilaku mereka sesuai dengan perilaku yang diinginkan oleh organisasi.
Kemudian R.D. Agarwal dalam Anoraga dan Suyati (2005:186) mengatakan kepemimpinan adalah :” Seni mempengaruhi orang lain untuk mengarahkan kemauan mereka”. Selanjutnya Gibson (2001:186) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah upaya penggunaan pengaruh bukan paksaan (concoersive) untuk memotivasi orang-orang untuk mencapai tujuan. Dari definisi di atas jelas bahwa kepemimpinan melibatkan kemampuan mempengaruhi. Kemampuan mempengaruhi ini mempunyai maksud untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Ada beberapa sumber kekuasaan yang dapat digunakan oleh pemimpin dalam hubungannya dalam melaksanakan kepemimpinannya, dalam Anoraga dan Suyati (2005:223) yaitu :
  1. Kekuasaan Koersif (Coersive Power)
Disini pemimpin yang bersangkutan mengendalikan diri pada perasaan takut dan yang diusahakan atas perkiraan bahwa pihak bawahan menganggap bahwa hukuman diberikan karena mereka tidak menyetujui tindakan-tindakan dan keyakinan pihak atasan.
  1. Kekuasaan karena diberikannya penghargaan (Reward Power)
Disini diusahakan agar diberikan penghargaan kepada pekerja yang melaksanakan pekerjaan sesuai dengan tindakan-tindakan dan keinginan pihak atasan.
  1. Kekuasaan karena memiliki suatu keahlian (Expert Power)
Kekuasaan ini timbul karena seorang individu memiliki skill khusus, pengetahuan atau keahlian tertentu.
  1. Kekuasaan karena identifikasi dengan orang yang dikagumi (Referent Power)
Kekuasaan ini didasarkan atas identifikasi seorang pengikut dengan seorang pemimpin yang dikagumi dan sangat dihargai.
  1. Kekuasaan karena kewenangan yang sah (legitimate Power).
Jenis kekuasaan ini dimiliki oleh seorang pemimpin karena ia di berikan kewenangan resmi untuk melaksanakan kekuasaannya.
2.1.1. Gaya Kepemimpinan
Kepemimpinan yang efektif merupakan persyaratan vital bagi kelangsungan hidup dan keberhasilan organisasi atau perusahaan. Kepemimpinan itu dikatakan efektif atau tidak  tergantung dari gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh seorang pemimpin. Karena sudah jelas bahwa gaya kepemimpinan akan mempunyai pengaruh yang besar terhadap efektifitas kepemimpinannya.
Telah banyak ahli mendefinisikan tentang pengertian gaya kepemimpinan, diantaranya adalah Effendi (2002:28), berpendapat bahwa “ Gaya Kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin melaksanakan kegiatannya dalam upaya membimbing, memandu, mengarahkan dan mengontrol pikiran, perasaan, atau perilaku seseorang atau sejumlah orang untuk mencapai tujuan tertentu”.
Kemudian Flippo dalam Heidjrahman dan Husnan (2000:224), mengatakan bahwa : “ Gaya Kepemimpinan adalah pola tingkah laku yang dirancang untuk mengintegrasikan tujuan organisasi dengan tujuan individu untuk mencapai suatu tujuan tertentu”. Dari kedua definisi tersebut dapat diambil pengertian yang sama, bahwa gaya kepemimpinan ialah perilaku seorang pemimpin dalam usaha mempengaruhi bawahannya untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya.
2.1.2Pendekatan Kepemimpinan
Menurut Anoraga (2007:8), ada tiga pendekatan kepemimpinan secara umum, yaitu :
  1. Studi Kepemimpinan Menurut Teori Sifat.
Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pimpinan ditentukan oleh situasi, perangai atau ciri yang dimiliki oleh seorang pimpinan. Sifat-sifat tadi berupa sifat fisikologis maupun psikologis. Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi.
