Perusahaan Kerja yang memungut Uang bukan malah mengaji.Lucu Banget
Kamis, 22 Juli 2010
Skripsi Agama Islam / Tarbiyah 2011
`BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Masa anak-anak adalah masa yang paling penting masa awal dimana
dasar-dasar kepribadian seseorang terbentuk.disamping itu masa kanak-kanak juga merupakan masa yang rawan dan sensitif,alam bawah sadar terbuka dan penerimaan sangat responsif.setiap perkembangan yang terjadi pada anak sangat dipengaruhi oleh orang,benda dan juga lingkungan yang ada di sekelilingnya.
Apa yang ditangkap pada masa kanak-kanak akan dengan mudah terserap oleh mereka , apalagi bila cara memberikannya sesuai dengan kebutuhan anak . kesan manis atau sebaliknya terhadap apa yang diterima akan masuk kedalam perasaannya.bila kita ingin menanamkan suatu pandangan atau pikiran kepada anak maka tanamkanlah melalui perbuatan ,jadikanlah kebiasaan maka kita akan mendapatkan hasil dari perbuatan itu.
Pada dasarnya daya serap memori manusia dalam hidup yang paling optimal adalah pada masa kanak-kanak , karena perasaan seseorang dari kecil sampai dewasa sedikit sekali yang mengalami perubahan , masa kanak-kanak yang indah maupun yang sebaliknya akan selalu diingat dan tidak akan dilupakan seumur hidupnya.oleh karena itu pada masa kanak-kanak inilah kesempatan yang paling baik menanamkan sekaligus memberikan pembinaan akhlak dan nilai-nilai islam.
Masa depan islam ditentukan oleh bagaimana umat islam saat ini mempersiapkan anak-anak islam dilain sisi pembinaan akhlak bagi anak merupakan salah satu cara dalam mempersiapkan pribadi dan pola pikir anak yang juga berarti mempersiapkan masa depan anak bangsa yang sesuai dengan konsep islam ,agar dapat membentuk komunitas yang islami dimasa yang akan datang.
Sebagaimana yang kita ketahui,sekarang ini banyak sekali terjadi penyimpangan norma-norma disekitar kita , baik norma agama maupun norma masyarakat.pelanggaran dan penyimpangan-penyimpangan norma tersebut tidak lepas dari pengaruh perkembangan zaman yang ditandai oleh semakin berkurangnya nilai-nilai agama yang terpatri dalam masyarakat sekitar kita . dilain pihak,anak –anak yang perkembangannya dipengaruhi oleh lingkungan dan masyarakat sekitarnya sangat menyukai hal –hal baru baik yang didengar maupun yang dilihatnya , terutama yang memiliki nilai keindahan dan seni.
Berbicara mengenai pesatnya perkembangan zaman , disini kita dihadapkan pada tantangan yang maha berat yaitu dampak dari era globalisasi informasi yang akhir-akhir ini sedang hangat dibicarakan khalayak ramai.masyarakat merasakan adanya kekhawatiran terutama dari dampak negatif produk teknologi komunikasi massa (TV , DVD , internet , dan lain sebagainya) terhadap nilai-nilai budaya,moral dan prilaku . bukan hanya terhadap orang dewasa dan remaja bahkan anak-anakpun akan dengan mudah dipengaruhi , terutama bila kita sebagai orang tua dan pendidik kurang memberikan pengawasan dan bimbingan terhadap tontonan anak.
Dilain pihak kita patut bersyukur bahwasanya saat ini telah banyak
menjamur TKA/TPA/TQA diseluruh nusantara yang kelak dapat memberikan harapan bagi perkembangan generasi islam yang berkwalitas akhlak jauh lebih
baik dari sebelumnya kesungguhan dan ketekunan para ustadz/ustadzah benar-benar dituntut dan ditantang keberadaannya , dan para orang tua santripun harus pula memberikan dukungan bukan hanya kepada putra putrinya tapi juga kepada para ustadz/ustadzahnya sebagai pendidik.
Berangkat dari uraian diatas , maka dalam penelitian ini penulis mengambil judul ” UPAYA PEMBINAAN AKHLAK MELALUI SENI ISLAMI BAGI ANAK USIA DINI DI TPA ALFURQON KELURAHAN MORO KREMBANGAN KECAMATAN KREMBANGAN KODYA SURABAYA.
B. RUMUSAN MASALAH .
Merupakan salah satu pokok yang cukup penting dalam kegiatan penelitian sehingga peneliti merasa perlu untuk membuat rumusan-rumusan masalah yang akan diteliti dan dicari jawabannya . peneliti dalam kegiatan ini merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana akhlak anak usia dini di TPA Al furqon kelurahan Morokrembangan kecamatan krembangan kota Surabaya?
2. Bagaimana bentuk-bentuk upaya pembinaan akhlak melalui seni bagi anak usia dini di TPA AL furqon kelurahan Moro krembangan kecamatan Krembangan kota Surabaya?
3. Apa saja faktor-faktor penghambat dan penunjang dalam upaya pembinaan akhlak melalui seni bagi anak usia dini di TPA Alfurqon kelurahan moro krembangan kecamatan krembangan kota Surabaya?
C . TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN.
Tujuan Penelitian.Berdasarkan rumusan masalah yang telah diajukan,maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana akhlak anak usia dini TPA Al furqon kelurahan morokrembangan kecamatan krembangan kota Surabaya
2. Untuk mengetahui bagaimana bentuk-bentuk upaya pembinaan akhlak melalui seni islami bagi anak usia dini diTPA Al furqon kelurahan morokrembangan kecamatan krembangan kota Surabaya
3. Untuk mengetahui faktor-faktor penunjang dan penghambat dalam upaya pembinaan akhlak melalui seni bagi anak usia dini diTPA Alfurqon kelurahan morokrembangan kecamatan krembangan kota Surabaya
Kegunaan Penelitian
Melalui penelitian ini diharapkan akan dapat berguna bagi antara lain
1. Sebagai bahan informasi kepada semua pihak yang terkait, baik santri,ustadz/ustadzah ,orang tua maupun masyarakat sekitarnya tentang upaya pembinaan akhlak melalui seni bagi anak usaia dini di wilayah kelurahan morokrembangan kecamatan krembangan kota Surabaya
2. Sebagai bahan sumbangan pemikiran dalam rangka turut serta mempersiapkan generasi yang memiliki pribadi yang berpola pikir islam,berakhlakul karimah serta berguna bagi agama nusa dan bangsa.
3. Sebagai salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam Strata Satu(S-1)pada Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Taruna Surabaya. .
D. Kajian Pustaka.
Pada dasarnya terdapat terhadap teori yang digunakan sebagai landasan dalam penelitian, yaitu relevansi,kemutakhiran,dan keaslian.relevansi berarti teori yang dikemukakan sesuai dengan masalah yang diteliti,kemutakhiran berarti terkait dengan kebaruan atau teori yang digunakan ,keaslian maksudnya terkait dengan keaslian sumber penelitian.
Bahwasanya kajian pustaka mengenai upaya pembinaan akhlak anak usia
dini melalui seni islami ini masih belum pernah dikaji atau diteliti sebelumnya,namun secara garis besar dapat diambil kesimpulan bahwa:
kata pembinaan dalam kamus bahasa Indonesia adalah usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan dengan cara berdaya guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
Sedangkan kata akhlak berasal dari bahasa Arab khuluqun ( ﺨﻠﻖ ) yang berarti budi pekerti , perangai , tingkah laku , atau tabiat .
Sedangkan yang dimaksud anak usia dini disini adalah anak-anak masa pra sekolah sampai anak masa sekolah , yaitu dengan batasan usia antara 3 tahun sampai 12 tahun.dimana pada masa itu anak telah mengalami perkembangan motorik , bahasa dan social yang semakin meningkat.
Seni adalah bagian dari hidup manusia, merupakan manifestasi dan refleksi dari kehidupan manusia. Seni adalah salah satu bentuk keindahan yang diciptakan Allah , yang merupakan media untuk mensyukuri nikmat Allah , sedangkan fungsi seni adalah untuk ibadah .
E .KERANGKA TEORITIK
1 . Kajian Tentang Akhlak dan Pembinaan akhlak
Perkataan akhlak berasal dari bahasa Arab jamak dari : “khuluqun”
( ﺨﻟﻖ )yang menurut lughot diartikan budi pekerti ,perangai ,
tingkah laku ,atau tabiat . Kata tersebut mengandung persesuaian
dengan kata “kholqun” ( ﺨﻟﻖَ ) yang artinya kejadian .Dan erat
hubungannya dengan kata “kholiq” ( ﺨﺎﻠق ) berarti pencipta ,dan
kata “makhluk” berarti yang diciptakan .
Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata akhlak memiliki makna
yang hampir sama dengan kata perangai , tingkah laku , budi pekerti ,
perilaku dan kelakuan.
Pengertian akhlak menurut rumusan para ulama berbeda-beda tinjauan ,
antara lain :
١ﻠﺨﻠقﻋﺒﺎﺮﺓﻋﻦﻫﯿﺌﺔﻔﮟﺍﻠﻨﻔﺲﺮﺍﺴﺤﺖﻋﻨﻬﺎﺘﺼﺪﺭﺍﻷﻌﺎﻝﺑﺴﻬﻭﻠﺔﻭﯿﺴﺮﻤﻦﻏﻴﺮﺤﺎﺠﺔ
ﺍﻟﻰﻔﻜﺮﻮﺮﻮﯿﺔﻔﺎﻦﻜﺎﻨﺖﺍﻟﻬﯿﺌﺔﺒﺤﺑﺚﺘﺼﺪﺭﻋﻨﻬﺎﺍﻷﻔﻌﺎﻝﺍﻠﺠﻤﻴﻠﺔﺍﻠﻤﺤﻤﻮﺪﺓﻋﻘﻼﻮﺴﺮﻋﺎ
ﺴﻤﻴﺖﺍﻠﻬﻴﺌﺔﺤﺴﻨﺎﻮﺍﻨﻛﺎﻦﺍﻠﺼﺎﺪﺭﻋﻨﻬﺎﺍﻷﻔﻌﺎﻝﺍﻠﻘﺒﯿﺤﺔﺴﻤﯿﺖﺍﻠﻬﯿﺌﺔﺍﻠﺘﻲﻫﻲﺍﻠﻤﺼﺪﺭﺨﻟﻘﺎ
ﺸﯿﺋﺎ
Artinya: akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia) , yang
dapat melahirkan suatu perbuatan yang gampang dilakukan melalui
maksud untuk memikirkan ( lebih lama ) , maka jika sifat tersebut
melahirkan suatu tindakan yang terpuji menurut ketentuan akal dan
norma agama , dimana akhlak yang baik . tetapi manakala ia melahirkan
tindakan yang jahat , maka dinamakan akhlak yang buruk.
a . Al Qurtubi mengatakan :
Suatu perbuatan yang bersumber dari adab kesopanannya disebut akhlak ,
karena perbuatan itu termasuk bagian dari kejadian .
b. Ibnu Maskawaih mengatakan :
“Akhlak adalah keadaan jiwa yang selalu mendorong manusia
berbuat, tanpa memikirkannya ( lebih lama ) .”
d. Abu bakar jabir al jazairi mengatakan :
“Akhlak adalah bentuk kejiwaan yang tertanam dalam diri manusia
yang menimbulkan perbuatan baik dan buruk , terpuji dan tercela dengan
cara yang disengaja. “
Nabi Saw bersabda( رﻮاﻩاﺤﻤﺪ ) ﺇﻧﻤﺎ ﺒﻌڎتﻻﭡﻤﻢﻤﻛﺎرم اﻻﺨﻼﻕ
artinya : “ Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak
yang mulia.” (H.R Ahmad).
١ﻜﻤﻞ١ﻠﻤﺅﻤﻨﻴﻦ١ﻴﻤﺎﻨﺎ١ﺤﺴﻨﻬﻢﺨﻠﻘﺎﻮﺨﻴﺎﺮﻜﻡﺨﻴﺎﺮﻜﻡﻠﻨﺴﺎﺌﻬﻢ( ﺮﻮ١ﮦ١ﻠﺗﺮﻤذى )
Artinya : “ Sesempurna – sempurna orang mukmin imannya , ialah yang
ternaik- naik pekertinya . Dan sebaik – baiknya kamu ialah
yang terbaik pergaulannya terhadap istrinya.” (H.R. Turmudzi).
Sedangkan kata pembinaan dalam kamus bahasa Indonesia pengertian
pembinaan adalah usaha , tindakan dan kegiatan yang dilakukan
dengan cara berdaya guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik .
Dari keterangan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pembinaan akhlak
adalah usaha , tindakan dan kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki tingkah
laku seseorang agar lebih baik dan sesuai dengan ajaran agama islam , dengan
cara memberikan pengertian dan pengarahan tentang nilai-nilai agama islam baik
dibidang akidah , ibadah muamalah maupun akhlak.
2. Kajian Tentang Seni
Seni adalah : kecil dan halus; tipis dan halus .
Sedangkan menurut Sirodjuddin abbas , seni adalah halus , indah ,
permai . dan kesenian adalah hasil yang indah – indah dari kecakapan dan
kepintaran manusia.
SENI ADALAH : Ungkapan perasaan seseorang yang dituangkan
kedalam kreasi dalam bentuk gerak, rupa, nada, syair, yang mengandung
unsue-unsur keindahan, dan dapat mempengaruhi perasaan orang lain.
Sampai saat ini dalam perspektif islam masih menjadi perdebatan
terutama bila sudah menyangkut masalah fiqh,namun sesungguhnya islam
memberikan ruang lingkup yang luas terhadap berbagai ekspresi keindahan
seni. sebagaimana sunan kalijogo membuka ruang dakwahnya melalui seni.
Barangkali pendapat Ernst Diez dalam A Stylistic Analysis of Islam
Art (1982) bisa dijadikan salah satu rujukan. Menurut Diez, seni Islam atau
karya seni ialah pengungkapan sikap pengabdian kepada Allah azza wajalla.
Seni memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi emosi sekaligus kognisi anak. Karena seni sesungguhnya adalah media yang paling nyaman dan mampu memikat anak untuk mempelajari apa pun.
Ketua Asosiasi Pengajar Seni Indonesia, Dr Cut Kamaril Wardani, mengatakan seni merupakan bahasa. Musik merupakan bahasa bunyi bahasa rupa, seni tari dan drama merupakan bahasa bahasa gerak dan mimik.
3. Kajian Tentang Anak
Anak (jamak: anak-anak) adalah seorang lelaki atau perempuan yang belum
dewasa atau belum mengalami masa pubertas.
Dalam kamus besar bahasa indonesia anak juga merupakan keturunan kedua ,
dimana kata "anak" merujuk pada lawan dari orang tua, orang dewasa adalah anak
dari orang tua mereka, meskipun mereka telah dewasa.
Dalam mendefinisikan “anak”, sangat jelas jika mengacu pada ajaran
Islam. Dalam agama Islam definisi anak sangat jelas batasannya. Yakni manusia
yang belum mencapai akil baligh (dewasa). Laki-laki disebut dewasa ditandai
dengan mimpi basah, sedangkan perempuan dengan menstruasi.Jika tanda-tanda
puber tersebut sudah tampak, berapapun usianya maka ia tidak bisa lagi
dikategorikan “anak-anak” yang bebas daripembebanan kewajiban
Menurut Drs Isjoni Msi.Phd anak usia dini adalah individu yang mengalami perkembangan yang sangat pesat ,disebut juga dengan usia golden age(usia berharga) yaitu dengan batasan usia antara 0-4 tahun.
1 . Penentuan Populasi dan Sampel
a.Populasi
Populasi adalah semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian . namun dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi, tetapi oleh Spradley dinamakan social situation atau situasi social yang terdiri atas tiga elemen yaitu: tempat(place),pelaku(actor),aktifitas(activity) yang berinteraksi secara sinergis. .
Sehubungan dengan penelitian ini , maka yang menjadi populasi dalami penelitian ini adalah :.
1. Tempat yaitu TPA Alfurqon unit 228 kecamatan Krembangan Kelurah
an Morokrembangan Kota Surabaya.
2. Pelakunya terdiri dari kepala TPA,para ustadzah,santriwan santriwati
TPA Alfurqon.
3. Aktifitasnya berupa aktfitas belajar mengajar diTPA Alfurqon.
Melihat jumlah populasi yang cukup besar(140 santri) maka dalam penelitian ini digunakan teknik sampling.
b. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi . yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah santri tingkat pra TK sampai tingkat IQRO’ III berjumlah 50 orang . Teknik pengambilan sampel dari poplasi adalah tehnik purposive sampling yaitu pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu.
2. Metode Pengumpulan Data
a. Metode Dokumentasi
Adalah suatu penyelidikan yang ditujukan kepada penguraian dan penjelasan terhadap apa yang telah berlangsung melalui sumber dokumen
Metode ini dipergunakan untuk mengetahui data dokumentasi tentang jumlah santri , tingkat/kelas iqro’,dan lain-lain.
b. Metode Angket
Yaitu sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahuinya .
Metode ini dipergunakan untuk mengetahui data tentang pembinaan akhlak melalui seni islami pada anak usia dini yang dilakukan oleh ustadz –ustadzah TPA Al-Furqon .
c. Metode Observasi
Yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan dan pencatatan dengan sistematis fenomena – fenomena yang diselidiki
Dalam hal ini peneliti menggunakan metode observasi partisipasi yaitu: peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang,mendengarkan apa yang diucapkan , berpartisipasi dalam aktifitas mereka.
Metode ini untuk mengetahui tentang kondisi TPA , sarana dan prasarana TPA dan lain –lain.
d- Metode Interview
Yaitu metode tanya jawab / wawancara baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
Metode ini ditujukan kepada ustadz ustadzah dan kepala TPA Al-Furqon dan digunakan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan pembinaan akhlak melalui seni islami bagi anak usia dini.
3. Tehnik Analisa Data
Bogdan menyatakan bahwa analisis data adalah proses mencari dan dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara,catatan lapangan ,dan bahan bahan lain sehungga dapat mudah difahami ,dan temuannya dapat diinformasikan pada orang lain.
Dalam hal ini peneliti menggunakan teknik analisis deskriptif,yaitu proses
analisis data dengan menggunakan penjabaran melalui tahapan tahapan tertentu.
G.SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Adapun sitematika pembahasan skripsi ini terdiri dari empat bab , dimana antara bab satu dengan bab lainnya saling berkaitan.
Bab pertama , merupakan pendahuluan yang terdiri dari : latar belakang masalah , rumusan masalah , tujuan dan kegunaan penelitian , kajian pustaka , kerangka teoritik , metodologi penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab kedua ,kerangka teoritik yang terdiri dari:pembahasan tentang akhlak yang meliputi :
Bab ketiga , bab ini membahas tentang langkah langkah yang diambil penelitian , dalam hal ini meliputi gambaran umum obyek penelitian dan penyajian analisa data .
Bab keempat , merupakan bab terakhir dan penutup yang berisi tentang kesimpulan dan saran-saran kemudian disertai daftar kepustakaan dan lampiran-lampiran
BAB II
KAJIAN TEORITIK
A. Kajian Tentang Akhlak
1. Pengertian Akhlak dan Pembinaan Aklak
Perkataan akhlak berasal dari bahasa Arab jamak dari :“khuluqun”(ﺨﻟق )
yang menurut lughot diartikan budi pekerti ,perangai , tingkah laku ,atau tabiat .
Kata tersebut mengandung persesuaiandengan kata “kholqun” ( ﺨﻟﻖَ ) yang
artinya kejadian .Dan erat hubungannya dengan kata “kholiq” ( ﺨﺎﻠق )
berarti pencipta ,dan kata “makhluk” berarti yang diciptakan .
Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata akhlak memiliki makna
yang hampir sama dengan kata perangai , tingkah laku , budi pekerti ,
perilaku dan kelakuan.
Pengertian akhlak menurut rumusan para ulama berbeda-beda tinjauan ,
antara lain :
١ﻠﺨﻠقﻋﺒﺎﺮﺓﻋﻦﻫﯿﺌﺔﻔﮟﺍﻠﻨﻔﺲﺮﺍﺴﺤﺖﻋﻨﻬﺎﺘﺼﺪﺭﺍﻷﻌﺎﻝﺑﺴﻬﻭﻠﺔﻭﯿﺴﺮﻤﻦﻏﻴﺮﺤﺎﺠﺔ
ﺍﻟﻰﻔﻜﺮﻮﺮﻮﯿﺔﻔﺎﻦﻜﺎﻨﺖﺍﻟﻬﯿﺌﺔﺒﺤﺑﺚﺘﺼﺪﺭﻋﻨﻬﺎﺍﻷﻔﻌﺎﻝﺍﻠﺠﻤﻴﻠﺔﺍﻠﻤﺤﻤﻮﺪﺓﻋﻘﻼﻮﺴﺮﻋﺎ
ﺴﻤﻴﺖﺍﻠﻬﻴﺌﺔﺤﺴﻨﺎﻮﺍﻨﻛﺎﻦﺍﻠﺼﺎﺪﺭﻋﻨﻬﺎﺍﻷﻔﻌﺎﻝﺍﻠﻘﺒﯿﺤﺔﺴﻤﯿﺖﺍﻠﻬﯿﺌﺔﺍﻠﺘﻲﻫﻲﺍﻠﻤﺼﺪﺭﺨﻟﻘﺎ
ﺸﯿﺋﺎ
Artinya: akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia),yang dapat
melahirkan suatu perbuatan yang gampang dilakukan melalui maksud untuk ter
sebut melahirkan suatu tindakan yang terpuji menurut ketentuan akal dan norma
agama , dimana akhlak yang baik . tetapi manakala ia melahirkan tindakan yang
jahat , maka dinamakan akhlak yang buruk.
a . Al Qurtubi mengatakan :
“ Suatu perbuatan yang bersumber dari adab kesopanannya disebut akhlak ,
karena perbuatan itu termasuk bagian dari kejadian.
b. Ibnu Maskawaih mengatakan :
“Akhlak adalah keadaan jiwa yang selalu mendorong manusia berbuat,
tanpa memikirkannya ( lebih lama ) .
d. Abu bakar jabir al jazairi mengatakan :
“Akhlak adalah bentuk kejiwaan yang tertanam dalam diri manusia yang menimbulkan perbuatan baik dan buruk , terpuji dan tercela dengancara yang disengaja “
Nabi Saw bersabda( رﻮاﻩاﺤﻤﺪ ) ﺇﻧﻤﺎ ﺒﻌڎتﻻﭡﻤﻢﻤﻛﺎرم اﻻﺨﻼﻕ
artinya : Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak
yang mulia. (H.R Ahmad).
١ﻜﻤﻞ١ﻠﻤﺅﻤﻨﻴﻦ١ﻴﻤﺎﻨﺎ١ﺤﺴﻨﻬﻢﺨﻠﻘﺎﻮﺨﻴﺎﺮﻜﻡﺨﻴﺎﺮﻜﻡﻠﻨﺴﺎﺌﻬﻢ( ﺮﻮ١ﮦ١ﻠﺗﺮﻤذى )
artinya :
Sesempurna – sempurna orang mukmin imannya , ialah yang ternaik naik pekertinya . Dan sebaik – baiknya kamu ialah yang terbaik pergaulannya terhadap istrinya . (H.R. Turmudzi).
Sedangkan kata pembinaan dalam kamus bahasa Indonesia pengertian pembinaan adalah usaha , tindakan dan kegiatan yang dilakukan dengan cara berdaya guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik .
Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
perbuatan yang merupakan manifestasi dari akhlak apabila memenuhi dua
syarat yaitu:
1. perbuatan yang dilakukan berulang kali sehingga menjadi kebiasaan.
2. Perbuatan yang dilakukan dengan kesadaran bukan dengan paksaan atau
tanpa kesengajaan.
Sebagaimana disimpulkan oleh Moh.syamsi hasan dan Abu shofiyah
bahwa akhlak adalah ekspresi dari kondisi jiwa yang menimbulkan perbuatan
dengan mudah tanpa direncana dan dipaksakan.
Dari keterangan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pembinaan
akhlak adalah usaha , tindakan dan kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki
tingkah laku seseorang agar lebih baik dan sesuai dengan ajaran agama islam ,
dengan cara memberikan pengertian dan pengarahan tentang nilai-nilai agama
islam baik dibidang akidah , ibadah muamalah maupun akhlak.
( : ﺍﻟﺑﻟﺪ ) ﻮھدﻴﻨﻪ ﺍﻟﻨﺠدﻴﻦ
Artinya :” Maka kami telah memberikan petunjuk kepadanya dua buah
jalan ( jalan yang baik dan yang buruk ).” ( QS. Al Balad : 10
Dari ayat diatas , dapat kita pahami perintah dan dorongan berbuat baik ,sesungguhnya merupakan bakat primordial manusia karena adanya fitrah pada dirinya . Sudut pandang inilah yang mendorong adanya pembinaan dan bimbingan akhlak yang penting dilaksanakan , agar bakat tersebut dapat berkembang dengan baik .
Dalam dunia pendidikan , pembinaan akhlak tersebut dititikberatkan pada pembentukan mental anak atau remaja agar tidak mengalami penyimpanan . Dengan demikian , pembinaan akhlak berarti bahwa anak remaja dituntut agar belajar memiliki rasa tanggung jawab .
Tujuan dari pembinaan akhlak adalah supaya seseorang terbiasa melakukan yang baik dan menghindari yang buruk . Menurut M . Athiyah Al Abrasyi ‘ bahwa tujuan utama dari pendidika islam adalah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang – orang yang bermoral , laki – laki maupun perempuan , jiwa yang bersih , kemauan yang keras , cita – cita yang benar dan akhlak yang tinggi , tahu arti kewajiban dan pelaksanaannya , menghormati hak – hak manusia , tahu membedakan baik dan buruk , memilih satu fadhilah karena cinta pada fadhilah , menghindari suatu perbuatan yang tercela , dan mengingat Tuhan dalam setiap pekerjaan yang mereka lakukan .
2. Macam – Macam Akhlak
a. Akhlak Mahmudah
Yaitu akhlak yang baik atau yang mulia . Diantara contoh – contoh akhlak mahmudah ini adalah :
1) Akhlak yang berhubungan dengan Allah , misalnya :
a) Bertaubat , adalah sikap yang menyesali perbuatan buruk yang
pernah dilakukannya dan berusaha menjauhinya , serta melakukan
perbuatan baik.
b) Bersabar , yaitu suatu sikap yang dapat menahan diri pada
kesulitan yang dihadapinya , tetapi tidak berarti bahwa sabar itu
menyerah tanpa upaya untuk melepaskan diri dari kesulitan yang
dihadapi manusia . Maka sabar yang dimaksudkan adalah sikap
yang diawali dengan ikhtiar , lalu diakhiri dengan ridha dan ikhlas ,
bila seseorang dilanda suatu cobaan dari Tuhan .
c) Bersyukur , yaitu suatu sikap yang selalu ingin memanfaatkan
dengan sebaik – baiknya , nikmat yang telah diberikan Allah
kepadanya , baik yang bersifat fisik maupun non fisik , lalu
disertai dengan peningkatan pendekatan diri kepada yang
memberikan nikmat , yaitu Allah SWT .
2) Akhlak yang berhubungan dengan sesame manusia , antara lain :
a) Belas kasihan , yaitu sikap jiwa yang selalu ingin berbuat baik dan
menyantuni orang lain . Sebagaimana disebutkan dalam surat Ali
Imran ayat 159 )
ﻓﺒﻤﺎﺮﺤﻤﺔﻤﻦﺍﻟﻟﻪﻟﻨﺖﻟﻬﻡﻭﻟﻭﻜﻧﺖﻓﻅﺎﻏﻟﻴﻅﺍﻟﻗﻟﺐﻼﻨﻔﻀﻮﺍﻤﻦﺤﻮﻟﻚ
Artinya :” Maka disebabkan rahmat dari Allah , kamu bersikap
lemah lembut ( merasa kasihan ) terhadap mereka .
Sekiranya kamu berlaku kasar lagi keras hati , tentulah
mereka menjauhkan diri sekelilingmu . “ ( QS. Ali Imran
: 159 )
b) Menahan amarah , yaitu upaya menahan emosi , agar tidak
dikuasai oleh perasaan marah terhadap orang lain . Al Ghozali
membagi kemarahan seseorang dalam tiga macam yaitu :
- Marah yang pertengahan
- Marah yang melampaui batas
- Tidak pemarah
Marah yang pertengahan adalah kemarahan yang terpuji karena dikendalikan marahnya dengan akal dan agama , sehingga timbul usaha pada dirinya untuk melindungi orang lain dan kemudian memadamkannya ketika sifat penyantun yang ada dalam dirinya
dapat dikuasai.
Marah yang melampaui batas yaitu kemarahan yang keluar dari garis – garis agama , dan akal kemudian matanya seolah – olah buta tidak ada fikiran dan tidak ada kesadaran buat berhenti dari marah itu .Orang yang tidak mau menjadi pemarah sedangkan kemarahan itu pada tempatnya , berarti orang itu berjiwa lemah misalnya bersedia menanggung kehinaan walaupun dirinya benar.
c) Sopan santun , yaitu sikap yang lemah lembut terhadap orang
lain , sehingga dalam perkataan dan perbuatannya selalu mengandung
adab kesopanan yang mulia.
b) Akhlak Madzmumah
Yaitu akhlak yang buruk dan tercela. Diantara contoh – contoh akhlak
madzmumah adalah :
1 ) Dusta , yaitu suatu prnyataan dari seseorang yang tidak sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya , baik perkataan maupun perbuatan . Firman Allah dalam surat Ali Imran 61 :
ﺜﻢ ﻨﺑﺘﻬﻝ ﻓﻨﺠﻌﻝ ﻟﻌﻨﺔ ﺍﷲ ﻋﻟﯽ ﺍﻟﻜﺎﺬﺑﯿ
Artinya : “ Ketahuilah ! laknat ( kutukan Allah ) atas orang pendusta .”
( QS . Ali Imran : 61 )
2) Bakhil , yaitu orang yang sangat sulit menafkahkan atau melepaskan apa- apa yang telah menjadi miliknya , walaupun orang lain yang membutuhkannya , dan dia sendiri tidak akan melarat atau terganggu bila sesuatu itu diberikan pada orang lain . Firman Allah dalam surat Ali imron 180
ﻮﻻﯿﺤﺴﺑﻦﺍﻟﺬﯿﻦﯿﺑﺨﻟﻮﻦﺑﻤﺂﺍﺘﻬﻢﺍﷲﻤﻦﻓﺿﻟﻪﻫﻭﺨﯿﺮﺍﻟﻬﻢﱞﺒﻞﻫﻭﺸﺮﻟﻬﻢﱞﺴﯿﻄﻭﻘﻭﻦﻤﺎﺒﺨﻟﻭ
ﯿﻭﻢﺍﻟﻘﯿﺎﻤﺔ ﻭﷲﻤﯿﺮﺍﺚﺍﻟﺴﻤﻭﺍﺖﻭﺍﻼﺮﺾﻭﷲﺒﻤﺎﺘﻌﻤﻟﻭﻦﺨﺒﯿﺮ﴿ﺍﻞﻋﻤﺮﺍﻦ ﴾
Artinya : “ Janganlah menyangka orang – orang yang kikir denga harta
yang dikaruniakan Allah kepadanya itu akan baik baginya
ﻰ
( akan kekal baginya ) , padahal akibatnya sangat jahat bagi
mereka , pada hari kiamat akan digantungkan leher mereka ,
harta yang mereka kikirkan itu , Allah mempunyai langit dan
bumi , dan Allah mengetahui apa – apa yang kamu kerjakan
( QS . Ali Imran : 180 )
3) Dengki dan iri hati , dengki biasanya berpasangan dengan iri hati , sebab
dengki biasanya lahir dari iri hati melihat orang sukses atau berhasil
dalam perjuangannya melalui kerja keras yang sungguh – sungguh dan
ikhlas . Sebagaimana Firman Allah dalam surat An – Nisa’ ayat 32ﻟﻘ
ﻭﻻﺘﺘﻤﻨﻭﺍﻤﺎﻓﺿﻞﷲﺑﻪﺑﻌﻀﻜﻢﻋﻠﻰﺑﻌﺾۗۗ ﻠﻠﺮﺠﺎﻞﻨﺼﯿﺐﻤﻤﺎﺍﻜﺴﺑﻮﻟﻨﺴﺂﺀﻨﺼﺎﯿﺏ
ﻤﻤﺎﺍﻛﺘﺴﺑﻦۗ ﻭﺃﺴﺌﻟﻮﺍﺍﷲﻤﻦﻓﻀﻟﻪﺍﻦﷲﻛﺎﻦﺒﻛﻞﺸﯿﺊﻋﻟﯿﻤﺎ
Artinya : “ Janganlah kamu iri hati , karena Allah memberikan karunia
kepada setengah kaum lebih banyak dari yang lain , Bagi laki
laki keuntungan dari usaha mereka , dan bagi perempuan juga
dari usaha mereka . Mintalah kepada Allaha karuniaNya
( kepentingan hidup ) , bahwasanya Allah mengetahui segala
sesuatu . ( QS . An – Nisa ‘ : 32 ) .
