A. Nama dan Jenis Usaha
Maspion adalah
salah satu produsen perkakas yang cukup besar. Perusahaan ini memiliki keahlian
yang kuat di bidang pemasaran dan manufaktur berbagai rangkaian produk
peralatan rumah tangga kualitas baik di peralatan dapur, peralatan rumah tangga
plastik, glasswares, dan peralatan listrik rumah. Pipa pvc dan pe juga tersedia
untuk keperluan perumahan dan rumah tangga. Perusahaan ini memiliki jaringan
distribusi yang mapan dan luas baik domestik maupun internasional melalui
distributor, agen, atau pengecer, serta perwakilan di kota-kota besar di
indonesia dan negara-negara berkembang utama. Perusahaan juga telah kuat dalam
membangun aliansi strategis dengan mitra asing utama produk konsumen terkemuka
di manufaktur tahan lama, yang telah memperkuat posisi perusahaan bisnis
terkemuka di pasar domestik dan juga kehadiran jenis di pasar global.
Perusahaan ini telah menjadi dikenal dengan baik oem (original equipment
manufacturing) pemain di dunia, memasok beberapa toko eceran dan grosir
terkenal di amerika serikat serta negara-negara besar lainnya di dunia.
Sejarah dimulai pada tahun 1962 dari ud logam dki, industri
dapur rumah sederhana yang didirikan oleh mr alim husin dan rekannya bapak
gunardi go. Sebelum menjadi besar seperti sekarang ini, sejarah perusahaan
Maspion cukup unik dan sederhana. Alim Husin, ayah Alim
Markus mendirikan sebuah usaha kecil yang
memproduksi lampu teplok yang terbuat dari aluminium dan logam. Perusahaan yang
berdiri sekitar 1961 itu diberi nama UD Logam Jawa. Jumlah karyawannya hanya
delapan orang dan bisa memproduksi sekitar 300 lusin per hari. Dari lampu
teplok kemudian berkembang dengan memproduksi lampu badai untuk para nelayan.
Akhir 70-an mulai memproduksi perabot rumah tangga dengan bahan plastik,
seperti ember, baskom, loyang, dan sebagainya. Pada 1972, usaha keluarga Alim
Husin semakin maju dan berkembang sehingga kemudian merancang nama dan logo
baru. Akhirnya keluarga Alim Husin memperoleh nama baru, yakni Maspion. Menurut
Alim Markus, Maspion merupakan singkatan dari M=mengajak A=anda S=selalu P=percaya I=industri O=olahan N=nasional. Setelah PT Maspion berdiri, Alim Husin
menyerahkan tongkat kepemimpinannya selaku direktur utama kepada Alim Markus
yang merupakan putra tertua. Sementara Alim Mulia Sastra, Alim Satria, dan Alim
Prakasa masing-masing menduduki posisi direktur pengelola. Alim Husin sendiri
menjabat posisi Chairman alias ketua.Sejak itu, perusahaan telah secara
bertahap membangun basis pelanggan dan mendapatkan pengakuan di industri
sebagai kualitas dan produsen yang dapat diandalkan. Saat ini, perusahaan
merupakan salah satu grup indonesia yang paling dihormati perusahaan, dibentuk
oleh keahlian dalam inovasi produk dan semangat kewirausahaan yang kuat dari
para pendiri. Alim husin telah menyadari visinya untuk mengubah kelompok
menjadi kekuatan bisnis terkemuka di indonesia. Visi ini telah didukung oleh
anak-anaknya, awalnya oleh putra sulungnya, alim markus, yang kemudian diikuti
oleh tiga anak lainnya, alim mulia sastra, alim satria, dan alim prakasa.
Sejumlah eksekutif karir yang mandiri juga didedikasikan upaya mereka untuk
keberhasilan grup maspion. Perusahaan ini mempekerjakan sekitar 13.000 orang
dengan fasilitas produksi yang tersebar di empat kawasan industri di sidoarjo
dan gresik, jawa timur, dan satu pabrik di jakarta, jawa barat. Melalui
dedikasi dan kerja keras dari karyawan, dibentuk oleh kewirausahaan yang kuat
dan visi para pendiri, perusahaan telah mampu mempertahankan posisi terdepan
dalam industri peralatan rumah tangga, pameran terus pertumbuhan, dan
menciptakan nilai tambah bagi seluruh stakeholder.