  1. Studi Kepemimpinan Menurut Teori Perilaku.
Teori ini bertitik tolak bahwa perilaku kepemimpinan sangat erat sekali dengan fungsi utama kepemimpinan yaitu menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan. Ada dua kecenderungan perilaku kepemimpinan yaitu :
  1. Perilaku yang cenderung bersifat konsiderasi.
Yaitu sikap pemimpin yang berorientasi pada karyawan. Pemimpin ini mempunyai sikap sebagai berikut :
-          Ramah tamah
-          Membela bawahan
-          Memikirkan kesejahteraan tenaga kerja.
  1. Perilaku yang cenderung bersifat inisiasi.
Yaitu perilaku kepemimpinan yang sangat berorientasi dan mementingkan tercapainya tujuan organisasi. Struktur inisiasi mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
-          Selalu mengkritik para bawahan
-          Selalu memerintah
-          Selalu memberitahu
-          Standar pekerjaan keras
-          Selalu mengawasi tenaga kerja
  1. Studi Kepemimpinan Kontingensi.
Teori ini mempunyai dua hal yang perlu diperhatikan:
  1. Faktor-faktor yang penting dalam suatu situasi
  2. Gaya kepemimpinan
Pemimpin yang baik menurut kepemimpinan kontingensi :
  1. Dapat mengubah gaya kepemimpinan sesuai dengan situasi
  2. Memperlakukan bawahan sesuai dengan kebutuhan yang berbeda-beda
2.1.3. Kepemimpinan Otoriter
Winardi (2000:62) mendefinisikan: “Kepemimpinan otoriter didasarkan atas perintah-perintah, pemaksaan dan tindakan yang arbitrer dalam hubungan antara pimpinan dengan pihak bawahan. Pemimpin disini cenderung mencurahkan perhatian sepenuhnya pada pekerjaan, pemimpin melaksanakan pengawasan seketat mungkin dengan maksud agar pekerjaan tersebut dilaksanakan sesuai dengan rencana”.
Menurut Sunindia dan Widiyanti (1993:9), menyatakan bahwa kepemimpinan secara otoriter artinya pemimpin menganggap organisasi sebagai milik sendiri. Dimana seorang pemimpin mengatur para bawahan dengan tidak memperhatikan keinginan para bawahan. Pemimpin seperti ini sering memberikan ancaman-ancaman dan sering pula dengan paksaan.
Menurut Kartono (2000:71), gaya kepemimpinan otoriter berdasarkan pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak harus dipatuhi, pemimpin selalu ingin berperan sebagai pemain tunggal. Setiap perintah dan kebijakan ditetapkan tanpa berkonsultasi dengan bawahannya.
Kepemimpinan Otoriter mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Wewenang mutlak terpusat pada pimpinan
  2. Keputusan selalu dibuat oleh pimpinan
  3. Kebijaksanaan selalu dibuat oleh pimpinan
  4. Komunikasi berlangsung satu arah dari pimpinan kepada bawahan
  5. Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para  bawahannya selalu dilakukan secara ketat.
  6. Prakarsa selalu datang dari pimpinan
  7. Kaku dalam bersikap
  8. Tanggung jawab keberhasilan organisasi hanya dipikul oleh pimpinan
  9. Tidak ada kesempatan bagi bawahan untuk memberikan saran, pertimbangan atau pendapat.
2.1.4 Kepemimpinan Demokratis
Sunindia dan Widiyanti (1993:3), mengemukakan kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan yang bersifat kerakyatan atau persaudaraan, dimana seorang bawahan tidak dipandang sebagai alat tetapi dianggap sebagai manusia. Artinya, hubungan antara pimpinan dan bawahan bukan sebagai majikan dan buruh, akan tetapi sebagai saudara terhadap teman sekerjanya.