Itulah diantara beberapa contoh akhlak madzmuma yang harus dihindari
yaitu semua tingkah laku atau perbuatan yang bertentangan dengan ajaran islam
3. Sumber – Sumber Ajaran Akhlak
Sebagai sumber pedoman hidup dalam islam yang menjelaskan kriteria baik buruknya sesuatu perbuatan adalah Alqur’an Al Hadits . Kedua dasar itulah yang menjadi landasan dan sumber ajaran islam secara keseluruhan sebagaimana pola untuk menetapkan mana yang baik dan mana yang buruk
Bagi umat islam sumber nilai yang tidak berasal dari Alquran dan sunnah hanya digunakan sepanjang tidak menyimpang atau menunjang system nilai yang bersumber ke pada Alquran dan sunnah . Sumber tersebut adalah nilai yang mondial ( duniawi ) ra’yu ( pikiran ), adat istiadat , dan kenyataan alam .
Rosulullah SAW merupakan contoh dari suri tauladan bagi kita semua .
Hal ini ditegaskan oleh Allah dengan firmanNya dalam surat Al Ahzab ayat 21
ﻟﻘﺪﻜﺎﻦﻟﻜﻢﻓﻲﺮﺴﻭﻞﺍﷲﺍﺴﻭﺔﺤﺴﻨﺔﻜﺎﻦﻴﺮﺠﻭﺍﷲﻭﺍﻠﻴﻮﻡﺍﻷﺧﺮﻮﺬﻜﺮﺍﷲﻜﺜﻴﺮﺍ
ﺍﻷﻫﺯﺍﺐ٢١
Artinya : “ Sesungguhnya telah ada pada diri Rosulullah suri tauladan yang baik
bagimu ( yaitu ) bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan
kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah ( QS.
Al Ahzab : 21 )
Tentang akhlak pribadi Rosulullah dijelaskan pula oleh Aisyah ra .
diriwayatkan oleh Muslim
:ﺍﻦ ﺨﻠﻖ ﺍﻠﻨﺒﻲﺍﷲ ﻜﺎﻦ ﺍﻠﻘﺮﺁﻦ ﺭﻭﺍﻩ ﻤﺴﻠﻡ
Artinya : “ Sesungguhnya akhlak Rosulullah itu adalah Alquran . ( HR. Muslim )
Hadits Rosulullah yang meliputi perkataan dan tingkah laku beliau ,
merupakan sumber akhlak yang kedua setelah Alquran . Segala ucapan dan
perilaku beliau senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah SWT .
4. Pentingnya akhlak bagi kehidupan muslim
Ilmu akhla tidak memberikan jaminan seseorang menjadi baik dan
berbudi luhur . Namun dengan mempelajari akhlak akan membuka mata hati
seseorang untuk mengetahui bahwa ini yang baik dan ini yang buruk . Begitu pula
memberi pengertian apa faedahnya jika berbuat baik dan apa bahayanya jika
berbuat kejahatan .
Akhlak merupakan pondasi yang utama dalam pembentukan pribadi
manusia seutuhnya . dan pendidikan yang mengarah pada terbentuknya pribadi
berakhlak merupakan hal utama yang harus dilaksanakan , sebab hal ini akan
melandasi kestabilan kepribadian manusia secara menyeluruh .
Akhlak memiliki karakter yang berkaitan dengan keimanan dan
ketakwaan . Iman yang kuat akan melahirkan akhlak yang mulia , sedangkan
rusaknya akhlak berpangkal pada kelemahan dan kehilangan iman . Akhlak
mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam islam . dan keruntuhan suatu
bangsa disebabkan oleh runtuhnya dan rusaknya akhlak . Akhlak pada tiap – tiap
pribadi merupakan ikatan yang kuat yang senantiasa mengikat antara yang satu
dengan lainnya . Bila ikatan akhlak ini rusak , maka rusak pulalah nubungan
mereka . Akibatnya jalinan kemasyarakatan akan rusak .
Akhlak yang membedakan manusia sebagai makhluk yang tinggi dan sempurna dari makhluk – makhluk lainnya . Perbedaan asasi antara manusia dan binatang adalah manusia diberi potensi ole Allah , yang dengan potensi itu manusia menerima tugas dari Allah, berbeda dengan binatang karena ia tidak memiliki potensi sebagaimana manusia .
Perbedaan istmewa ini adalah perbedaan aqli , ruhi , akhlaqi , suluki , ijtma’i yang menjadikan hidup ini bermakna dan karakteristik kemanusiaannya semakin jelas .
B. Kajian Tentang Anak Usia Dini
1. Pengertian Anak Usia Dini
Menurut kamus besar bahasa Indonesia pengertian anak adalah keturunan
kedua, yaitu keturunan dari ayah dan ibu.
Dalam agama Islam definisi anak sangat jelas batasannya. Yakni manusia
yang belum mencapai akil baligh (dewasa). Laki-laki disebut dewasa ditandai
dengan mimpi basah, sedangkan perempuan dengan menstruasi. Jika tanda-
tanda puber tersebut sudah tampak, berapapun usianya maka ia tidak bisa
lagi dikategorikan “anak-anak” yang bebas dari pembebanan kewajiban.
Sedangkan anak usia dini adalah anak yang berusia antara 0-6 tahun.
usia ini biasa disebut dengan golden age atau usia keemasan , karena pada masa
ini adalah masa terpenting dalam proses pembinaan tumbuh kembang anak secara
menyeluruh, baik aspek fisik,kognitif,social emosional,seni,agama,bahasa,moral,
dan kemandirian,yang nantinya akan menjadi penentu bagi keberhasilan anak
dimasa yang akan datang.
Dalam dunia pendidikan anak juga dikenal adanya istilah pendidikan anak usia dini yang bertujuan mengembangkan semua potensi yang dimiliki anak dan bukan sekedar untuk mempersiapkan anak masuk sekolah dasar (SD).
Menurut PP No.27/1990 tujuan pendidikan pra sekolah adalah untuk membantu meletakkan dasar dasar kearah perkembangan sikap, pengetahuan, ketrampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.
2. Ciri-Ciri Perkembangan Anak .
a, Masa bayi:
Masa ini banyak disebut sebut berlangsung dari saat bayi lahir sampai
berumur 2 tahun,untuk masa ini lebih penting untuk mengetahui bagaimana
proses bayi lahir,karena dengan mengetahui proses kelahiran tersebut dapat
diketahui sedikit banyak tentang status perkembangan anak untuk dapat
menentukan tindak lanjut.
terdapat beberapa ciri yang merupakan manifestasi dari adanya proses
perkembangan pada bayi :
1.Adanya perkembangan fisik yang Nampak dari bertambahnya ukuran
panjang dan berat badan bayi.
2.perkembangan motorik nampak dari adanya respon bayi terhadap
rangsangan yaitu berupa gerakan seluruh tubuh dan gerakan-gerakan
reflek
3. rasa ingin tahu.
4.adanya permulaan perkembangan bicara (bicara sebagai aspek penting
bagi komunikasi dan alat berpikir.
5.perkembangan emosi dan social.
b. Usia 2-3 tahun
Masa ini disebut juga masa pra sekolah atau bisa juga disebut masa kanak
kanak awal , ada beberapa ciri perkembangan yang tampak pada masa ini
diantaranya:
1.Keseimbangan tubuh meningkat,koordinasi gerakan tangan dan kaki
serta kemampuam konsentrasi juga meningkat.
2.Sangat aktif.
3.Keinginan dan emosinya mudah berubah.
4.Kemampuan berbahasa bertambah pesat dan kata kata singkat,kadang
masih berupa gumam
5.Pandai meniru dan masih bersifat egosentri.
c. Usia 3-4 tahun.
1.Koordinasi antara mata-jari-tangan meningkat serta otot jari tangan
lebih kuat dan lentur.
2.Lebih responsive,sensitive dan ekspresif
3.Kemampuan berpikir dan imajinasi berkembang pesat
4.Mengenal emosi orang lain serta kntrol emosi lebih baik dari
sebelumya.
5.Aktif bicara , ucapan jelas.
6.Mulai berteman,bermusuhan dan menyerang.
d. Usia 4-6 tahun.
1.Kemampuan koordinasi dan konsentrasi semakin berkembang
2.Kepekaan panca indra semakin berkembang serta otot lengan dan kaki
lebih kuat
3.Masih sangat aktif dan mulai dapat menyelesaikan suatu pekerjaan.
4.Dapat menginterpretasi,memprediksi,dan mempengaruhi reaksi emosi
orang lain
5.mampu menyusun kalimat yang lebih komplek,mampu bercerita dan
banyak bertanya.
6.Memahami kaitan antara aturan dan prilaku
7. berat badan dan tinggi badan makin pesat.
3. Perkembangan Moral Anak
Sebagaimana yang kita ketahui kata akhlak memiliki persamaan arti dengan istilah moral yang berasal dari bahasa latin:mos (moris) yang berarti adat istiadat , kebiasaan,tata cara kehidupan .
Pada dasarnya perkembangan moral seorang anak dipengaruhi oleh
unsur-unsur dari luar pribadinya,pada akhir abad ke17 seorang filusuf bernama memperkenalkan teori tabula rasa untuk mengungkapkan pentingnya pengaruh pengalaman dan lingkungan hidup terhadap perkembangan anak.pandangan ini dikenal dengan empirisme (=pengalaman) atau environtmentalisme (=lingkungan) .
Sedangkan JJ.Rousseau menggunakan istilah noble savage untuk mengemukakan pendapat yang bertolak belakang dengan J.locke pandangan ini berpendapat bahwa ketika dilahirkan semua orang mempunyai dasar moral yang baik,dan faktor keturunanlah yang menjadi isi kejiwaan dan gambaran kepribadian seseorang.
menurut J.Piaget dan L.Kohlberg mengatakan perkembangan moral seorang anak sejalan dengan perkembangan kognitifnya ,makin bertambah tingkat pengertian makin banyak pula nilai nilai moral yang dapat ditangkap dan dimengerti anak.
Tahap tahap perkembangan moral anak tersebut ialah:
-Tahap usia 0-3 tahun : pada tahap ini tingkah laku yang ditunjukkan seorang anak hampir sepenuhnya dikuasai oleh dorongan naluriah belaka , pengertian anak tentang baik dan tidak baik juga hanya terbatas pada konsekwensi konsekwensi yang mengikuti tingkah laku tersebut.dan apabila pada anak telah ditanamkan disiplin yang teratur , maka pada usia 3 tahun anak akan mengetahui perbuatan apa yang diperbolehkan karena itu benar,dan perbuatan apa yang tidak disetujui karena itu salah.
-Pada masa ini anak sudah memiliki dasar dasar dari sikap moralitas terhadap kelompok sosialnya, disini anak hanya melakukan perbuatan untuk memperoleh pujian atau hadiah, atau untuk menghindari hukuman.selanjutnya pada usia 5-6 tahun sifat egoisme anak sedang menonjol sehingga untuk menanamkan konsep moral akan mungkin mengalami kesulitan.
C. KAJIAN TENTANG SENI ISLAMI.
1. Pengertian Seni dan Seni Islami
se•ni a 1 halus (tt rabaan); kecil dan halus; tipis dan halus: benda seni , benda
yang halus bahannya dan buatannya; bercelak seni , memakai celak yg halus;
jarum yg seni , jarum yg halus sekali; , suara yg kecil tinggi; 3 mungil daputri yg
seni , putri yang halus kulitnya; ular seni , ular yg kecil; 2 lembut dan tinggi (tt
suara): n elok (tt badan): burung yg seni burung yg kecil dan elok; seni pada
mulanya berasal dari kata Ars (latin) atau Art (Inggris) yang artinya
kemahiran. Ada juga yang mengatakan kata seni berasal dari bahasa belanda yang
artinya genius atau jenius. Sementara kata seni dalam bahasa Indonesia berasal
dari kata sangsekerta yang berarti pemujaan. Dalam bahasa tradisional jawa, seni
artinya Rawit (pekerjaan yang rumit – rumit kecil).
- Seni menurut pengertian para ahli budaya:
a. Drs. Popo Iskandar berpendapat, seni adalah hasil ungkapan emosi yang ingin
disampaikan kepada orang lain dalam kesadaran hidup bermasyarakat
berkelompok
b. Ahdian Karta Miharja, seni adalah kegiatan rohani yang merefleksikan realitas
dalam suatu karya yang bentuk dan isinya mempunyai untuk membangkitkan
pengalaman tertentu dalam rohaninya penerimanya
c. Ki Hajar Dewantara, seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dari
perasaan dan sifat indah, hingga menggerakan jiwa perasaan manusia
d. Plato dan Rousseau, seni adalah hasil peniruan dari alam dengan
segala seginyae•nye•ni a berpendapat halus; lembut: lagunya
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa seni adalah: Ungkapan
perasaan seseorang yang dituangkan kedalam kreasi dalam bentuk gerak, rupa,
nada, syair, yang mengandung unsue-unsur keindahan, dan dapat mempengaruhi
perasaan orang lain.
2.Jenis Jenis Seni dan Batas Batas Seni Islami
A. Kesenian dibagi 4 jenis:
1. Seni Musik adalah curahan perasaan seseorang yang dituangkan dalam
bentuk nada dan syair yang indah.
2. Seni Rupa adalah curahan perasaan. seseorang yang dituangkan dalam
bentuk rupa / gambar-gambar
3. Seni Drama adalah curahan perasaaan seseorang yang dituangkan dalam
bentuk gerak bercerita yang diramu dengan musik yang sesuai.
Seni Tari adalah curahan perasaan seseorang yang dituangkan dalam bentuk gerak anggota badan yang teratur dan berirama.
Dari keempat bentuk seni tersebut ,seni musik merupakan manifestasi dan refleksi dari kehidupan yang paling mudah dicerna oleh syaraf indra kita,bahkan sejak anak masih dalam kandungan,musik merupakan sebuah terapi yang penting bagi proses tumbuh kembang anak , yaitu dalam proses menumbuh kembangkan aspek fisik , emosi, social , dan intelegensi anak.
Nasyid adalah salah satu seni Islam dalam bidang seni suara.Biasanya merupakan nyanyian yang bercorak Islam dan mengandungi kata-kata nasihat, kisah para nabi, memuji Allah, dan yang sejenisnya . Biasanya nasyid dinyanyikan secara acappela dengan hanya diiringi gendang. Metode ini muncul karena banyak ulama Islam yang melarang penggunaan alat musik kecuali alat musik perkusi.
Selain nasyid atau nyanyian atau lagu , bentuk seni suara yang lain adalah lantunan tilawah al qur’an karena didalamnya terkandung ekspresi keindahan, yang dapat membuat pendengarnya terlena.
B. .Jenis Jenis Nasyid di Indonesia.
Nasyid mulai masuk ke Indonesia sekitar era tahun 80-an Perkembangannya pada awalnya dipelopori oleh aktivis-aktivis kajian Islam yang mulai tumbuh .dikampus-kampus pada masa itu. Pada awalnya yang dinyanyikan adalah syair-syair asli berbahasa Arab. Namun akhirnya berkembang dengan adanya nasyid berbahasa Indonesia dan dengan tema yang semakin luas (tidak hanya tema syahid dan jihad). dan pada perkembangannya ,saat ini nasyid menjadi salah satu wawasan seni tersendiri yang bernafaskan pendidikan islam bagi putra putri kita maupun santriwan santriwati kita.
Adapun jenis jenis nasyid yang berkembang diantaranya:
1.Nasyid tradisional yang dibawa oleh para wali berupa tembang tembang diiringi gamelan misalnya tembang ilir ilir dan cublak cublak suweng karya sunan giri.
2.Nasyid dengan bahasa arab yang diiringi musik padang pasir,atau musik gambus
3.Nasyid dengan diiringi rebana .
4.Nasyid dengan bahasa inggris.
5.Nasyid yang diangkat dari kitab kitab diba’ yang banyak didapati di pesantren
pesantren
6.Nasyid nasyid yang dibawakan oleh grup qosidah.
7.Nasyid nasyid berirama pop Indonesia , misalnya lagu lagu ungu,lagu opick,dan
lain sebagainya
8.Nasyid nasyid tanpa iringan musik (acapella) .
C. Batasan Batasan Seni Islami
Dalam agama islam berbicara mengenai seni ,bukan hanya berbicara
masalah estetika atau keindahan saja tapi juga berbicara soal nilai nilai . dalam pengertian ini nilai nilai kehidupan dan nilai moral,batasan tersebut adalah :
1.DR. Yusuf Qordhowi menyimpulkan :
a. tidak bertentangan dengan nilai akhlak dan syariat islam.
c. dilarang berlebih lebihan dalam hiburan , dengan kata lain harus lebih mengu
tamakan waktu untuk beribadah.
d. setiap penikmat dan pendengar seni harus menjaga diri dari syahwat dan fitnah
2. Syaikh jamaluddin alqosimi ad damsyiqi mensarikan memsarikan pendapat
imam Ghozali : bahwa bernasyid atau bersyair yang tercela adalah yang mem
muat pengertian yang diharamkan , misalnya mengurai kecantikan perempuan,
berupa puji pujian atau celaan ,menggambarkan bentuk tubuh,menimbulkan
rasa keji dan mesum ,menyerupai perbuatan pengumbar nafsu, dan bergurau
melampaui batas.menghabiskan waktu untuk semua itu adalah tercela ,adapun
selain itu maka dibolehkan atau hukumnya mubah.
Terlepas dari perhatian ilmuwan dan umara pada musik hingga menjadi karya seni yang mengagumkan, musik selalu saja menjadi bahan polemik banyak ulama. Maklum saja, seni musik memang punya pengaruh yang kuat pada masyarakat sehingga ulama merasa perlu mengawal perkembangannya, apakah sejalan dengan syariat Islam atau tidak
perbedaan pendapat ulama tentang musik mengakibatkan polarisasi pandangan umat Islam terhadap musik itu. Ada musik yang dianggap Islami dan tidak Islami. Warna musik kasidah atau nasyid yang kental dengan pengaruh Arab mendapatkan predikat sebagai musik Islami. Sedangkan, dangdut, keroncong, pop, rock, jazz, dan lain-lain termasuk kategori yang tidak Islami
Ajaran Islam sejatinya sangat apresiatif terhadap karya seni. Karya seni yang mengandung seruan berbuat kebaikan kepada orangtua, mencintai tanah air, menyayangi sesama, memerangi korupsi, menjaga kelestarian alam, termasuk dalam kategori seni yang Islami
3. Seni Bagi Anak
Seni memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi emosi sekaligus kognisi anak. Karena seni sesungguhnya adalah media yang paling nyaman dan mampu memikat anak untuk mempelajari apa pun.
pada dasarnya semua seni cocok diajarkan kepada anak,khusus nya seni lukis,seni peran dan seni suara.dengan melukis anak dapat belajar banyak hal.bah
kan melukis dan menyanyi juga merupakan bagian dari terapi.karena disitu anak dapat mengekspresikan imajinasi , memperoleh kepercayaan diri , eksistensi diri ,
dan keberanian dalam mengungkapkan sesuatu.
Dengan seni anak dapat mengkoordinasikan suatu persoalan dengan baik,
anak juga mampu memberikan respon sesuai hasil yang masuk melalui panca inderanya.anak mampu mengoptimalkan semua potensi diri yang ada dalam diri manusia.kemampuan itu akan mengasah sensitivitas dan kepekaan anak .anak yang sudah dikenalkan seni sejak kecil ,ketika anak punya keinginan kuat untuk
mengekspresikan perasaannya maka anak akan menuangkan nya melalui seni.
Dengan mengenali aneka rasa dan suasana, orangtua dapat mengarahkan
anak untuk menikmati setiap keadaan , orang tua Seni memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi emosi sekaligus kognisi anak. Karena seni sesungguhnya adalah media yang paling nyaman dan mampu memikat anak untuk mempelajari apa pun. dapat mengingatkan bahwa inna maal usri yusro,artinya setelah ada kesulitan pasti ada kemudahan. bahwa setiap kepedihan memiliki tingkatan dan dapat dinikmati sebagai sebuah kesenangan, dalam hal ini seorang tokoh ilmuwan islam,Alfaruqi,mengatakan bahwa alam adalahsebuah teater karena semua yang Allah ciptakan mendalami peran masingmasing .
Pakar pendidikan anak usia dini, Ellen Booth Church, dalam artikelnya From Scribbles to Symbols, mengatakan, seni dikatakan juga sebagai bahasa pertama anak karena mereka menggunakan perasaan dan pengalaman sendiri dalam membuat karya seni. Bahkan melalui goresan-goresan yang sering kita sebut benang kusut anak tengah berkomunikasi melalui media seni. Setiap anak menghasilkan arti yang berbeda-beda dalam setiap tarikan garisnya.
Di masa golden age (usia1-6 tahun) umumnya otak kanan lebih dulu berkembang daripada otak kiri. Menurut Kepala Dinas Pendidikan Dasar dan psikolog anak, Dr Sylviana Murni SH Msi, meski perkembangan otak secara keseluruhan juga penting, orangtua hendaknya memberikan stimulasi yang mengembangkan fungsi otak kanan antara lain melalui kegiatan menyanyi, menari, menggambar, dan bermain .
Hal ini mengindikasikan bahwa stimulasi yang diberikan didasari oleh seni. Berbagai potensi dasar anak yang dapat dikembangkan, yaitu perasaan atau emosi, kapasitas intelektual, perkembangan motorik, kreativitas, kepekaan estetis dan perkembangan sosial.
A.Fungsi Seni Musik Bagi Anak.
Musik adalah bagian dari kehidupan dan perkembangan jiwa manu sia.sedang nyanyian yang merupakan bagian dari musik adalah suatu bentuk
pengungkapan pikiran dan perasaan seseorang melalui kata dan nada,yang berwawasan citra rasa keindahan (estetika) .
Dengan nyanyian seseorang atau anak dapat memanfaatkannya sebagai alat untuk :
1. Mencurahkan pikiran sekaligus perasaan,baik senang .sedih.gembira dan lain
sebagainya.
2. Mengembangkan kreatifitas dan imajinasi .
3. Melatih fungsi syaraf motorik
4. Melatih kepekaan rasa dan kepekaan social pada lingkungan sekitar.
5. Menghayati arti syukur dan kekaguman terhadap nikmat dan kebesaran Allah.
6. Menghayati arti ketaatan,hormat,dan kasih sayang kepada orang tua.
Oleh karena itu dalam memilih dan menciptakan lagu bagi anak haruslah disesuaikan dengan fungsi seni diatas,sekaligus disesuaikan dengan usia anak ,
agar mudah untuk dihafalkan dan difahami oleh anak.
B. Pembelajaran Nyanyian
Dan supaya nyanyian mudah untuk dipelajari dan dihafalkan oleh anak,
1. Untuk membangkitkan minat anak ,dibantu dengan alat peraga,misalnya gam
bar.
2. Untuk menanamkan rasa ritmik ,nyanyian hendaknya diikuti dengan :
- Ketukan atau tepukan
- Gerak tangan dan kaki.
- Alat musik
D. KAJIAN TENTANG TPA
Taman Pengajian Al-Qur’an atau yang lebih dikenal Taman Pendidikan Al-Qur’an ( disingkat TPA) adalah lembaga pendidikan dan pengajaran islam untuk anak-anak,remaja dan dewasa yang menjadikan anak didiknya mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid (kanwil depag prop jatim,juknis pengelolaan tpa).
Taman Pengajian Al-Qur’an (TPA) adalah sebuahsistem pendidikan dan sarana pelayanan keagamaan non formal yang di rancang secara khusus.Sistem ini mampu menampung hasrat dan minat belajar agama bagi anak-anak dan remaja islam bahkan orang dewasa yang ingin mempelajari Al-Qur’an tanpa harus memberikan beban yang berat kepada mereka.Materi pelajaran diformal mudah sehingga mempunyai daya tarik tersendiri,khususnya bagi anak-anak remaja.
Sesuai dengan namanya,Taman Pengajian Al-Qur’an (TPA) menekankan adanya upaya bagaimana murid-murid bisa mengenal aksara Al-Qur’an dengan baik dan benar serta menjadikan kebiasaan dan kegemaran membaca Al-Qur’an (tadarus) secara fasih menurut kaidah tajwid ditambah dengan materi pelajaran keagamaan lainnya.
Taman Pengajian Al-Qur’an adalah nama lain dari Taman Pendidikan Al-Qur’an yang singkatannya yaitu TPA.Istilah Taman Pendidikan telah lebih dahulu di masyarakat.Kata Pengajian adalah kata yang digunakan ,untuk menunjukkan kebebasan dari system pendidikan yang formal.
2. VISI & MISI LEMBAGA TK / TP ALQUR’AN
Taman Kanak Kanak Alqur’an/Taman Pendidikan Al qur’an (TK-TPA) yang kita kenal dewasa ini adalah lembaga pendidikan yang sangat perlu dikem
bangkan bagi kebutuhan pendidikan anak usia pra sekolah dan usia sekolah, di
TKA-TPA dan TQA bukan hanya bertujuan melatih kemampuan membaca dan menulis al qur’an saja ,tetapi bertujuan mengembangkan seluruh aspek perkemba
ngan kognitif ,afektif,dan psikomotorik.
Demi membina iman , akal, dan rasa sehingga diharapkan akan mencetak
generasi yang bertakwa,mulia,sehat,cerdas,terampil,dan kreatif .
A. Visi Lembaga TK /TP Al-qur’an
1. Visi atau wawasan ke depan Lembaga TK /TP Al-Qur’an tercermin dari motto Lembaga yaitu “ Menyiapkan Generasi Qur’ani Menyongsong Masa Depan Gemilang”
2. Generasi Qur’ani ialah generasi yang beriman dan bertaqwa,yang menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan utama dan pedoman hidupnya,berakhlaq mulia,cerdas,terampil,sehat,punya rasa tanggung jawab moral dan sosial,demi masa depan gemilang.
Generasi Qur’ani adalah generasi yang mampu menerjemahkan pesan-pesan Al-Qur’an dalam pentas kehidupan kekinian,dalam rangka mengemban misi “ rahmatan lil ‘alamin “, di tengah-tengah gemuruhnya kemajuan teknologi modern.
Anak-anak usia 4-12 tahun,yang dibina melalui TK /TP Al-qur’an (berseiringan dengan pendidikan mereka di TK dan SD /MI ) diharapkan pada usia dewasa mereka kelak mempunyai kemantapan IMTAQ yang akrab dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan IPTEK. Yaitu IPTEK yang tepat arah dan tepat guna,karena dipandu oleh kesadaran IMTAQ.Mereka tidak hanya menyatu dalam ekosistem ( tatanan lingkungan ) dan jaringan tekno-sistem modern,namun pada waktu yang sama diharapkan menjadi hamba Allah yang Istiqomah dalam psiko-sistem ( tatanan kesadaran ) dan sosio-sistem ( tatanan sosial ) yang islami.
3. Kehadiran gerakan TK/TPA Al qur’an di penghujung abad ke-20 sekaligus mengantar anak TK/TPA dalam memasuki abad ke-21(millennium ke-3),yang ditandai dengan era perdagangan bebas kian memuncaknya globalisasi informasi.komputerisasi alqur’an dan alqur’an digital diharapkan menjadi bagian dari keseharian mereka dalam mengembangkan misi qur’ani,sekaligus siap bersaing dan siap “berperang” melawan setan setan pengguna teknologi modern .
B. Misi Lembaga TK/TPA Alqur’an
TK/TPA alqur’an membawa misi dwi tunggal,yaitu misi pendidikan dan misi dakwah islamiyah :
- Selaku pembawa misi pendidikan,TK/TPA tampil berdampingan dengan pendidikan formal,yaitu pendidikan TK/SD/MI yang segala sesuatunya diatur berdasarkan kebijaksanaan pemerintah. TK/TP Al-Qur’an adalah pendidikan non mal ( luar sekolah ),yakni sebagai pemantap misi pendidikan keagamaan ( Islam ) di TK/SD/MI yang porsinya dipandang kurang. Sekaligus pula membantu peran orang tua dalam pendidikan keagamaan di rumah. Sebab kondisi orangtua pada umumnya kurang siap,berhubung fakyor kesibukan,kelalaian dan atau karena faktor keawaman mereka sendiri.
- Selaku pembawa misi dakwa,TK/TP Al-Qur’an adalah merupakan bagian dari gerakan dakwah Islamiah.Dalam kaitan ini,TK/TP Al-Qur’an erat hubungannya dengan lembaga-lembaga kemasjidandan lembaga-lembaga dakwah pada umumnya.Bahkan secara institusional,unit-unit TK/TP Al-Qur’an berada dibawah pengayoman lembaga-lembaga non pemerintah tersebut.Mengenai peran pemerintah,khususnya Departemen Agama,diharapkan tetap pada posisinya,yaitu bersikap “ tut wuri handayani “ dan tidak menempatkan TK/TP Al-Qur’an berada dibawah struktur administratif instansinya.
Dengan pengelolaan swasta murni seperti itu dimaksudkan agar TK/TP Al-Qur’an ( juga TPA lanjuan/TQA ) tetap menjadi gerakan masyarakat dengan segala kreatifitasnya yang dinamis.
E. Upaya Pembinaan Akhlak Melalui Seni Islami Pada Anak Usia Dini
Dalam alqur’an dan hadits dijelaskan bahwa manusia sejak lahir telah dibekali allah berupa fitrah yaitu mempercayai adanya allah ,dan pada dasarnya seorang anak yang nantinya menentukan baik buruk prilakunya adalah orang tua dan lingkungan sekitarnya.
Membina akhlak pada anak yang masih berusia dini masihlah belum benar benar tertanam dibenaknya apabila orang tua dan lingkungan sekitarnya tidak bersedia untuk mengulang dan mengulang,karena pendidikan bagi anak diusia ini merupakan tahap tahap pengulangan dan ingatan .
Dan apabila proses proses pendidikan , pengajaran ,maupun pengulangan itu dilakukan dengan sebaik baik nya maka akan menghasilkan kebaikan pula.begitu pula seni ,dimana seni merupakan salah satu fitrah yang dimiliki seorang anak ,bahkan prosesnya bisa dimulai sejak dalam kandungan,secara psikologis seni dapat mengembangkan dan menyeimbangkan emosi.sehingga akan terbentuklah pribadi yang nanti nya berakhlak sesuai dengan syariat islam,bertakwa dan beriman sebagai generasi qurani yang diharapkan.. dan diidamkan,dalam menghadapi era globalisasi teknologi yang dapat menyesatkan seluruh umat.
Dimana upaya pembinan ini haruslah bersifat universal , integral dan kontinyu serta berkesinambungan.hal ini dimaksudkan agar pendidikan akhlah dan pembinaan akhlak yang diberikan melalui seni ini nantinya akan benar benar tertanam pada jiwa anak hingga dikehidupan yang akan dating,dan benar benar dinyatakan dalam kehidupan sehari hari.
BAB III
A. LAPORAN HASIL PENELITIAN
1. Gambaran Umum Obyek Penelitian.
A. Latar Belakang TPA Al furqon
1. Tempat belajar .
Taman pendidikan Alfurqon merupakan sebuah taman pengajian yang berdiri dibawah nauangan yayasan masjid Alforqon , namun sejak tahun 2002 atas swadaya dari masyarakat sekitarnya TPA Alfurqon mulai menempati bangunannya sendiri, sehingga tidak lagi bertempat diberanda masjid Alfurqon.