B. Penyusunan Strategi
1 .Orientasi Ekspor
Grup Maspion bukan cuma
jago kandang. Selain menguasai Surabaya atau Jawa Timur, produk-produknya juga
merambah ke seluruh Indonesia, bahkan ke mancanegara. Perabotan rumah tangga
mulai dari bahan plastik, stainless steel, aluminium, kipas angin, kulkas, AC,
tempat tidur, alluminium foil, lampu neon, pompa air, dan masih banyak lagi
dihasilkan dari pabrik-pabriknya di Jawa Timur. Dari tempat ini, berbagai jenis
barang tersebut didistribusikan ke seluruh Tanah Air bahkan diekspor.Grup
Maspion memiliki lima bidang bisnis yang menjadi andalannya. Yang pertama
adalah bidang produk konsumen. Bidang bisnis ini akrab bagi ibu-ibu rumah
tangga karena memproduksi panci teflon, termos plastik, kulkas, kompor gas, pompa
air, kipas angin dan sebagainya. Yang bergerak dalam bidang ini paling tidak PT
Maspion, PT Trisula Pack Indah, PT Royal Chemical, PT Maspion Flatware, dan PT
Indofibre Mattres Indonesia.
Bidang bisnis kedua adalah
bidang konstruksi material dan industri di mana Maspion memiliki tujuh anak
perusahaan. PT Maspion, PT Maspion Kencana, PT Indal Steel Pipe, PT Alumindo
Light Metal Industry, PT Aneka Kabel Cipta Guna, PT Indal Aluminium Industry,
dan PT Indalex.Bisnis properti juga digeluti oleh kelompok usaha raksasa ini.
Beberapa proyek yang bisa disebutkan di sini adalah Maspion Mall, Wisma
Maspion, Wisma Moneter, Pondok Maspion, CIMAC, PT Bintang Osowilangun, PT
Maspion Industrial Estate, PT Alumindo Industrial Estate, PT Altap Prima Industrial
Estate.
Salah satu kebanggaan
grup Maspion di bidang properti adalah kesuksesannya membangun Kawasan Industri
Maspion seluas 300 hektar. Lokasi tersebut hanya berjarak sekitar 10 kilometer
dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Di kawasan inilah Maspion mendirikan
perusahaan-perusahan industrinya yang diperkirakan menempati lahan sekitar 100
hektar.Akhir April ini, Grup Maspion akan mempertegas kehadirannya di Jakarta
dengan meresmikan gedung perkantoran dan bisnis yang diberi nama Plaza Maspion.
Gedung berlantai 18 tersebut sudah hampir rampung dan berlokasi di Jalan Gunung
Sahari Raya, Jakarta Pusat.
Dan tak ketinggalan pula
adalah bisnis keuangan dan finansial di mana grup ini menonjol dengan Bank
Maspion, Maspion Securities, dan Maspion Money Changer.Grup Maspion dalam
melakukan ekspansi bisnisnya melakukan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan
kelas atas, misalnya dengan Grup Samsung, Korea dan Grup Marubeni, Jepang. Grup
ini juga melakukan kerja sama dengan Dupont dan Ishizuka dari Jepang. Pada
umumnya Grup Maspion memperoleh porsi saham sekitar 50%.
2. Cinta Produk Lokal
Dengan jangkauan bisnis yang
sangat luas, dan jumlah tenaga kerja mencapai lebih dari 30.000 orang, Alim
Markus mencoba tetap konsisten pada tujuannya. Walaupun badai ekonomi
berkali-kali menerjang perusahaannya, ia tetap tangguh. “Saya akan terus
mengendalikan bisnis ini di sini,” katanya sambil mengarahkan tangannya ke
bawah. Maksudnya, di bumi Indonesia. Sekalipun UMR Jawa Timur tahun ini naik
sekitar 38 persen dan terasa sangat membebaninya.
3.Etos Kerja
Untuk menjadi perusahaan
yang besar Alim Markus menyatakan bahwa ada lima hal penting yang menjadi etika
kerja yang selalu dijunjung tinggi seluruh karyawan Maspion. Pertama, kesetiaan, kemampuan, dan kerja
keras. Kerja keras dan kesetiaan pada perusahaan serta ditunjang dengan
kemampuan dari setiap karyawan akan menghasilkan banyak hal positif bagi
perusahaan.