Menurut Sudarman Danim (2000:75), inti dari demokrasi adalah keterbukaan dan keinginan memposisikan pekerjaan dari, oleh dan untuk bersama. Tipe kepemimpinan demokratis bertolak dari asumsi bahwa hanya dengan kekuatan kelompok, tujuan-tujuan yang bermutu dapat dicapai. Pemimpin yang demokratis berusaha lebih banyak melibatkan anggota kelompok dalam memacu tujuan-tujuan.
Kepemimpinan demokratis mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Wewenang pimpinan tidak mutlak
  2. Pimpinan bersedia melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan
  3. Keputusan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan
  4. Kebijaksanaan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan
  5. Komunikasi berlangsung timbal balik, baik yang terjadi antara pimpinan dan bawahan maupun antara sesama bawahan
  6. Prakarsa dapat datang dari pimpinan maupun bawahan
  7. Banyak kesempatan bagi bawahan untuk menyampaikan saran, pertimbangan  atau pendapat
  8. Terdapat suasana saling percaya, saling hormat menghormati dan saling menghargai
  9. Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul bersama pimpinan dan bawahan.
2.1.5        Kepemimpinan Laissez Faire
Winardi (2000:64), mengemukakan dalam kepemimpinan laissez faire seorang pemimpin memberikan kebebasan seluas-luasnya pada para pengikutnya dalam menentukan aktifitas-aktifitasnya. Pemimpin tidak berpartisipasi, atau apabila hal itu dilakukan maka partisipasi tersebut tidak berarti.
Merurut Effendi (2004:32), kepemimpinan laissez faire dengan kata lain kepemimpinan yang bebas menunjukkan suatu gaya kepemimpinan dimana si pemimpin berlaku pasif. Selain menghindari dirinya dari  kekuasaan ia pun menghindari diri dari tanggung jawab kepada para pengikutnya atau bawahannya, ia hanya menyerahkan alat-alat dan bahan-bahan saja untuk melaksanakan suatu tugas, sedangkan ia sendiri tidak mengambil prakarsa apa-apa.
Kepemimpinan Laissez Faire mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Pimpinan melimpahkan wewenang lebih banyak sepenuhnya kepada bawahan
  2. Keputusan lebih banyak dibuat oleh para bawahan
  3. Pimpinan hanya berkomunikasi apabila diperlukan oleh para bawahannya
  4. Hampir tidak ada pengawasan tehadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan yang dilakukan oleh para bawahan
  5. Hampir tidak ada pengarahan dari pimpinan
  6. Kebijaksanaan banyak dibuat oleh para bawahan
  7. Prakarsa banyak dibuat oleh bawahan
  8. Peranan pimpinan sangat sedikit dalam kegiatan kelompok
  9. Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul oleh orang perorang.
Apakah seorang pimpinan itu otoriter, demokratis dan laissez faire dapat dilihat dari gaya kepemimpinan mana yang sering ditonjolkan atau dominan dipakai dalam kepimpinannya. Ada enam aspek dalam suatu gaya kepemimpinan yaitu: aspek kewenangan, pengambilan keputusan, proses komunikasi, pelaksanaan pekerjaan, pengawasan dan sikap dalam menghadapi bawahan. Yang mana keenam aspek tersebut akan nampak pada perilaku pimpinan dalam menghadapi bawahan.

2.1.6        Pengertian Motivasi
Motivasi adalah keinginan yang timbul dari dalam diri pribadi individu ataupun dari pihak luar dalam upaya untuk mencapai tujuan hidupnya.
Sumber motivasi menurut Sukanto Reksohadiprodjo dan T. Hani Handoko (1997:257), yaitu :
  1. Motivasi Internal yaitu motivasi yang timbul dari keinginan dan kebutuhan dari dalam diri seseorang. Motivasi ini merupakan kekuatan yang akan mempengaruhi pikirannya, yang selanjutnya akan mengarahkan perilaku orang tersebut. Penggolongan motivasi internal ini adalah :
  1. Motivasi Fisiologis yaitu motivasi alamiah (biologis), seperti sandang, pangan dan papan.
  2. Motivasi Psikologis dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu:
-          Motivasi kasih sayang (Affectional Motivation) yaitu motivasi yang berhubungan dengan emosional dalam interaksi dengan orang lain.