Hingga saat ini Bangunan TPA Alfurqon telah berkembang menjadi
beberapa kelas , yaitu:
1. Ruang kantor .
Ruang kantor ini disekat menjadi dua bagian yaitu:
- ruang kantor guru plus ruang untuk kepala sekolah.
- ruang koperasi dan tempat untuk menyimpan alat peraga.
2. Ruang aula ,ruang ini juga berfungsi sebagai kelas tingkat iqro’1 dan 2.
3. Ruang kelas yang terdiri dari 4 ruang yaitu :
- kelas tingkat iqro’ 3-4.
- kelas tingkat iqro’5.
- kelas tingkat iqro’ 6.
- kelas tingkat al qur’an.
4. kamar mandi.
R I
R II
R III
R IV
R V
R VI
Demi terlaksananya Taman Pendidikan Alqur’an yang baik sesuai dengan tujuan awal yaitu menciptakan generasi islam yang qur’ani ,maka selain menyediakan tempat untuk belajar mengaji TPA Al furqon juga menyediakan sarana-sarana lain yaitu berupa buku-buku iqro’ jilid 1-6,buku materi hafalan serta buku-buku takhsinul kitabah lainnya. selain itu ada juga alat peraga untuk memudahkan praktek belajar membaca dan menulis al qur’an ,misalnya papan tulis , maket tilawati, tape recorder, dan lain sebagainya.
2. Tenaga Pengajar (Guru).
Tenaga pengajar adalah seorang laki laki maupaun prempuan,tua maupun
muda yang memiliki pengetahuan tentang metode metode belajar baca tulis
al qur’an , minimal menguasai salah satu dari padanya dan bersedia mengajar.
yaitu mau mengajar dengan ikhlas.
TPA Alfurqon sebagai sebuah lembaga non formal yang bertujuan
untuk mendidik dan mengajarkan tentang baca tulis alqur’an disertai pendidikan
agama islam guna mempersiapkan generasi islam yang qur’ani.
Demi mencapai tujuan tersebut TPA Alfurqon hingga saat ini merekrut
10 orang ustadzah dan seorang kepala TPA.
10 orang ustadzah ini terbagi tugasnya dalam beberapa tingkat kelas , yaitu :
- Kelas TK A : 2 orang ustadzah.
- Kelas TK B : 2 orang ustadzah.
- Kelas Iqro’ 3-4 : 2 orang ustadzah
- Kelas Al qur’an : 2 orang ustadzah.
- Kelas Iqro’ 5-6 : 2 orang ustadzah.
Penentuan tingkat pendidikan tersebut tidak didasarkan pada kategori umur , tetapi didasarkan kepada tingkat kemampuan santri. Bisa saja anak yang berumur 6 tahun sudah berada ditingkat Tadarus dan sebaliknya yang berumur 10 tahun baru berada ditingkat dasar.
Namun demikian dalam dunia pendidikan pengelompokan santri berdasarkan usia sangatlah diperlukan sebab dapat mempengaruhi perkembangan anak khususnya perkembangan secara psikologis , selain itu juga dapat mempengaruhi suasana dalam proses belajar mengajar.
Dengan demikian sering kali terjadi kerancuan dalam hal pembagian kelas tersebut ,dimana seorang anak yang berumur 6 tahun dalam hal membaca iqro’ telah mampu mencapai tingkat / jilid 6 tapi dalam hal membaca dan menulis masih belum mampu. disinilah sebuah problematika yang sering dihadapi para guru di Taman Pendidikan Al qur’an.Di TPA Alfurqon , pengangkatan kepala TPA dilakukan oleh pengelola yang juga merupakan anggota dari yayasan masjid alfurqon. sedangkan kepala TPA bertanggung jawab dalam hal teknis pendidikan dan kelancaran nya . seperti dalam hal pengadaan tenaga pengajar / guru , pengadaan buku buku , pemeliharaan semua barang inventaris dan lain sebagainya . Tenaga pengajar / guru disini selain bertanggung jawab sebagai pendidik sebagian bertugas untuk mengelola administrasi serta kelengkapannya .misalnya koperasi , pendaftaran murid dan lain lain .
3. Kegiatan Belajar Mengajar
Untuk mencapai tujuan taman pendidikan al qur’an yaitu mengupayakan generasi yang mengenal aksara alqur’an dengan baik , serta menjadikan kebiasaan dan kegemaran membaca alqur’an dengan fasih dan sesuai dengan kaidah tajwid.
maka kegiatan belajar mengajar ini meliputi :
a . Materi Pelajaran.
Materi pelajaran yang diberikan di TPA Al Furqon disesuaikan dengan kondisi serta target dan tujuan masing masing tingkat dalam TPA , materi pelajaran tersebut terbagi sebagai berikut :
1. Tingkat Awal :
- Materi pokoknya adalah belajar membaca alqur’an dengan target bisa membaca alqur’an dengan baik dan mulai mempraktekkan ilmu tajwid.
- Materi tambahan atau penunjangnya adalah hafalan surat surat pendek,do’a sehari hari ,menghafal bacaan sholat dan praktek sholat .
2. Tingkat Tadarus.
Materi pokoknya adalah tadarus alqur’an juz 1 sampai juz 30, dan menghafal mulai surat ad dhuha secara berurutan , pelajaran tajwid , menghafal ayat ayat pilihan .
Materi tambahan atau penunjangnya adalah akhlakul karimah dan pelajaran agama lainnya .
b. Metode Pengajaran di Tingkat Pra TK
Metode pengajaran ialah cara penyampaian bahan pengajaran dalam kegiatan belajar mengajar.dengan demikian metode pengajaran merupakan suatu cara yang dipilih dan dilakukan guru ketika berinteraksi dengan anak didiknya dalam upaya menyampaikan bahan pengajaran tertentu agar bahan pengajaran tersebut mudah dicerna sesuai tujuan pengajaran yang ditargetkan .
Untuk kegiatan belajar mengajar di TK alqur’an ada sejumlah metode saja yang mungkin dapat diterapkan , mengingat tingkat perkembangan anak yang masih sangat dini.maka penerapan metode pengajaran pun harus dilandasi oleh prinsip “bermain sambil belajar”atau “ belajar sambil bermain “.oleh sebab itu penerapan metode metode tersebut perlu disertai kiat kiat khusus berdasarkan pengalaman dan pengamatan guru yang bersangkutan .
Salah satu kemungkinannya adalah dengan memadukan sejumlah metode dalam satu kali pertemuan , atau divariasi dengan pendekatan bermain , cerita , menyanyi ( BCM ) .metode metode yang dapat diterapkandalam kegiatan belajar mengajar di tingkat PRA TK maupun TK alqur’an adalah sebagai berikut :
A. Metode Ceramah
Metode ceramah adalah suatu cara penyampaian bahan pengajaran dalam bentuk penuturan atau penerangan lisan oleh guru terhadap para santrinya / anak didik.
B. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah suatu cara penyampaian bahan pengajaran melalui proses tanya jawab . Siapa yang bertanya siapa yang menjawab , hal itu perlu diatur denga baik agar KBM dapat berjalan efektif dan efisien . Metode Tanya jawab ini dapat digunakan untuk semua bahan pengajaran .
C. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah suatu cara penyampaian bahan pengajaran dalam bentuk mempertunjukkan gerakan – gerakan untuk disaksikan dan ditiru oleh santri / anak didik.
D. Metode Latihan / Drill
Metode latihan / drill adalah suatu cara penyampaian bahan pengajaran dalam bentuk latihan- latihan khusus dalam rangka mengembangkan ketrampilan tertentu di lingkungan para santri/ anak didik.
Bahan pengajaran yang sesuai dengan metode ini adalah pengajaran iqro’, materi hafalan
E. Metode Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas adalah suatu cara penyampaian bahan pengajaran dalam bentuk pemberian tugas tertentu dalam rangka mempercepat target pencapaian tujuan pengajaran dan tujuan pembelajaran yang tekah ditetapkan.
Metode pengajaran ini digunakan secara privat atau klasikal misalnya takhsinul kitabah dan ilmu tajwid . metode ini hamper sama dengan metode latihan /drill.
F. Metode Sosiodrama /Peragaan
Metode sosio drama disebut juga metode bermain peran , suatu cara penyampaian bahan pengajaran dalam bentuk penggambaran hubungan – hubungan sosial dengan cara dramatisasi atau visualisasi .
Metode pengajaran ini yang menuntut gambaran suatu sikap atau perbuatan tertentu misalnya pengajaran praktik berwudhu dan praktik sholat.
c. Pelaksanaan kegiatan Belajar Mengajar untuk Tingkat TK
1. Kegiatan Pembukaan .
Kegiatan pembukaan ini disebut juga sebagai klasikal awal , kegiatan ini diawali dengan membaca do’a pembukaan secara bersama sama mulai dari tingkat pra TK sampai tingkat alqur’an , yang kemudian dilanjutkan dengan menghafalkan do’a sehari hari atau bacaan surat surat pendek.
waktu yang diperlukan untuk kegiatan klasikal awal ini berkisar antara 10 – 15 menit.
2. Kegiatan Inti .
Kegiatan inti ini terdiri dari dua tahap yaitu kegiatan klasikal kelompok dan kegiatan privat . Pada tahap klasikal kelompok materi KBM nya ( Kegiatan Belajar Mengajar ) terdiri dari materi hafalan do’a sehari hari atau surat surat pendek serta tahsinul kitabah ( bimbingan belajar menulis ).
Sedangkan tahap privat berlangsung sesudah tahap klasikal . kegiatan ini berupa kegiatan membaca iqro’dan latihan menulis .
3. Kegiatan Penutup .
Kegiatan penutup ini dilakukan secara klasikal dan disebut sebagai klasikal akhir. waktunya adalah sesudah kegiatan inti berakhir.isi kegiatannya diarahkan pada upaya menciptakan suasana yang menyenangkan anak dan mempererat keakraban diantara sesama mereka .
Dengan begitu kegiatan akhir dari kegiatan harian ini diharapkan akan menjadi “ happy ending ” yang mereka bawa pulang untuk itu guru yang menangani klasikal akhir ini harus mampu mengembangkan kreatifitasnya dengan lebih mengedepankan seni BCM ( bermain , cerita , menyanyi ).
Kegiatan ini diakhiri / ditutup dengan do’a penutup kemudian pulang dengan tertib sambil bersalaman dengan ustadzah .
4. Faktor Penghambat dan Penunjang dalam Menanamkan Nilai-Nilai
Akhlaq Melalui Seni Pada Anak Usia Dini di TPA Al Furqon .
Pada hakekatnya setiap anak memiliki sifat dasar pembawaan sendiri sendiri , yang dalam perkembangannya nanti sifat-sifat itu akan mengalami perubahan menurut lingkungan yang ada disekitarnya.
Seorang anak yang masih kecil tentu saja sangat sulit diharapkan akan bertingkah lakusesuai dengan norma yang berlaku dilingkungan sekitarnya .hal ini disebabkan aspek moral seorang anak merupakan sesuatu yang berkembang dan perlu untuk diperkembangkan .artinya bagaimana anak itu kelak akan bertingkahlaku semua itu kembali pada pengaruh lingkungan kehidupan anak yang ikut memperkembangkannya baik secara langsung maupun secara tidak langsung .
Sikap konsisten dan konsekwensi orang tua baik dalam keluarga maupun dalam mendidik anak - anaknya memiliki peranan yang sangat besar dalam membentuk akhlak anak . demikian juga dengan penghayatan orang tua akan agama yang dianutnya semua itu dapat mempengaruhi keyakinan anak terhadap nilai nilai akhlak yang dijalaninya.
Pada tahun tahun pertama kehidupan seorang anak peranan orang tualah satu satunya yang dikenal dalam hidup anak,anak terutama akan belajar dari orang tuanya bagaimana harus bersikap terhadap orang lain,dan tingkah laku mana yang baik dilakukan atau harus dihindari .
Di tahun tahun berikutnya lingkungan sekitar mulai turut berperan , anak mulai berbaur dengan kelompok sosial disekitarnya , saudara , teman , guru . bahkan anak mulai bisa meniru media seperti televisi . disinilah kadang control kita terlewatkan banyak hal hal yang dapat menarik perhatian dan minat anak, entah baik ataupun buruk .
Dari sekian banyak tayangan ditelevisi musik merupakan satu hal yang paling mudah menarik perhatian anak . ketertarikan ketertarikan tersebut seringkali memberikan pengaruh pengaruh pada prilaku anak .sebagaimana sifat dasar anak yang senang menyanyi dan bermain musik sebagai salah satu ungkapan perasaan juga sebagai sarana bermain bagi anak.
Dan disinilahperan orang tua sebagai lingkungan pertama dan guru sebagailingkungan pendukungnya haruslah saling berhubungan dan berkesinambungan.peran guru baik disekolah maupun diTPA sebagai pendidik akan sangat diperlukan apabila pendidik tersebut bisa dengan kreatif menjadikan ketertarikan anak pada musik sebagai salah satu alat untuk menanamkan nilai nilai akhlak.
Nyanyian atau musik merupakan salah satu ungkapan perasaan , melalui lagu anak dapat mengenal Allah,sifat sifat Allah,keagungan dan ciptaan Allah dengan perasaan gembira.anak dapat belajar tentang kasih sayang dan menghormati orang tua,teman,dan lingkungannya.
Diluar itu semua , banyak sekali hambatan dan tantangan yang dihadapi dunia musik kita saat ini terutama musik bagi anak . kurangnya musik dan nyanyian anak yang bermuatan nilai – nilai akhlak serta banyaknya lagu - lagu dewasa yang syairnya sangat tidak sesuai dengan jiwa anak . jenis musik seperti inilah yang bisa menjadi perusak bagi perkembangan jiwa anak . pada akhirnya guru dan orang tualah yang harus pandai mensiasati dan kreatif
menyajikan musik bagi anak - anak nya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor penghambat upaya penanaman akhlak bagi anak usia dini adalah :
1. Sifat dasar pembawaan dan perkembangan jiwa anak usia dini ( golden age ) yang masih belum stabil , dipengaruhi oleh lingkungan disekitarnya .
2 . Masih adanya orang tua yang berperan dengan sikap kurang konsisten dan konsekwen terhadap pendidikan anak di TPA , berhubungan dengan persepsi orang tua terhadap TPA sebagai sarana pendidikan informal. .
3 . Kurangnya control orang tua terhadap media tontonan yang banyak menarik minat anak .
4 . Masih adanya ustadz / ustadzah yang kurang kreatif memanfaatkan system pengajaran BCM .
Dan faktor penunjangnya adalah :
1 . Daya imajinasi dan daya ingat anak yang masih sangat kuat .
2 . Tingginya kesadaran orang tua terhadap agama dan keteladanan
dari orang tua dan guru .
3 . Peranan orang tua dan guru yang saling melengkapi dan saling
berkesinambungan.
4 . Adanya pelatihan – pelatihan BCM bagi ustadz / ustadzah .
5 . Adanya kurikulum khusus bagi anak tingkat TKA yang
memberikan alokasi waktu bagi pengajaran BCM .
5 . Upaya Guru dan Ustadz / Ustadzah Dalam Menanamkan Nilai Nilai
Akhlak Melalui Seni
TPA merupakan sebuah tempat belajar al qur’an . yang didalamnya tidak hanya mempelajari tentang baca tulis alqur’an saja tapi juga bertujuan untuk mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak , baik fisik , motorik , emosi , sosial dan intelegensi anak.
Sebagaimana layaknya sebuah taman yang merupakan tempat yang indah nyaman dan menyenangkan , tempat yang ditata sedemikian rupa sehingga semua orang dapat menikmatinya . demikian pula halnya dengan TK Alqur’an yang merupakan suatu tempat pendidikan yang diharapkan mampu memberikan pendidikan dengan penuh kenyamanan dan kegembiraan pada anak . dimana anak akan melakukan semua kegiatan dengan perasaan gembira dan tanpa merasa terpaksa .
Berdasarkan hasil interview yang telah dilakukan baik langsung maupun tidak langsung maka diperoleh data bahwa bentuk upaya pembinaan akhlak melalui seni islami bagi anak usia dini adalah
1 . Dengan menerapkan metode pengajaran BCM ( Bermain , Cerita , Menyanyi ) .
2 . Mengajarkan berbagai bentuk kreatifitas seni islami kepada anak dan menerangkan penting nya seni islami .
3 . Menciptakan dan mengembangkan berbagai bentuk kreatifitas seni kepada anak .
4 . Meningkatkan pengetahuan akhlak dan agama islam anak melalui seni islami .
5 . Menciptakan hubungan yang harmonis melalui komunikasi antara orang tua dan guru.
6 . Menciptakan suasana belajar yang penuh kegembiraan .
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A . KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dil akukan sebelumnya maka
kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut :
1. Akhlak anak usia dini di TPA Al Furqon kelurahan Moro krembangan kecamatan Krembangan kota Surabaya adalah masih belum stabil dan cukup baik , sesuai dengan perkembangan jiwanya .
2. Bentuk – bentuk upaya pembinaan akhlak pada anak usia dini melalui seni islami di TPA Al Furqon kelurahan Moro krembangan kecamatan Krembangan kota Surabaya yaitu dengan menerapkan metode pengajaran BCM ( Bermain , Cerita , Menyanyi ) , mengajarkan berbagai bentuk kreatifitas seni islami kepada anak dan menerangkan pentingnya seni islami , menciptakan dan mengembangkan berbagai bentuk kreatifitas seni kepada anak , meningkatkan pengetahuan akhla dan agama islam anak melalui seni islami , menciptakan hubungan yang harmonis melalui komunikasi antara orang tua dan guru , menciptakan suasana belajar yang penuh kegembiraan.
3. Faktor – faktor penunjang dalam upaya pembinaan akhlak pada anak usia dini melalui seni islami di TPA Al Furqon kelurahan Moro krembangan kecamatan Krembangan kota Surabaya adalah daya imajinasi dan daya ingat anak yang masih sangat kuat tingginya kesadaran orang tua terhadap agama dan keteladanan dari orang tua dan guru , peranan orang tua dan guru yang saling melengkapi dan saling berkesinambungan , adanya pelatihan pelatihan BCM bagi ustadz / ustadzah , adanya kurikulum khusus bagi anak tingkat TKA yang memberikan alokasi waktu bagi pengajaran BCM .
B . SARAN - SARAN
Berdasarkan hasil kesimpulan sebagaimana tersebut diatas maka saran – saran yang dapat dikemukakan adalah :
1 . Bagi orang tua sebagai lingkungan pertama yang ditemui oleh anak , hendaknya memberikan teladan serta lingkungan yang baik bagi anak – anaknya , selain itu pemahaman yang tinggi tentang nilai – nilai keagamaan akan memberikan pengaruh yang sangat besar bagi pembentukan seluruh aspek perkembangan anak .
2 . Bagi guru dan ustadz / ustadzah sebagai pendidik , hendaknya banyak memberi teladan yang baik dan menerapkan system pengajaran BCM demi menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan penuh kegembiraan . sehingga akan terbentuk semua aspek kejiwaan yang optimal sebagaimana yang diharapkan bagi masa depan anak .
3 . Bagi lingkungan disekitar TPA Al Furqon hendaknya memberikan dukungan , kepercayaan dan kontribusi yang baik bagi jalannya kegiatan pendidikan di TPA Al Furqon .
C. DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi,Abu dan Noor Salimi ,Dasar – Dasar Pendidikan Agama Islam Diponegoro,Bandung, 1989
Athiyah Al Abrasyi , Dasar –Dasar Pendidikan Islam, Bulan Bintang,Jakarta, 1970
Departemen Agama RI.,Al Qur’an dan Terjemahannya ,Bumi Restu, Jakarta, 1990
Gunarsa ,Singgih D, Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja ,BPK Gunung Mulia,Jakarta, 2000
Humaidi Tatapangarsa ,Akhlak Yang Mulia, Bina Ilmu, Surabaya,1989
Husseini Bahreisj , Ajaran –Ajaran Akhlak Imam Al Ghozali, Al Ikhlas, Surabaya, 1988
Isjoni,Model Pembelajaran Anak Usia Dini,Alfabeta ,Bandung ,2009
Imam Bukhori ,Shoheh Bukhori Juz I , tt
Imam Muslim , Shoheh Muslim Juz II ,tt
Kanwil Departemen Agama Provinsi Jawa Timur , Juknis Pengelolahan TPA , Surabaya , 2006
Lukman Hakim , Bahan Penataran BCM Tka / Tpa LPPTKA BKMPRMI , Surabaya, 2001
Mahmud Yunus , Kamus Arab Indonesia , Yayasan Penyelenggaraan Penafsiran Al Alqur’an , Jakarta, 1973
Mahjudin , Kuliah Akhlak Tasawuf , Kalam Mulia ,Jakarta , 1996
Mudhor Ahmad , Etika Dalam Islam ,Al Ikhlas, Surabaya, 1987
Rifa’i , Muhammad ,300 Hadits , Mudzakir ,Hardi, (ed.) ; Semarang ,2003
Sutrisno Hadi , Metodologi Research I, Andi Offset, Yogyakarta, 1987
Sutrisno Hadi , Metodologi Research II ,Andi Offset , Yogyakarta, 1988
WJS . Poerwadarminta , Kamus Besar Bahasa Indonesia , Balai Pustaka, Jakarta,1990
Zuhairini, dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama , Usaha Nasional, Surabaya, 1993 Pustaka Tambahan
Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama , Bulan Bintang , Jakarta, 1983
http:// id.wikipedia.org/ bahasa
www.depag.go.id
.definisiwww.suaramedia.com
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Masa anak-anak adalah masa yang paling penting masa awal dimana
dasar-dasar kepribadian seseorang terbentuk.disamping itu masa kanak-kanak juga merupakan masa yang rawan dan sensitif,alam bawah sadar terbuka dan penerimaan sangat responsif.setiap perkembangan yang terjadi pada anak sangat dipengaruhi oleh orang,benda dan juga lingkungan yang ada di sekelilingnya.
Apa yang ditangkap pada masa kanak-kanak akan dengan mudah terserap oleh mereka , apalagi bila cara memberikannya sesuai dengan kebutuhan anak . kesan manis atau sebaliknya terhadap apa yang diterima akan masuk kedalam perasaannya.bila kita ingin menanamkan suatu pandangan atau pikiran kepada anak maka tanamkanlah melalui perbuatan ,jadikanlah kebiasaan maka kita akan mendapatkan hasil dari perbuatan itu.
Pada dasarnya daya serap memori manusia dalam hidup yang paling optimal adalah pada masa kanak-kanak , karena perasaan seseorang dari kecil sampai dewasa sedikit sekali yang mengalami perubahan , masa kanak-kanak yang indah maupun yang sebaliknya akan selalu diingat dan tidak akan dilupakan seumur hidupnya.oleh karena itu pada masa kanak-kanak inilah kesempatan yang paling baik menanamkan sekaligus memberikan pembinaan akhlak dan nilai-nilai islam.
Masa depan islam ditentukan oleh bagaimana umat islam saat ini mempersiapkan anak-anak islam dilain sisi pembinaan akhlak bagi anak merupakan salah satu cara dalam mempersiapkan pribadi dan pola pikir anak yang juga berarti mempersiapkan masa depan anak bangsa yang sesuai dengan konsep islam ,agar dapat membentuk komunitas yang islami dimasa yang akan datang.
Sebagaimana yang kita ketahui,sekarang ini banyak sekali terjadi penyimpangan norma-norma disekitar kita , baik norma agama maupun norma masyarakat.pelanggaran dan penyimpangan-penyimpangan norma tersebut tidak lepas dari pengaruh perkembangan zaman yang ditandai oleh semakin berkurangnya nilai-nilai agama yang terpatri dalam masyarakat sekitar kita . dilain pihak,anak –anak yang perkembangannya dipengaruhi oleh lingkungan dan masyarakat sekitarnya sangat menyukai hal –hal baru baik yang didengar maupun yang dilihatnya , terutama yang memiliki nilai keindahan dan seni.
Berbicara mengenai pesatnya perkembangan zaman , disini kita dihadapkan pada tantangan yang maha berat yaitu dampak dari era globalisasi informasi yang akhir-akhir ini sedang hangat dibicarakan khalayak ramai.masyarakat merasakan adanya kekhawatiran terutama dari dampak negatif produk teknologi komunikasi massa (TV , DVD , internet , dan lain sebagainya) terhadap nilai-nilai budaya,moral dan prilaku . bukan hanya terhadap orang dewasa dan remaja bahkan anak-anakpun akan dengan mudah dipengaruhi , terutama bila kita sebagai orang tua dan pendidik kurang memberikan pengawasan dan bimbingan terhadap tontonan anak.
Dilain pihak kita patut bersyukur bahwasanya saat ini telah banyak
menjamur TKA/TPA/TQA diseluruh nusantara yang kelak dapat memberikan harapan bagi perkembangan generasi islam yang berkwalitas akhlak jauh lebih
baik dari sebelumnya kesungguhan dan ketekunan para ustadz/ustadzah benar-benar dituntut dan ditantang keberadaannya , dan para orang tua santripun harus pula memberikan dukungan bukan hanya kepada putra putrinya tapi juga kepada para ustadz/ustadzahnya sebagai pendidik.
Berangkat dari uraian diatas , maka dalam penelitian ini penulis mengambil judul ” UPAYA PEMBINAAN AKHLAK MELALUI SENI ISLAMI BAGI ANAK USIA DINI DI TPA ALFURQON KELURAHAN MORO KREMBANGAN KECAMATAN KREMBANGAN KODYA SURABAYA.
B. RUMUSAN MASALAH .
Merupakan salah satu pokok yang cukup penting dalam kegiatan penelitian sehingga peneliti merasa perlu untuk membuat rumusan-rumusan masalah yang akan diteliti dan dicari jawabannya . peneliti dalam kegiatan ini merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana akhlak anak usia dini di TPA Al furqon kelurahan Morokrembangan kecamatan krembangan kota Surabaya?
2. Bagaimana bentuk-bentuk upaya pembinaan akhlak melalui seni bagi anak usia dini di TPA AL furqon kelurahan Moro krembangan kecamatan Krembangan kota Surabaya?
3. Apa saja faktor-faktor penghambat dan penunjang dalam upaya pembinaan akhlak melalui seni bagi anak usia dini di TPA Alfurqon kelurahan moro krembangan kecamatan krembangan kota Surabaya?
C . TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN.
Tujuan Penelitian.Berdasarkan rumusan masalah yang telah diajukan,maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana akhlak anak usia dini TPA Al furqon kelurahan morokrembangan kecamatan krembangan kota Surabaya
2. Untuk mengetahui bagaimana bentuk-bentuk upaya pembinaan akhlak melalui seni islami bagi anak usia dini diTPA Al furqon kelurahan morokrembangan kecamatan krembangan kota Surabaya
3. Untuk mengetahui faktor-faktor penunjang dan penghambat dalam upaya pembinaan akhlak melalui seni bagi anak usia dini diTPA Alfurqon kelurahan morokrembangan kecamatan krembangan kota Surabaya
Kegunaan Penelitian
Melalui penelitian ini diharapkan akan dapat berguna bagi antara lain
1. Sebagai bahan informasi kepada semua pihak yang terkait, baik santri,ustadz/ustadzah ,orang tua maupun masyarakat sekitarnya tentang upaya pembinaan akhlak melalui seni bagi anak usaia dini di wilayah kelurahan morokrembangan kecamatan krembangan kota Surabaya
2. Sebagai bahan sumbangan pemikiran dalam rangka turut serta mempersiapkan generasi yang memiliki pribadi yang berpola pikir islam,berakhlakul karimah serta berguna bagi agama nusa dan bangsa.
3. Sebagai salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam Strata Satu(S-1)pada Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Taruna Surabaya. .
D. Kajian Pustaka.
Pada dasarnya terdapat terhadap teori yang digunakan sebagai landasan dalam penelitian, yaitu relevansi,kemutakhiran,dan keaslian.relevansi berarti teori yang dikemukakan sesuai dengan masalah yang diteliti,kemutakhiran berarti terkait dengan kebaruan atau teori yang digunakan ,keaslian maksudnya terkait dengan keaslian sumber penelitian.
Bahwasanya kajian pustaka mengenai upaya pembinaan akhlak anak usia
dini melalui seni islami ini masih belum pernah dikaji atau diteliti sebelumnya,namun secara garis besar dapat diambil kesimpulan bahwa:
kata pembinaan dalam kamus bahasa Indonesia adalah usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan dengan cara berdaya guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
Sedangkan kata akhlak berasal dari bahasa Arab khuluqun ( ﺨﻠﻖ ) yang berarti budi pekerti , perangai , tingkah laku , atau tabiat .
Sedangkan yang dimaksud anak usia dini disini adalah anak-anak masa pra sekolah sampai anak masa sekolah , yaitu dengan batasan usia antara 3 tahun sampai 12 tahun.dimana pada masa itu anak telah mengalami perkembangan motorik , bahasa dan social yang semakin meningkat.
Seni adalah bagian dari hidup manusia, merupakan manifestasi dan refleksi dari kehidupan manusia. Seni adalah salah satu bentuk keindahan yang diciptakan Allah , yang merupakan media untuk mensyukuri nikmat Allah , sedangkan fungsi seni adalah untuk ibadah .
E .KERANGKA TEORITIK
1 . Kajian Tentang Akhlak dan Pembinaan akhlak
Perkataan akhlak berasal dari bahasa Arab jamak dari : “khuluqun”
( ﺨﻟﻖ )yang menurut lughot diartikan budi pekerti ,perangai ,
tingkah laku ,atau tabiat . Kata tersebut mengandung persesuaian
dengan kata “kholqun” ( ﺨﻟﻖَ ) yang artinya kejadian .Dan erat
hubungannya dengan kata “kholiq” ( ﺨﺎﻠق ) berarti pencipta ,dan
kata “makhluk” berarti yang diciptakan .
Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata akhlak memiliki makna
yang hampir sama dengan kata perangai , tingkah laku , budi pekerti ,
perilaku dan kelakuan.
Pengertian akhlak menurut rumusan para ulama berbeda-beda tinjauan ,
antara lain :
١ﻠﺨﻠقﻋﺒﺎﺮﺓﻋﻦﻫﯿﺌﺔﻔﮟﺍﻠﻨﻔﺲﺮﺍﺴﺤﺖﻋﻨﻬﺎﺘﺼﺪﺭﺍﻷﻌﺎﻝﺑﺴﻬﻭﻠﺔﻭﯿﺴﺮﻤﻦﻏﻴﺮﺤﺎﺠﺔ
ﺍﻟﻰﻔﻜﺮﻮﺮﻮﯿﺔﻔﺎﻦﻜﺎﻨﺖﺍﻟﻬﯿﺌﺔﺒﺤﺑﺚﺘﺼﺪﺭﻋﻨﻬﺎﺍﻷﻔﻌﺎﻝﺍﻠﺠﻤﻴﻠﺔﺍﻠﻤﺤﻤﻮﺪﺓﻋﻘﻼﻮﺴﺮﻋﺎ
ﺴﻤﻴﺖﺍﻠﻬﻴﺌﺔﺤﺴﻨﺎﻮﺍﻨﻛﺎﻦﺍﻠﺼﺎﺪﺭﻋﻨﻬﺎﺍﻷﻔﻌﺎﻝﺍﻠﻘﺒﯿﺤﺔﺴﻤﯿﺖﺍﻠﻬﯿﺌﺔﺍﻠﺘﻲﻫﻲﺍﻠﻤﺼﺪﺭﺨﻟﻘﺎ
ﺸﯿﺋﺎ
Artinya: akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia) , yang
dapat melahirkan suatu perbuatan yang gampang dilakukan melalui
maksud untuk memikirkan ( lebih lama ) , maka jika sifat tersebut
melahirkan suatu tindakan yang terpuji menurut ketentuan akal dan
norma agama , dimana akhlak yang baik . tetapi manakala ia melahirkan
tindakan yang jahat , maka dinamakan akhlak yang buruk.
a . Al Qurtubi mengatakan :
Suatu perbuatan yang bersumber dari adab kesopanannya disebut akhlak ,
karena perbuatan itu termasuk bagian dari kejadian .
b. Ibnu Maskawaih mengatakan :
“Akhlak adalah keadaan jiwa yang selalu mendorong manusia
berbuat, tanpa memikirkannya ( lebih lama ) .”
d. Abu bakar jabir al jazairi mengatakan :
“Akhlak adalah bentuk kejiwaan yang tertanam dalam diri manusia
yang menimbulkan perbuatan baik dan buruk , terpuji dan tercela dengan
cara yang disengaja. “
Nabi Saw bersabda( رﻮاﻩاﺤﻤﺪ ) ﺇﻧﻤﺎ ﺒﻌڎتﻻﭡﻤﻢﻤﻛﺎرم اﻻﺨﻼﻕ
artinya : “ Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak
yang mulia.” (H.R Ahmad).