Kedua, memimpin pasar dengan
memberikan keuntungan yang kompetitif terutama kepada semua konsumen. Hal ini
sangat dibutuhkan oleh konsumen. Ketiga,
kesatuan dan kebersamaan. Dengan adanya rasa kebersamaan, perusahaan akan
semakin kuat dan kokoh. Keempat,
pertumbuhan yang berkesinambungan. Kelima,
memperhatikan kepuasan konsumen.
4.Export Proccessing Zone
Berbicara dengan Alim
Markus semakin lama semakin menarik. Sejumlah gagasan cemerlang bisa muncul
tiba-tiba. Misalnya saja soal otonomi daerah. Dalam kaitan ini, Alim Markus
punya gagasan.
“Saya usulkan supaya didirikan suatu lokasi Export Proccessing Zone yang
semuanya terpadu di situ. Semua yang menyangkut perizinan, perbankan,
perpajakan, sistem tenaga kerja yang sesuai kebutuhan pasar, semuanya bisa
diputuskan di lokasi ini tanpa harus melalui birokrasi yang panjang dan
berbelit-belit,” papar Alim Markus.
Kalau ini bisa dilaksanakan ada
banyak hal positif yang akan diperoleh. Pertama, bisa meningkatkan daya saing
produk ekspor nasional dan kedua akan mengurangi jumlah pengangguran. “Kalau
RRC bisa memberikan tawaran-tawaran yang menarik bagi investor asing, kenapa
kita tidak? Kita tidak boleh kalah bersaing,” kata Alim Markus. Ia melihat betapa
gencarnya pemerintah RRC menawarkan investasi kepada investor asing. Mereka
memberikan berbagai kemudahan, memotong jalur birokrasi, bahkan mereka berani
menghukum birokrat yang melakukan korupsi dengan hukuman sangat berat, bahkan
hukuman mati sekalipun. Apakah kita berani melakukannya?
C.Pesaing
Di belantara pasar produk alat rumah
tangga, nama Kirin memang belum sepopuler merek lokal lainnya seperti Cosmos,
Maspion atau Sanken. Toh, respons pasar terhadap produk Kirin boleh dibilang
cukup bagus. Seperti dituturkan pemilik toko elektronik dan peralatan rumah
tangga di Jatinegara, penjualan produk-produk Kirin, seperti rice cooker, cukup
bagus. “Relatif sama dengan penjualan merek lainnya seperti Cosmos dan Miyako.
Begitu juga untuk water dispenser,” ungkap pemilik toko yang tak mau disebut
jati dirinya itu. Menurutnya, dari sisi harga, dibanding merek lokal lainnya
produk-produk Kirin sangat bersaing. Layanan pascajualnya, ia menambahkan,
cukup bagus.
Layanan pascajual Kirin juga dinilai cukup bagus oleh Iwan. Menurut pemilik
Toko Sumber Pusaka di Jatinegara ini, pusat layanan Kirin cukup bagus. “Jika
kami mendapat produk yang rusak, Kirin akan langsung mengganti dengan produk
baru,” ujarnya. Hanya saja, Iwan menyayangkan, layanan penggantian produk rusak
itu hanya berlaku bagi pedagang seperti dirinya. “Jika terjadi kerusakan di
pihak konsumen, yang diganti suku cadangnya saja,” katanya. Ia mengaku,
penjualan produk Kirin dibanding produk Miyako masih kalah. “Kalau dibandingkan
dengan Cosmos, barulah penjualannya relatif seimbang,” kata Iwan. Sayang, ia
tak bersedia membeberkan omset Kirin di tokonya. “Masih biasa-biasa saja,”
ujarnya. Menurutnya, produk Kirin yang paling diminati konsumen adalah water
dispenser. “Karena kualitasnya memang cukup baik dan harganya juga terjangkau.”