-          Motivasi mempertahankan diri (Ego Devensive Motivation) yaitu motivasi untuk tidak disakiti dan dihina oleh orang lain.
-          Motivasi memperkuat diri (Ego Bolstring Motivation) yaitu motivasi untuk mengembangkan kepribadian, berprestasi dan memuaskan diri dengan penguasaannya terhadap orang lain.
  1. Motivasi Eksternal yaitu motivasi yang berasal dari luar individu yang dikendalikan oleh manajer, yang meliputi gaji, kondisi kerja dan hubungan kerja.
    1. Gaji atau pendapatan adalah besarnya pendapatan yang diterima oleh karyawan.
    2. Kondisi kerja yaitu kondisi atau keadaan lingkungan kerja yang dapat mempengaruhi dirinya.
    3. Hubungan kerja adalah hubungan antar karyawan dengan rekan sekerjanya dan hubungan  karyawan dengan pimpinannya.

2.1.7        Pengertian Kepuasan Kerja
T. Hani Handoko (2002:193) mendefinisikan: ”Kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dimana karyawan memandang pekerjaan mereka”. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya. Ini tampak dari sikap positif karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapinya dalam lingkungannya.
Gibson (2001:67) mendefinisikan: “Kepuasan kerja adalah sikap seseorang terhadap pekerjaan mereka. Sikap ini berasal dari persepsi mereka tentang pekerjaanya, maksudnya sejauh mana faktor dalam pekerjaannya dapat memenuhi kebutuhan pribadinya”. Kepuasan kerja merupakan suatu reaksi emosional yang komplek yang merupakan akibat dari dorongan keinginan, tuntutan dan harapan-harapan karyawan terhadap pekerjaan yang dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan yang dirasakan karyawan sehingga menimbulkan rasa senang, puas ataupun tidak puas.
Wexley dan Yulk (2000:129), mendefinisikan: “Kepuasan kerja adalah cara seorang pekerja mengerjakan pekerjaannya. Kepuasan kerja merupakan generalisasi sikap-sikap terhadap pekerjaannya yang didasarkan atas aspek-aspek pekerjaannya yang bermacam-macam”.
Dari beberapa definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu kepuasan kerja adalah sikap seorang pekerja terhadap pekerjaannya yang bisa dicerminkan oleh sikap menyenangkan atau tidak menyenangkan melalui aspek pekerjaannya.

2.1.8        Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja
Menurut Wexley dan Yulk (2000:129), faktor-faktor yang dapat menimbulkan kepuasan kerja adalah gaji, kondisi kerja, pengawasan, teman sekerja, isi pekerjaan, jaminan kerja, dan kesempatan promosi. Gibson mengatakan bahwa dari sejumlah dimensi yang dihubungkan dengan kepuasan kerja, lima diantaranya memiliki karakteristik yang sangat penting. Kelima dimensi itu adalah upah, pekerjaan, kesempatan promosi, penyelia (supervisi) dan rekan sekerja (co-workwer).
Kemudian Gilmer dalam As’ad (2007:115), mengemukakan bahwa faktor-faktor yang dapat menimbulkan kepuasan kerja adalah kesempatan untuk maju, keamanan kerja, aspek social dalam pekerjaan, komunikasi (antara pimpinan dan bawahan), dan fasilitas. Sedangkan As’ad (2007;119), berpendapat bahwa kepuasan kerja ditimbulkan karena faktor yang memiliki hubungan dengan pekerjaan, kondisi kerja, teman sekerja, pengawasan, promosi dan upah.