١ﻜﻤﻞ١ﻠﻤﺅﻤﻨﻴﻦ١ﻴﻤﺎﻨﺎ١ﺤﺴﻨﻬﻢﺨﻠﻘﺎﻮﺨﻴﺎﺮﻜﻡﺨﻴﺎﺮﻜﻡﻠﻨﺴﺎﺌﻬﻢ( ﺮﻮ١ﮦ١ﻠﺗﺮﻤذى )
Artinya : “ Sesempurna – sempurna orang mukmin imannya , ialah yang
ternaik- naik pekertinya . Dan sebaik – baiknya kamu ialah
yang terbaik pergaulannya terhadap istrinya.” (H.R. Turmudzi).
Sedangkan kata pembinaan dalam kamus bahasa Indonesia pengertian
pembinaan adalah usaha , tindakan dan kegiatan yang dilakukan
dengan cara berdaya guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik .
Dari keterangan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pembinaan akhlak
adalah usaha , tindakan dan kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki tingkah
laku seseorang agar lebih baik dan sesuai dengan ajaran agama islam , dengan
cara memberikan pengertian dan pengarahan tentang nilai-nilai agama islam baik
dibidang akidah , ibadah muamalah maupun akhlak.
2. Kajian Tentang Seni
Seni adalah : kecil dan halus; tipis dan halus .
Sedangkan menurut Sirodjuddin abbas , seni adalah halus , indah ,
permai . dan kesenian adalah hasil yang indah – indah dari kecakapan dan
kepintaran manusia.
SENI ADALAH : Ungkapan perasaan seseorang yang dituangkan
kedalam kreasi dalam bentuk gerak, rupa, nada, syair, yang mengandung
unsue-unsur keindahan, dan dapat mempengaruhi perasaan orang lain.
Sampai saat ini dalam perspektif islam masih menjadi perdebatan
terutama bila sudah menyangkut masalah fiqh,namun sesungguhnya islam
memberikan ruang lingkup yang luas terhadap berbagai ekspresi keindahan
seni. sebagaimana sunan kalijogo membuka ruang dakwahnya melalui seni.
Barangkali pendapat Ernst Diez dalam A Stylistic Analysis of Islam
Art (1982) bisa dijadikan salah satu rujukan. Menurut Diez, seni Islam atau
karya seni ialah pengungkapan sikap pengabdian kepada Allah azza wajalla.
Seni memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi emosi sekaligus kognisi anak. Karena seni sesungguhnya adalah media yang paling nyaman dan mampu memikat anak untuk mempelajari apa pun.
Ketua Asosiasi Pengajar Seni Indonesia, Dr Cut Kamaril Wardani, mengatakan seni merupakan bahasa. Musik merupakan bahasa bunyi bahasa rupa, seni tari dan drama merupakan bahasa bahasa gerak dan mimik.
3. Kajian Tentang Anak
Anak (jamak: anak-anak) adalah seorang lelaki atau perempuan yang belum
dewasa atau belum mengalami masa pubertas.
Dalam kamus besar bahasa indonesia anak juga merupakan keturunan kedua ,
dimana kata "anak" merujuk pada lawan dari orang tua, orang dewasa adalah anak
dari orang tua mereka, meskipun mereka telah dewasa.
Dalam mendefinisikan “anak”, sangat jelas jika mengacu pada ajaran
Islam. Dalam agama Islam definisi anak sangat jelas batasannya. Yakni manusia
yang belum mencapai akil baligh (dewasa). Laki-laki disebut dewasa ditandai
dengan mimpi basah, sedangkan perempuan dengan menstruasi.Jika tanda-tanda
puber tersebut sudah tampak, berapapun usianya maka ia tidak bisa lagi
dikategorikan “anak-anak” yang bebas daripembebanan kewajiban
Menurut Drs Isjoni Msi.Phd anak usia dini adalah individu yang mengalami perkembangan yang sangat pesat ,disebut juga dengan usia golden age(usia berharga) yaitu dengan batasan usia antara 0-4 tahun.
1 . Penentuan Populasi dan Sampel
a.Populasi
Populasi adalah semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian . namun dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi, tetapi oleh Spradley dinamakan social situation atau situasi social yang terdiri atas tiga elemen yaitu: tempat(place),pelaku(actor),aktifitas(activity) yang berinteraksi secara sinergis. .
Sehubungan dengan penelitian ini , maka yang menjadi populasi dalami penelitian ini adalah :.
1. Tempat yaitu TPA Alfurqon unit 228 kecamatan Krembangan Kelurah
an Morokrembangan Kota Surabaya.
2. Pelakunya terdiri dari kepala TPA,para ustadzah,santriwan santriwati
TPA Alfurqon.
3. Aktifitasnya berupa aktfitas belajar mengajar diTPA Alfurqon.
Melihat jumlah populasi yang cukup besar(140 santri) maka dalam penelitian ini digunakan teknik sampling.
b. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi . yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah santri tingkat pra TK sampai tingkat IQRO’ III berjumlah 50 orang . Teknik pengambilan sampel dari poplasi adalah tehnik purposive sampling yaitu pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu.
2. Metode Pengumpulan Data
a. Metode Dokumentasi
Adalah suatu penyelidikan yang ditujukan kepada penguraian dan penjelasan terhadap apa yang telah berlangsung melalui sumber dokumen
Metode ini dipergunakan untuk mengetahui data dokumentasi tentang jumlah santri , tingkat/kelas iqro’,dan lain-lain.
b. Metode Angket
Yaitu sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahuinya .
Metode ini dipergunakan untuk mengetahui data tentang pembinaan akhlak melalui seni islami pada anak usia dini yang dilakukan oleh ustadz –ustadzah TPA Al-Furqon .
c. Metode Observasi
Yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan dan pencatatan dengan sistematis fenomena – fenomena yang diselidiki
Dalam hal ini peneliti menggunakan metode observasi partisipasi yaitu: peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang,mendengarkan apa yang diucapkan , berpartisipasi dalam aktifitas mereka.
Metode ini untuk mengetahui tentang kondisi TPA , sarana dan prasarana TPA dan lain –lain.
d- Metode Interview
Yaitu metode tanya jawab / wawancara baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
Metode ini ditujukan kepada ustadz ustadzah dan kepala TPA Al-Furqon dan digunakan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan pembinaan akhlak melalui seni islami bagi anak usia dini.
3. Tehnik Analisa Data
Bogdan menyatakan bahwa analisis data adalah proses mencari dan dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara,catatan lapangan ,dan bahan bahan lain sehungga dapat mudah difahami ,dan temuannya dapat diinformasikan pada orang lain.
Dalam hal ini peneliti menggunakan teknik analisis deskriptif,yaitu proses
analisis data dengan menggunakan penjabaran melalui tahapan tahapan tertentu.
G.SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Adapun sitematika pembahasan skripsi ini terdiri dari empat bab , dimana antara bab satu dengan bab lainnya saling berkaitan.
Bab pertama , merupakan pendahuluan yang terdiri dari : latar belakang masalah , rumusan masalah , tujuan dan kegunaan penelitian , kajian pustaka , kerangka teoritik , metodologi penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab kedua ,kerangka teoritik yang terdiri dari:pembahasan tentang akhlak yang meliputi :
Bab ketiga , bab ini membahas tentang langkah langkah yang diambil penelitian , dalam hal ini meliputi gambaran umum obyek penelitian dan penyajian analisa data .
Bab keempat , merupakan bab terakhir dan penutup yang berisi tentang kesimpulan dan saran-saran kemudian disertai daftar kepustakaan dan lampiran-lampiran
BAB II
KAJIAN TEORITIK
A. Kajian Tentang Akhlak
1. Pengertian Akhlak dan Pembinaan Aklak
Perkataan akhlak berasal dari bahasa Arab jamak dari :“khuluqun”(ﺨﻟق )
yang menurut lughot diartikan budi pekerti ,perangai , tingkah laku ,atau tabiat .
Kata tersebut mengandung persesuaiandengan kata “kholqun” ( ﺨﻟﻖَ ) yang
artinya kejadian .Dan erat hubungannya dengan kata “kholiq” ( ﺨﺎﻠق )
berarti pencipta ,dan kata “makhluk” berarti yang diciptakan .
Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata akhlak memiliki makna
yang hampir sama dengan kata perangai , tingkah laku , budi pekerti ,
perilaku dan kelakuan.
Pengertian akhlak menurut rumusan para ulama berbeda-beda tinjauan ,
antara lain :
١ﻠﺨﻠقﻋﺒﺎﺮﺓﻋﻦﻫﯿﺌﺔﻔﮟﺍﻠﻨﻔﺲﺮﺍﺴﺤﺖﻋﻨﻬﺎﺘﺼﺪﺭﺍﻷﻌﺎﻝﺑﺴﻬﻭﻠﺔﻭﯿﺴﺮﻤﻦﻏﻴﺮﺤﺎﺠﺔ
ﺍﻟﻰﻔﻜﺮﻮﺮﻮﯿﺔﻔﺎﻦﻜﺎﻨﺖﺍﻟﻬﯿﺌﺔﺒﺤﺑﺚﺘﺼﺪﺭﻋﻨﻬﺎﺍﻷﻔﻌﺎﻝﺍﻠﺠﻤﻴﻠﺔﺍﻠﻤﺤﻤﻮﺪﺓﻋﻘﻼﻮﺴﺮﻋﺎ
ﺴﻤﻴﺖﺍﻠﻬﻴﺌﺔﺤﺴﻨﺎﻮﺍﻨﻛﺎﻦﺍﻠﺼﺎﺪﺭﻋﻨﻬﺎﺍﻷﻔﻌﺎﻝﺍﻠﻘﺒﯿﺤﺔﺴﻤﯿﺖﺍﻠﻬﯿﺌﺔﺍﻠﺘﻲﻫﻲﺍﻠﻤﺼﺪﺭﺨﻟﻘﺎ
ﺸﯿﺋﺎ
Artinya: akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia),yang dapat
melahirkan suatu perbuatan yang gampang dilakukan melalui maksud untuk ter
sebut melahirkan suatu tindakan yang terpuji menurut ketentuan akal dan norma
agama , dimana akhlak yang baik . tetapi manakala ia melahirkan tindakan yang
jahat , maka dinamakan akhlak yang buruk.
a . Al Qurtubi mengatakan :
“ Suatu perbuatan yang bersumber dari adab kesopanannya disebut akhlak ,
karena perbuatan itu termasuk bagian dari kejadian.
b. Ibnu Maskawaih mengatakan :
“Akhlak adalah keadaan jiwa yang selalu mendorong manusia berbuat,
tanpa memikirkannya ( lebih lama ) .
d. Abu bakar jabir al jazairi mengatakan :
“Akhlak adalah bentuk kejiwaan yang tertanam dalam diri manusia yang menimbulkan perbuatan baik dan buruk , terpuji dan tercela dengancara yang disengaja “
Nabi Saw bersabda( رﻮاﻩاﺤﻤﺪ ) ﺇﻧﻤﺎ ﺒﻌڎتﻻﭡﻤﻢﻤﻛﺎرم اﻻﺨﻼﻕ
artinya : Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak
yang mulia. (H.R Ahmad).
١ﻜﻤﻞ١ﻠﻤﺅﻤﻨﻴﻦ١ﻴﻤﺎﻨﺎ١ﺤﺴﻨﻬﻢﺨﻠﻘﺎﻮﺨﻴﺎﺮﻜﻡﺨﻴﺎﺮﻜﻡﻠﻨﺴﺎﺌﻬﻢ( ﺮﻮ١ﮦ١ﻠﺗﺮﻤذى )
artinya :
Sesempurna – sempurna orang mukmin imannya , ialah yang ternaik naik pekertinya . Dan sebaik – baiknya kamu ialah yang terbaik pergaulannya terhadap istrinya . (H.R. Turmudzi).
Sedangkan kata pembinaan dalam kamus bahasa Indonesia pengertian pembinaan adalah usaha , tindakan dan kegiatan yang dilakukan dengan cara berdaya guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik .
Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
perbuatan yang merupakan manifestasi dari akhlak apabila memenuhi dua
syarat yaitu:
1. perbuatan yang dilakukan berulang kali sehingga menjadi kebiasaan.
2. Perbuatan yang dilakukan dengan kesadaran bukan dengan paksaan atau
tanpa kesengajaan.
Sebagaimana disimpulkan oleh Moh.syamsi hasan dan Abu shofiyah
bahwa akhlak adalah ekspresi dari kondisi jiwa yang menimbulkan perbuatan
dengan mudah tanpa direncana dan dipaksakan.
Dari keterangan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pembinaan
akhlak adalah usaha , tindakan dan kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki
tingkah laku seseorang agar lebih baik dan sesuai dengan ajaran agama islam ,
dengan cara memberikan pengertian dan pengarahan tentang nilai-nilai agama
islam baik dibidang akidah , ibadah muamalah maupun akhlak.
( : ﺍﻟﺑﻟﺪ ) ﻮھدﻴﻨﻪ ﺍﻟﻨﺠدﻴﻦ
Artinya :” Maka kami telah memberikan petunjuk kepadanya dua buah
jalan ( jalan yang baik dan yang buruk ).” ( QS. Al Balad : 10
Dari ayat diatas , dapat kita pahami perintah dan dorongan berbuat baik ,sesungguhnya merupakan bakat primordial manusia karena adanya fitrah pada dirinya . Sudut pandang inilah yang mendorong adanya pembinaan dan bimbingan akhlak yang penting dilaksanakan , agar bakat tersebut dapat berkembang dengan baik .
Dalam dunia pendidikan , pembinaan akhlak tersebut dititikberatkan pada pembentukan mental anak atau remaja agar tidak mengalami penyimpanan . Dengan demikian , pembinaan akhlak berarti bahwa anak remaja dituntut agar belajar memiliki rasa tanggung jawab .
Tujuan dari pembinaan akhlak adalah supaya seseorang terbiasa melakukan yang baik dan menghindari yang buruk . Menurut M . Athiyah Al Abrasyi ‘ bahwa tujuan utama dari pendidika islam adalah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang – orang yang bermoral , laki – laki maupun perempuan , jiwa yang bersih , kemauan yang keras , cita – cita yang benar dan akhlak yang tinggi , tahu arti kewajiban dan pelaksanaannya , menghormati hak – hak manusia , tahu membedakan baik dan buruk , memilih satu fadhilah karena cinta pada fadhilah , menghindari suatu perbuatan yang tercela , dan mengingat Tuhan dalam setiap pekerjaan yang mereka lakukan .
2. Macam – Macam Akhlak
a. Akhlak Mahmudah
Yaitu akhlak yang baik atau yang mulia . Diantara contoh – contoh akhlak mahmudah ini adalah :
1) Akhlak yang berhubungan dengan Allah , misalnya :
a) Bertaubat , adalah sikap yang menyesali perbuatan buruk yang
pernah dilakukannya dan berusaha menjauhinya , serta melakukan
perbuatan baik.
b) Bersabar , yaitu suatu sikap yang dapat menahan diri pada
kesulitan yang dihadapinya , tetapi tidak berarti bahwa sabar itu
menyerah tanpa upaya untuk melepaskan diri dari kesulitan yang
dihadapi manusia . Maka sabar yang dimaksudkan adalah sikap
yang diawali dengan ikhtiar , lalu diakhiri dengan ridha dan ikhlas ,
bila seseorang dilanda suatu cobaan dari Tuhan .
c) Bersyukur , yaitu suatu sikap yang selalu ingin memanfaatkan
dengan sebaik – baiknya , nikmat yang telah diberikan Allah
kepadanya , baik yang bersifat fisik maupun non fisik , lalu
disertai dengan peningkatan pendekatan diri kepada yang
memberikan nikmat , yaitu Allah SWT .
2) Akhlak yang berhubungan dengan sesame manusia , antara lain :
a) Belas kasihan , yaitu sikap jiwa yang selalu ingin berbuat baik dan
menyantuni orang lain . Sebagaimana disebutkan dalam surat Ali
Imran ayat 159 )
ﻓﺒﻤﺎﺮﺤﻤﺔﻤﻦﺍﻟﻟﻪﻟﻨﺖﻟﻬﻡﻭﻟﻭﻜﻧﺖﻓﻅﺎﻏﻟﻴﻅﺍﻟﻗﻟﺐﻼﻨﻔﻀﻮﺍﻤﻦﺤﻮﻟﻚ
Artinya :” Maka disebabkan rahmat dari Allah , kamu bersikap
lemah lembut ( merasa kasihan ) terhadap mereka .
Sekiranya kamu berlaku kasar lagi keras hati , tentulah
mereka menjauhkan diri sekelilingmu . “ ( QS. Ali Imran
: 159 )
b) Menahan amarah , yaitu upaya menahan emosi , agar tidak
dikuasai oleh perasaan marah terhadap orang lain . Al Ghozali
membagi kemarahan seseorang dalam tiga macam yaitu :
- Marah yang pertengahan
- Marah yang melampaui batas
- Tidak pemarah
Marah yang pertengahan adalah kemarahan yang terpuji karena dikendalikan marahnya dengan akal dan agama , sehingga timbul usaha pada dirinya untuk melindungi orang lain dan kemudian memadamkannya ketika sifat penyantun yang ada dalam dirinya
dapat dikuasai.
Marah yang melampaui batas yaitu kemarahan yang keluar dari garis – garis agama , dan akal kemudian matanya seolah – olah buta tidak ada fikiran dan tidak ada kesadaran buat berhenti dari marah itu .Orang yang tidak mau menjadi pemarah sedangkan kemarahan itu pada tempatnya , berarti orang itu berjiwa lemah misalnya bersedia menanggung kehinaan walaupun dirinya benar.
c) Sopan santun , yaitu sikap yang lemah lembut terhadap orang
lain , sehingga dalam perkataan dan perbuatannya selalu mengandung
adab kesopanan yang mulia.
b) Akhlak Madzmumah
Yaitu akhlak yang buruk dan tercela. Diantara contoh – contoh akhlak
madzmumah adalah :
1 ) Dusta , yaitu suatu prnyataan dari seseorang yang tidak sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya , baik perkataan maupun perbuatan . Firman Allah dalam surat Ali Imran 61 :
ﺜﻢ ﻨﺑﺘﻬﻝ ﻓﻨﺠﻌﻝ ﻟﻌﻨﺔ ﺍﷲ ﻋﻟﯽ ﺍﻟﻜﺎﺬﺑﯿ
Artinya : “ Ketahuilah ! laknat ( kutukan Allah ) atas orang pendusta .”
( QS . Ali Imran : 61 )
2) Bakhil , yaitu orang yang sangat sulit menafkahkan atau melepaskan apa- apa yang telah menjadi miliknya , walaupun orang lain yang membutuhkannya , dan dia sendiri tidak akan melarat atau terganggu bila sesuatu itu diberikan pada orang lain . Firman Allah dalam surat Ali imron 180
ﻮﻻﯿﺤﺴﺑﻦﺍﻟﺬﯿﻦﯿﺑﺨﻟﻮﻦﺑﻤﺂﺍﺘﻬﻢﺍﷲﻤﻦﻓﺿﻟﻪﻫﻭﺨﯿﺮﺍﻟﻬﻢﱞﺒﻞﻫﻭﺸﺮﻟﻬﻢﱞﺴﯿﻄﻭﻘﻭﻦﻤﺎﺒﺨﻟﻭ
ﯿﻭﻢﺍﻟﻘﯿﺎﻤﺔ ﻭﷲﻤﯿﺮﺍﺚﺍﻟﺴﻤﻭﺍﺖﻭﺍﻼﺮﺾﻭﷲﺒﻤﺎﺘﻌﻤﻟﻭﻦﺨﺒﯿﺮ﴿ﺍﻞﻋﻤﺮﺍﻦ ﴾
Artinya : “ Janganlah menyangka orang – orang yang kikir denga harta
yang dikaruniakan Allah kepadanya itu akan baik baginya
ﻰ
( akan kekal baginya ) , padahal akibatnya sangat jahat bagi
mereka , pada hari kiamat akan digantungkan leher mereka ,
harta yang mereka kikirkan itu , Allah mempunyai langit dan
bumi , dan Allah mengetahui apa – apa yang kamu kerjakan
( QS . Ali Imran : 180 )
3) Dengki dan iri hati , dengki biasanya berpasangan dengan iri hati , sebab
dengki biasanya lahir dari iri hati melihat orang sukses atau berhasil
dalam perjuangannya melalui kerja keras yang sungguh – sungguh dan
ikhlas . Sebagaimana Firman Allah dalam surat An – Nisa’ ayat 32ﻟﻘ
ﻭﻻﺘﺘﻤﻨﻭﺍﻤﺎﻓﺿﻞﷲﺑﻪﺑﻌﻀﻜﻢﻋﻠﻰﺑﻌﺾۗۗ ﻠﻠﺮﺠﺎﻞﻨﺼﯿﺐﻤﻤﺎﺍﻜﺴﺑﻮﻟﻨﺴﺂﺀﻨﺼﺎﯿﺏ
ﻤﻤﺎﺍﻛﺘﺴﺑﻦۗ ﻭﺃﺴﺌﻟﻮﺍﺍﷲﻤﻦﻓﻀﻟﻪﺍﻦﷲﻛﺎﻦﺒﻛﻞﺸﯿﺊﻋﻟﯿﻤﺎ
Artinya : “ Janganlah kamu iri hati , karena Allah memberikan karunia
kepada setengah kaum lebih banyak dari yang lain , Bagi laki
laki keuntungan dari usaha mereka , dan bagi perempuan juga
dari usaha mereka . Mintalah kepada Allaha karuniaNya
( kepentingan hidup ) , bahwasanya Allah mengetahui segala
sesuatu . ( QS . An – Nisa ‘ : 32 ) .
Itulah diantara beberapa contoh akhlak madzmuma yang harus dihindari
yaitu semua tingkah laku atau perbuatan yang bertentangan dengan ajaran islam
3. Sumber – Sumber Ajaran Akhlak
Sebagai sumber pedoman hidup dalam islam yang menjelaskan kriteria baik buruknya sesuatu perbuatan adalah Alqur’an Al Hadits . Kedua dasar itulah yang menjadi landasan dan sumber ajaran islam secara keseluruhan sebagaimana pola untuk menetapkan mana yang baik dan mana yang buruk
Bagi umat islam sumber nilai yang tidak berasal dari Alquran dan sunnah hanya digunakan sepanjang tidak menyimpang atau menunjang system nilai yang bersumber ke pada Alquran dan sunnah . Sumber tersebut adalah nilai yang mondial ( duniawi ) ra’yu ( pikiran ), adat istiadat , dan kenyataan alam .
Rosulullah SAW merupakan contoh dari suri tauladan bagi kita semua .
Hal ini ditegaskan oleh Allah dengan firmanNya dalam surat Al Ahzab ayat 21
ﻟﻘﺪﻜﺎﻦﻟﻜﻢﻓﻲﺮﺴﻭﻞﺍﷲﺍﺴﻭﺔﺤﺴﻨﺔﻜﺎﻦﻴﺮﺠﻭﺍﷲﻭﺍﻠﻴﻮﻡﺍﻷﺧﺮﻮﺬﻜﺮﺍﷲﻜﺜﻴﺮﺍ
ﺍﻷﻫﺯﺍﺐ٢١
Artinya : “ Sesungguhnya telah ada pada diri Rosulullah suri tauladan yang baik
bagimu ( yaitu ) bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan
kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah ( QS.
Al Ahzab : 21 )
Tentang akhlak pribadi Rosulullah dijelaskan pula oleh Aisyah ra .
diriwayatkan oleh Muslim
:ﺍﻦ ﺨﻠﻖ ﺍﻠﻨﺒﻲﺍﷲ ﻜﺎﻦ ﺍﻠﻘﺮﺁﻦ ﺭﻭﺍﻩ ﻤﺴﻠﻡ
Artinya : “ Sesungguhnya akhlak Rosulullah itu adalah Alquran . ( HR. Muslim )
Hadits Rosulullah yang meliputi perkataan dan tingkah laku beliau ,
merupakan sumber akhlak yang kedua setelah Alquran . Segala ucapan dan
perilaku beliau senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah SWT .
4. Pentingnya akhlak bagi kehidupan muslim
Ilmu akhla tidak memberikan jaminan seseorang menjadi baik dan
berbudi luhur . Namun dengan mempelajari akhlak akan membuka mata hati
seseorang untuk mengetahui bahwa ini yang baik dan ini yang buruk . Begitu pula
memberi pengertian apa faedahnya jika berbuat baik dan apa bahayanya jika
berbuat kejahatan .
Akhlak merupakan pondasi yang utama dalam pembentukan pribadi
manusia seutuhnya . dan pendidikan yang mengarah pada terbentuknya pribadi
berakhlak merupakan hal utama yang harus dilaksanakan , sebab hal ini akan
melandasi kestabilan kepribadian manusia secara menyeluruh .
Akhlak memiliki karakter yang berkaitan dengan keimanan dan
ketakwaan . Iman yang kuat akan melahirkan akhlak yang mulia , sedangkan
rusaknya akhlak berpangkal pada kelemahan dan kehilangan iman . Akhlak
mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam islam . dan keruntuhan suatu
bangsa disebabkan oleh runtuhnya dan rusaknya akhlak . Akhlak pada tiap – tiap
pribadi merupakan ikatan yang kuat yang senantiasa mengikat antara yang satu
dengan lainnya . Bila ikatan akhlak ini rusak , maka rusak pulalah nubungan
mereka . Akibatnya jalinan kemasyarakatan akan rusak .
Akhlak yang membedakan manusia sebagai makhluk yang tinggi dan sempurna dari makhluk – makhluk lainnya . Perbedaan asasi antara manusia dan binatang adalah manusia diberi potensi ole Allah , yang dengan potensi itu manusia menerima tugas dari Allah, berbeda dengan binatang karena ia tidak memiliki potensi sebagaimana manusia .
Perbedaan istmewa ini adalah perbedaan aqli , ruhi , akhlaqi , suluki , ijtma’i yang menjadikan hidup ini bermakna dan karakteristik kemanusiaannya semakin jelas .
B. Kajian Tentang Anak Usia Dini
1. Pengertian Anak Usia Dini
Menurut kamus besar bahasa Indonesia pengertian anak adalah keturunan
kedua, yaitu keturunan dari ayah dan ibu.
Dalam agama Islam definisi anak sangat jelas batasannya. Yakni manusia
yang belum mencapai akil baligh (dewasa). Laki-laki disebut dewasa ditandai
dengan mimpi basah, sedangkan perempuan dengan menstruasi. Jika tanda-
tanda puber tersebut sudah tampak, berapapun usianya maka ia tidak bisa
lagi dikategorikan “anak-anak” yang bebas dari pembebanan kewajiban.
Sedangkan anak usia dini adalah anak yang berusia antara 0-6 tahun.
usia ini biasa disebut dengan golden age atau usia keemasan , karena pada masa
ini adalah masa terpenting dalam proses pembinaan tumbuh kembang anak secara
menyeluruh, baik aspek fisik,kognitif,social emosional,seni,agama,bahasa,moral,
dan kemandirian,yang nantinya akan menjadi penentu bagi keberhasilan anak
dimasa yang akan datang.
Dalam dunia pendidikan anak juga dikenal adanya istilah pendidikan anak usia dini yang bertujuan mengembangkan semua potensi yang dimiliki anak dan bukan sekedar untuk mempersiapkan anak masuk sekolah dasar (SD).
Menurut PP No.27/1990 tujuan pendidikan pra sekolah adalah untuk membantu meletakkan dasar dasar kearah perkembangan sikap, pengetahuan, ketrampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.
2. Ciri-Ciri Perkembangan Anak .
a, Masa bayi:
Masa ini banyak disebut sebut berlangsung dari saat bayi lahir sampai
berumur 2 tahun,untuk masa ini lebih penting untuk mengetahui bagaimana
proses bayi lahir,karena dengan mengetahui proses kelahiran tersebut dapat
diketahui sedikit banyak tentang status perkembangan anak untuk dapat
menentukan tindak lanjut.
terdapat beberapa ciri yang merupakan manifestasi dari adanya proses
perkembangan pada bayi :
1.Adanya perkembangan fisik yang Nampak dari bertambahnya ukuran
panjang dan berat badan bayi.
2.perkembangan motorik nampak dari adanya respon bayi terhadap
rangsangan yaitu berupa gerakan seluruh tubuh dan gerakan-gerakan
reflek
3. rasa ingin tahu.
4.adanya permulaan perkembangan bicara (bicara sebagai aspek penting
bagi komunikasi dan alat berpikir.
5.perkembangan emosi dan social.
b. Usia 2-3 tahun
Masa ini disebut juga masa pra sekolah atau bisa juga disebut masa kanak
kanak awal , ada beberapa ciri perkembangan yang tampak pada masa ini
diantaranya:
1.Keseimbangan tubuh meningkat,koordinasi gerakan tangan dan kaki
serta kemampuam konsentrasi juga meningkat.
2.Sangat aktif.
3.Keinginan dan emosinya mudah berubah.
4.Kemampuan berbahasa bertambah pesat dan kata kata singkat,kadang
masih berupa gumam
5.Pandai meniru dan masih bersifat egosentri.
c. Usia 3-4 tahun.
1.Koordinasi antara mata-jari-tangan meningkat serta otot jari tangan
lebih kuat dan lentur.
2.Lebih responsive,sensitive dan ekspresif
3.Kemampuan berpikir dan imajinasi berkembang pesat
4.Mengenal emosi orang lain serta kntrol emosi lebih baik dari
sebelumya.
5.Aktif bicara , ucapan jelas.
6.Mulai berteman,bermusuhan dan menyerang.
d. Usia 4-6 tahun.
1.Kemampuan koordinasi dan konsentrasi semakin berkembang
2.Kepekaan panca indra semakin berkembang serta otot lengan dan kaki
lebih kuat
3.Masih sangat aktif dan mulai dapat menyelesaikan suatu pekerjaan.
4.Dapat menginterpretasi,memprediksi,dan mempengaruhi reaksi emosi
orang lain
5.mampu menyusun kalimat yang lebih komplek,mampu bercerita dan
banyak bertanya.
6.Memahami kaitan antara aturan dan prilaku
7. berat badan dan tinggi badan makin pesat.
3. Perkembangan Moral Anak
Sebagaimana yang kita ketahui kata akhlak memiliki persamaan arti dengan istilah moral yang berasal dari bahasa latin:mos (moris) yang berarti adat istiadat , kebiasaan,tata cara kehidupan .
Pada dasarnya perkembangan moral seorang anak dipengaruhi oleh
unsur-unsur dari luar pribadinya,pada akhir abad ke17 seorang filusuf bernama memperkenalkan teori tabula rasa untuk mengungkapkan pentingnya pengaruh pengalaman dan lingkungan hidup terhadap perkembangan anak.pandangan ini dikenal dengan empirisme (=pengalaman) atau environtmentalisme (=lingkungan) .
Sedangkan JJ.Rousseau menggunakan istilah noble savage untuk mengemukakan pendapat yang bertolak belakang dengan J.locke pandangan ini berpendapat bahwa ketika dilahirkan semua orang mempunyai dasar moral yang baik,dan faktor keturunanlah yang menjadi isi kejiwaan dan gambaran kepribadian seseorang.
menurut J.Piaget dan L.Kohlberg mengatakan perkembangan moral seorang anak sejalan dengan perkembangan kognitifnya ,makin bertambah tingkat pengertian makin banyak pula nilai nilai moral yang dapat ditangkap dan dimengerti anak.