Diakui Haris, sejak awal mengembangkan Kirin, ia memang ingin memberikan produk
yang bermutu baik. Maka, di pabrik Kirin seluas 2,1 hektare di Kawasan Industri
Jababeka, seluruh produk yang dihasilkan harus melewati proses kontrol kualitas
yang ketat. Saat ini kapasitas terpasang mencapai 100 ribu pieces/bulan. Total
selama setahun, kapasitas pabrik mampu menghasilkan 1,2 juta pieces. Untuk
layanan pascajual, disediakan jaringan pusat layanan yang tersebar di 20 kota
besar di seluruh Indonesia. Untuk memberikan kenyamanan, diberikan kemudahan
dalam pelayanan garansi yang bisa dilakukan lewat SMS. Jadi, tidak perlu
mengirimkan kartu garansi. Untuk aktivasi garansi, konsumen tinggal menelepon
atau mengirim SMS ke nomor yang tertera di kartu garansi.
Pengamat pemasaran Darmadi Durianto menilai, sejauh ini performa Kirin sudah
cukup bagus. “Berkonsep value for money, Kirin menawarkan produk yang relatif
bagus tapi dengan harga yang tidak mahal,” ungkapnya. Namun, persepsi
masyarakat terhadap Kirin secara keseluruhan belumlah dianggap sangat bagus.
Darmadi menambahkan, “Karena harganya tidak mahal, value yang diterima konsumen
cukup bagus.”
Meski belum sepopuler merek lokal lain, bagi Haris, pencapaian Kirin selama ini
cukup membanggakannya. Derai senyum dan tawa lepasnya sore itu seolah menjadi
obat baginya yang telah berjuang selama 5 tahun membangun merek Kirin.
Terlebih, menjadi obat baginya yang telah berjalan menapaki ranah bisnis.
Maklum, ia merintis bisnis benar-benar dari nol. “Kalau saat itu saya putus
asa, mungkin tidak ada hari ini,” kata ayah Eka Arli Chandra (28 tahun), Ariana
Kartika Candra (27 tahun) dan Andrew Colin Chandra (26 tahun) ini.
Haris berangkat dari kampung halamannya di Makassar ke Jakarta hanya berbekal
ijazah SMA, pada 1971. “Tidak cukup kenalan, tidak ada modal. Ya, mencari
sesuap nasi saja rasanya susah banget,” ujarnya mengenang. Tak ada teman
apalagi kerabat untuk koneksi bisnis membuatnya bekerja serabutan agar bisa
bertahan hidup. Tuntutan untuk bertahan hidup membuatnya jeli menangkap peluang
dengan mendekati beberapa pedagang dari daerah asal. Setelah jejaring disebar,
ia membeli barang-barang kelontong dari pedagang-pedagang dari Makassar,
Manado, Ambon, Gorontalo dan Ternate. “Atas kepercayaan mereka, saya menjualkan
barang-barang dagangannya di Jakarta,” ungkapnya.
Setelah sedasawarsa bekerja serabutan, tahun 1980-an Dewi Fortuna mulai
menghampirinya. Tahun 1983 ia dipercaya menjadi agen tunggal Ariston, merek
pemanas air dari Italia. Inilah tonggak awal kiprah bisnisnya. Ketika itu,
kenalannya berkebangsaan Jerman yang bekerja di Raapkarchar -- perusahaan
trading asal Jerman -- merekomendasikan namanya. Padahal, saat itu PT Aditya
Sarana Graha, perusahaan dagang milik Haris, hanya memiliki belasan karyawan.
Toh, peluang besar itu tak disia-siakannya. Prinsip Haris, kesempatan tak akan
datang dua kali.
Dalam perjalanannya, ternyata tidak mudah menjual pemanas air di negara tropis
seperti Indonesia. Pertama kali menawarkan produk itu, ia berhasil menjual 6
unit. Padahal ia sudah berkeliling dari Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Solo
sampai Surabaya. Toh, ia tetap optimistis produk yang ditawarkannya akan
diminati pasar. Kendalanya, produk pemanas air belum dikenal luas oleh
masyarakat. Untuk mengedukasi pasar, ia memasuki toko-toko menawarkannya.
Ketika itu, sebagai pemula di dunia bisnis, ia tidak tahu, langkah yang
dilakukannya benar ataukah salah. Yang pasti, dalam pertimbangannya, kalau
menggarap pasar bisnis, seperti hotel, harus menunggu pergantian pemanas air
yang rusak atau menanti pembangunan hotel baru.