Dalam prakteknya, ciri-ciri kepemimpinan yang menonjol dan perilaku seorang pimpinan dalam menghadapi situasi tertentu tergantung pada apa yang ingin dicapai oleh seorang pimpinan yang bersangkutan. Menurut Siagian (2003:132) serangkaian penelitian oleh para ahli dan banyak pengalaman praktisi menunjukkan bahwa apabila kepuasan kerja dikalangan para bawahan atau karyawan yang ingin dikejar oleh seorang pimpinan, maka gaya kepemimpinan demokratis sebagai salah satu ciri-ciri gaya kepemimpinan yang paling tepat untuk diterapkan, karena dengan merasa dihargai para karyawan didorong untuk berusaha sekuat tenaga yang pada akhirnya melahirkan kepuasan kerja.
Dari keterangan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa gaya kepemimpinan juga merupakan salah satu faktor penentu terciptanya kepuasan kerja bagi bawahan atau para karyawan yang dalam penerapannya tergantung dengan situasi dan kondisi tertentu dari masing-masing organisasi dan perusahaan.

2.1.9        Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kepuasan Kerja
Setiap pemimpin dari organisasi atau perusahaan yang satu dengan yang lain mempunyai perbedaan dalam penerapan gaya kepemimpinan, yang mana penerapan gaya kepemimpinan itu memberikan pengaruh kepada para bawahan terutama terhadap kepuasan kerja yang dinyatakan dengan sikap bawahan terhadap pekerjaannya.
Menurut penelitian yang diakukan oleh Branca dalam Efendi (2004:33), pada gaya kepemimpinan demokratis bawahan bekerja dengan penuh kegairahan. Sedangan pada gaya kepemimpinan otoriter bawahan bekerja penuh dengan perasaan tertekan dan bahkan sering terjadi ketegangan antara bawahan, dan pada gaya kepemimpinan laissez faire bawahan bekerja secara tidak teratur. Dari uraian tersebut dapat dilihat bahwa penerapan gaya kepemimpinan akan memberikan pengaruh terhadap kepuasan kerja bawahan.

2.1.10    Pengaruh  Motivasi Terhadap Kepuasan Kerja
Motivasi adalah keinginan yang timbul dari dalam diri pribadi ataupun pihak luar dalam upaya untuk mencapai tujuan hidupnya. Motivasi yang ada pada seseorang akan mewujudkan suatu perilaku yang diarahkan pada suatu tujuan dalam rangka pencapaian kepuasan. Namun seberapa jauh motivasi itu sendiri mempengaruhi upaya karyawan dalam mencapai kepuasan kerja pada setiap pribadi karyawan tersebut dan juga apakah kepuasan kerja itu sendiri berhubungan timbal balik pada motivasi kerja karyawan, belum dapat diketahui secara pasti sebelum dilakukan pengukuran langsung kepada karyawan yang bersangkutan.
Menurut Susilo Martoyo (2007:155) mengatakan bahwa tidak akan ada motivasi jika tidak dirasakan dengan adanya kebutuhan dan kepuasan serta ketidakseimbangan. Pekerjaan yang dilakukan seorang manager dalam memberikan inspirasi, semangat dan dorongan kepada orang lain, dalam hal karyawannya, untuk mengambil tindakan-tindakan. Pemberian dorongan ini bertujuan untuk menggiatkan karyawan agar bersemangat dan dapat mencapai hasil sebagaimana yang dikehendaki karyawan tersebut.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada dasarnya motivasi merupakan kondisi mental yang mendorong dilakukannya suatu tindakan dan memberikan kekuatan yang mengarah pada pencapaian kebutuhan, memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidakseimbangan.
2.2. Kerangka Analisis
Berdasarkan studi pustaka di atas, maka dapat dibuat suatu kerangka analisis untuk mengetahui Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Motivasi terhadap Kepuasan Karyawan pada PT. Luxindo Raya Bengkulu.
Gambar 2.2 Kerangka Analisis
Pada gambar 2.2 arah panah menunjukkan adanya hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lainnya. Sebagai variabel pengaruh (X1) gaya kepemimpinan, dan (X2) motivasi, sedangkan variabel terpengaruh (Y) kepuasan kerja.