Tahap tahap perkembangan moral anak tersebut ialah:
-Tahap usia 0-3 tahun : pada tahap ini tingkah laku yang ditunjukkan seorang anak hampir sepenuhnya dikuasai oleh dorongan naluriah belaka , pengertian anak tentang baik dan tidak baik juga hanya terbatas pada konsekwensi konsekwensi yang mengikuti tingkah laku tersebut.dan apabila pada anak telah ditanamkan disiplin yang teratur , maka pada usia 3 tahun anak akan mengetahui perbuatan apa yang diperbolehkan karena itu benar,dan perbuatan apa yang tidak disetujui karena itu salah.
-Pada masa ini anak sudah memiliki dasar dasar dari sikap moralitas terhadap kelompok sosialnya, disini anak hanya melakukan perbuatan untuk memperoleh pujian atau hadiah, atau untuk menghindari hukuman.selanjutnya pada usia 5-6 tahun sifat egoisme anak sedang menonjol sehingga untuk menanamkan konsep moral akan mungkin mengalami kesulitan.
C. KAJIAN TENTANG SENI ISLAMI.
1. Pengertian Seni dan Seni Islami
se•ni a 1 halus (tt rabaan); kecil dan halus; tipis dan halus: benda seni , benda
yang halus bahannya dan buatannya; bercelak seni , memakai celak yg halus;
jarum yg seni , jarum yg halus sekali; , suara yg kecil tinggi; 3 mungil daputri yg
seni , putri yang halus kulitnya; ular seni , ular yg kecil; 2 lembut dan tinggi (tt
suara): n elok (tt badan): burung yg seni burung yg kecil dan elok; seni pada
mulanya berasal dari kata Ars (latin) atau Art (Inggris) yang artinya
kemahiran. Ada juga yang mengatakan kata seni berasal dari bahasa belanda yang
artinya genius atau jenius. Sementara kata seni dalam bahasa Indonesia berasal
dari kata sangsekerta yang berarti pemujaan. Dalam bahasa tradisional jawa, seni
artinya Rawit (pekerjaan yang rumit – rumit kecil).
- Seni menurut pengertian para ahli budaya:
a. Drs. Popo Iskandar berpendapat, seni adalah hasil ungkapan emosi yang ingin
disampaikan kepada orang lain dalam kesadaran hidup bermasyarakat
berkelompok
b. Ahdian Karta Miharja, seni adalah kegiatan rohani yang merefleksikan realitas
dalam suatu karya yang bentuk dan isinya mempunyai untuk membangkitkan
pengalaman tertentu dalam rohaninya penerimanya
c. Ki Hajar Dewantara, seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dari
perasaan dan sifat indah, hingga menggerakan jiwa perasaan manusia
d. Plato dan Rousseau, seni adalah hasil peniruan dari alam dengan
segala seginyae•nye•ni a berpendapat halus; lembut: lagunya
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa seni adalah: Ungkapan
perasaan seseorang yang dituangkan kedalam kreasi dalam bentuk gerak, rupa,
nada, syair, yang mengandung unsue-unsur keindahan, dan dapat mempengaruhi
perasaan orang lain.
2.Jenis Jenis Seni dan Batas Batas Seni Islami
A. Kesenian dibagi 4 jenis:
1. Seni Musik adalah curahan perasaan seseorang yang dituangkan dalam
bentuk nada dan syair yang indah.
2. Seni Rupa adalah curahan perasaan. seseorang yang dituangkan dalam
bentuk rupa / gambar-gambar
3. Seni Drama adalah curahan perasaaan seseorang yang dituangkan dalam
bentuk gerak bercerita yang diramu dengan musik yang sesuai.
Seni Tari adalah curahan perasaan seseorang yang dituangkan dalam bentuk gerak anggota badan yang teratur dan berirama.
Dari keempat bentuk seni tersebut ,seni musik merupakan manifestasi dan refleksi dari kehidupan yang paling mudah dicerna oleh syaraf indra kita,bahkan sejak anak masih dalam kandungan,musik merupakan sebuah terapi yang penting bagi proses tumbuh kembang anak , yaitu dalam proses menumbuh kembangkan aspek fisik , emosi, social , dan intelegensi anak.
Nasyid adalah salah satu seni Islam dalam bidang seni suara.Biasanya merupakan nyanyian yang bercorak Islam dan mengandungi kata-kata nasihat, kisah para nabi, memuji Allah, dan yang sejenisnya . Biasanya nasyid dinyanyikan secara acappela dengan hanya diiringi gendang. Metode ini muncul karena banyak ulama Islam yang melarang penggunaan alat musik kecuali alat musik perkusi.
Selain nasyid atau nyanyian atau lagu , bentuk seni suara yang lain adalah lantunan tilawah al qur’an karena didalamnya terkandung ekspresi keindahan, yang dapat membuat pendengarnya terlena.
B. .Jenis Jenis Nasyid di Indonesia.
Nasyid mulai masuk ke Indonesia sekitar era tahun 80-an Perkembangannya pada awalnya dipelopori oleh aktivis-aktivis kajian Islam yang mulai tumbuh .dikampus-kampus pada masa itu. Pada awalnya yang dinyanyikan adalah syair-syair asli berbahasa Arab. Namun akhirnya berkembang dengan adanya nasyid berbahasa Indonesia dan dengan tema yang semakin luas (tidak hanya tema syahid dan jihad). dan pada perkembangannya ,saat ini nasyid menjadi salah satu wawasan seni tersendiri yang bernafaskan pendidikan islam bagi putra putri kita maupun santriwan santriwati kita.
Adapun jenis jenis nasyid yang berkembang diantaranya:
1.Nasyid tradisional yang dibawa oleh para wali berupa tembang tembang diiringi gamelan misalnya tembang ilir ilir dan cublak cublak suweng karya sunan giri.
2.Nasyid dengan bahasa arab yang diiringi musik padang pasir,atau musik gambus
3.Nasyid dengan diiringi rebana .
4.Nasyid dengan bahasa inggris.
5.Nasyid yang diangkat dari kitab kitab diba’ yang banyak didapati di pesantren
pesantren
6.Nasyid nasyid yang dibawakan oleh grup qosidah.
7.Nasyid nasyid berirama pop Indonesia , misalnya lagu lagu ungu,lagu opick,dan
lain sebagainya
8.Nasyid nasyid tanpa iringan musik (acapella) .
C. Batasan Batasan Seni Islami
Dalam agama islam berbicara mengenai seni ,bukan hanya berbicara
masalah estetika atau keindahan saja tapi juga berbicara soal nilai nilai . dalam pengertian ini nilai nilai kehidupan dan nilai moral,batasan tersebut adalah :
1.DR. Yusuf Qordhowi menyimpulkan :
a. tidak bertentangan dengan nilai akhlak dan syariat islam.
c. dilarang berlebih lebihan dalam hiburan , dengan kata lain harus lebih mengu
tamakan waktu untuk beribadah.
d. setiap penikmat dan pendengar seni harus menjaga diri dari syahwat dan fitnah
2. Syaikh jamaluddin alqosimi ad damsyiqi mensarikan memsarikan pendapat
imam Ghozali : bahwa bernasyid atau bersyair yang tercela adalah yang mem
muat pengertian yang diharamkan , misalnya mengurai kecantikan perempuan,
berupa puji pujian atau celaan ,menggambarkan bentuk tubuh,menimbulkan
rasa keji dan mesum ,menyerupai perbuatan pengumbar nafsu, dan bergurau
melampaui batas.menghabiskan waktu untuk semua itu adalah tercela ,adapun
selain itu maka dibolehkan atau hukumnya mubah.
Terlepas dari perhatian ilmuwan dan umara pada musik hingga menjadi karya seni yang mengagumkan, musik selalu saja menjadi bahan polemik banyak ulama. Maklum saja, seni musik memang punya pengaruh yang kuat pada masyarakat sehingga ulama merasa perlu mengawal perkembangannya, apakah sejalan dengan syariat Islam atau tidak
perbedaan pendapat ulama tentang musik mengakibatkan polarisasi pandangan umat Islam terhadap musik itu. Ada musik yang dianggap Islami dan tidak Islami. Warna musik kasidah atau nasyid yang kental dengan pengaruh Arab mendapatkan predikat sebagai musik Islami. Sedangkan, dangdut, keroncong, pop, rock, jazz, dan lain-lain termasuk kategori yang tidak Islami
Ajaran Islam sejatinya sangat apresiatif terhadap karya seni. Karya seni yang mengandung seruan berbuat kebaikan kepada orangtua, mencintai tanah air, menyayangi sesama, memerangi korupsi, menjaga kelestarian alam, termasuk dalam kategori seni yang Islami
3. Seni Bagi Anak
Seni memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi emosi sekaligus kognisi anak. Karena seni sesungguhnya adalah media yang paling nyaman dan mampu memikat anak untuk mempelajari apa pun.
pada dasarnya semua seni cocok diajarkan kepada anak,khusus nya seni lukis,seni peran dan seni suara.dengan melukis anak dapat belajar banyak hal.bah
kan melukis dan menyanyi juga merupakan bagian dari terapi.karena disitu anak dapat mengekspresikan imajinasi , memperoleh kepercayaan diri , eksistensi diri ,
dan keberanian dalam mengungkapkan sesuatu.
Dengan seni anak dapat mengkoordinasikan suatu persoalan dengan baik,
anak juga mampu memberikan respon sesuai hasil yang masuk melalui panca inderanya.anak mampu mengoptimalkan semua potensi diri yang ada dalam diri manusia.kemampuan itu akan mengasah sensitivitas dan kepekaan anak .anak yang sudah dikenalkan seni sejak kecil ,ketika anak punya keinginan kuat untuk
mengekspresikan perasaannya maka anak akan menuangkan nya melalui seni.
Dengan mengenali aneka rasa dan suasana, orangtua dapat mengarahkan
anak untuk menikmati setiap keadaan , orang tua Seni memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi emosi sekaligus kognisi anak. Karena seni sesungguhnya adalah media yang paling nyaman dan mampu memikat anak untuk mempelajari apa pun. dapat mengingatkan bahwa inna maal usri yusro,artinya setelah ada kesulitan pasti ada kemudahan. bahwa setiap kepedihan memiliki tingkatan dan dapat dinikmati sebagai sebuah kesenangan, dalam hal ini seorang tokoh ilmuwan islam,Alfaruqi,mengatakan bahwa alam adalahsebuah teater karena semua yang Allah ciptakan mendalami peran masingmasing .
Pakar pendidikan anak usia dini, Ellen Booth Church, dalam artikelnya From Scribbles to Symbols, mengatakan, seni dikatakan juga sebagai bahasa pertama anak karena mereka menggunakan perasaan dan pengalaman sendiri dalam membuat karya seni. Bahkan melalui goresan-goresan yang sering kita sebut benang kusut anak tengah berkomunikasi melalui media seni. Setiap anak menghasilkan arti yang berbeda-beda dalam setiap tarikan garisnya.
Di masa golden age (usia1-6 tahun) umumnya otak kanan lebih dulu berkembang daripada otak kiri. Menurut Kepala Dinas Pendidikan Dasar dan psikolog anak, Dr Sylviana Murni SH Msi, meski perkembangan otak secara keseluruhan juga penting, orangtua hendaknya memberikan stimulasi yang mengembangkan fungsi otak kanan antara lain melalui kegiatan menyanyi, menari, menggambar, dan bermain .
Hal ini mengindikasikan bahwa stimulasi yang diberikan didasari oleh seni. Berbagai potensi dasar anak yang dapat dikembangkan, yaitu perasaan atau emosi, kapasitas intelektual, perkembangan motorik, kreativitas, kepekaan estetis dan perkembangan sosial.
A.Fungsi Seni Musik Bagi Anak.
Musik adalah bagian dari kehidupan dan perkembangan jiwa manu sia.sedang nyanyian yang merupakan bagian dari musik adalah suatu bentuk
pengungkapan pikiran dan perasaan seseorang melalui kata dan nada,yang berwawasan citra rasa keindahan (estetika) .
Dengan nyanyian seseorang atau anak dapat memanfaatkannya sebagai alat untuk :
1. Mencurahkan pikiran sekaligus perasaan,baik senang .sedih.gembira dan lain
sebagainya.
2. Mengembangkan kreatifitas dan imajinasi .
3. Melatih fungsi syaraf motorik
4. Melatih kepekaan rasa dan kepekaan social pada lingkungan sekitar.
5. Menghayati arti syukur dan kekaguman terhadap nikmat dan kebesaran Allah.
6. Menghayati arti ketaatan,hormat,dan kasih sayang kepada orang tua.
Oleh karena itu dalam memilih dan menciptakan lagu bagi anak haruslah disesuaikan dengan fungsi seni diatas,sekaligus disesuaikan dengan usia anak ,
agar mudah untuk dihafalkan dan difahami oleh anak.
B. Pembelajaran Nyanyian
Dan supaya nyanyian mudah untuk dipelajari dan dihafalkan oleh anak,
1. Untuk membangkitkan minat anak ,dibantu dengan alat peraga,misalnya gam
bar.
2. Untuk menanamkan rasa ritmik ,nyanyian hendaknya diikuti dengan :
- Ketukan atau tepukan
- Gerak tangan dan kaki.
- Alat musik
D. KAJIAN TENTANG TPA
Taman Pengajian Al-Qur’an atau yang lebih dikenal Taman Pendidikan Al-Qur’an ( disingkat TPA) adalah lembaga pendidikan dan pengajaran islam untuk anak-anak,remaja dan dewasa yang menjadikan anak didiknya mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid (kanwil depag prop jatim,juknis pengelolaan tpa).
Taman Pengajian Al-Qur’an (TPA) adalah sebuahsistem pendidikan dan sarana pelayanan keagamaan non formal yang di rancang secara khusus.Sistem ini mampu menampung hasrat dan minat belajar agama bagi anak-anak dan remaja islam bahkan orang dewasa yang ingin mempelajari Al-Qur’an tanpa harus memberikan beban yang berat kepada mereka.Materi pelajaran diformal mudah sehingga mempunyai daya tarik tersendiri,khususnya bagi anak-anak remaja.
Sesuai dengan namanya,Taman Pengajian Al-Qur’an (TPA) menekankan adanya upaya bagaimana murid-murid bisa mengenal aksara Al-Qur’an dengan baik dan benar serta menjadikan kebiasaan dan kegemaran membaca Al-Qur’an (tadarus) secara fasih menurut kaidah tajwid ditambah dengan materi pelajaran keagamaan lainnya.
Taman Pengajian Al-Qur’an adalah nama lain dari Taman Pendidikan Al-Qur’an yang singkatannya yaitu TPA.Istilah Taman Pendidikan telah lebih dahulu di masyarakat.Kata Pengajian adalah kata yang digunakan ,untuk menunjukkan kebebasan dari system pendidikan yang formal.
2. VISI & MISI LEMBAGA TK / TP ALQUR’AN
Taman Kanak Kanak Alqur’an/Taman Pendidikan Al qur’an (TK-TPA) yang kita kenal dewasa ini adalah lembaga pendidikan yang sangat perlu dikem
bangkan bagi kebutuhan pendidikan anak usia pra sekolah dan usia sekolah, di
TKA-TPA dan TQA bukan hanya bertujuan melatih kemampuan membaca dan menulis al qur’an saja ,tetapi bertujuan mengembangkan seluruh aspek perkemba
ngan kognitif ,afektif,dan psikomotorik.
Demi membina iman , akal, dan rasa sehingga diharapkan akan mencetak
generasi yang bertakwa,mulia,sehat,cerdas,terampil,dan kreatif .
A. Visi Lembaga TK /TP Al-qur’an
1. Visi atau wawasan ke depan Lembaga TK /TP Al-Qur’an tercermin dari motto Lembaga yaitu “ Menyiapkan Generasi Qur’ani Menyongsong Masa Depan Gemilang”
2. Generasi Qur’ani ialah generasi yang beriman dan bertaqwa,yang menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan utama dan pedoman hidupnya,berakhlaq mulia,cerdas,terampil,sehat,punya rasa tanggung jawab moral dan sosial,demi masa depan gemilang.
Generasi Qur’ani adalah generasi yang mampu menerjemahkan pesan-pesan Al-Qur’an dalam pentas kehidupan kekinian,dalam rangka mengemban misi “ rahmatan lil ‘alamin “, di tengah-tengah gemuruhnya kemajuan teknologi modern.
Anak-anak usia 4-12 tahun,yang dibina melalui TK /TP Al-qur’an (berseiringan dengan pendidikan mereka di TK dan SD /MI ) diharapkan pada usia dewasa mereka kelak mempunyai kemantapan IMTAQ yang akrab dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan IPTEK. Yaitu IPTEK yang tepat arah dan tepat guna,karena dipandu oleh kesadaran IMTAQ.Mereka tidak hanya menyatu dalam ekosistem ( tatanan lingkungan ) dan jaringan tekno-sistem modern,namun pada waktu yang sama diharapkan menjadi hamba Allah yang Istiqomah dalam psiko-sistem ( tatanan kesadaran ) dan sosio-sistem ( tatanan sosial ) yang islami.
3. Kehadiran gerakan TK/TPA Al qur’an di penghujung abad ke-20 sekaligus mengantar anak TK/TPA dalam memasuki abad ke-21(millennium ke-3),yang ditandai dengan era perdagangan bebas kian memuncaknya globalisasi informasi.komputerisasi alqur’an dan alqur’an digital diharapkan menjadi bagian dari keseharian mereka dalam mengembangkan misi qur’ani,sekaligus siap bersaing dan siap “berperang” melawan setan setan pengguna teknologi modern .
B. Misi Lembaga TK/TPA Alqur’an
TK/TPA alqur’an membawa misi dwi tunggal,yaitu misi pendidikan dan misi dakwah islamiyah :
- Selaku pembawa misi pendidikan,TK/TPA tampil berdampingan dengan pendidikan formal,yaitu pendidikan TK/SD/MI yang segala sesuatunya diatur berdasarkan kebijaksanaan pemerintah. TK/TP Al-Qur’an adalah pendidikan non mal ( luar sekolah ),yakni sebagai pemantap misi pendidikan keagamaan ( Islam ) di TK/SD/MI yang porsinya dipandang kurang. Sekaligus pula membantu peran orang tua dalam pendidikan keagamaan di rumah. Sebab kondisi orangtua pada umumnya kurang siap,berhubung fakyor kesibukan,kelalaian dan atau karena faktor keawaman mereka sendiri.
- Selaku pembawa misi dakwa,TK/TP Al-Qur’an adalah merupakan bagian dari gerakan dakwah Islamiah.Dalam kaitan ini,TK/TP Al-Qur’an erat hubungannya dengan lembaga-lembaga kemasjidandan lembaga-lembaga dakwah pada umumnya.Bahkan secara institusional,unit-unit TK/TP Al-Qur’an berada dibawah pengayoman lembaga-lembaga non pemerintah tersebut.Mengenai peran pemerintah,khususnya Departemen Agama,diharapkan tetap pada posisinya,yaitu bersikap “ tut wuri handayani “ dan tidak menempatkan TK/TP Al-Qur’an berada dibawah struktur administratif instansinya.
Dengan pengelolaan swasta murni seperti itu dimaksudkan agar TK/TP Al-Qur’an ( juga TPA lanjuan/TQA ) tetap menjadi gerakan masyarakat dengan segala kreatifitasnya yang dinamis.
E. Upaya Pembinaan Akhlak Melalui Seni Islami Pada Anak Usia Dini
Dalam alqur’an dan hadits dijelaskan bahwa manusia sejak lahir telah dibekali allah berupa fitrah yaitu mempercayai adanya allah ,dan pada dasarnya seorang anak yang nantinya menentukan baik buruk prilakunya adalah orang tua dan lingkungan sekitarnya.
Membina akhlak pada anak yang masih berusia dini masihlah belum benar benar tertanam dibenaknya apabila orang tua dan lingkungan sekitarnya tidak bersedia untuk mengulang dan mengulang,karena pendidikan bagi anak diusia ini merupakan tahap tahap pengulangan dan ingatan .
Dan apabila proses proses pendidikan , pengajaran ,maupun pengulangan itu dilakukan dengan sebaik baik nya maka akan menghasilkan kebaikan pula.begitu pula seni ,dimana seni merupakan salah satu fitrah yang dimiliki seorang anak ,bahkan prosesnya bisa dimulai sejak dalam kandungan,secara psikologis seni dapat mengembangkan dan menyeimbangkan emosi.sehingga akan terbentuklah pribadi yang nanti nya berakhlak sesuai dengan syariat islam,bertakwa dan beriman sebagai generasi qurani yang diharapkan.. dan diidamkan,dalam menghadapi era globalisasi teknologi yang dapat menyesatkan seluruh umat.
Dimana upaya pembinan ini haruslah bersifat universal , integral dan kontinyu serta berkesinambungan.hal ini dimaksudkan agar pendidikan akhlah dan pembinaan akhlak yang diberikan melalui seni ini nantinya akan benar benar tertanam pada jiwa anak hingga dikehidupan yang akan dating,dan benar benar dinyatakan dalam kehidupan sehari hari.
BAB III
A. LAPORAN HASIL PENELITIAN
1. Gambaran Umum Obyek Penelitian.
A. Latar Belakang TPA Al furqon
1. Tempat belajar .
Taman pendidikan Alfurqon merupakan sebuah taman pengajian yang berdiri dibawah nauangan yayasan masjid Alforqon , namun sejak tahun 2002 atas swadaya dari masyarakat sekitarnya TPA Alfurqon mulai menempati bangunannya sendiri, sehingga tidak lagi bertempat diberanda masjid Alfurqon.
Hingga saat ini Bangunan TPA Alfurqon telah berkembang menjadi
beberapa kelas , yaitu:
1. Ruang kantor .
Ruang kantor ini disekat menjadi dua bagian yaitu:
- ruang kantor guru plus ruang untuk kepala sekolah.
- ruang koperasi dan tempat untuk menyimpan alat peraga.
2. Ruang aula ,ruang ini juga berfungsi sebagai kelas tingkat iqro’1 dan 2.
3. Ruang kelas yang terdiri dari 4 ruang yaitu :
- kelas tingkat iqro’ 3-4.
- kelas tingkat iqro’5.
- kelas tingkat iqro’ 6.
- kelas tingkat al qur’an.
4. kamar mandi.
R I
R II
R III
R IV
R V
R VI
Demi terlaksananya Taman Pendidikan Alqur’an yang baik sesuai dengan tujuan awal yaitu menciptakan generasi islam yang qur’ani ,maka selain menyediakan tempat untuk belajar mengaji TPA Al furqon juga menyediakan sarana-sarana lain yaitu berupa buku-buku iqro’ jilid 1-6,buku materi hafalan serta buku-buku takhsinul kitabah lainnya. selain itu ada juga alat peraga untuk memudahkan praktek belajar membaca dan menulis al qur’an ,misalnya papan tulis , maket tilawati, tape recorder, dan lain sebagainya.
2. Tenaga Pengajar (Guru).
Tenaga pengajar adalah seorang laki laki maupaun prempuan,tua maupun
muda yang memiliki pengetahuan tentang metode metode belajar baca tulis
al qur’an , minimal menguasai salah satu dari padanya dan bersedia mengajar.
yaitu mau mengajar dengan ikhlas.
TPA Alfurqon sebagai sebuah lembaga non formal yang bertujuan
untuk mendidik dan mengajarkan tentang baca tulis alqur’an disertai pendidikan
agama islam guna mempersiapkan generasi islam yang qur’ani.
Demi mencapai tujuan tersebut TPA Alfurqon hingga saat ini merekrut
10 orang ustadzah dan seorang kepala TPA.
10 orang ustadzah ini terbagi tugasnya dalam beberapa tingkat kelas , yaitu :
- Kelas TK A : 2 orang ustadzah.
- Kelas TK B : 2 orang ustadzah.
- Kelas Iqro’ 3-4 : 2 orang ustadzah
- Kelas Al qur’an : 2 orang ustadzah.
- Kelas Iqro’ 5-6 : 2 orang ustadzah.
Penentuan tingkat pendidikan tersebut tidak didasarkan pada kategori umur , tetapi didasarkan kepada tingkat kemampuan santri. Bisa saja anak yang berumur 6 tahun sudah berada ditingkat Tadarus dan sebaliknya yang berumur 10 tahun baru berada ditingkat dasar.
Namun demikian dalam dunia pendidikan pengelompokan santri berdasarkan usia sangatlah diperlukan sebab dapat mempengaruhi perkembangan anak khususnya perkembangan secara psikologis , selain itu juga dapat mempengaruhi suasana dalam proses belajar mengajar.
Dengan demikian sering kali terjadi kerancuan dalam hal pembagian kelas tersebut ,dimana seorang anak yang berumur 6 tahun dalam hal membaca iqro’ telah mampu mencapai tingkat / jilid 6 tapi dalam hal membaca dan menulis masih belum mampu. disinilah sebuah problematika yang sering dihadapi para guru di Taman Pendidikan Al qur’an.Di TPA Alfurqon , pengangkatan kepala TPA dilakukan oleh pengelola yang juga merupakan anggota dari yayasan masjid alfurqon. sedangkan kepala TPA bertanggung jawab dalam hal teknis pendidikan dan kelancaran nya . seperti dalam hal pengadaan tenaga pengajar / guru , pengadaan buku buku , pemeliharaan semua barang inventaris dan lain sebagainya . Tenaga pengajar / guru disini selain bertanggung jawab sebagai pendidik sebagian bertugas untuk mengelola administrasi serta kelengkapannya .misalnya koperasi , pendaftaran murid dan lain lain .
3. Kegiatan Belajar Mengajar
Untuk mencapai tujuan taman pendidikan al qur’an yaitu mengupayakan generasi yang mengenal aksara alqur’an dengan baik , serta menjadikan kebiasaan dan kegemaran membaca alqur’an dengan fasih dan sesuai dengan kaidah tajwid.
maka kegiatan belajar mengajar ini meliputi :
a . Materi Pelajaran.
Materi pelajaran yang diberikan di TPA Al Furqon disesuaikan dengan kondisi serta target dan tujuan masing masing tingkat dalam TPA , materi pelajaran tersebut terbagi sebagai berikut :
1. Tingkat Awal :
- Materi pokoknya adalah belajar membaca alqur’an dengan target bisa membaca alqur’an dengan baik dan mulai mempraktekkan ilmu tajwid.
- Materi tambahan atau penunjangnya adalah hafalan surat surat pendek,do’a sehari hari ,menghafal bacaan sholat dan praktek sholat .
2. Tingkat Tadarus.
Materi pokoknya adalah tadarus alqur’an juz 1 sampai juz 30, dan menghafal mulai surat ad dhuha secara berurutan , pelajaran tajwid , menghafal ayat ayat pilihan .
Materi tambahan atau penunjangnya adalah akhlakul karimah dan pelajaran agama lainnya .
b. Metode Pengajaran di Tingkat Pra TK
Metode pengajaran ialah cara penyampaian bahan pengajaran dalam kegiatan belajar mengajar.dengan demikian metode pengajaran merupakan suatu cara yang dipilih dan dilakukan guru ketika berinteraksi dengan anak didiknya dalam upaya menyampaikan bahan pengajaran tertentu agar bahan pengajaran tersebut mudah dicerna sesuai tujuan pengajaran yang ditargetkan .
Untuk kegiatan belajar mengajar di TK alqur’an ada sejumlah metode saja yang mungkin dapat diterapkan , mengingat tingkat perkembangan anak yang masih sangat dini.maka penerapan metode pengajaran pun harus dilandasi oleh prinsip “bermain sambil belajar”atau “ belajar sambil bermain “.oleh sebab itu penerapan metode metode tersebut perlu disertai kiat kiat khusus berdasarkan pengalaman dan pengamatan guru yang bersangkutan .
Salah satu kemungkinannya adalah dengan memadukan sejumlah metode dalam satu kali pertemuan , atau divariasi dengan pendekatan bermain , cerita , menyanyi ( BCM ) .metode metode yang dapat diterapkandalam kegiatan belajar mengajar di tingkat PRA TK maupun TK alqur’an adalah sebagai berikut :
A. Metode Ceramah
Metode ceramah adalah suatu cara penyampaian bahan pengajaran dalam bentuk penuturan atau penerangan lisan oleh guru terhadap para santrinya / anak didik.
B. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah suatu cara penyampaian bahan pengajaran melalui proses tanya jawab . Siapa yang bertanya siapa yang menjawab , hal itu perlu diatur denga baik agar KBM dapat berjalan efektif dan efisien . Metode Tanya jawab ini dapat digunakan untuk semua bahan pengajaran .
C. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah suatu cara penyampaian bahan pengajaran dalam bentuk mempertunjukkan gerakan – gerakan untuk disaksikan dan ditiru oleh santri / anak didik.
D. Metode Latihan / Drill
Metode latihan / drill adalah suatu cara penyampaian bahan pengajaran dalam bentuk latihan- latihan khusus dalam rangka mengembangkan ketrampilan tertentu di lingkungan para santri/ anak didik.
Bahan pengajaran yang sesuai dengan metode ini adalah pengajaran iqro’, materi hafalan
E. Metode Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas adalah suatu cara penyampaian bahan pengajaran dalam bentuk pemberian tugas tertentu dalam rangka mempercepat target pencapaian tujuan pengajaran dan tujuan pembelajaran yang tekah ditetapkan.
Metode pengajaran ini digunakan secara privat atau klasikal misalnya takhsinul kitabah dan ilmu tajwid . metode ini hamper sama dengan metode latihan /drill.
F. Metode Sosiodrama /Peragaan
Metode sosio drama disebut juga metode bermain peran , suatu cara penyampaian bahan pengajaran dalam bentuk penggambaran hubungan – hubungan sosial dengan cara dramatisasi atau visualisasi .
Metode pengajaran ini yang menuntut gambaran suatu sikap atau perbuatan tertentu misalnya pengajaran praktik berwudhu dan praktik sholat.
c. Pelaksanaan kegiatan Belajar Mengajar untuk Tingkat TK
1. Kegiatan Pembukaan .
Kegiatan pembukaan ini disebut juga sebagai klasikal awal , kegiatan ini diawali dengan membaca do’a pembukaan secara bersama sama mulai dari tingkat pra TK sampai tingkat alqur’an , yang kemudian dilanjutkan dengan menghafalkan do’a sehari hari atau bacaan surat surat pendek.
waktu yang diperlukan untuk kegiatan klasikal awal ini berkisar antara 10 – 15 menit.
2. Kegiatan Inti .
Kegiatan inti ini terdiri dari dua tahap yaitu kegiatan klasikal kelompok dan kegiatan privat . Pada tahap klasikal kelompok materi KBM nya ( Kegiatan Belajar Mengajar ) terdiri dari materi hafalan do’a sehari hari atau surat surat pendek serta tahsinul kitabah ( bimbingan belajar menulis ).
Sedangkan tahap privat berlangsung sesudah tahap klasikal . kegiatan ini berupa kegiatan membaca iqro’dan latihan menulis .
3. Kegiatan Penutup .
Kegiatan penutup ini dilakukan secara klasikal dan disebut sebagai klasikal akhir. waktunya adalah sesudah kegiatan inti berakhir.isi kegiatannya diarahkan pada upaya menciptakan suasana yang menyenangkan anak dan mempererat keakraban diantara sesama mereka .
Dengan begitu kegiatan akhir dari kegiatan harian ini diharapkan akan menjadi “ happy ending ” yang mereka bawa pulang untuk itu guru yang menangani klasikal akhir ini harus mampu mengembangkan kreatifitasnya dengan lebih mengedepankan seni BCM ( bermain , cerita , menyanyi ).
Kegiatan ini diakhiri / ditutup dengan do’a penutup kemudian pulang dengan tertib sambil bersalaman dengan ustadzah .
4. Faktor Penghambat dan Penunjang dalam Menanamkan Nilai-Nilai
Akhlaq Melalui Seni Pada Anak Usia Dini di TPA Al Furqon .