Konsistensi dan kerja keras Haris keluar-masuk pasar menjual ke toko-toko
secara perlahan membuat jaringannya makin tumbuh kuat. Di tahun-tahun pertama
ia hanya mampu menjual 2 ribu unit. Seiring dengan makin luasnya jejaring,
penjualannya terus meningkat hingga tak kurang 100 ribu unit pemanas air
terjual tiap tahun. Malah, sekarang Ariston Indonesia menjadi salah satu pasar
terbaik, selain di Italia, yang penjualannya mencapai 2 juta unit/tahun.
Bersamaan dengan pamornya yang mulai diperhitungkan, jumlah merek yang diageni pun
bertambah: Wasser (kerja sama dengan Korea), Paloma dan Katudai (dari Jepang).
Menurut Haris, ketika krismon menghantam perekonomian Indonesia, penjualan
pemanas air sempat anjlok hingga 93%. Beruntung, bisnis lainnya yang baru
dirintis, impor produk rice warmer, justru memperlihatkan geliat yang
menggembirakan. Selain menjadi agen tunggal Ariston, ia juga merintis usaha
importir produk peralatan rumah tangga, terutama penghangat nasi. Ia tertarik
merambah bisnis ini karena melihat potensi pasar produk peralatan rumah tangga
di Indonesia sangat besar. Terbukti, saat krisis, produk peralatan rumah tangga
tetap membanjiri pasar. Per bulan, dari cuma dua kontainer yang ia datangkan
dari Korea saat itu tumbuh sampai 40 kontainer.
Haris mengakui, banderol harga murah yang ditawarkannya membuat penjualan
melambung. “Konsumen melihat ada alternatif produk yang lebih murah dari
merek-merek terkenal yang sudah lama hadir,” katanya. Sebagai pengusaha,
rupanya ia tidak puas hanya menjual produk merek orang lain. Tahun 2000, ia pun
memutuskan mengembangkan merek sendiri: Kirin. “Selain mudah diucapkan, nama
ini juga punya nuansa internasional, sekaligus gabungan nama Tionghoa dua putra
saya,” ungkapnya. Dijelaskannya lagi, Kirin juga nama binatang khayalan yang oleh
orang-orang di Cina, Korea dan Jepang dianggap akan mendatangkan keberuntungan.
“Saya juga mengharap keberuntungan dari merek ini,” ujar Haris yang bergiat di
organisasi lintasagama, Indonesian Concern on Religius and Peace.
Lewat Kirin Dinamika Sentosa, Haris menandai babak baru kiprahnya di jagat
bisnis. Meski ia mendapat dukungan dari jaringan toko yang telah lama
dimilikinya, tak begitu saja Kirin bisa menggelinding. Untuk membangun brand
awereness, ia menggandeng Krisdayanti sebagai ikon produk Kirin. Dana Rp 4
miliar digelontorkan untuk kampanye produk Kirin di berbagai media cetak dan
televisi. “Kalau mau produknya dikenal luas, ya harus investasi,” katanya.
Tahun-tahun pertama, kapasitas pabrik hanya 20 ribu unit/bulan. Sekarang, 100
ribu unit/bulan.
Haris memilih mendistribusikan produk Kirin langsung ke toko-toko elektronik
dan peralatan rumah tangga lewat bendera PT Kirin Griya Indotama. Diakuinya,
saat ini distribusi Kirin masih fokus menggarap pasar tradisonal, lewat
toko-toko. Saluran distribusi pasar modern juga disentuhnya, antara lain Giant,
Carrefour dan Matahari. Puluhan tahun membangun jejaring di pasar tradisional
membuat produk Kirin mampu terserap dengan baik. Sampai sekarang, konsentrasi
Kirin 80% masih di pasar tradisional dengan maksimal dua lapis jalur
distribusi. “Kami puluhan tahun menanamkan kredibilitas kepada toko-toko dengan
kualitas barang, jaminan retur, margin menguntungkan buat toko,” tuturnya. Saat
ini ia memiliki 5 kantor cabang di 5 kota besar: Surabaya, Bandung, Medan,
Palembang dan Makassar. Uniknya, ia memberikan kepercayaan pada kantor cabang
untuk memiliki otonomi khusus membesarkan pasarnya. “Tidak baiklah satu kue
ditelan sendiri,” begitu prinsip usaha Haris.