2.3. Definisi Operasional
  1. Gaya kepemimpinan adalah perilaku seorang pemimpin dalam usahanya mempengaruhi bawahannya untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya.
Gaya kepemimpinan tersebut terdiri dari:
  1. Gaya Kepemimpinan Otoriter adalah perilaku seorang pemimpin dalam usahanya mempengaruhi dan mengarahkan bawahannya untuk melaksanakan perintahnya dan memberlakukan peraturan serta sangsi secara ketat. Dengan indikator sebagai berikut:
-          Wewenang pimpinan mutlak
-          Keputusan selalu dibuat oleh pimpinan
-          Kebijaksanaan selalu dibuat oleh pimpinan
-          Komunikasi berlangsung satu arah
-          Pengawasan dilakukan secara ketat
-          Prakarsa selalu datang dari pimpinan
-          Kaku dalam bersikap
-          Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul oleh pimpinan
-          Tidak ada kesempatan bagi bawahan untuk memberikan saran
  1. Gaya Kepemimpinan Demokratis adalah perilaku seorang pemimpin dalam usahanya mempengaruhi serta mengarahkan bawahannya untuk bekerja sama, segala sesuatu yang dilakukan atau diputuskan dilaksanakan dengan musyawarah. Dengan indikator sebagai berikut:
-          Wewenang pimpinan tidak mutlak
-          Pimpinan melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan
-          Keputusan dibuat bersama
-          Kebijaksanaan dibuat bersama
-          Komunikasi berlangsung timbal balik
-          Prakarsa dapat datang dari pimpinan maupun bawahan
-          Banyak kesempatan bagi bawahan untuk menyampaikan saran
-          Terdapat suasana saling percaya
-          Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul bersama
  1. Gaya Kepemimpinan Laissez Faire adalah perilaku seorang pemimpin dalam usaha mempengaruhi dan mengarahkan bawahan dengan mempercayakan tanggung jawab sebagai pimpinan kepada bawahan, dan pimpinan bersifat pasif. Dengan indikator sebagai berikut:
-          Pimpinan melimpahkan wewenang kepada bawahan
-          Keputusan lebih banyak dibuat oleh bawahan
-          Pimpinan hanya berkomunikasi apabila diperlukan oleh bawahannya
-          Hampir tidak ada pengawasan
-          Hampir tidak ada pengarahan dari pimpinan
-          Kebijaksanaan dibuat oleh bawahan
-          Prakarsa dibuat oleh bawahan
-          Peran pimpinan sangat sedikit dalam kegiatan kelompok
-          Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul oleh orang per orang
  1. Motivasi adalah keinginan yang timbul dari dalam diri pribadi individu ataupun dari pihak luar dalam upaya untuk mencapai tujuan hidupnya. Dengan indikator sebagai berikut:
-          Gaji/upah
-          Kondisi kerja
-          Hubungan kerja
  1. Kepuasan kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak         menyenangkan dimana karyawan memandang pekejaan mereka. Dengan indikator sebagai berikut:
-          Promosi
-          Kondisi kerja
-          Teman sekerja
-          Pengawasan
-          Gaji/upah
2.4. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang sebenarnya masih harus diuji secara empiris. Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan studi pustaka, maka dalam penelitian ini dapat dibuat hipotesis sebagai berikut; “ Diduga gaya kepemimpinan dan motivasi mempunyai pengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan pada PT. Luxindo Raya Bengkulu”.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada PT. Luxindo Raya Bengkulu yang bertempat di Jalan S. Parman No. 117 Bengkulu. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Mei 2010.
3.2. Populasi dan Sampel
Populasi  merupakan kumpulan dari seluruh elemen yang dijadikan sasaran atau objek penelitian (Supranto 2001:87). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan PT. Luxindo Raya Bengkulu, yang berjumlah 30 orang.