Pada hakekatnya setiap anak memiliki sifat dasar pembawaan sendiri sendiri , yang dalam perkembangannya nanti sifat-sifat itu akan mengalami perubahan menurut lingkungan yang ada disekitarnya.
Seorang anak yang masih kecil tentu saja sangat sulit diharapkan akan bertingkah lakusesuai dengan norma yang berlaku dilingkungan sekitarnya .hal ini disebabkan aspek moral seorang anak merupakan sesuatu yang berkembang dan perlu untuk diperkembangkan .artinya bagaimana anak itu kelak akan bertingkahlaku semua itu kembali pada pengaruh lingkungan kehidupan anak yang ikut memperkembangkannya baik secara langsung maupun secara tidak langsung .
Sikap konsisten dan konsekwensi orang tua baik dalam keluarga maupun dalam mendidik anak - anaknya memiliki peranan yang sangat besar dalam membentuk akhlak anak . demikian juga dengan penghayatan orang tua akan agama yang dianutnya semua itu dapat mempengaruhi keyakinan anak terhadap nilai nilai akhlak yang dijalaninya.
Pada tahun tahun pertama kehidupan seorang anak peranan orang tualah satu satunya yang dikenal dalam hidup anak,anak terutama akan belajar dari orang tuanya bagaimana harus bersikap terhadap orang lain,dan tingkah laku mana yang baik dilakukan atau harus dihindari .
Di tahun tahun berikutnya lingkungan sekitar mulai turut berperan , anak mulai berbaur dengan kelompok sosial disekitarnya , saudara , teman , guru . bahkan anak mulai bisa meniru media seperti televisi . disinilah kadang control kita terlewatkan banyak hal hal yang dapat menarik perhatian dan minat anak, entah baik ataupun buruk .
Dari sekian banyak tayangan ditelevisi musik merupakan satu hal yang paling mudah menarik perhatian anak . ketertarikan ketertarikan tersebut seringkali memberikan pengaruh pengaruh pada prilaku anak .sebagaimana sifat dasar anak yang senang menyanyi dan bermain musik sebagai salah satu ungkapan perasaan juga sebagai sarana bermain bagi anak.
Dan disinilahperan orang tua sebagai lingkungan pertama dan guru sebagailingkungan pendukungnya haruslah saling berhubungan dan berkesinambungan.peran guru baik disekolah maupun diTPA sebagai pendidik akan sangat diperlukan apabila pendidik tersebut bisa dengan kreatif menjadikan ketertarikan anak pada musik sebagai salah satu alat untuk menanamkan nilai nilai akhlak.
Nyanyian atau musik merupakan salah satu ungkapan perasaan , melalui lagu anak dapat mengenal Allah,sifat sifat Allah,keagungan dan ciptaan Allah dengan perasaan gembira.anak dapat belajar tentang kasih sayang dan menghormati orang tua,teman,dan lingkungannya.
Diluar itu semua , banyak sekali hambatan dan tantangan yang dihadapi dunia musik kita saat ini terutama musik bagi anak . kurangnya musik dan nyanyian anak yang bermuatan nilai – nilai akhlak serta banyaknya lagu - lagu dewasa yang syairnya sangat tidak sesuai dengan jiwa anak . jenis musik seperti inilah yang bisa menjadi perusak bagi perkembangan jiwa anak . pada akhirnya guru dan orang tualah yang harus pandai mensiasati dan kreatif
menyajikan musik bagi anak - anak nya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor penghambat upaya penanaman akhlak bagi anak usia dini adalah :
1. Sifat dasar pembawaan dan perkembangan jiwa anak usia dini ( golden age ) yang masih belum stabil , dipengaruhi oleh lingkungan disekitarnya .
2 . Masih adanya orang tua yang berperan dengan sikap kurang konsisten dan konsekwen terhadap pendidikan anak di TPA , berhubungan dengan persepsi orang tua terhadap TPA sebagai sarana pendidikan informal. .
3 . Kurangnya control orang tua terhadap media tontonan yang banyak menarik minat anak .
4 . Masih adanya ustadz / ustadzah yang kurang kreatif memanfaatkan system pengajaran BCM .
Dan faktor penunjangnya adalah :
1 . Daya imajinasi dan daya ingat anak yang masih sangat kuat .
2 . Tingginya kesadaran orang tua terhadap agama dan keteladanan
dari orang tua dan guru .
3 . Peranan orang tua dan guru yang saling melengkapi dan saling
berkesinambungan.
4 . Adanya pelatihan – pelatihan BCM bagi ustadz / ustadzah .
5 . Adanya kurikulum khusus bagi anak tingkat TKA yang
memberikan alokasi waktu bagi pengajaran BCM .
5 . Upaya Guru dan Ustadz / Ustadzah Dalam Menanamkan Nilai Nilai
Akhlak Melalui Seni
TPA merupakan sebuah tempat belajar al qur’an . yang didalamnya tidak hanya mempelajari tentang baca tulis alqur’an saja tapi juga bertujuan untuk mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak , baik fisik , motorik , emosi , sosial dan intelegensi anak.
Sebagaimana layaknya sebuah taman yang merupakan tempat yang indah nyaman dan menyenangkan , tempat yang ditata sedemikian rupa sehingga semua orang dapat menikmatinya . demikian pula halnya dengan TK Alqur’an yang merupakan suatu tempat pendidikan yang diharapkan mampu memberikan pendidikan dengan penuh kenyamanan dan kegembiraan pada anak . dimana anak akan melakukan semua kegiatan dengan perasaan gembira dan tanpa merasa terpaksa .
Berdasarkan hasil interview yang telah dilakukan baik langsung maupun tidak langsung maka diperoleh data bahwa bentuk upaya pembinaan akhlak melalui seni islami bagi anak usia dini adalah
1 . Dengan menerapkan metode pengajaran BCM ( Bermain , Cerita , Menyanyi ) .
2 . Mengajarkan berbagai bentuk kreatifitas seni islami kepada anak dan menerangkan penting nya seni islami .
3 . Menciptakan dan mengembangkan berbagai bentuk kreatifitas seni kepada anak .
4 . Meningkatkan pengetahuan akhlak dan agama islam anak melalui seni islami .
5 . Menciptakan hubungan yang harmonis melalui komunikasi antara orang tua dan guru.
6 . Menciptakan suasana belajar yang penuh kegembiraan .
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A . KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dil akukan sebelumnya maka
kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut :
1. Akhlak anak usia dini di TPA Al Furqon kelurahan Moro krembangan kecamatan Krembangan kota Surabaya adalah masih belum stabil dan cukup baik , sesuai dengan perkembangan jiwanya .
2. Bentuk – bentuk upaya pembinaan akhlak pada anak usia dini melalui seni islami di TPA Al Furqon kelurahan Moro krembangan kecamatan Krembangan kota Surabaya yaitu dengan menerapkan metode pengajaran BCM ( Bermain , Cerita , Menyanyi ) , mengajarkan berbagai bentuk kreatifitas seni islami kepada anak dan menerangkan pentingnya seni islami , menciptakan dan mengembangkan berbagai bentuk kreatifitas seni kepada anak , meningkatkan pengetahuan akhla dan agama islam anak melalui seni islami , menciptakan hubungan yang harmonis melalui komunikasi antara orang tua dan guru , menciptakan suasana belajar yang penuh kegembiraan.
3. Faktor – faktor penunjang dalam upaya pembinaan akhlak pada anak usia dini melalui seni islami di TPA Al Furqon kelurahan Moro krembangan kecamatan Krembangan kota Surabaya adalah daya imajinasi dan daya ingat anak yang masih sangat kuat tingginya kesadaran orang tua terhadap agama dan keteladanan dari orang tua dan guru , peranan orang tua dan guru yang saling melengkapi dan saling berkesinambungan , adanya pelatihan pelatihan BCM bagi ustadz / ustadzah , adanya kurikulum khusus bagi anak tingkat TKA yang memberikan alokasi waktu bagi pengajaran BCM .
B . SARAN - SARAN
Berdasarkan hasil kesimpulan sebagaimana tersebut diatas maka saran – saran yang dapat dikemukakan adalah :
1 . Bagi orang tua sebagai lingkungan pertama yang ditemui oleh anak , hendaknya memberikan teladan serta lingkungan yang baik bagi anak – anaknya , selain itu pemahaman yang tinggi tentang nilai – nilai keagamaan akan memberikan pengaruh yang sangat besar bagi pembentukan seluruh aspek perkembangan anak .
2 . Bagi guru dan ustadz / ustadzah sebagai pendidik , hendaknya banyak memberi teladan yang baik dan menerapkan system pengajaran BCM demi menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan penuh kegembiraan . sehingga akan terbentuk semua aspek kejiwaan yang optimal sebagaimana yang diharapkan bagi masa depan anak .
3 . Bagi lingkungan disekitar TPA Al Furqon hendaknya memberikan dukungan , kepercayaan dan kontribusi yang baik bagi jalannya kegiatan pendidikan di TPA Al Furqon .
C. DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi,Abu dan Noor Salimi ,Dasar – Dasar Pendidikan Agama Islam Diponegoro,Bandung, 1989
Athiyah Al Abrasyi , Dasar –Dasar Pendidikan Islam, Bulan Bintang,Jakarta, 1970
Departemen Agama RI.,Al Qur’an dan Terjemahannya ,Bumi Restu, Jakarta, 1990
Gunarsa ,Singgih D, Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja ,BPK Gunung Mulia,Jakarta, 2000
Humaidi Tatapangarsa ,Akhlak Yang Mulia, Bina Ilmu, Surabaya,1989
Husseini Bahreisj , Ajaran –Ajaran Akhlak Imam Al Ghozali, Al Ikhlas, Surabaya, 1988
Isjoni,Model Pembelajaran Anak Usia Dini,Alfabeta ,Bandung ,2009
Imam Bukhori ,Shoheh Bukhori Juz I , tt
Imam Muslim , Shoheh Muslim Juz II ,tt
Kanwil Departemen Agama Provinsi Jawa Timur , Juknis Pengelolahan TPA , Surabaya , 2006
Lukman Hakim , Bahan Penataran BCM Tka / Tpa LPPTKA BKMPRMI , Surabaya, 2001
Mahmud Yunus , Kamus Arab Indonesia , Yayasan Penyelenggaraan Penafsiran Al Alqur’an , Jakarta, 1973
Mahjudin , Kuliah Akhlak Tasawuf , Kalam Mulia ,Jakarta , 1996
Mudhor Ahmad , Etika Dalam Islam ,Al Ikhlas, Surabaya, 1987
Rifa’i , Muhammad ,300 Hadits , Mudzakir ,Hardi, (ed.) ; Semarang ,2003
Sutrisno Hadi , Metodologi Research I, Andi Offset, Yogyakarta, 1987
Sutrisno Hadi , Metodologi Research II ,Andi Offset , Yogyakarta, 1988
WJS . Poerwadarminta , Kamus Besar Bahasa Indonesia , Balai Pustaka, Jakarta,1990
Zuhairini, dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama , Usaha Nasional, Surabaya, 1993 Pustaka Tambahan
Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama , Bulan Bintang , Jakarta, 1983
http:// id.wikipedia.org/ bahasa
www.depag.go.id
.definisiwww.suaramedia.com
Kamis, 10 Juni 2010
konflik peran adalah
PENDAHULUAN
Bank sebagai lembaga intermediary ikut memberikan kontribusi bagi
pertumbuhan ekonomi. Kepercayaan masyarakat pada institusi perbankan pernah
mengalami tantangan yang paling besar. Banyaknya bank yang mengalami
likuidasi menyebabkan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan
menjadi turun. Akibatnya masyarakat menjadi enggan berhubungan dengan
lembaga keuangan bank dan hal ini membuat pemulihan sektor perbankan
menjadi sulit (Admin, 2007, h. 1).
Penguatan sistem perbankan perlu diikuti oleh penguatan pasar modal,
sebab pasar modal yang sehat menjadi alternatif pemenuhan sumber dana bagi
perusahaan. Bisnis perbankan memerlukan sikap hati-hati dalam menghadapi
perubahan. Produk bank sebagian besar dipengaruhi perubahan pasar. Perubahan
harga saham, perubahan nilai uang dan perubahan suku bunga harus disikapi
secara profesional. Bank perlu selalu menjaga kepercayaan masyarakat dengan
cara memelihara likuiditas yang memadai, tanpa mengorbankan kepentingan
memperoleh profit dan selalu mematuhi regulasi-regulasi yang bersentuhan
dengan bidang perbankan. Untuk melakukan hal tersebut diperlukan kemampuan
manajemen dalam mengelola bank secara profesional (Hanafi, 2006, h. 385).
Salah satu perilaku penting bagi efektifitas organisasi adalah perilaku
keanggotaan organisasi, hal ini seperti yang dikemukakan oleh Katz (1964, h.
132) yang mengidentifikasikan adanya tiga kategori perilaku yang penting bagi
efektifitas organisasi, yaitu : pertama individu harus masuk ke dalam dan tinggal
dalam suatu organisasi, kedua mereka harus menyelesaikan peran khusus dalam
suatu pekerjaan tertentu dan ketiga mereka harus terikat pada aktivitas yang
inovatif dan spontan melebihi persepsi perannya. Kategori terakhir itulah yang
sering disebut sebagai perilaku keanggotaan organisasi.
Menurut Organ (1983, h. 654) perilaku keanggotaan organisasi merupakan
perilaku yang berdasarkan kesukarelaan yang tidak dapat dipaksakan pada batasbatas
pekerjaan dan tidak secara resmi menerima penghargaan tetapi mampu
memberikan kontribusi bagi perkembangan produktifitas dan keefektifan
organisasi. Lebih lanjut Organ menerangkan bahwa perilaku keanggotaan
organisasi dapat memberikan sumbangan peningkatan sosial dalam ruang lingkup
keseluruhan organisasi. Adanya individu yang memiliki perilaku keanggotaan
organisasi akan menguntungkan individu lain dan organisasi yang nantinya juga
akan mempengaruhi individu-individu lain didalam organisasi untuk berperilaku
prososial.
Perilaku Keanggotaan Organisasi atau yang sering disebut OCB adalah
perilaku individu yang bebas memilih, tidak diatur secara langsung atau eksplisit
oleh sistem penghargaan secara formal, dan secara bertingkat mempromosikan
fungsi organisasi yang efektif (Luthans, 2005, h.251). Robbins (2003, h. 30)
mendefinisikan perilaku keanggotaan organisasi itu sebagai perilaku pilihan, tidak
menjadi bagian dari kewajiban kerja formal karyawan, namun mendukung
berfungsinya organisasi tersebut secara efektif.
Konsep perilaku keanggotaan organisasi menurut Spector (2006, h. 258)
adalah perilaku yang dilakukan diluar tugas pekerjaan formal dan memberikan
suatu keuntungan bagi organisasi. Berdasarkan definisi ini, dalam perilaku
keanggotaan organisasi tercakup unsur bahwa perilaku keanggotaan organisasi
artinya karyawan memberikan kontribusi yang positif terhadap organisasi melalui
perilaku diluar formal disamping tetap menjalankan tanggung jawabnya sesuai job
description.
Sementara itu Johns (1996, h. 48) mengemukakan beberapa karakteristik
dari perilaku keanggotaan organisasi yaitu perilaku sukarela yang tidak termasuk
dalam uraian jabatan, perilaku spontan tanpa saran atau perintah seseorang,
perilaku yang bersifat menolong, serta perilaku yang tidak mudah terlihat serta
dinilai melalui evaluasi kinerja.
Tokoh lain, yaitu Graham (1994, h.766) mengkonsepkan perilaku
keanggotaan organisasi sebagai konsep global yang meliputi seluruh perilaku
positif yang relevan secara organisasional dari individu sebagai anggota
organisasi. Dimana perilaku keanggotaan organisasi tersebut memiliki tiga
kategori kecenderungan yaitu ketaatan, loyalitas, dan partisipasi. Ketaatan dapat
ditunjukkan melalui respek terhadap peraturan dan instruksi, ketepatan dalam
menjalankan tugas dan mengelola sumberdaya. Sementara itu, loyalitas
merupakan penandaan terhadap dan kesetiaan pada pemimpin dan organisasi
sebagai keseluruhan, melebihi minat individual, kelompok kerja, dan departemen.
Kategori partisipasi meliputi keterlibatan aktif dan bertanggungjawab dalam
komunitas dengan berbagai cara yang legal secara hukum.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
perilaku keanggotaan organisasi adalah perilaku karyawan yang melebihi dari
deskripsi kerja yang ditentukan, dilakukan secara sukarela, yang secara formal
tidak berada dalam sistem reward (pengimbalan), dan memberikan kontribusi
pada keefektifan organisasi.
Selain memberikan definisi di atas, Organ (dalam Luthans, 2005, h. 251)
memberikan dimensi-dimensi perilaku keanggotaan organisasi, yang juga akan
digunakan dalam penelitian ini yaitu; (1) altruism yaitu perilaku membantu
karyawan lain tanpa ada paksaan pada tugas-tugas yang berkaitan erat dengan
operasi-operasi organisasional (misalnya, membantu rekan kerja dalam bertugas),
(2) civic virtue yaitu perilaku yang menunjukkan pastisipasi sukarela dan
dukungan terhadap fungsi-fungsi organisasi baik secara profesional maupun sosial
alamiah (misalnya, tanpa perintah karyawan rela mewakili perusahaan untuk
program bersama), (3) conscientiousness adalah perilaku yang berisi tentang
kinerja dari prasyarat peran yang melebihi standart minimum (misalnya,
berinisiatif meningkatkan kompetensinya), (4) sportsmanship berisi tentang
pantangan-pantangan membuat isu-isu yang merusak meskipun merasa jengkel
(misalnya, memahami dan berempati saat dikritik), (5) courtesy adalah perilaku
meringankan problem-problem yang berkaitan dengan pekerjaan yang dihadapi
orang lain (misalnya, memiliki inisiatif untuk membantu karyawan baru dalam
menggunakan peralatan bekerja).
Perilaku keanggotaan organisasi dalam bidang pekerjaan dunia perbankan
mempunyai peranan yang sangat penting. Baik buruknya perusahan tergantung
dari pelayanan yang diberikan karyawan terhadap nasabah. BRI Palangkaraya
sebagai leader di Bank BUMN akan terus berusaha menjaga
keprofesionalitasannya dalam melayani nasabah. Tujuan perusahaan ini dapat
dicapai dengan adanya perilaku keanggotaan organisasi yang tinggi dari setiap
karyawannya, sehingga karyawan bertindak melebihi tugas umum pekerjaan
mereka, memberikan kinerja yang melampaui perkiraan, dan mampu memberikan
pelayanan yang optimal kepada nasabah.
Berdasarkan hasil survey awal yang dilakukan kepada karyawan BRI
Palangkaraya melalui metode angket dan wawancara, bentuk-bentuk perilaku
keanggotaan organisasi yang berkembang di kalangan karyawan BRI Kantor
cabang Palangkaraya seperti setiap karyawan dapat dengan segera melakukan
tugas dari rekan kerjanya yang tidak masuk; berusaha menyelesaikan pekerjaan
tepat waktu; saling berbagi informasi baru yang dapat menambah keterampilan
dan pengetahuan.
Perilaku keanggotaan organisasi yang sudah ada di dalam karyawan BRI
Palangkaraya dirasakan masih rendah. Hal ini dikarenakan perilaku yang
ditampilkan masih sesuai atau berkaitan dengan tuntutan kerja yang ada pada
perannya. Perilaku karyawan yang melebihi tuntutan kerjanya dirasakan masih
rendah terlihat dari adanya nasabah atau masyarakat yang mengeluhkan pelayanan
karyawan BRI Palangkaraya yang kurang resposif dan kurang sigap dalam
menangani permasalahan nasabah, kemampuan kerja karyawan yang masih
kurang cakap dalam menghadapi keadaan darurat, kurangnya inisiatif karyawan
mengikuti training, keluhan dari beberapa karyawan bagian operasional yang
mengindikasikan adanya keberatan untuk kerja lembur, serta kurangnya inovasi
karyawan marketing dalam melahirkan ide atau program-program pelayanan
perbankan yang dapat menjangkau dan mendekatkan nasabah lebih dekat lagi
pada BRI Palangkaraya. Kondisi ini bila terus dibiarkan akan melemahkan daya
saing BRI Palangkaraya dalam menghadapi para kompetitor yang semakin
menggeliat.
Pelayanan perbankan seharusnya menjadi lebih responsif terhadap
kepentingan nasabah yang berorientasi kepuasan nasabah dengan ciri-ciri: lebih
memfokuskan diri pada fungsi pengaturan melalui berbagai kebijakan yang
memfasilitasi berkembangnya kondisi kondusif bagi kualitas pelayanan kepada
nasabah, lebih memfokuskan diri pada pemberdayaan nasabah sehingga nasabah
mempunyai rasa memiliki yang tinggi terhadap fasilitas-fasilitas layanan yang
telah dibangun bersama, terfokus pada pencapaian visi, misi, tujuan dari sasaran
yang berorientasi pada hasil sesuai dengan masukan yang digunakan, memberi
akses kepada nasabah dan responsif terhadap pendapat dari nasabah tentang
pelayanan yang diterimanya, lebih mengutamakan antisipasi terhadap
permasalahan pelayanan. Dengan demikian perilaku keanggotaan organisasi
merupakan hal yang penting bagi BRI Palangkaraya, karena adanya perilaku
keanggotaan organisasi yang tinggi diharapkan akan berdampak baik bagi
pelayanan terhadap nasabah. Dalam hal ini karyawan diharapkan lebih cakap,
lebih responsif, lebih sigap, ramah terhadap nasabah dalam menjalankan tugas dan
tetap bertahan di perusahaan serta mempunyai tanggung jawab atas keberhasilan
perusahaan.
Hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan perilaku keanggotaan
organisasi antara lain yang dilakukan Podsakoff, et al. (1997, h. 262) tentang
hubungan perilaku keanggotaan organisasi dengan kuantitas dan kualitas performa
tim kerja pada 218 orang yang bekerja di 40 kru mesin sebuah pabrik kertas di
Northeastern United States membuktikan bahwa perilaku keanggotaan organisasi
berdampak pada kuantitas dan kualitas performance. Hasilnya mengindikasikan
bahwa karyawan yang memiliki perilaku menolong dan sikap sportif akan
menghasilkan produktifitas kerja yang optimal baik secara kuantitas maupun
kualitas. Podsakoff menyimpulkan dampak perilaku keanggotaan organisasi
dalam perusahaan berpengaruh pada meningkatkan produktifitas (rekan kerja,
manajer), menghemat sumber daya, menjadi sarana efektif untuk mengkoordinasi
kegiatan-kegiatan kelompok kerja, meningkatkan stabilitas kinerja organisasi, dan
membantu beradaptasi dengan perubahan lingkungan.
Perilaku menolong dan sikap sportif merupakan sebagian dari dimensi
perilaku keanggotaan organisasi yang tentunya diharapkan BRI ada pada setiap
karyawannya. Karyawan BRI Palangkaraya apabila memiliki perilaku menolong
dan sikap sportif tentu saja akan memberikan input yang positif bagi rekan
kerjanya yang membuat pekerjaan itu cepat diselesaikan dengan baik. Perilaku
menolong dan sikap sportif juga akan semakin mempererat kesatuan karyawan
sebagai tim kerja dalam menampilkan pelayanan yang sebaik mungkin bagi
nasabah.
Perilaku keanggotaan organisasi sebagai perilaku, maka kemunculannya
dalam diri karyawan akan dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor penentu.
Smither (1998, h. 398) menyatakan ada empat faktor penyebab perilaku
keanggotaan organisasi dapat terjadi yaitu ketika karyawan merasa puas dengan
pekerjaannya, menerima perlakuan yang adil dari perusahaan, memiliki komitmen
afektif yang tinggi, dan memiliki hubungan yang baik dengan atasan atau
supervisornya. Empat faktor penyebab tersebut akan mendorong karyawan senang
untuk menunjukkan perilaku melebihi kewajiban kerja dan suka menolong rekan
kerja juga organisasi.
Perilaku keanggotaan organisasi sangat berpengaruh dalam kesuksesan
suatu organisasi, khususnya perbankan yang bergerak dalam pelayanan jasa. Hal
ini bisa dilihat dari faktor-faktor perilaku keanggotaan organisasi yang
mempunyai hubungan dengan kepuasan kerja, komitmen organisasi, keadilan, dan
dukungan pimpinan. Pada kenyataannya, di lapangan karyawan justru sering
menghadapi gesekan-gesekan yang dapat menyebabkan konflik pada karyawan
saat menjalankan perannya. Karyawan yang menduduki posisi tertentu selalu
berhubungan dengan banyak pihak untuk kepentingan yang sama maupun
berbeda. Setiap pihak (yaitu ; pihak atasan, rekan kerja, pihak bawahan, maupun
nasabah) tersebut umumnya memiliki harapan-harapan yang berbeda terhadap
satu posisi yang sama, sehingga karyawan yang menduduki posisi yang
bersangkutan menghadapi kerumitan peranan karena peranan tertentu bisa
memuaskan satu harapan dari pihak tertentu dan sebaliknya tidak memuaskan
harapan pihak yang lain (Suprihanto, et al., 2003, h.129).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Filley dan House (dalam Wexley dan
Yukl, 2005, h. 173) menunjukkan bahwa akibat-akibat konflik peran akan
menimbulkan kepuasan kerja yang rendah dan berpengaruh buruk terhadap
pelaksanaan kerja individu. Suranta (1998, h. 266) menjelaskan bahwa
konsekuensi konflik peran yang semakin meningkat akan mengakibatkan
meningkatnya ketegangan hubungan kerja, mengurangi kepuasan kerja, dan
kecenderungan meninggalkan organisasi. Konflik peran yang tidak dapat
diselesaikan bisa menimbulkan frustasi dan kepuasan kerja yang rendah. Akan
tetapi konflik peran yang terselesaikan dengan baik menjadi satu sumber kepuasan
kerja karyawan. Menurut Hodge, et. al., (1988, h. 104), karyawan yang
memperoleh kepuasan pribadi pada pekerjaannya akan mempunyai minat dan
gembira dalam menjalankan pekerjaannya yang berakibat pada keterlibatannya
dalam usahanya yang semaksimal mungkin dalam perilakunya untuk perusahaan
tempatnya bekerja. Kepuasan kerja tersebut memotivasi para karyawan untuk
bekerja secara efektif dengan menunjukkan hasil kerja yang melebihi sekedar
persyaratan minimal.
Bagi perusahaan, adanya konflik yang dialami karyawan bisa menjadi
sesuatu yang merugikan. Konflik yang tidak ditangani dengan baik akan menjadi
masalah yang berkepanjangan dan akan mempengaruhi dalam pencapaian harapan
kerja yang ditujukan perusahaan kepada karyawan. Dampak perilaku dari konflik
peran tersebut dihasilkan dari persepsi karyawan. Oleh karena itu, penelitian yang
berkaitan dengan perilaku keanggotaan organisasi dan persepsi karyawan terhadap
konflik peran akan sangat menarik untuk diteliti.
Konflik peran terjadi ketika ada berbagai tuntutan dari banyak sumber
yang menyebabkan karyawan menjadi kesulitan dalam menentukan tuntutan apa
yang harus dipenuhi tanpa membuat tuntutan lain diabaikan (Rizzo & Lirtzman,
1970, h. 150-163). Kahn, et al. (dalam Muchinsky. 1993, h. 281) mengemukakan
bahwa konflik peran terjadi ketika dua atau lebih tuntutan terjadi secara
bersamaan dan saling bertentangan satu dengan yang lain sehingga menyebabkan
kesulitan pada karyawan.
Kreitner dan Kinicki (2001, h. 386-388) menyatakan bahwa ketika
individu merasakan adanya tuntutan yang saling bertentangan dari orang-orang di
sekitar maka individu tersebut sedang mengalami konflik peran. Jadi konflik
peran adalah adanya perbedaan atau ketidaksesuaian pengharapan dari anggotaanggota
kumpulan peran (role set) yang menimbulkan konflik terhadap orang
yang dituju (focal person) saat menjalankan perannya. Konflik peran juga dialami
individu ketika nilai-nilai internal, etika, atau standar dirinya bertabrakan dengan
tuntutan yang lainnya.
Konflik peran terjadi ketika seseorang menghadapi ketidakkonsistenan
antara peran yang diterima dengan perilaku peran. Konflik peran tidak sama
dengan ambiguitas peran karena peran yang diterima itu jelas dan spesifik
(Cherrington, 1994, h. 373). Senada dengan pernyataan Cherrington, Ivancevich,
et al. (2007, h. 298) menyatakan konflik muncul ketika seseorang menerima pesan
yang tidak sebanding berkenaan dengan perilaku peran yang sesuai.
Konflik pada pemegang peran dapat terjadi ketika peran dengan beban
kerja berlebih, peran yang kekurangan beban kerja dan rumusan berlebih
(Barners, 1984, h. 120). Luthans (2005, h. 524) menyatakan bahwa konflik peran
terjadi jika karyawan atau anggota tim: (1) diminta untuk melakukan tugas yang
sulit atau (2) diharuskan melakukan tugas yang bertentangan dengan nilai pribadi.
Pada kelompok, konflik peran meningkat, khususnya jika di dalam kelompok
terdapat perilaku nonetis atau antisosial serta jika anggota kelompok menekankan
norma-norma tertentu, sementara pemimpin dan penguasa organisasi formal
menekankan norma lainnya.
Berdasarkan uraian di atas maka pengertian dari konflik peran adalah
konflik yang muncul dalam diri karyawan ketika perilaku peran yang
ditampilkannya tidak sesuai dengan berbagai pengharapan peran yang ia terima
dari anggota kumpulan perannya (yaitu : pihak atasan, rekan kerja, dan pihak
bawahan).
Persepsi karyawan terhadap konflik peran akan mempengaruhi sikap
karyawan dalam menanggapi konflik peran yang ia hadapi. Walgito (2002, h.69-
70) memberikan pengertian persepsi adalah proses mengolah informasi yang
diperoleh melalui penginderaan kemudian diorganisasi dan diinterpretasikan,
membentuk aktifitas yang integrated dalam diri individu yaitu melibatkan
kemampuan berfikir, perasaan dan pengalaman-pengalaman.
Menurut Daffidof (dalam Walgito, 2001, h.54) dengan persepsi, individu
dapat menyadari, mengerti tentang lingkungan sekitar, dan mengerti tentang
keadaan diri. Jadi, persepsi yang merupakan aktivitas ter-integrated, maka seluruh
apa yang ada dalam diri individu seperti perasaan, pengalaman, kemampuan
berpikir, kerangka acuan akan ikut berperan dalam persepsi (Walgito, 2001, h.
54). Hal ini sebagai petunjuk bahwa persepsi melibatkan aspek perasaan atau
afeksi serta kemampuan berpikir atau kognitif.
Kast, et al. (1995, h. 395) menyatakan persepsi sebagai dasar untuk
memahami perilaku, karena ia merupakan alat dengan mana rangsangan (stimuli)
mempengaruhi seseorang atau suatu organisme. Persepsi karyawan yang positif
terhadap konflik peran yang dialami akan menghasilkan perilaku-perilaku yang
konstruktif. Kebalikannya yaitu persepsi karyawan yang negatif akan
menghasikan perilaku-perilaku yang destruktif, dimana perilaku ini selain
merugikan karyawan juga akan merugikan perusahaan.
Berdasarkan uraian di atas maka pengertian persepsi karyawan terhadap
konflik peran adalah penafsiran karyawan terhadap perbedaan ekspektasi peran
dari role set (atasan, rekan kerja, bawahan, keluarga) yang ditujukan padanya,
sehingga mempengaruhi perilaku atau respon yang diambil karyawan.