Ruddy Widjaja, Manajer Penjualan Nasional Cosmos, menilai dari sisi distribusi,
Kirin belum bagus. Dari beberapa kali pengalaman Ruddy berkeliling Nusantara,
ada beberapa daerah yang belum dihadiri Kirin. Contohnya, Makassar dan
Pontianak. Namun, dengan jujur ia mengakui, di daerah lain seperti Medan produk-produk
Kirin cukup menyemaraki pasar.
Dari sisi penjualan, Ruddy menilai Kirin belum mampu mengungguli Cosmos dan
Miyako. “Padahal, harganya hampir setara,” katanya. Menurutnya, dari beberapa
riset kecil-kecilan yang dilakukannya ke toko-toko elektronik peralatan rumah
tangga, rata-rata yang dicari konsumen adalah produk Cosmos, Miyako, Maspion
dan Yong Ma. Bahkan, di beberapa toko Ruddy tidak melihat produk Kirin.
“Kalaupun ada, biasanya jumlah produk Kirin yang distok tidak sebanyak stok
produk Cosmos dan lainnya,” ujarnya. Maka, Kirin tidak terlalu dianggap sebagai
ancaman oleh Ruddy. “Paling tidak untuk saat ini.”
Diakui Haris, pangsa pasar Kirin memang masih kecil. “Kalau sudah di atas 12%,
kami akan merambah pasar luar negeri,” ujarnya tandas. Menurutnya, merek lama
yang sudah menancap kuat di pasar bukan pesaing utama Kirin. Pasalnya,
merek-merek besar, seperti Panasonic, Sanyo dan Philips, lebih fokus menggarap
kota-kota besar dan pasar modern. Ia menilai di kota-kota kecil justru
dibanjiri merek-merek baru -- Haris menyebutnya barang impor XYZ -- yang tak
jelas datangnya dari mana. “Justru kelompok barang-barang impor dari XYZ ini
yang harus diwaspadai,” kata Haris yang pada 1999 pernah diundang kursus
manajemen usaha kecil-menengah ke Jepang dengan sponsor JICA.
Pesaing Kirin, menurutnya, adalah sesama merek lokal, seperti Miyako, Cosmos,
Sanken dan Maspion. Masing-masing merek lokal itu, dikatakannya, mempunyai
keunggulan di produk tertentu, seperti Miyako di rice coker; Cosmos, tempat
beras; dan Sanken, mesin cuci. Sementara Kirin diklaimnya unggul di water
dispenser. Yang terpenting bagi Haris, menyediakan produk peralatan rumah
tangga yang inovatif dan berkualitas sekaligus mampu memuaskan kebutuhan
konsumen. Konsumen pasti melirik produk yang berkualitas. Maka, soal kualitas,
sejak awal ia tak mau berkompromi. Begitu pedulinya Haris pada kualitas
sehingga dalam merekrut SDM pun ia sangat selektif, terutama di bagian riset
dan pengembangan. Untuk produksi, misalnya, ia merekrut Setyo Yuniarto yang
memiliki pengalaman lama di perusahaan sejenis. “Orang lokal lebih mengetahui
budaya sendiri sehingga bisa menciptakan produk yang sesuai dengan selera
mayarakat,” tuturnya.
Yang tak kalah penting, konsistensi dalam upaya mengerek merek Kirin. Dalam
pengamatan Darmadi, di awal kemunculannya, Kirin justru bagus karena
menggunakan endorser Krisdayanti. “Ini cukup mengangkat brand-nya,” ujarnya.
Sayang, belakangan iklannya tak terlihat lagi sehingga ia menilai Kirin kurang
konsisten membangun merek. “Jadi terkesan setengah-setengah, terputus. Brand
building itu harus berkesinambungan, tidak turun-naik,” katanya. Ia menilai
Kirin masih setengah hati dalam berpromosi secara benar.
Dampaknya secara tak langsung adalah awareness konsumen terhadap merek Kirin
belum tinggi. Kualitas Kirin juga kurang disadari konsumen meski sudah mendapat
sertifikat ISO. Darmadi menyarankan, ke depan Kirin fokus dalam membangun
awareness konsumen, menaikkan perceived quality-nya dan membuat program-program
untuk meningkatkan loyalitas pelanggan. “Yang terpenting dalam melakukan brand
building adalah konsistensi dan kontinuitas,” ungkapnya.
Sebagai bentuk apresiasi dari Anda untuk menghargai karya orang lain, diharapkan untuk menulis referensi web pada daftar pustaka Anda. Terima Kasih