Sampel adalah sebagian dari populasi yang karakteristiknya hendak diselidiki dan dianggap dapat  mewakili  keseluruhan  populasi, mengingat sedikitnya jumlah populasi dalam  penelitian  ini, maka seluruh populasi dapat dijadikan  sebagai sampel (Djarwanto 2003:108). Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 30 orang.
3.3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Observasi, yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan langsung ke lapangan (objek penelitian) untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan.
  2. Wawancara, yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mengadakan tanya jawab langsung kepada responden atau menurut penulis ada hubungan dengan penelitian yang dilakukan.
  3. Kuesioner, yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan mengajukan daftar pertanyaan kepada responden.
Dalam pengumpulan data dengan menggunakan teknik kuesioner ini, penulis menyebarkan beberapa pertanyaan untuk masing-masing variabel. Adapun skor dari masing-masing alternatif jawaban ini diberi skor dengan menggunakan pengukuran Ordinal, yaitu sebagai berikut:
    1. Jawaban a, Sangat Setuju (SS) diberi skor 4
    2. Jawaban b, Setuju (S) diberi skor 3
    3. Jawaban c, Tidak Setuju (TS) diberi skor 2
    4. Jawaban d, Sangat Tidak Setuju (STS) diberi skor 1
3.4. Teknik Analisis Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
  1. Metode kualitatif, yaitu suatu teknik analisa non statistik dimana analisis tersebut tidak berbentuk angka-angka, tabel-tabel atau grafik-grafik melainkan hanya berupa uraian-uraian yang mendukung hasil analisis statistik.
  2. Metode kuantitatif, yaitu teknik analisis yang didasarkan dengan perhitungan angka-angka yang menggunakan statistik.
Metode analisis kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
  1. 1.      Regresi Linear Berganda
Untuk mengetahui berapa besar pengaruh gaya kepemimpinan dan motivasi terhadap kepuasan kerja karyawan pada PT. Luxindo Raya Bengkulu dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Y = a+ bX+ bX2                   (Djarwanto PS, 2003:310)
Keterangan:
Y       =  Kepuasan kerja
X1         =  Gaya kepemimpinan
X2         =  Motivasi
a         =  Konstanta
b1, b2  =  Koefisien regresi
  1. 2.      Koefisien Determinasi
Untuk mengukur besarnya persentase sumbangan variabel gaya kepemimpinan dan motivasi terhadap kepuasan kerja secara bersama-sama digunakan rumus:
Keterangan:
R2        = Koefisien Determinasi
b          = Koefisien Regresi
  1. 3.      Uji Hipotesis
    1. Untuk menguji hipotesis secara parsial pengaruh variabel X terhadap variabel Y dengan tingkat keyakinan 95% atau α = 0,05 digunakan uji t (t-test) menggunakan rumus:
hitung =                          (Sugiono, 2000:261)
Keterangan:
t        = t hipotesis
bi      = koefisien regresi variabel X
Sbi    = standar error bi
Dimana
          H0 = 0 tidak ada pengaruh antara variabel X dan Y
          Ha ≠ 0 ada pengaruh antara variabel X dan Y
Dengan kreteria pengujian:
          Jika t hitung > t α, maka Ha diterima dan H0 ditolak
          Jika t hitung < t α, maka Ha ditolak dan H0 diterima
  1. Untuk menguji hipotesis, apakah variabel X secara bersama-sama mempengaruhi variabel Y digunakan uji F (F test) dengan rumus:
F =
Keterangan:
F       = nilai F hitung
R2     = koefisien determinasi
K      = jumlah variabel
n       = jumlah sampel
dengan kriteria pengujian sebagai berikut:
          Jika F hitung > t α, maka Ha diterima dan H0 ditolak
          Jika F hitung < t α, maka Ha ditolak dan H0 diterima
Dengan tingkat keyakinan 95% atau α = 0,05

0 komentar:

Mohon Klik Gambar Di bawah ini

Ringga Arie Suryadi. Diberdayakan oleh Blogger.