Aspek-aspek persepsi karyawan terhadap konflik peran berdasarkan pada
aspek-aspek persepsi dari Walgito dan Davidoff (2001, h. 54) yang selanjutnya
dikaitkan dengan jenis-jenis konflik peran dari Katz dan Kahn (dalam Winardi,
2007, h. 198-201) meliputi (1) aspek kognisi dari intra – sender conflict meliputi
interpretasi karyawan terhadap harapan-harapan peran yang saling berbenturan
dari seorang pengirim peran (yaitu : pihak atasan, rekan kerja, pihak bawahan);
(2) aspek kognisi dari inter – sender conflict meliputi interpretasi karyawan
terhadap harapan-harapan peran yang tidak selaras atau bertentangan dari berbagai
anggota role-set (yaitu : pihak atasan, rekan kerja, pihak bawahan); (3) aspek
kognisi dari inter – role conflict meliputi interpretasi karyawan terhadap tuntutantuntutan
yang saling berbeda antara dua peran atau lebih yang harus
dimainkannya dalam waktu bersamaaan; (4) aspek kognisi dari person – role
conflict meliputi interpretasi karyawan terhadap harapan peran yang bertentangan
dengan nilai-nilai, kode etik ataupun tidak sesuai dengan kemampuan dirinya; (5)
aspek afeksi dari intra – sender conflict meliputi kesan dan perasaaan karyawan
terhadap harapan-harapan peran yang saling berbenturan dari seorang pengirim
peran (yaitu : pihak atasan, rekan kerja, pihak bawahan); (6) aspek afeksi dari
inter – sender conflict meliputi kesan dan perasaaan karyawan terhadap harapanharapan
peran yang tidak selaras atau bertentangan dari berbagai anggota role-set
(yaitu : pihak atasan, rekan kerja, pihak bawahan); (7) aspek afeksi dari inter –
role conflict meliputi kesan dan perasaaan karyawan terhadap tuntutan-tuntutan
yang saling berbeda antara dua peran atau lebih yang harus dimainkannya dalam
waktu bersamaaan; (8) aspek afeksi dari person – role conflict meliputi kesan dan
perasaaan karyawan terhadap harapan peran yang bertentangan dengan nilai-nilai,
kode etik ataupun tidak sesuai dengan kemampuan dirinya.
Manusia dengan sifat dinamisnya, selalu ingin memperoleh sesuatu yang
lebih derajatnya, termasuk dalam hal pekerjaan. Harapan yang dimiliki dalam
pekerjaan dimasa lalu dan sekarang adalah memperoleh jaminan rasa aman dalam
menghadapi masa depan dari organisasi (Nawawi, 2000, h.35). Kondisi ini
didukung dengan banyak proses yang terjadi dalam diri individu, yang satu
diantaranya adalah proses persepsi. Hasil dari penilaian tadi diharapkan akan
memunculkan kebutuhan yang memerlukan pemenuhan sehingga dalam merespon
terhadap stimulus yang dikenainya akan dipersepsikan secara berbeda-beda oleh
masing-masing individu. Persepsi tersebut merupakan faktor yang menentukan
terbentuknya sikap terhadap sesuatu penilaian tertentu (Rasimin, 1992, h. 8).
Persepsi seseorang terhadap suatu objek dapat berbeda-beda. Demikian
pula persepsi seorang karyawan terhadap konflik peran dapat berbeda-beda.
Apabila konflik peran dirasakan sebagai sebuah proses pembelajaran ditengah
pertentangan maka karyawan akan mempunyai persepsi yang positif terhadap
konfllik peran. Namun, apabila karyawan menganggap konflik peran tersebut
sebagai suatu kesulitan yang akan mengganggunya dalam bekerja sehingga
karyawan merasa tertekan dan tidak produktif dalam bekerja maka konflik peran
tersebut akan dipersepsi negatif.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada karyawan BRI Kantor
Cabang Palangkaraya, banyak yang mengeluhkan adanya ketegangan dalam diri
mereka saat beban kerja yang terlalu berat, adanya rasa bersalah ketika tidak dapat
mengerjakan tugas dengan optimal, mendapatkan keluhan terhadap pelayanan
yang dirasakannya sudah maksimal ia lakukan, adanya kekeliruan menjalankan
instruksi, kelelahan dengan tuntutan lembur,dan tuntutan kerja dari perusahaan
yang dirasakan terlalu tinggi bagi karyawan. Adanya kerumitan saat bekerja dan
keluhan atas kinerjanya yang tidak sesuai dengan harapan role-set merupakan
indikasi dari konflik peran yang dialami karyawan BRI Palangkaraya.
Penelitian Organ (1987) dan Moorman (1993) menemukan bahwa
kepuasan kerja karyawan dipengaruhi oleh keadaan emosional yang positif
sebagai hasil dari penilaian individu terhadap suatu pengalaman kerja, dimana
karyawan yang puas biasanya akan menunjukkan perilaku citizenship seperti
membantu rekan kerja dan menjadi lebih kooperatif (Luthans, 1995, h. 254). Jadi
konflik peran seharusnya dipersepsikan positif supaya meningkatkan kepuasan
kerja yang bisa mendorong munculnya perilaku keanggotaan organisasi.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konflik peran tidak
bisa dihindari karena konflik merupakan hasil yang alami dari interaksi kelompok
kerja orang (kerja sama). Karyawan yang berada dalam suatu tim pasti memiliki
peran. Didalam memainkan perannya karyawan menghadapi setiap orang yang
mempunyai pengharapan yang berlainan dari adanya bagaimana proses bekerja
dan hasil apa dari proses tersebut. Selain itu, perusahaan juga mengharapkan
karyawan yang memiliki nilai lebih. BRI Palangkaraya yang berhubungan
langsung dengan masyarakat membutuhkan karyawan dengan perilaku
keanggotaan organisasi yang tinggi, sehingga karyawan bertindak melebihi tugas
umum pekerjaan mereka, yang akan memberikan kinerja yang melampaui
perkiraan.
Pengharapan-pengharapan yang tidak dapat terpenuhi memunculkan
konflik dalam diri karyawan. Persepsi karyawan terhadap konflik peran akan
memberikan dampak pada perilaku organisasi mereka. Karyawan yang
memandang konflik peran secara negatif akan melahirkan dampak destruktif yaitu
adanya ketegangan yang berhubungan dengan pekerjaan lebih tinggi, menjadikan
karyawan tidak produktif, kepuasan kerja rendah, sehingga membuat karyawan
sulit untuk menampilkan perilaku yang memenuhi harapan perannya.
Persepsi yang positif terhadap konflik peran akan memberikan dampak
konstruktif. Respon seperti ini pada umumnya menghasilkan konsekuensi
perilaku, kognitif dan psikologis yang lebih baik, memberikan sumbangan yang
cukup untuk membuat seorang karyawan menjadi kritis dan kreatif (Muchlas,
2005, h. 466). Konflik peran yang ditanggapi dengan positif akan memberikan
harapan bagi karyawan bahwa setelah berhasil menyelesaikan konflik peran
dengan baik maka akan menjadikannya karyawan lebih baik dari sebelumnya
sehingga akan meningkatkan kepuasan kerja karyawan. Kepuasan kerja yang
dimiliki karyawan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya
perilaku keangotaan organisasi dari dalam diri karyawan. Organ (dalam Spector,
2006, h. 259) menyatakan bahwa pekerja yang puas akan mempunyai keinginan
lebih untuk memberikan suatu balasan bagi organisasinya dengan menampilkan
perilaku keanggotaan organisasi untuk kemajuan dirinya sebagai karyawan,
kemajuan tim kerjanya, dan kemajuan perusahaan dalam melayani nasabah.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa cara karyawan
mempersepsikan konflik peran dapat memiliki pengaruh penting terhadap efeknya
pada perilaku kerjanya, sehingga dapat dikatakan sesungguhnya persepsi itulah
yang menjadi dasar keputusan seseorang dalam mengembangkan perilaku
kerjanya di dalam organisasi. Oleh karena itu, penelitian ini ingin menguji apakah
ada hubungan antara persepsi karyawan terhadap konflik peran dengan perilaku
keanggotaan organisasi pada karyawan BRI Kantor Cabang Palangkaraya?
METODE PENELITIAN
Definisi Operasional Variabel Penelitian
Definisi operasional variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Perilaku Keanggotaan Organisasi
Perilaku keanggotaan organisasi adalah perilaku karyawan yang
melebihi dari deskripsi kerja yang ditentukan, dilakukan secara sukarela,
yang secara formal tidak berada dalam sistem reward (pengimbalan), dan
memberi kontribusi pada keefektifan organisasi.
Perilaku keanggotaan organisasi diungkap menggunakan Skala
perilaku keanggotaan organisasi yang disusun berdasarkan dimensidimensi
perilaku keanggotaan organisasi menurut pendapat Organ (dalam
Greenberg & Baron, 2003, h. 409 ) yaitu: altruism, conscientiousness,
sportsmanship, courtesy, dan civic virtue.
2. Persepsi Karyawan terhadap Konflik Peran
Persepsi karyawan terhadap konflik peran adalah penafsiran
karyawan terhadap perbedaan ekspektasi peran dari role set (atasan, rekan
kerja, bawahan, keluarga) yang ditujukan padanya, sehingga
mempengaruhi perilaku atau respon yang diambil karyawan.
Positif atau negatif persepsi karyawan terhadap konflik peran dapat
diketahui berdasarkan aspek persepsi yang meliputi aspek kognisi dan
aspek afeksi yang dikaitkan dengan jenis-jenis konflik peran yang
disimpulkan berdasarkan pendapat Katz & Kahn (dalam Winardi, 2007,
h.198-201) yaitu : intra-sender conflict, inter-sender conflict, inter-role
conflict, dan person-role conflict.
Subjek Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah 120 karyawan PT BRI Kantor Cabang
Palangkaraya. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan tehnik
purposive non random sampling.
HASIL PENELITIAN
Uji Hipotesis
Analisis regresi sederhana menunjukkan seberapa besar hubungan antara
persepsi karyawan terhadap konflik peran dengan perilaku keanggotaan organisasi
melalui rx2y = 0,247dengan p = 0,007 (p<0,05). Tanda positif menunjukkan arah
hubungan positif yang berarti bahwa semakin positif persepsi karyawan terhadap
konflik peran maka perilaku keanggotaan organisasi karyawan BRI Kantor
Cabang Palangkaraya semakin tinggi.
Deskripsi Subjek Penelitian
1) Variabel Perilaku Keanggotaan Organisasi
Kondisi Empiris Perilaku Keanggotaan Organisasi
SR R S T ST
- -
19,17 %
23 karyawan
56,67 %
68 karyawan
24,16 %
29 karyawan
49 63 77 91
2) Variabel Persepsi Karyawan terhadap Konflik Peran
Kondisi Empiris Persepsi Karyawan terhadap Konflik Peran
SN N S P SP
0,83 %
1 karyawan
0,83 %
1 karyawan
10,83 %
13 karyawan
64,17 %
77 karyawan
23,34 %
28 karyawan
50,75 65,25 79,75 94,25
PEMBAHASAN
Adanya penyelesaian konflik yang dimulai dengan persepsi yang positif
akan memberikan dampak yang positif juga bagi perilaku karyawan dalam
bekerja. Konflik bagaimanapun sulitnya dapat diselesaikan oleh para karyawan
dengan melihat persoalan serta mendudukkannya pada proporsi yang wajar,
menyadari hambatan serta kendala yang berada di luar kemampuan kita,
memperhatikan peraturan permainan yang kita setujui bersama, serta
mengusahakan pelaksanaan secara konsekuen keputusan yang telah diambil dan
telah kita setujui bersama. Konflik dapat mengarahkan ke inovasi dan perubahan,
dapat menggerakkan karyawan-karyawan untuk melaksanakan kegiatan,
mengembangkan proteksi bagi pihak-pihak yang lemah dalam organisasi, dan
merupakan elemen penting dalam analisis sitem organisasi. Faktor-faktor tersebut
menunjukkan bahwa konflik peran dapat dikelola, agar berguna bukan
menghambat, untuk pencapaian tujuan dalam organisasi modern (Sukartono &
Handoko, 2001, h. 245). Konflik peran yang dipersepsikan positif dapat
memberikan tantangan kepada karyawan untuk semakin optimal dalam bekerja.
Tantangan tersebut menghasilkan kegairahan karyawan dalam bekerja. Suasana
hati yang positif ini memicu produktifitas kerja karyawan yang akan berkontribusi
bagi keefektifan perusahaan melayani nasabah. Partisipasi karyawan yang
mendapatkan arahan serta dukungan dari atasan juga semakin mendukung
terlahirnya perilaku keanggotaan organisasi dari karyawan.
Pimpinan yang baru di BRI Kantor Cabang Palangkaraya dirasakan sangat
tegas dan menekankan agar karyawan dapat selalu meningkatkan ketrampilan
kerja dan memberikan inovasi-inovasi yang dapat memajukan perusahaan.
Pimpinan selalu mendengungkan kepada karyawan bahwa karyawan yang tidak
berinovasi akan menyebabkan kelesuan diri yang juganya akan berdampak pada
perusahaan. Gaya pimpinan yang baru menginspirasikan dan memotivasi
karyawan untuk berprestasi melampaui harapan. Nilai-nilai ini menjadikan
karyawan untuk menghadapi konflik peran dengan persepsi yang positif supaya
tidak menghalangi karyawan untuk bekerja secara efektif dan mengembangkan
ketrampilannya. Karyawan melihat konflik peran sebagai suatu hal yang wajar
saat bekerja dengan tim dalam melayani nasabah. Oleh karena itu karyawan lebih
memilih untuk segera menangani konflik daripada membiarkannya berlarut-larut.
Hasil interview menjelaskan bahwa karyawan sangat menghidupi moto
perusahaan untuk melayani nasabah dengan setulus hati dan good coorporate
governance untuk mencegah atau meminimalisir konflik atau permasalahan yang
ada. Penelitian yang dilakukan Behfar, et al. (2008, h. 184) membuktikan bahwa
resolusi konflik yang tepat menghasilkan performa kerja yang tinggi dan kepuasan
kerja yang tinggi. Netmeyer (1997, h. 85-98) menjelaskan adanya anteseden kunci
dan konsekuensi antara konflik peran, kinerja pelayanan pada pelanggan dan
stress kerja. Dalam penelitian mereka, tingkat stres kerja karyawan menjadi
prediktor utama terhadap in-role performance supervisor dan extra-role
performance karyawan dan pelanggan secara langsung. Para peneliti telah
melakukan observasi, jika kelompok-kelompok menganalisis berbagai keputusan
yang telah dibuat oleh perseorangan dalam kelompok, perbaikan rata-rata diantara
kelompok dengan konflik yang tinggi adalah 73% lebih besar daripada diantara
kelompok-kelompok dengan kondisi konflik yang rendah (Muchlas, 2005, h.
478). Jadi persepsi yang positif menghasilkan penilaian yang baik dimana konflik
peran bukanlah sebagai ”momok” yang menakutkan, melainkan konflik dinilai
sebagai proses pembelajaran yang memberikan perubahan karyawan menuju pada
peningkatan kualitas pengambilan keputusan, menstimulasi kreativitas dan
inovasi, serta kinerja yang cenderung lebih meningkat.
Penelitian Organ (1987) dan Moorman (1993) menemukan bahwa
kepuasan kerja karyawan dipengaruhi oleh keadaan emosional yang positif
sebagai hasil dari penilaian individu terhadap suatu pengalaman kerja, dimana
karyawan yang puas biasanya akan menunjukkan perilaku keanggotaan organisasi
seperti membantu rekan kerja dan menjadi lebih kooperatif (Luthans, 1995, h.
254).
Organ (1988) dikutip oleh Smither (1998, h. 397) menjelaskan pengertian
perilaku keanggotaan organisasi sebagai perilaku individu yang bebas, tidak
berkaitan secara langsung atau eksplisit dengan sistem reward dan bisa
meningkatkan fungsi efektif organisasi. Greenberg dan Baron menegaskan bahwa
perilaku keanggotaan organisasi berkontribusi baik untuk perusahaan dan
dirinya.Secara umum ada tiga komponen utama perilaku keanggotaan organisasi
yaitu; perilaku yang lebih dari ketentuan formal atau deskripsi pekerjaan yang
telah ditentukan, bersifat sukarela, dan tindakan tersebut tidak dihargai dengan
imbalan formal oleh organisasi (Greenberg dan Baron 2003, h. 408).
Karyawan yang mempunyai perilaku keanggotaan organisasi yang tinggi
ditandai dengan adanya perilaku positif yang ditunjukkan karyawan, baik terhadap
perusahaan maupun rekan kerjanya dan berhasil menciptakan iklim kerja yang
mampu menumbuhkan dan mendorong motivasi karyawan untuk memberikan
kinerja terbaiknya dan secara tidak langsung kondisi ini akan meningkatkan
fungsi efektif organisasi.
Berdasarkan hasil penelitian ini, perilaku keanggotaan organisasi yang
ditampilkan karyawan BRI Kantor Cabang Palangkaraya yaitu kerelaan
memberikan bantuan kepada orang lain, melakukan pekerjaan dengan senang hati,
peningkatan disiplin diri, tidak menunda melaksanakan pekerjaan, dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan kerjanya, serta melaksanakan tugas dengan
penuh tanggung jawab. Faktor yang mendorong terjadinya perilaku keanggotaan
organisasi yang ditampilkan karyawan BRI Palangkaraya ini dipengaruhi oleh
faktor kepuasan kerja yang dihasilkan dari persepsi positif karyawan terhadap
konflik peran.
Konflik peran yang dipersepsikan secara positif mendorong karyawan
untuk dapat menangani konflik dengan menghasilkan resolusi konflik yang tepat
sehingga bisa berdampak pada performa kerja karyawan yang menjadi kritis
terhadap intern organisasi, tanggap terhadap perubahan, kreatif dan cepat
beradaptasi. Dukungan dari atasan juga menguatkan karyawan untuk dapat tetap
produktif dalam bekerja meskipun sedang mengalami konflik peran. Resolusi
konflik dan dukungan yang diterima dari atasan mendorong kemunculan dampak
kosntruktif dari konflik peran yang dihadapinya. Hal ini senada dengan Du Brin
(1984, h. 356) yang mengemukakan dampak positif konflik antara lain seperti
menimbulkan perubahan secara konstruktif; segala daya dan motivasi tertuju pada
pencapaian tujuan; merangsang inovasi dan meningkatkan keeratan kelompok;
menggantikan tujuan yang tidak relevan; manajemen konflik menguntungkan
organisasi; hubungan antar pribadi dan antar kelompok mendorong ke arah
peningkatan kesehatan organisasi; dan konflik dapat mengurangi ketegangan
dalam bekerja.
Adanya dampak konstruktif tersebut menjadi wujud prestasi kerja karyawan yang
memberikan kepuasan kerja pada karyawan. Hasibuan (2001, h. 202) menyatakan
bahwa kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai
pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan, dan prestasi
kerja. Disamping itu, kualitas perasaan seseorang terhadap pekerjaannya
mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang berhubungan erat dengan
produktifitas kerja dan efektifitas organisasi. Kepuasan pribadi pada tugasnya
mengarahkan karyawan untuk keterlibatannya dalam berusaha semaksimal
mungkin untuk perusahaan dengan menampilkan perilaku keanggotaan organisasi
yang tinggi.
SIMPULAN
Ada hubungan positif antara persepsi terhadap konflik peran dengan
perilaku keanggotaan organisasi pada karyawan BRI Kantor Cabang
Palangkaraya. Semakin baik persepsi terhadap konflik peran pada karyawan maka
semakin tinggi pula perilaku keanggotaan organisasi karyawan. Sumbangan
efektif persepsi terhadap konflik peran terhadap perilaku keanggotaan organisasi
pada karyawan BRI Kantor Cabang Palangkaraya sebesar 6,1 %.
SARAN
1. Bagi karyawan BRI Kantor Cabang Palangkaraya yang berada dalam kategori
tinggi diharapkan dapat mempertahankan perilaku keanggotaan organisasi,
diantaranya dengan selalu berusaha memiliki suasana hati (mood) positif yang
memberikan konsekuensi kerelaan memberikan bantuan kepada orang lain,
melakukan pekerjaan dengan senang hati, bersikap sportif, meningkatkan
inisiatif dalam bekerja, dan berpartisipasi aktif dalam perusahaan. Sedangkan
bagi karyawan BRI Kantor Cabang Palangkaraya yang memiliki perilaku
keanggotaan organisasi dalam kategori sedang diharapkan untuk mampu
meningkatkan inisiatif untuk memberikan bantuan kepada rekan kerja dalam
satu tim kerja.
2. Pihak BRI Kantor Cabang Palangkaraya mempertahankan iklim kerja yang
kondusif yaitu dengan menjaga perlakuan adil kepada karyawan dalam
pembagian jobdescription, reward, dan kesempatan pengembangan karir
karyawan, serta selalu memberikan dukungan yang positif dari setiap atasan
kepada bawahan. Dengan demikian, karyawan akan merasa nyaman dan
percaya pada perusahaan sehingga karyawan dapat memberikan balasan
kepada perusahaan dengan menampilkan perilaku organisasi yang tinggi untuk
meningkatkan produktifitas BRI Kantor Cabang Palangkaraya dalam melayani
nasabah.
3. Bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian terhadap variabel
perilaku keanggotaan organisasi dapat melakukan penelitian dengan meneliti
variabel-variabel lain yang turut berperan dalam memicu perilaku
keanggotaan organisasi karyawan, antara lain: gaya kepemimpinan, masa
kerja, tingkat pendidikan, penempatan yang tepat, usia, dan jenis kelamin.
DAFTAR PUSTAKA
Akhirudin, S., & Aini, I. N. Q. 2005. Pengaruh Perilaku Kepemimpinan
Transformasional terhadap OCB dengan Kepercayaan pada Pemimpin
sebagai Verbal Pemediasi. Fokus Manajerial, 3 (1) : 52-64.
Azwar, S. 1997. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Cherrington, David J. 1994. Organizational Behavior : The Management of
Individual and Organizational Performance. Printed in The United States of
America: Allyin & Bacon.
pertumbuhan ekonomi. Kepercayaan masyarakat pada institusi perbankan pernah
mengalami tantangan yang paling besar. Banyaknya bank yang mengalami
likuidasi menyebabkan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan
menjadi turun. Akibatnya masyarakat menjadi enggan berhubungan dengan
lembaga keuangan bank dan hal ini membuat pemulihan sektor perbankan
menjadi sulit (Admin, 2007, h. 1).
Penguatan sistem perbankan perlu diikuti oleh penguatan pasar modal,
sebab pasar modal yang sehat menjadi alternatif pemenuhan sumber dana bagi
perusahaan. Bisnis perbankan memerlukan sikap hati-hati dalam menghadapi
perubahan. Produk bank sebagian besar dipengaruhi perubahan pasar. Perubahan
harga saham, perubahan nilai uang dan perubahan suku bunga harus disikapi
secara profesional. Bank perlu selalu menjaga kepercayaan masyarakat dengan
cara memelihara likuiditas yang memadai, tanpa mengorbankan kepentingan
memperoleh profit dan selalu mematuhi regulasi-regulasi yang bersentuhan
dengan bidang perbankan. Untuk melakukan hal tersebut diperlukan kemampuan
manajemen dalam mengelola bank secara profesional (Hanafi, 2006, h. 385).
Salah satu perilaku penting bagi efektifitas organisasi adalah perilaku
keanggotaan organisasi, hal ini seperti yang dikemukakan oleh Katz (1964, h.
132) yang mengidentifikasikan adanya tiga kategori perilaku yang penting bagi
efektifitas organisasi, yaitu : pertama individu harus masuk ke dalam dan tinggal
dalam suatu organisasi, kedua mereka harus menyelesaikan peran khusus dalam
suatu pekerjaan tertentu dan ketiga mereka harus terikat pada aktivitas yang
inovatif dan spontan melebihi persepsi perannya. Kategori terakhir itulah yang
sering disebut sebagai perilaku keanggotaan organisasi.
Menurut Organ (1983, h. 654) perilaku keanggotaan organisasi merupakan
perilaku yang berdasarkan kesukarelaan yang tidak dapat dipaksakan pada batasbatas
pekerjaan dan tidak secara resmi menerima penghargaan tetapi mampu
memberikan kontribusi bagi perkembangan produktifitas dan keefektifan
organisasi. Lebih lanjut Organ menerangkan bahwa perilaku keanggotaan
organisasi dapat memberikan sumbangan peningkatan sosial dalam ruang lingkup
keseluruhan organisasi. Adanya individu yang memiliki perilaku keanggotaan
organisasi akan menguntungkan individu lain dan organisasi yang nantinya juga
akan mempengaruhi individu-individu lain didalam organisasi untuk berperilaku
prososial.
Perilaku Keanggotaan Organisasi atau yang sering disebut OCB adalah
perilaku individu yang bebas memilih, tidak diatur secara langsung atau eksplisit
oleh sistem penghargaan secara formal, dan secara bertingkat mempromosikan
fungsi organisasi yang efektif (Luthans, 2005, h.251). Robbins (2003, h. 30)
mendefinisikan perilaku keanggotaan organisasi itu sebagai perilaku pilihan, tidak
menjadi bagian dari kewajiban kerja formal karyawan, namun mendukung
berfungsinya organisasi tersebut secara efektif.
Konsep perilaku keanggotaan organisasi menurut Spector (2006, h. 258)
adalah perilaku yang dilakukan diluar tugas pekerjaan formal dan memberikan
suatu keuntungan bagi organisasi. Berdasarkan definisi ini, dalam perilaku
keanggotaan organisasi tercakup unsur bahwa perilaku keanggotaan organisasi
artinya karyawan memberikan kontribusi yang positif terhadap organisasi melalui
perilaku diluar formal disamping tetap menjalankan tanggung jawabnya sesuai job
description.
Sementara itu Johns (1996, h. 48) mengemukakan beberapa karakteristik
dari perilaku keanggotaan organisasi yaitu perilaku sukarela yang tidak termasuk
dalam uraian jabatan, perilaku spontan tanpa saran atau perintah seseorang,
perilaku yang bersifat menolong, serta perilaku yang tidak mudah terlihat serta
dinilai melalui evaluasi kinerja.
Tokoh lain, yaitu Graham (1994, h.766) mengkonsepkan perilaku
keanggotaan organisasi sebagai konsep global yang meliputi seluruh perilaku
positif yang relevan secara organisasional dari individu sebagai anggota
organisasi. Dimana perilaku keanggotaan organisasi tersebut memiliki tiga
kategori kecenderungan yaitu ketaatan, loyalitas, dan partisipasi. Ketaatan dapat
ditunjukkan melalui respek terhadap peraturan dan instruksi, ketepatan dalam
menjalankan tugas dan mengelola sumberdaya. Sementara itu, loyalitas
merupakan penandaan terhadap dan kesetiaan pada pemimpin dan organisasi
sebagai keseluruhan, melebihi minat individual, kelompok kerja, dan departemen.
Kategori partisipasi meliputi keterlibatan aktif dan bertanggungjawab dalam
komunitas dengan berbagai cara yang legal secara hukum.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
perilaku keanggotaan organisasi adalah perilaku karyawan yang melebihi dari
deskripsi kerja yang ditentukan, dilakukan secara sukarela, yang secara formal
tidak berada dalam sistem reward (pengimbalan), dan memberikan kontribusi
pada keefektifan organisasi.
Selain memberikan definisi di atas, Organ (dalam Luthans, 2005, h. 251)
memberikan dimensi-dimensi perilaku keanggotaan organisasi, yang juga akan
digunakan dalam penelitian ini yaitu; (1) altruism yaitu perilaku membantu
karyawan lain tanpa ada paksaan pada tugas-tugas yang berkaitan erat dengan
operasi-operasi organisasional (misalnya, membantu rekan kerja dalam bertugas),
(2) civic virtue yaitu perilaku yang menunjukkan pastisipasi sukarela dan
dukungan terhadap fungsi-fungsi organisasi baik secara profesional maupun sosial
alamiah (misalnya, tanpa perintah karyawan rela mewakili perusahaan untuk
program bersama), (3) conscientiousness adalah perilaku yang berisi tentang
kinerja dari prasyarat peran yang melebihi standart minimum (misalnya,
berinisiatif meningkatkan kompetensinya), (4) sportsmanship berisi tentang
pantangan-pantangan membuat isu-isu yang merusak meskipun merasa jengkel
(misalnya, memahami dan berempati saat dikritik), (5) courtesy adalah perilaku
meringankan problem-problem yang berkaitan dengan pekerjaan yang dihadapi
orang lain (misalnya, memiliki inisiatif untuk membantu karyawan baru dalam
menggunakan peralatan bekerja).
Perilaku keanggotaan organisasi dalam bidang pekerjaan dunia perbankan
mempunyai peranan yang sangat penting. Baik buruknya perusahan tergantung
dari pelayanan yang diberikan karyawan terhadap nasabah. BRI Palangkaraya
sebagai leader di Bank BUMN akan terus berusaha menjaga
keprofesionalitasannya dalam melayani nasabah. Tujuan perusahaan ini dapat
dicapai dengan adanya perilaku keanggotaan organisasi yang tinggi dari setiap
karyawannya, sehingga karyawan bertindak melebihi tugas umum pekerjaan
mereka, memberikan kinerja yang melampaui perkiraan, dan mampu memberikan
pelayanan yang optimal kepada nasabah.
Berdasarkan hasil survey awal yang dilakukan kepada karyawan BRI
Palangkaraya melalui metode angket dan wawancara, bentuk-bentuk perilaku
keanggotaan organisasi yang berkembang di kalangan karyawan BRI Kantor
cabang Palangkaraya seperti setiap karyawan dapat dengan segera melakukan
tugas dari rekan kerjanya yang tidak masuk; berusaha menyelesaikan pekerjaan
tepat waktu; saling berbagi informasi baru yang dapat menambah keterampilan
dan pengetahuan.
Perilaku keanggotaan organisasi yang sudah ada di dalam karyawan BRI
Palangkaraya dirasakan masih rendah. Hal ini dikarenakan perilaku yang
ditampilkan masih sesuai atau berkaitan dengan tuntutan kerja yang ada pada
perannya. Perilaku karyawan yang melebihi tuntutan kerjanya dirasakan masih
rendah terlihat dari adanya nasabah atau masyarakat yang mengeluhkan pelayanan
karyawan BRI Palangkaraya yang kurang resposif dan kurang sigap dalam
menangani permasalahan nasabah, kemampuan kerja karyawan yang masih
kurang cakap dalam menghadapi keadaan darurat, kurangnya inisiatif karyawan
mengikuti training, keluhan dari beberapa karyawan bagian operasional yang
mengindikasikan adanya keberatan untuk kerja lembur, serta kurangnya inovasi
karyawan marketing dalam melahirkan ide atau program-program pelayanan
perbankan yang dapat menjangkau dan mendekatkan nasabah lebih dekat lagi
pada BRI Palangkaraya. Kondisi ini bila terus dibiarkan akan melemahkan daya
saing BRI Palangkaraya dalam menghadapi para kompetitor yang semakin
menggeliat.
Pelayanan perbankan seharusnya menjadi lebih responsif terhadap
kepentingan nasabah yang berorientasi kepuasan nasabah dengan ciri-ciri: lebih
memfokuskan diri pada fungsi pengaturan melalui berbagai kebijakan yang
memfasilitasi berkembangnya kondisi kondusif bagi kualitas pelayanan kepada
nasabah, lebih memfokuskan diri pada pemberdayaan nasabah sehingga nasabah
mempunyai rasa memiliki yang tinggi terhadap fasilitas-fasilitas layanan yang
telah dibangun bersama, terfokus pada pencapaian visi, misi, tujuan dari sasaran
yang berorientasi pada hasil sesuai dengan masukan yang digunakan, memberi
akses kepada nasabah dan responsif terhadap pendapat dari nasabah tentang
pelayanan yang diterimanya, lebih mengutamakan antisipasi terhadap
permasalahan pelayanan. Dengan demikian perilaku keanggotaan organisasi
merupakan hal yang penting bagi BRI Palangkaraya, karena adanya perilaku
keanggotaan organisasi yang tinggi diharapkan akan berdampak baik bagi
pelayanan terhadap nasabah. Dalam hal ini karyawan diharapkan lebih cakap,
lebih responsif, lebih sigap, ramah terhadap nasabah dalam menjalankan tugas dan
tetap bertahan di perusahaan serta mempunyai tanggung jawab atas keberhasilan
perusahaan.
Hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan perilaku keanggotaan
organisasi antara lain yang dilakukan Podsakoff, et al. (1997, h. 262) tentang
hubungan perilaku keanggotaan organisasi dengan kuantitas dan kualitas performa
tim kerja pada 218 orang yang bekerja di 40 kru mesin sebuah pabrik kertas di
Northeastern United States membuktikan bahwa perilaku keanggotaan organisasi
berdampak pada kuantitas dan kualitas performance. Hasilnya mengindikasikan
bahwa karyawan yang memiliki perilaku menolong dan sikap sportif akan
menghasilkan produktifitas kerja yang optimal baik secara kuantitas maupun
kualitas. Podsakoff menyimpulkan dampak perilaku keanggotaan organisasi
dalam perusahaan berpengaruh pada meningkatkan produktifitas (rekan kerja,
manajer), menghemat sumber daya, menjadi sarana efektif untuk mengkoordinasi
kegiatan-kegiatan kelompok kerja, meningkatkan stabilitas kinerja organisasi, dan
membantu beradaptasi dengan perubahan lingkungan.
Perilaku menolong dan sikap sportif merupakan sebagian dari dimensi
perilaku keanggotaan organisasi yang tentunya diharapkan BRI ada pada setiap
karyawannya. Karyawan BRI Palangkaraya apabila memiliki perilaku menolong
dan sikap sportif tentu saja akan memberikan input yang positif bagi rekan
kerjanya yang membuat pekerjaan itu cepat diselesaikan dengan baik. Perilaku
menolong dan sikap sportif juga akan semakin mempererat kesatuan karyawan
sebagai tim kerja dalam menampilkan pelayanan yang sebaik mungkin bagi
nasabah.
Perilaku keanggotaan organisasi sebagai perilaku, maka kemunculannya
dalam diri karyawan akan dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor penentu.
Smither (1998, h. 398) menyatakan ada empat faktor penyebab perilaku
keanggotaan organisasi dapat terjadi yaitu ketika karyawan merasa puas dengan
pekerjaannya, menerima perlakuan yang adil dari perusahaan, memiliki komitmen
afektif yang tinggi, dan memiliki hubungan yang baik dengan atasan atau
supervisornya. Empat faktor penyebab tersebut akan mendorong karyawan senang
untuk menunjukkan perilaku melebihi kewajiban kerja dan suka menolong rekan
kerja juga organisasi.
Perilaku keanggotaan organisasi sangat berpengaruh dalam kesuksesan
suatu organisasi, khususnya perbankan yang bergerak dalam pelayanan jasa. Hal
ini bisa dilihat dari faktor-faktor perilaku keanggotaan organisasi yang
mempunyai hubungan dengan kepuasan kerja, komitmen organisasi, keadilan, dan
dukungan pimpinan. Pada kenyataannya, di lapangan karyawan justru sering
menghadapi gesekan-gesekan yang dapat menyebabkan konflik pada karyawan
saat menjalankan perannya. Karyawan yang menduduki posisi tertentu selalu
berhubungan dengan banyak pihak untuk kepentingan yang sama maupun
berbeda. Setiap pihak (yaitu ; pihak atasan, rekan kerja, pihak bawahan, maupun
nasabah) tersebut umumnya memiliki harapan-harapan yang berbeda terhadap
satu posisi yang sama, sehingga karyawan yang menduduki posisi yang
bersangkutan menghadapi kerumitan peranan karena peranan tertentu bisa
memuaskan satu harapan dari pihak tertentu dan sebaliknya tidak memuaskan
harapan pihak yang lain (Suprihanto, et al., 2003, h.129).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Filley dan House (dalam Wexley dan
Yukl, 2005, h. 173) menunjukkan bahwa akibat-akibat konflik peran akan
menimbulkan kepuasan kerja yang rendah dan berpengaruh buruk terhadap
pelaksanaan kerja individu. Suranta (1998, h. 266) menjelaskan bahwa
konsekuensi konflik peran yang semakin meningkat akan mengakibatkan
meningkatnya ketegangan hubungan kerja, mengurangi kepuasan kerja, dan
kecenderungan meninggalkan organisasi. Konflik peran yang tidak dapat
diselesaikan bisa menimbulkan frustasi dan kepuasan kerja yang rendah. Akan
tetapi konflik peran yang terselesaikan dengan baik menjadi satu sumber kepuasan
kerja karyawan. Menurut Hodge, et. al., (1988, h. 104), karyawan yang
memperoleh kepuasan pribadi pada pekerjaannya akan mempunyai minat dan
gembira dalam menjalankan pekerjaannya yang berakibat pada keterlibatannya
dalam usahanya yang semaksimal mungkin dalam perilakunya untuk perusahaan
tempatnya bekerja. Kepuasan kerja tersebut memotivasi para karyawan untuk
bekerja secara efektif dengan menunjukkan hasil kerja yang melebihi sekedar
persyaratan minimal.
Bagi perusahaan, adanya konflik yang dialami karyawan bisa menjadi
sesuatu yang merugikan. Konflik yang tidak ditangani dengan baik akan menjadi
masalah yang berkepanjangan dan akan mempengaruhi dalam pencapaian harapan
kerja yang ditujukan perusahaan kepada karyawan. Dampak perilaku dari konflik
peran tersebut dihasilkan dari persepsi karyawan. Oleh karena itu, penelitian yang
berkaitan dengan perilaku keanggotaan organisasi dan persepsi karyawan terhadap
konflik peran akan sangat menarik untuk diteliti.
Konflik peran terjadi ketika ada berbagai tuntutan dari banyak sumber
yang menyebabkan karyawan menjadi kesulitan dalam menentukan tuntutan apa
yang harus dipenuhi tanpa membuat tuntutan lain diabaikan (Rizzo & Lirtzman,
1970, h. 150-163). Kahn, et al. (dalam Muchinsky. 1993, h. 281) mengemukakan
bahwa konflik peran terjadi ketika dua atau lebih tuntutan terjadi secara
bersamaan dan saling bertentangan satu dengan yang lain sehingga menyebabkan
kesulitan pada karyawan.
Kreitner dan Kinicki (2001, h. 386-388) menyatakan bahwa ketika
individu merasakan adanya tuntutan yang saling bertentangan dari orang-orang di
sekitar maka individu tersebut sedang mengalami konflik peran. Jadi konflik
peran adalah adanya perbedaan atau ketidaksesuaian pengharapan dari anggotaanggota
kumpulan peran (role set) yang menimbulkan konflik terhadap orang
yang dituju (focal person) saat menjalankan perannya. Konflik peran juga dialami
individu ketika nilai-nilai internal, etika, atau standar dirinya bertabrakan dengan
tuntutan yang lainnya.
Konflik peran terjadi ketika seseorang menghadapi ketidakkonsistenan
antara peran yang diterima dengan perilaku peran. Konflik peran tidak sama
dengan ambiguitas peran karena peran yang diterima itu jelas dan spesifik
(Cherrington, 1994, h. 373). Senada dengan pernyataan Cherrington, Ivancevich,
et al. (2007, h. 298) menyatakan konflik muncul ketika seseorang menerima pesan
yang tidak sebanding berkenaan dengan perilaku peran yang sesuai.
Konflik pada pemegang peran dapat terjadi ketika peran dengan beban
kerja berlebih, peran yang kekurangan beban kerja dan rumusan berlebih
(Barners, 1984, h. 120). Luthans (2005, h. 524) menyatakan bahwa konflik peran
terjadi jika karyawan atau anggota tim: (1) diminta untuk melakukan tugas yang
sulit atau (2) diharuskan melakukan tugas yang bertentangan dengan nilai pribadi.
Pada kelompok, konflik peran meningkat, khususnya jika di dalam kelompok
terdapat perilaku nonetis atau antisosial serta jika anggota kelompok menekankan
norma-norma tertentu, sementara pemimpin dan penguasa organisasi formal
menekankan norma lainnya.
Berdasarkan uraian di atas maka pengertian dari konflik peran adalah
konflik yang muncul dalam diri karyawan ketika perilaku peran yang
ditampilkannya tidak sesuai dengan berbagai pengharapan peran yang ia terima
dari anggota kumpulan perannya (yaitu : pihak atasan, rekan kerja, dan pihak
bawahan).
Persepsi karyawan terhadap konflik peran akan mempengaruhi sikap
karyawan dalam menanggapi konflik peran yang ia hadapi. Walgito (2002, h.69-
70) memberikan pengertian persepsi adalah proses mengolah informasi yang
diperoleh melalui penginderaan kemudian diorganisasi dan diinterpretasikan,
membentuk aktifitas yang integrated dalam diri individu yaitu melibatkan
kemampuan berfikir, perasaan dan pengalaman-pengalaman.
Menurut Daffidof (dalam Walgito, 2001, h.54) dengan persepsi, individu
dapat menyadari, mengerti tentang lingkungan sekitar, dan mengerti tentang
keadaan diri. Jadi, persepsi yang merupakan aktivitas ter-integrated, maka seluruh
apa yang ada dalam diri individu seperti perasaan, pengalaman, kemampuan
berpikir, kerangka acuan akan ikut berperan dalam persepsi (Walgito, 2001, h.
54). Hal ini sebagai petunjuk bahwa persepsi melibatkan aspek perasaan atau
afeksi serta kemampuan berpikir atau kognitif.
Kast, et al. (1995, h. 395) menyatakan persepsi sebagai dasar untuk
memahami perilaku, karena ia merupakan alat dengan mana rangsangan (stimuli)
mempengaruhi seseorang atau suatu organisme. Persepsi karyawan yang positif
terhadap konflik peran yang dialami akan menghasilkan perilaku-perilaku yang
konstruktif. Kebalikannya yaitu persepsi karyawan yang negatif akan
menghasikan perilaku-perilaku yang destruktif, dimana perilaku ini selain
merugikan karyawan juga akan merugikan perusahaan.
Berdasarkan uraian di atas maka pengertian persepsi karyawan terhadap
konflik peran adalah penafsiran karyawan terhadap perbedaan ekspektasi peran
dari role set (atasan, rekan kerja, bawahan, keluarga) yang ditujukan padanya,
sehingga mempengaruhi perilaku atau respon yang diambil karyawan.
Aspek-aspek persepsi karyawan terhadap konflik peran berdasarkan pada
aspek-aspek persepsi dari Walgito dan Davidoff (2001, h. 54) yang selanjutnya
dikaitkan dengan jenis-jenis konflik peran dari Katz dan Kahn (dalam Winardi,
2007, h. 198-201) meliputi (1) aspek kognisi dari intra – sender conflict meliputi
interpretasi karyawan terhadap harapan-harapan peran yang saling berbenturan
dari seorang pengirim peran (yaitu : pihak atasan, rekan kerja, pihak bawahan);
(2) aspek kognisi dari inter – sender conflict meliputi interpretasi karyawan
terhadap harapan-harapan peran yang tidak selaras atau bertentangan dari berbagai
anggota role-set (yaitu : pihak atasan, rekan kerja, pihak bawahan); (3) aspek
kognisi dari inter – role conflict meliputi interpretasi karyawan terhadap tuntutantuntutan
yang saling berbeda antara dua peran atau lebih yang harus
dimainkannya dalam waktu bersamaaan; (4) aspek kognisi dari person – role
conflict meliputi interpretasi karyawan terhadap harapan peran yang bertentangan
dengan nilai-nilai, kode etik ataupun tidak sesuai dengan kemampuan dirinya; (5)
aspek afeksi dari intra – sender conflict meliputi kesan dan perasaaan karyawan
terhadap harapan-harapan peran yang saling berbenturan dari seorang pengirim
peran (yaitu : pihak atasan, rekan kerja, pihak bawahan); (6) aspek afeksi dari
inter – sender conflict meliputi kesan dan perasaaan karyawan terhadap harapanharapan
peran yang tidak selaras atau bertentangan dari berbagai anggota role-set
(yaitu : pihak atasan, rekan kerja, pihak bawahan); (7) aspek afeksi dari inter –
role conflict meliputi kesan dan perasaaan karyawan terhadap tuntutan-tuntutan
yang saling berbeda antara dua peran atau lebih yang harus dimainkannya dalam
waktu bersamaaan; (8) aspek afeksi dari person – role conflict meliputi kesan dan
perasaaan karyawan terhadap harapan peran yang bertentangan dengan nilai-nilai,
kode etik ataupun tidak sesuai dengan kemampuan dirinya.
Manusia dengan sifat dinamisnya, selalu ingin memperoleh sesuatu yang
lebih derajatnya, termasuk dalam hal pekerjaan. Harapan yang dimiliki dalam
pekerjaan dimasa lalu dan sekarang adalah memperoleh jaminan rasa aman dalam
menghadapi masa depan dari organisasi (Nawawi, 2000, h.35). Kondisi ini
didukung dengan banyak proses yang terjadi dalam diri individu, yang satu
diantaranya adalah proses persepsi. Hasil dari penilaian tadi diharapkan akan
memunculkan kebutuhan yang memerlukan pemenuhan sehingga dalam merespon
terhadap stimulus yang dikenainya akan dipersepsikan secara berbeda-beda oleh
masing-masing individu. Persepsi tersebut merupakan faktor yang menentukan
terbentuknya sikap terhadap sesuatu penilaian tertentu (Rasimin, 1992, h. 8).
Persepsi seseorang terhadap suatu objek dapat berbeda-beda. Demikian
pula persepsi seorang karyawan terhadap konflik peran dapat berbeda-beda.
Apabila konflik peran dirasakan sebagai sebuah proses pembelajaran ditengah
pertentangan maka karyawan akan mempunyai persepsi yang positif terhadap
konfllik peran. Namun, apabila karyawan menganggap konflik peran tersebut
sebagai suatu kesulitan yang akan mengganggunya dalam bekerja sehingga
karyawan merasa tertekan dan tidak produktif dalam bekerja maka konflik peran
tersebut akan dipersepsi negatif.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada karyawan BRI Kantor
Cabang Palangkaraya, banyak yang mengeluhkan adanya ketegangan dalam diri
mereka saat beban kerja yang terlalu berat, adanya rasa bersalah ketika tidak dapat
mengerjakan tugas dengan optimal, mendapatkan keluhan terhadap pelayanan
yang dirasakannya sudah maksimal ia lakukan, adanya kekeliruan menjalankan
instruksi, kelelahan dengan tuntutan lembur,dan tuntutan kerja dari perusahaan
yang dirasakan terlalu tinggi bagi karyawan. Adanya kerumitan saat bekerja dan
keluhan atas kinerjanya yang tidak sesuai dengan harapan role-set merupakan
indikasi dari konflik peran yang dialami karyawan BRI Palangkaraya.
Penelitian Organ (1987) dan Moorman (1993) menemukan bahwa
kepuasan kerja karyawan dipengaruhi oleh keadaan emosional yang positif
sebagai hasil dari penilaian individu terhadap suatu pengalaman kerja, dimana
karyawan yang puas biasanya akan menunjukkan perilaku citizenship seperti
membantu rekan kerja dan menjadi lebih kooperatif (Luthans, 1995, h. 254). Jadi
konflik peran seharusnya dipersepsikan positif supaya meningkatkan kepuasan
kerja yang bisa mendorong munculnya perilaku keanggotaan organisasi.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konflik peran tidak
bisa dihindari karena konflik merupakan hasil yang alami dari interaksi kelompok
kerja orang (kerja sama). Karyawan yang berada dalam suatu tim pasti memiliki
peran. Didalam memainkan perannya karyawan menghadapi setiap orang yang
mempunyai pengharapan yang berlainan dari adanya bagaimana proses bekerja
dan hasil apa dari proses tersebut. Selain itu, perusahaan juga mengharapkan
karyawan yang memiliki nilai lebih. BRI Palangkaraya yang berhubungan
langsung dengan masyarakat membutuhkan karyawan dengan perilaku
keanggotaan organisasi yang tinggi, sehingga karyawan bertindak melebihi tugas
umum pekerjaan mereka, yang akan memberikan kinerja yang melampaui
perkiraan.
Pengharapan-pengharapan yang tidak dapat terpenuhi memunculkan
konflik dalam diri karyawan. Persepsi karyawan terhadap konflik peran akan
memberikan dampak pada perilaku organisasi mereka. Karyawan yang
memandang konflik peran secara negatif akan melahirkan dampak destruktif yaitu
adanya ketegangan yang berhubungan dengan pekerjaan lebih tinggi, menjadikan
karyawan tidak produktif, kepuasan kerja rendah, sehingga membuat karyawan
sulit untuk menampilkan perilaku yang memenuhi harapan perannya.
Persepsi yang positif terhadap konflik peran akan memberikan dampak
konstruktif. Respon seperti ini pada umumnya menghasilkan konsekuensi
perilaku, kognitif dan psikologis yang lebih baik, memberikan sumbangan yang
cukup untuk membuat seorang karyawan menjadi kritis dan kreatif (Muchlas,
2005, h. 466). Konflik peran yang ditanggapi dengan positif akan memberikan
harapan bagi karyawan bahwa setelah berhasil menyelesaikan konflik peran
dengan baik maka akan menjadikannya karyawan lebih baik dari sebelumnya
sehingga akan meningkatkan kepuasan kerja karyawan. Kepuasan kerja yang
dimiliki karyawan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya
perilaku keangotaan organisasi dari dalam diri karyawan. Organ (dalam Spector,
2006, h. 259) menyatakan bahwa pekerja yang puas akan mempunyai keinginan
lebih untuk memberikan suatu balasan bagi organisasinya dengan menampilkan
perilaku keanggotaan organisasi untuk kemajuan dirinya sebagai karyawan,
kemajuan tim kerjanya, dan kemajuan perusahaan dalam melayani nasabah.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa cara karyawan
mempersepsikan konflik peran dapat memiliki pengaruh penting terhadap efeknya
pada perilaku kerjanya, sehingga dapat dikatakan sesungguhnya persepsi itulah
yang menjadi dasar keputusan seseorang dalam mengembangkan perilaku
kerjanya di dalam organisasi. Oleh karena itu, penelitian ini ingin menguji apakah
ada hubungan antara persepsi karyawan terhadap konflik peran dengan perilaku
keanggotaan organisasi pada karyawan BRI Kantor Cabang Palangkaraya?
METODE PENELITIAN
Definisi Operasional Variabel Penelitian
Definisi operasional variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Perilaku Keanggotaan Organisasi
Perilaku keanggotaan organisasi adalah perilaku karyawan yang
melebihi dari deskripsi kerja yang ditentukan, dilakukan secara sukarela,
yang secara formal tidak berada dalam sistem reward (pengimbalan), dan
memberi kontribusi pada keefektifan organisasi.
Perilaku keanggotaan organisasi diungkap menggunakan Skala
perilaku keanggotaan organisasi yang disusun berdasarkan dimensidimensi
perilaku keanggotaan organisasi menurut pendapat Organ (dalam
Greenberg & Baron, 2003, h. 409 ) yaitu: altruism, conscientiousness,
sportsmanship, courtesy, dan civic virtue.
2. Persepsi Karyawan terhadap Konflik Peran
Persepsi karyawan terhadap konflik peran adalah penafsiran
karyawan terhadap perbedaan ekspektasi peran dari role set (atasan, rekan
kerja, bawahan, keluarga) yang ditujukan padanya, sehingga
mempengaruhi perilaku atau respon yang diambil karyawan.
Positif atau negatif persepsi karyawan terhadap konflik peran dapat
diketahui berdasarkan aspek persepsi yang meliputi aspek kognisi dan
aspek afeksi yang dikaitkan dengan jenis-jenis konflik peran yang
disimpulkan berdasarkan pendapat Katz & Kahn (dalam Winardi, 2007,
h.198-201) yaitu : intra-sender conflict, inter-sender conflict, inter-role
conflict, dan person-role conflict.
Subjek Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah 120 karyawan PT BRI Kantor Cabang
Palangkaraya. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan tehnik
purposive non random sampling.
HASIL PENELITIAN
Uji Hipotesis
Analisis regresi sederhana menunjukkan seberapa besar hubungan antara
persepsi karyawan terhadap konflik peran dengan perilaku keanggotaan organisasi
melalui rx2y = 0,247dengan p = 0,007 (p<0,05). Tanda positif menunjukkan arah
hubungan positif yang berarti bahwa semakin positif persepsi karyawan terhadap
konflik peran maka perilaku keanggotaan organisasi karyawan BRI Kantor
Cabang Palangkaraya semakin tinggi.
Deskripsi Subjek Penelitian
1) Variabel Perilaku Keanggotaan Organisasi
Kondisi Empiris Perilaku Keanggotaan Organisasi
SR R S T ST
- -
19,17 %
23 karyawan
56,67 %
68 karyawan
24,16 %
29 karyawan
49 63 77 91
2) Variabel Persepsi Karyawan terhadap Konflik Peran
Kondisi Empiris Persepsi Karyawan terhadap Konflik Peran
SN N S P SP
0,83 %
1 karyawan
0,83 %
1 karyawan
10,83 %
13 karyawan
64,17 %
77 karyawan
23,34 %
28 karyawan
50,75 65,25 79,75 94,25
PEMBAHASAN
Adanya penyelesaian konflik yang dimulai dengan persepsi yang positif
akan memberikan dampak yang positif juga bagi perilaku karyawan dalam
bekerja. Konflik bagaimanapun sulitnya dapat diselesaikan oleh para karyawan
dengan melihat persoalan serta mendudukkannya pada proporsi yang wajar,
menyadari hambatan serta kendala yang berada di luar kemampuan kita,
memperhatikan peraturan permainan yang kita setujui bersama, serta
mengusahakan pelaksanaan secara konsekuen keputusan yang telah diambil dan
telah kita setujui bersama. Konflik dapat mengarahkan ke inovasi dan perubahan,
dapat menggerakkan karyawan-karyawan untuk melaksanakan kegiatan,
mengembangkan proteksi bagi pihak-pihak yang lemah dalam organisasi, dan
merupakan elemen penting dalam analisis sitem organisasi. Faktor-faktor tersebut
menunjukkan bahwa konflik peran dapat dikelola, agar berguna bukan
menghambat, untuk pencapaian tujuan dalam organisasi modern (Sukartono &
Handoko, 2001, h. 245). Konflik peran yang dipersepsikan positif dapat
memberikan tantangan kepada karyawan untuk semakin optimal dalam bekerja.
Tantangan tersebut menghasilkan kegairahan karyawan dalam bekerja. Suasana
hati yang positif ini memicu produktifitas kerja karyawan yang akan berkontribusi
bagi keefektifan perusahaan melayani nasabah. Partisipasi karyawan yang
mendapatkan arahan serta dukungan dari atasan juga semakin mendukung
terlahirnya perilaku keanggotaan organisasi dari karyawan.
Pimpinan yang baru di BRI Kantor Cabang Palangkaraya dirasakan sangat
tegas dan menekankan agar karyawan dapat selalu meningkatkan ketrampilan
kerja dan memberikan inovasi-inovasi yang dapat memajukan perusahaan.
Pimpinan selalu mendengungkan kepada karyawan bahwa karyawan yang tidak
berinovasi akan menyebabkan kelesuan diri yang juganya akan berdampak pada
perusahaan. Gaya pimpinan yang baru menginspirasikan dan memotivasi
karyawan untuk berprestasi melampaui harapan. Nilai-nilai ini menjadikan
karyawan untuk menghadapi konflik peran dengan persepsi yang positif supaya
tidak menghalangi karyawan untuk bekerja secara efektif dan mengembangkan
ketrampilannya. Karyawan melihat konflik peran sebagai suatu hal yang wajar
saat bekerja dengan tim dalam melayani nasabah. Oleh karena itu karyawan lebih
memilih untuk segera menangani konflik daripada membiarkannya berlarut-larut.
Hasil interview menjelaskan bahwa karyawan sangat menghidupi moto
perusahaan untuk melayani nasabah dengan setulus hati dan good coorporate
governance untuk mencegah atau meminimalisir konflik atau permasalahan yang
ada. Penelitian yang dilakukan Behfar, et al. (2008, h. 184) membuktikan bahwa
resolusi konflik yang tepat menghasilkan performa kerja yang tinggi dan kepuasan
kerja yang tinggi. Netmeyer (1997, h. 85-98) menjelaskan adanya anteseden kunci
dan konsekuensi antara konflik peran, kinerja pelayanan pada pelanggan dan
stress kerja. Dalam penelitian mereka, tingkat stres kerja karyawan menjadi
prediktor utama terhadap in-role performance supervisor dan extra-role
performance karyawan dan pelanggan secara langsung. Para peneliti telah
melakukan observasi, jika kelompok-kelompok menganalisis berbagai keputusan
yang telah dibuat oleh perseorangan dalam kelompok, perbaikan rata-rata diantara
kelompok dengan konflik yang tinggi adalah 73% lebih besar daripada diantara
kelompok-kelompok dengan kondisi konflik yang rendah (Muchlas, 2005, h.
478). Jadi persepsi yang positif menghasilkan penilaian yang baik dimana konflik
peran bukanlah sebagai ”momok” yang menakutkan, melainkan konflik dinilai
sebagai proses pembelajaran yang memberikan perubahan karyawan menuju pada
peningkatan kualitas pengambilan keputusan, menstimulasi kreativitas dan
inovasi, serta kinerja yang cenderung lebih meningkat.
Penelitian Organ (1987) dan Moorman (1993) menemukan bahwa
kepuasan kerja karyawan dipengaruhi oleh keadaan emosional yang positif
sebagai hasil dari penilaian individu terhadap suatu pengalaman kerja, dimana
karyawan yang puas biasanya akan menunjukkan perilaku keanggotaan organisasi
seperti membantu rekan kerja dan menjadi lebih kooperatif (Luthans, 1995, h.
254).
Organ (1988) dikutip oleh Smither (1998, h. 397) menjelaskan pengertian
perilaku keanggotaan organisasi sebagai perilaku individu yang bebas, tidak
berkaitan secara langsung atau eksplisit dengan sistem reward dan bisa
meningkatkan fungsi efektif organisasi. Greenberg dan Baron menegaskan bahwa
perilaku keanggotaan organisasi berkontribusi baik untuk perusahaan dan
dirinya.Secara umum ada tiga komponen utama perilaku keanggotaan organisasi
yaitu; perilaku yang lebih dari ketentuan formal atau deskripsi pekerjaan yang
telah ditentukan, bersifat sukarela, dan tindakan tersebut tidak dihargai dengan
imbalan formal oleh organisasi (Greenberg dan Baron 2003, h. 408).
Karyawan yang mempunyai perilaku keanggotaan organisasi yang tinggi
ditandai dengan adanya perilaku positif yang ditunjukkan karyawan, baik terhadap
perusahaan maupun rekan kerjanya dan berhasil menciptakan iklim kerja yang
mampu menumbuhkan dan mendorong motivasi karyawan untuk memberikan
kinerja terbaiknya dan secara tidak langsung kondisi ini akan meningkatkan
fungsi efektif organisasi.
Berdasarkan hasil penelitian ini, perilaku keanggotaan organisasi yang
ditampilkan karyawan BRI Kantor Cabang Palangkaraya yaitu kerelaan
memberikan bantuan kepada orang lain, melakukan pekerjaan dengan senang hati,
peningkatan disiplin diri, tidak menunda melaksanakan pekerjaan, dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan kerjanya, serta melaksanakan tugas dengan
penuh tanggung jawab. Faktor yang mendorong terjadinya perilaku keanggotaan
organisasi yang ditampilkan karyawan BRI Palangkaraya ini dipengaruhi oleh
faktor kepuasan kerja yang dihasilkan dari persepsi positif karyawan terhadap
konflik peran.
Konflik peran yang dipersepsikan secara positif mendorong karyawan
untuk dapat menangani konflik dengan menghasilkan resolusi konflik yang tepat
sehingga bisa berdampak pada performa kerja karyawan yang menjadi kritis
terhadap intern organisasi, tanggap terhadap perubahan, kreatif dan cepat
beradaptasi. Dukungan dari atasan juga menguatkan karyawan untuk dapat tetap
produktif dalam bekerja meskipun sedang mengalami konflik peran. Resolusi
konflik dan dukungan yang diterima dari atasan mendorong kemunculan dampak
kosntruktif dari konflik peran yang dihadapinya. Hal ini senada dengan Du Brin
(1984, h. 356) yang mengemukakan dampak positif konflik antara lain seperti
menimbulkan perubahan secara konstruktif; segala daya dan motivasi tertuju pada
pencapaian tujuan; merangsang inovasi dan meningkatkan keeratan kelompok;
menggantikan tujuan yang tidak relevan; manajemen konflik menguntungkan
organisasi; hubungan antar pribadi dan antar kelompok mendorong ke arah
peningkatan kesehatan organisasi; dan konflik dapat mengurangi ketegangan
dalam bekerja.
Adanya dampak konstruktif tersebut menjadi wujud prestasi kerja karyawan yang
memberikan kepuasan kerja pada karyawan. Hasibuan (2001, h. 202) menyatakan
bahwa kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai
pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan, dan prestasi
kerja. Disamping itu, kualitas perasaan seseorang terhadap pekerjaannya
mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang berhubungan erat dengan
produktifitas kerja dan efektifitas organisasi. Kepuasan pribadi pada tugasnya
mengarahkan karyawan untuk keterlibatannya dalam berusaha semaksimal
mungkin untuk perusahaan dengan menampilkan perilaku keanggotaan organisasi
yang tinggi.
SIMPULAN
Ada hubungan positif antara persepsi terhadap konflik peran dengan
perilaku keanggotaan organisasi pada karyawan BRI Kantor Cabang
Palangkaraya. Semakin baik persepsi terhadap konflik peran pada karyawan maka
semakin tinggi pula perilaku keanggotaan organisasi karyawan. Sumbangan
efektif persepsi terhadap konflik peran terhadap perilaku keanggotaan organisasi
pada karyawan BRI Kantor Cabang Palangkaraya sebesar 6,1 %.
SARAN
1. Bagi karyawan BRI Kantor Cabang Palangkaraya yang berada dalam kategori
tinggi diharapkan dapat mempertahankan perilaku keanggotaan organisasi,
diantaranya dengan selalu berusaha memiliki suasana hati (mood) positif yang
memberikan konsekuensi kerelaan memberikan bantuan kepada orang lain,
melakukan pekerjaan dengan senang hati, bersikap sportif, meningkatkan
inisiatif dalam bekerja, dan berpartisipasi aktif dalam perusahaan. Sedangkan
bagi karyawan BRI Kantor Cabang Palangkaraya yang memiliki perilaku
keanggotaan organisasi dalam kategori sedang diharapkan untuk mampu
meningkatkan inisiatif untuk memberikan bantuan kepada rekan kerja dalam
satu tim kerja.
2. Pihak BRI Kantor Cabang Palangkaraya mempertahankan iklim kerja yang
kondusif yaitu dengan menjaga perlakuan adil kepada karyawan dalam
pembagian jobdescription, reward, dan kesempatan pengembangan karir
karyawan, serta selalu memberikan dukungan yang positif dari setiap atasan
kepada bawahan. Dengan demikian, karyawan akan merasa nyaman dan
percaya pada perusahaan sehingga karyawan dapat memberikan balasan
kepada perusahaan dengan menampilkan perilaku organisasi yang tinggi untuk
meningkatkan produktifitas BRI Kantor Cabang Palangkaraya dalam melayani
nasabah.
3. Bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian terhadap variabel
perilaku keanggotaan organisasi dapat melakukan penelitian dengan meneliti
variabel-variabel lain yang turut berperan dalam memicu perilaku
keanggotaan organisasi karyawan, antara lain: gaya kepemimpinan, masa
kerja, tingkat pendidikan, penempatan yang tepat, usia, dan jenis kelamin.
DAFTAR PUSTAKA
Akhirudin, S., & Aini, I. N. Q. 2005. Pengaruh Perilaku Kepemimpinan
Transformasional terhadap OCB dengan Kepercayaan pada Pemimpin
sebagai Verbal Pemediasi. Fokus Manajerial, 3 (1) : 52-64.
Azwar, S. 1997. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Cherrington, David J. 1994. Organizational Behavior : The Management of
Individual and Organizational Performance. Printed in The United States of
America: Allyin & Bacon.
Langganan:
Postingan (Atom)
Link Menu
Ringga Arie Suryadi. Diberdayakan oleh Blogger.